Ini menceritakan kisah seorang pemuda yang memiliki sembilan Akar Spiritual, yang dianggap sebagai sampah oleh dunia kultivasi. Namun, tanpa sengaja, ia justru dibimbing oleh dua sosok legendaris yang telah berdiri di puncak dunia kultivasi.
Membawa dua cincin warisan tersegel yang menyimpan kekayaan dari dua sekte besar, Shen Luo memulai perjalanannya di dunia kultivasi.
Di tengah perjalanan, ia harus terseret ke dalam perselisihan masa lalu kedua gurunya, berhadapan dengan seorang Iblis Suci yang mematikan, serta terikat dalam perjodohan dengan seorang Putri Es yang telah mencintai pria lain.
Dengan sembilan Akar Spiritual yang dianggap sebagai kelemahan, Shen Luo harus bertahan hidup dan mengungkap rahasia kekuatannya, hingga suatu hari segel kedua cincin warisan itu terbuka dan takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Desa Tanpa Nama
Belasan tahun lalu, sebuah pertempuran dahsyat mengguncang seluruh Benua Langit Misterius.
Langit malam terbelah menjadi dua. Di timur, cahaya keemasan memenuhi cakrawala sementara jutaan bayangan pedang menari di antara awan. Di barat, lautan darah mengamuk dan menelan langit, diiringi ratapan jiwa-jiwa yang gugur.
Itulah bentrokan antara dua tokoh terkuat di benua.
Sikong Jian, Kaisar Pedang dari Sekte Bintang Jatuh sekaligus salah satu pilar Aliran Lurus.
Dan Yan Wusheng, Penguasa Darah dari Lembah Darah Neraka yang menguasai Aliran Hitam.
"Yan Wusheng! Hari ini lautan darahmu akan mengering di bawah Pedang Bintang Suci!"
Sikong Jian mengayunkan pedangnya. Tebasan emas melesat membelah langit dan merobek kehampaan.
Yan Wusheng tertawa keras.
"Sikong Tua, jangan terlalu sombong! Mari kulihat apakah pedangmu mampu menahan darah neraka!"
Jutaan naga darah meraung dari belakang tubuhnya sebelum menerjang ke depan.
Booom!
Dua kekuatan dahsyat bertabrakan.
Gunung-gunung di bawah mereka runtuh, ruang bergetar hebat, dan langit seolah terbelah menjadi dua. Dalam benturan tersebut, keduanya sama-sama terluka parah.
Meridian Sikong Jian dihancurkan oleh racun darah, sementara Jantung Iblis Yan Wusheng ditembus oleh Niat Pedang.
Dalam sekejap, kekuatan mereka lenyap.
Tubuh kedua tokoh besar itu terlempar menembus awan seperti dua bintang jatuh sebelum akhirnya menghantam sebuah lembah terpencil di pinggiran benua.
Tempat itu bahkan tidak tercatat dalam peta.
Desa Tanpa Nama.
Dua kawah besar terbentuk di lereng bukit. Di dasar masing-masing kawah, Sikong Jian dan Yan Wusheng terbaring dalam keadaan sekarat. Kultivasi mereka terkunci akibat luka parah sehingga dalam kondisi seperti itu, bahkan manusia biasa sekalipun sanggup menghabisi mereka.
Namun, yang menemukan mereka bukanlah musuh.
Seorang bocah berusia tujuh tahun muncul dari balik semak.
Tubuhnya kurus dan hanya dibalut pakaian karung penuh tambalan. Namanya Shen Luo.
Ia sedang mencari kayu bakar ketika melihat dua sosok jatuh dari langit. Alih-alih melarikan diri, bocah itu justru berlari menghampiri dengan wajah panik.
"Astaga! Kakek-kakek ini jatuh dari langit. Pasti sakit sekali!"
Tanpa memikirkan bahaya, Shen Luo menyeret kedua pria tua itu keluar dari kawah dan membawa mereka pulang.
Selama tujuh hari tujuh malam, ia merawat mereka tanpa mengenal lelah. Ia mencari daun obat di hutan, membersihkan luka mereka, bahkan memberikan jatah buburnya sendiri agar kedua orang tua itu bisa bertahan hidup.
