NovelToon NovelToon
Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aqilaa Kezia

Alisha Amanda hanyalah seorang gadis sederhana yang bekerja di sebuah toko roti demi menghidupi dirinya dan sang ibu. Sejak kepergian ayahnya, ibunya menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Namun, hidup Alisha berubah ketika penyakit sang ibu semakin parah. Operasi dengan biaya yang sangat mahal menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan wanita yang paling ia cintai. Sayangnya, tabungan Alisha tidak cukup, bahkan untuk membayar sebagian kecil dari biaya tersebut.
Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran tak terduga datang kepadanya.
Adrian Mahendra, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa, membutuhkan seorang istri demi mempertahankan posisinya di perusahaan keluarga. Terdesak oleh tuntutan orang tuanya dan ancaman kehilangan jabatan, Adrian menawarkan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Alisha.
Sebagai gantinya, Alisha akan mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai operasi ibunya.
Bagi Adrian, pernikahan itu hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaa Kezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 — Gadis Sederhana dan Kehidupan yang Tak Mudah

Pukul empat pagi, ketika sebagian besar orang masih terlelap dalam mimpi mereka, seorang gadis berusia dua puluh satu tahun sudah terbangun dari tidurnya.

Namanya Alisha Amanda.

Gadis itu tinggal bersama ibunya di sebuah rumah kecil di ujung gang yang cukup jauh dari pusat kota. Rumah mereka tidak besar, hanya memiliki dua kamar tidur, sebuah ruang tamu sederhana, dan dapur kecil yang cat dindingnya mulai mengelupas. Beberapa bagian atap bahkan sudah bocor ketika hujan turun dengan deras.

Namun, bagi Alisha, rumah itu adalah tempat paling berharga di dunia.

Di sanalah ia tumbuh, belajar tentang kehidupan, dan menghabiskan waktu bersama satu-satunya keluarga yang masih dimilikinya.

Alisha berjalan pelan menuju dapur. Rambut hitamnya yang panjang diikat asal, sementara wajahnya masih terlihat mengantuk. Ia mengenakan kaus lengan panjang yang sudah sedikit pudar dan celana panjang sederhana.

Setelah mencuci muka, ia mulai menyiapkan sarapan untuk ibunya.

Nasi hangat, telur dadar, dan segelas air putih.

Tidak ada makanan mewah di meja mereka. Namun, Alisha selalu berusaha memastikan ibunya mendapatkan makanan yang cukup sebelum ia berangkat bekerja.

Ketika sedang meletakkan piring di atas meja, suara batuk terdengar dari kamar sebelah.

Alisha segera menoleh.

"Ibu?"

Tidak ada jawaban.

Ia bergegas menuju kamar dan mendapati ibunya sedang duduk di tepi tempat tidur. Wajah wanita itu terlihat pucat, dengan satu tangan memegangi dadanya.

Alisha langsung menghampirinya.

"Ibu kenapa? Sesak lagi?"

Ratih Amanda menggeleng pelan, berusaha tersenyum kepada putrinya.

"Nggak apa-apa, Nak. Ibu cuma batuk sedikit."

"Tapi wajah Ibu pucat."

"Baru bangun tidur, mungkin Ibu masih lemas."

Alisha tidak langsung percaya. Ia sudah terlalu sering mendengar jawaban serupa dari ibunya.

Setiap kali ditanya mengenai kesehatannya, Ratih selalu mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Padahal, beberapa kali Alisha mendapati ibunya menahan rasa sakit ketika mengira tidak ada orang yang melihat.

"Ibu sudah minum obat semalam?" tanya Alisha.

"Sudah."

"Obat yang dari dokter?"

Ratih terdiam sesaat sebelum mengangguk.

Alisha menghela napas kecil. Ia tahu obat ibunya tidak selalu diminum sesuai jadwal. Bukan karena Ratih tidak ingin sembuh, melainkan karena mereka harus menghemat pengeluaran.

Harga obat-obatan itu semakin lama semakin membebani keuangan mereka.

Alisha duduk di samping ibunya, lalu menggenggam tangannya.

"Hari ini kita ke rumah sakit lagi, ya, Bu. Aku sudah izin pulang lebih cepat kalau memang diperlukan."

Ratih langsung menggeleng.

"Jangan. Kamu harus bekerja. Kalau kamu terus-menerus izin, nanti pemilik toko marah."

"Kalau Ibu sakit, aku nggak mungkin tenang bekerja."

"Ibu masih bisa menunggu beberapa hari."

Alisha menunduk.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi justru membuat dadanya terasa sesak.

