Reinkarnasi, Kesempatan Kedua, Kultivasi
Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, Jian Chen tewas tepat sebelum mencapai Ranah Dewa. Namun, ia mendapat kesempatan kedua untuk mengubah takdir dengan kembali ke dua puluh tahun silam.
Saat ia mulai mengungkap dalang di balik kematiannya, masa depan yang ia kenal perlahan berubah. Pusaka yang seharusnya tersembunyi telah dicuri, teknik langka muncul terlalu dini, dan seseorang tampaknya mengetahui rahasia yang bahkan belum terjadi.
Di balik semua kejanggalan itu, tersimpan Lentera Terakhir pusaka yang mampu memutar waktu, tetapi menyimpan harga yang mengerikan.
Siapa yang mengubah masa depan, dan mengapa mereka seolah tahu setiap langkah Jian Chen? Kali ini, musuh terbesarnya mungkin bukan pengkhianat dari masa lalu, melainkan seseorang yang telah menunggunya sejak awal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Daftar di Papan Lapangan
Lapangan murid luar sudah hampir penuh ketika Jian Chen tiba bersama teman sekamarnya. Ratusan murid berbaris menurut pondok masing-masing di atas tanah keras yang diratakan oleh puluhan tahun injakan kaki. Di ujung lapangan berdiri papan kayu setinggi dua orang, penuh lembaran tugas yang dipaku bertumpuk.
Qiu Bo, teman sekamarnya, menarik lengan baju Jian Chen. "Barisan tujuh di sini," bisiknya. "Kalau kau berdiri di tempat lain lagi, aku yang kena marah."
"Aku tahu," jawab Jian Chen. Ia melangkah ke barisan dan berdiri di sebelah Qiu Bo.
Sambil menunggu, ia menyapu pandangan ke seluruh lapangan. Ada satu wajah yang ingin ia temukan lebih dulu daripada yang lain, wajah sahabatnya sejak hari pertama di sekte. Tetapi hampir tiga ratus murid luar berkumpul di sana, dan ia tidak menemukan Shen Yu di antara mereka. Mungkin ia berdiri di barisan belakang. Mungkin belum waktunya mereka bertemu.
Seorang pengawas berewok naik ke atas batu besar di depan barisan sambil membawa gulungan bambu. Suaranya serak, tetapi terdengar sampai barisan paling belakang. "Kelompok pertama, kebun herbal bagian timur! Kelompok kedua, gudang kayu dan dapur! Kelompok ketiga, tambang batu napas, hari kedua puluh bulan ini, enam belas orang!"
Ia mulai membacakan nama satu per satu. Jian Chen mendengarkan sambil menghitung. Nama keempat. Nama kelima. Nama kedelapan, seorang murid gemuk yang dulu suka membagi roti jatahnya kepada orang lain. Nama kesebelas.
"Qiu Bo!" seru pengawas itu.
"Hadir!" sahut Qiu Bo di sebelahnya.
Dada Jian Chen mengencang. Dua puluh tahun lalu ia pernah berdiri di depan balai sekte dan mendengar daftar dua belas korban dibacakan oleh seorang tetua. Ia sudah lupa sebagian besar nama itu, tetapi nama yang baru saja dibacakan membuat ingatan itu kembali sekaligus. Qiu Bo adalah nama kelima di daftar tersebut.
"Jian Chen!" seru pengawas itu.
"Hadir," katanya.
Setelah pembagian selesai, barisan dibubarkan. Murid-murid bergerak ke dapur untuk mengambil bubur. Qiu Bo mengusap perutnya dengan kedua tangan.
"Kelompok ketiga lagi," gerutu Qiu Bo. "Semoga kali ini kita kebagian lorong yang atapnya tidak menetes."
"Lorong yang mana?" tanya Jian Chen.
"Kata kakak pondok sebelah, kali ini lorong empat." Qiu Bo mengangkat bahu. "Kenapa? Kau tidak pernah peduli lorong mana."
"Aku cuma ingin tahu," jawab Jian Chen. "Kau duluan ke dapur. Simpankan tempat untukku."
"Kalau buburnya habis, itu salahmu."
"Aku tahu."
Qiu Bo berlari kecil menyusul kerumunan. Jian Chen berdiri diam beberapa saat, lalu berbalik dan berjalan ke arah batu besar tempat pengawas berewok itu masih menggulung daftarnya.
Lorong empat. Sama seperti dulu. Sejauh ini tidak ada yang berbeda, dan itu justru membuatnya lebih waspada. Kalau sejarah tidak bergeser, ia masih punya tiga belas hari untuk mencegah dua belas orang mati. Kalau sudah bergeser sedikit saja, ia tidak punya cara untuk tahu sebelum terlambat.