Shen Luo tidak tahu bahwa dua orang yang sedang dirawatnya adalah tokoh yang pernah mengguncang seluruh Benua Langit Misterius.
Ketika akhirnya sadar, Sikong Jian dan Yan Wusheng segera menyadari bahwa kultivasi mereka telah hancur. Kini mereka tak lebih dari dua orang tua yang terluka parah.
Namun saat melihat Shen Luo tertidur di lantai dengan mangkuk bubur kosong masih berada dalam pelukannya, hati kedua musuh bebuyutan itu perlahan melunak.
Mereka saling berpandangan.
Tanpa perlu banyak bicara, keduanya mengambil keputusan yang sama.
Mereka akan tinggal di Desa Tanpa Nama, memulihkan diri sekaligus membesarkan bocah yang telah menyelamatkan nyawa mereka.
Hanya saja, mereka tidak pernah menyangka bahwa Shen Luo sendiri menyimpan sebuah rahasia yang bahkan lebih mengejutkan daripada pertarungan mereka.
Sepuluh Tahun Kemudian
Di Benua Langit Misterius, bakat seorang kultivator ditentukan oleh Akar Spiritual.
Satu akar dianggap sebagai bakat langit. Dua akar tergolong langka, sedangkan tiga akar sudah cukup untuk menjadikan seseorang kultivator yang menjanjikan.
Namun semakin banyak Akar Spiritual yang dimiliki seseorang, semakin sulit pula ia berkultivasi. Qi yang diserap harus terbagi ke setiap akar sehingga kemajuan kultivasinya menjadi jauh lebih lambat.
Dan Shen Luo memiliki sembilan akar.
Kini ia telah berusia tujuh belas tahun.
Di belakang sebuah gubuk sederhana, pemuda itu duduk bersila di atas batu. Keringat membasahi wajahnya ketika ia menjalankan teknik pernapasan dasar dan perlahan menarik Qi alam ke dalam tubuh.
Sedikit demi sedikit, Qi memasuki meridiannya sebelum berkumpul di Dantian.
Namun begitu mencapai pusat tubuhnya, energi itu kembali terpecah menjadi sembilan aliran.
Qi yang semula cukup untuk memenuhi telapak tangan langsung terbagi menjadi sembilan aliran tipis. Dalam sekejap, seluruh energi itu lenyap ke dalam sembilan Akar Spiritual.
Shen Luo membuka mata dan menghela napas panjang.
"Gagal lagi."
Ia menundukkan kepala dengan kecewa.
"Dengan sembilan akar seperti ini, bagaimana mungkin aku bisa berkultivasi?"
Selama sepuluh tahun tinggal bersama Kakek Putih dan Kakek Hitam, Shen Luo selalu bermimpi menjadi seorang kultivator hebat. Ia ingin membawa kedua kakeknya meninggalkan gubuk reyot ini dan menjalani kehidupan yang lebih baik.
Namun kenyataan selalu kejam.
Sembilan Akar Spiritual dianggap sebagai kutukan. Hampir tak seorang pun percaya pemilik sembilan akar mampu mencapai tingkat kultivasi yang tinggi.
Shen Luo tidak tahu bahwa di balik jendela gubuk, dua pasang mata sedang memperhatikannya.
Sikong Jian membelai janggut putihnya sambil tersenyum.
"Bocah bodoh. Mereka menganggap sembilan akar sebagai kutukan hanya karena kultivasinya jauh lebih lambat."
Ia menahan batuk sebelum melanjutkan.
"Padahal, jika sembilan akar itu berhasil disatukan, tubuhnya akan mampu menampung Qi sembilan kali lebih banyak daripada seorang jenius biasa."
Yan Wusheng yang sedang mengasah pisau mendengus pelan.
"Dan hanya tubuh sembilan akar yang mampu menampung Niat Pedangmu sekaligus Qi Darah Iblisku tanpa hancur."
"Sayangnya, sumber daya di desa ini terlalu sedikit," ujar Sikong Jian. "Karena itu, kita harus menempa tubuhnya terlebih dahulu."