Sudah berapa kali ibunya mengatakan hal yang sama?

Menunggu beberapa hari.

Menunggu sampai ada uang.

Menunggu sampai keadaan mereka membaik.

Padahal, Alisha tahu bahwa kondisi ibunya tidak bisa terus-menerus ditunda penanganannya.

"Ibu, jangan bilang begitu lagi," ucapnya pelan. "Aku bekerja bukan cuma buat makan sehari-hari. Aku juga bekerja supaya Ibu bisa sembuh."

Ratih menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca.

"Kamu sudah bekerja keras sekali, Alisha."

Alisha tersenyum tipis.

"Belum cukup, Bu."

Ia mengatakannya dengan suara pelan, tetapi dalam hatinya, kalimat itu terasa begitu berat.

Penghasilannya sebagai pegawai toko roti hanya cukup untuk kebutuhan dasar mereka. Ia sudah mengurangi banyak pengeluaran, tidak membeli pakaian baru, dan sebisa mungkin berjalan kaki agar tidak perlu mengeluarkan uang untuk transportasi.

Namun, semua penghematan itu tetap tidak cukup.

Terutama setelah dokter mengatakan bahwa ibunya membutuhkan operasi.

Operasi yang biayanya jauh melampaui seluruh tabungan yang selama ini ia kumpulkan.

---

Pukul lima pagi, Alisha berpamitan kepada ibunya.

Ia mengenakan kemeja sederhana berwarna krem, celana panjang hitam, dan sepatu yang sudah beberapa kali dijahit pada bagian sampingnya.

Sebelum keluar rumah, ia memastikan obat ibunya sudah diletakkan di atas meja, lengkap dengan segelas air putih.

"Bu, sarapannya dimakan, ya. Jangan tunggu aku pulang."

"Iya, Sayang."

"Kalau merasa nggak enak badan, langsung telepon aku."

"Iya."

"Jangan lupa—"

"Alisha." Ratih tersenyum kecil. "Ibu sudah besar, Nak."

Alisha ikut tersenyum.

"Iya, tapi Ibu tetap ibuku."

Ia mencium tangan ibunya sebelum melangkah keluar.

Udara pagi masih terasa dingin. Jalanan di gang rumahnya belum terlalu ramai, hanya beberapa pedagang yang mulai membuka lapak dan suara kendaraan yang sesekali melintas.

Alisha berjalan menuju halte kecil di persimpangan.

Ia harus tiba di toko roti sebelum pukul enam karena ada banyak pekerjaan yang menunggunya.

Toko tempatnya bekerja bernama Sweet Morning Bakery. Letaknya di sebuah jalan yang cukup ramai, tidak jauh dari kawasan perkantoran.

Toko itu bukan toko roti mewah, tetapi cukup terkenal karena rasa rotinya yang enak dan harganya yang terjangkau.

Alisha sudah bekerja di sana selama hampir dua tahun.

Pekerjaannya tidak selalu mudah. Ia harus membantu menata roti, melayani pembeli, membersihkan meja, mencatat pesanan, dan memastikan etalase selalu terlihat rapi.

Terkadang, ia harus bekerja lebih lama ketika toko ramai.

Namun, Alisha tidak pernah mengeluh berlebihan. Ia tahu dirinya membutuhkan pekerjaan itu.

Setibanya di toko, ia segera mengenakan celemek dan mengikat rambutnya kembali.

"Selamat pagi!"

Suara ceria terdengar dari arah belakang.

Alisha menoleh dan mendapati Natasya Putri sedang berjalan menghampirinya dengan dua gelas minuman di tangan.

Natasya adalah sahabat sekaligus rekan kerjanya. Mereka sudah saling mengenal sejak sekolah dan tetap dekat meskipun kehidupan setelah lulus membawa mereka pada kesibukan masing-masing.

Berbeda dengan Alisha yang cenderung tenang, Natasya terkenal cerewet dan sulit berhenti berbicara jika sudah merasa nyaman.

"Ini buat kamu," kata Natasya sambil menyerahkan satu gelas.

Alisha menerimanya dengan bingung.

"Apa ini?"

"Susu hangat. Kamu kemarin bilang belum sempat sarapan sebelum berangkat kerja, kan?"

Alisha terdiam sebentar.

"Kamu ingat?"

"Ya, iyalah! Masa sahabat sendiri nggak diperhatikan?" Natasya mendengus. "Tapi serius, Lis, kamu itu harus menjaga kesehatan. Jangan sampai nanti kamu ikut sakit karena terlalu memikirkan ibumu."

Alisha menunduk, menatap minuman di tangannya.