"Pengawas," kata Jian Chen. "Boleh bertanya soal tambang?"
Pengawas berewok itu menoleh tanpa menghentikan tangannya. "Kau murid pondok tujuh, kan? Tanya soal apa?"
"Penyangga di lorong empat. Kapan terakhir diperiksa?"
Tangan pengawas itu berhenti. Ia menatap Jian Chen dari kepala sampai kaki. "Dua pekan lalu. Seorang pemeriksa dari aula kontribusi datang dan bilang semuanya aman. Kenapa kau bertanya?"
"Aku mendengar ada tiang yang sudah lapuk di lorong itu."
"Dari siapa?"
Jian Chen sudah menduga pertanyaan ini. "Dari penjaga gudang," jawabnya. "Aku lupa namanya."
"Penjaga gudang," ulang pengawas itu. Ia turun dari batu dan berdiri di depan Jian Chen, tubuhnya dua kali lebih lebar. "Murid dua tahun, belum pernah memegang palu tambang, tahu ada tiang lapuk di lorong yang bahkan belum kau masuki. Itu aneh, Nak."
"Aku hanya khawatir."
"Dengar baik-baik." Pengawas itu merendahkan suaranya. "Di lapangan ini, menyebar kabar yang tidak bisa dibuktikan bisa dihukum cambuk dua puluh kali. Kabar seperti itu bisa membuat murid lain takut masuk tambang dan menurunkan setoran batu napas. Kau mau dicambuk?"
"Tidak, Pengawas."
"Kalau begitu jangan bicara soal tiang lapuk ke orang lain." Pengawas itu menghela napas. "Aku akan minta pemeriksa datang lagi sebelum kelompok kalian masuk. Kalau sempat. Tapi jangan berharap banyak."
"Terima kasih."
"Jangan berterima kasih dulu. Aku masih curiga padamu." Pengawas itu menggulung daftarnya dan menyelipkannya ke ikat pinggang. "Karena kau banyak bicara pagi ini, hari ini kau tidak ikut menyapu kampung. Pergilah ke pondok pengobatan di ujung barat. Tabib murid luar di sana sedang butuh tenaga untuk mengangkat peti ramuan."
"Baik."
"Dan Jian Chen."
"Ya, Pengawas?"
"Tabibnya tidak suka dibantah. Jangan membuat dia marah, atau aku yang akan mendengar keluhannya sampai sebulan."
Jian Chen mengangguk dan berjalan pergi. Ia menahan diri untuk tidak menoleh. Pengawas itu tidak percaya padanya, tetapi mau memeriksa ulang lorong empat, dan untuk hari pertama itu sudah cukup. Ia juga baru belajar satu hal penting: orang di sekitarnya akan menilai setiap kata yang terlalu tepat. Mulai sekarang ia harus lebih hati-hati.
Di dekat dapur, Qiu Bo melambai dengan mangkuk bubur di kedua tangan. "Hei! Tempatmu aman!"
"Aku disuruh ke pondok pengobatan," kata Jian Chen sambil mengambil satu mangkuk. "Mengangkat peti ramuan."
"Dari pengawas berewok itu? Dia tidak pernah memberi tugas ringan." Qiu Bo menyeruput buburnya. "Kau beruntung. Atau sial. Tabib di sana galak sekali."
"Namanya Lin Xue, kan?" tanya Jian Chen.
Qiu Bo mengangkat alis. "Kau kenal?"
"Pernah dengar."
"Semua murid yang pernah terluka pasti pernah dengar." Qiu Bo terkekeh. "Ada yang mengeluh lukanya perih waktu diobati. Dia bilang, 'Kalau tidak perih, berarti kau sudah mati.' Orangnya masih muda, seumur kita, tapi tidak ada yang berani membantahnya."
Jian Chen menunduk menatap mangkuknya. Kalimat itu memang terdengar seperti dia. Dadanya terasa hangat dan sakit sekaligus, dan ia tidak tahu mana yang lebih kuat.
"Kenapa wajahmu begitu?" tanya Qiu Bo.
"Tidak apa-apa," kata Jian Chen. "Bubur ini hambar."
"Memang selalu hambar."
Ia menghabiskan sisa buburnya dalam diam. Di kepalanya, urutan yang tadi pagi masih samar kini lebih jelas. Tiga belas hari. Dua belas nama, dan salah satunya sedang menyeruput bubur di sampingnya. Satu tubuh yang belum sanggup memegang gagang sapu selama lima tarikan napas. Dan beberapa orang dari masa lalu yang sebentar lagi akan berdiri di depannya, masih hidup, tanpa tahu apa-apa.