Belum sempat Yan Wusheng menjawab, jendela tiba-tiba terbuka.
Wajah Sikong Jian seketika berubah. Senyum bijaknya menghilang dan digantikan ekspresi seorang kakek galak.
"Shen Luo!"
Pemuda itu tersentak dan segera menoleh.
"Matahari sudah tinggi! Kau masih duduk bermalas-malasan di sana?"
Tongkat kayu Sikong Jian menghantam kayu gubug.
"Pergi belah seribu batang Pinus. Gunakan ranting lapuk yang kuberikan kemarin!"
Dari dapur, Yan Wusheng ikut berteriak.
"Setelah itu, angkut dua ember air dari sungai! Jangan sampai setetes pun tumpah. Kalau tumpah, malam ini kau tidak makan!"
Shen Luo hampir terjatuh dari batu.
"Baik, Kakek Putih! Baik, Kakek Hitam!"
Ia segera berlari menuju tumpukan kayu.
Pinus Besi terkenal sangat keras. Bahkan senjata biasa pun sulit menebasnya, apalagi hanya dengan sebatang ranting lapuk.
Shen Luo mengangkat ranting itu dan mengayunkannya.
Tok!
Ranting tersebut memantul, sementara tangannya langsung mati rasa.
Namun Shen Luo tidak menyerah.
Selama sepuluh tahun terakhir, tubuhnya telah ditempa melalui latihan semacam ini. Membelah kayu, mengangkat air, mendaki tebing, bahkan menghindari batu yang dilempar tanpa peringatan telah menjadi bagian dari kehidupannya sehari-hari.
Ia menarik napas panjang dan mengosongkan pikirannya. Tatapannya kemudian tertuju pada serat kayu di depannya.
Ayunan berikutnya jatuh.
Krak!
Sebuah garis tipis muncul pada batang Pinus Besi.
Shen Luo mengubah sedikit arah tebasannya lalu mengayunkan ranting kembali ke titik yang sama.
Krak!
Batang kayu itu akhirnya terbelah.
Tanpa disadari Shen Luo, seutas Niat Pedang telah menyatu dengan gerakannya.
Setelah berjam-jam membelah kayu, ia beralih membawa dua ember air dan mulai mendaki tebing menuju gubuk.
Baru beberapa langkah ia berjalan, sebuah batu merah menyala tiba-tiba melesat dari arah belakang.
"Awasi langkahmu, bocah!"
Tawa Yan Wusheng terdengar dari kejauhan.
Shen Luo segera memiringkan tubuh.
Batu itu melintas tepat di samping lututnya. Air di kedua ember berguncang hebat, tetapi tidak setetes pun tumpah.
Latihan terus berlanjut hingga matahari tenggelam.
Malamnya, Shen Luo terbaring di lantai gubuk dengan tubuh terasa remuk dan kedua tangan penuh lecet. Ia menggigit ubi rebus sambil mengeluh.
"Sudah punya sembilan akar yang tidak berguna, masih harus membelah kayu dan mengangkut air setiap hari."
Setelah menggerutu beberapa saat, rasa lelah akhirnya mengalahkannya dan ia pun tertidur.
Di ruang tengah, Sikong Jian dan Yan Wusheng duduk sambil menikmati teh. Tatapan mereka sesekali tertuju pada Shen Luo yang sedang terlelap.
"Tubuhnya sudah mulai terbiasa dengan latihan," ujar Sikong Jian. "Niat Pedang dan Langkah Hantu juga telah tertanam dalam gerakannya."
Yan Wusheng mengangguk.
"Namun desa ini terlalu kecil untuknya. Jika terus tinggal di sini, dia hanya akan menjadi manusia fana seumur hidup."
Sikong Jian terdiam cukup lama sebelum akhirnya mengangguk.
"Waktunya telah tiba."
Tangannya perlahan masuk ke balik jubah dan mengeluarkan sebuah cincin tua yang kemudian tergenggam erat di telapak tangannya.
"Besok malam, kita berikan benda ini kepadanya."
Moga2 MC nya ga kegatelan ma cewek2, dan ga punya banyak bini /Facepalm//Facepalm/