"Makasih, Tas."

Natasya memperhatikan wajah sahabatnya.

"Kamu habis menangis?"

"Nggak."

"Jangan bohong. Matamu kelihatan sembap."

"Aku cuma kurang tidur."

Natasya tidak langsung membantah. Ia mengenal Alisha cukup lama untuk mengetahui bahwa sahabatnya itu sering menyembunyikan kesedihan di balik senyuman.

"Bagaimana keadaan Tante Ratih?"

Senyum Alisha perlahan menghilang.

"Masih sering sakit. Tadi pagi juga batuk lagi."

Natasya terdiam.

"Kamu sudah tanya soal biaya operasi yang kemarin?"

Alisha mengangguk kecil.

"Sudah."

"Berapa?"

Alisha menyebutkan jumlah yang tertulis pada perkiraan biaya dari rumah sakit.

Mata Natasya langsung membesar.

"Ya ampun, Lis. Itu banyak banget."

Alisha hanya mengangguk.

"Tabunganmu sekarang berapa?"

"Kalau digabung dengan uang yang kusimpan dari beberapa bulan terakhir, masih jauh."

Natasya mengembuskan napas panjang.

"Kenapa kamu nggak bilang dari kemarin? Siapa tahu aku bisa bantu mencari pekerjaan tambahan."

"Aku nggak mau merepotkanmu."

"Alisha Amanda!" Natasya langsung menatapnya tajam. "Kita ini sahabat. Kamu selalu bilang aku boleh cerita kalau punya masalah, tapi giliran kamu sendiri yang kesusahan, malah diam."

Alisha tidak menjawab.

Bukan karena ia tidak mempercayai Natasya, melainkan karena ia tidak tahu harus berkata apa.

Ia takut jika terlalu banyak bercerita, kesedihannya justru akan membuat orang lain ikut terbebani.

"Aku akan berusaha mencari jalan keluarnya," kata Alisha akhirnya.

Natasya menatapnya beberapa detik sebelum mengangguk.

"Baiklah. Tapi kalau kamu butuh bantuan, bilang. Jangan memutuskan semuanya sendirian."

Alisha tersenyum kecil.

"Iya."

Belum sempat mereka melanjutkan percakapan, bel kecil di pintu toko berbunyi.

Beberapa pelanggan mulai berdatangan.

Alisha segera berdiri di balik etalase.

"Selamat pagi. Silakan, ada yang bisa saya bantu?"

Ia menyambut pelanggan dengan senyuman ramah, seolah tidak ada masalah yang sedang membebani pikirannya.

Begitulah Alisha menjalani hari-harinya.

Bekerja, tersenyum, pulang, merawat ibunya, lalu kembali bekerja keesokan harinya.

Tidak ada yang istimewa dari kehidupannya.

Setidaknya, itulah yang ia pikirkan.

Sampai sebuah panggilan telepon dari rumah sakit mengubah segalanya.

---

Menjelang siang, ketika toko sedang tidak terlalu ramai, ponsel Alisha yang diletakkan di bawah meja kasir tiba-tiba bergetar.

Ia melirik layar.

Nomor rumah sakit.

Jantungnya langsung berdegup lebih cepat.

"Sebentar, Tas. Aku angkat telepon dulu."

Natasya mengangguk.

Alisha berjalan menuju sudut toko yang lebih sepi sebelum menerima panggilan tersebut.

"Halo, selamat siang."

"Selamat siang. Apakah benar ini dengan Saudari Alisha Amanda, keluarga dari Ibu Ratih Amanda?"

"Iya, benar. Saya anaknya. Ada apa, ya, Sus?"

Petugas rumah sakit menjelaskan bahwa kondisi Ratih perlu segera dievaluasi kembali oleh dokter. Alisha diminta datang untuk membicarakan rencana penanganan selanjutnya, termasuk persiapan operasi yang telah disarankan sebelumnya.

Alisha mencengkeram ponselnya.

"Apakah kondisi ibu saya memburuk, Sus?"

"Kami menyarankan agar keluarga segera datang untuk berkonsultasi langsung dengan dokter."

"Baik, Sus. Saya akan datang setelah bekerja."

Setelah panggilan berakhir, Alisha berdiri mematung.

Kepalanya dipenuhi berbagai pikiran.

Bagaimana kalau kondisi ibunya semakin parah?

Bagaimana kalau operasi itu harus dilakukan dalam waktu dekat?

Dan yang paling membuatnya takut, bagaimana jika ia tidak berhasil mengumpulkan uang tepat waktu?

"Alisha?"

Natasya menghampirinya.

"Kamu kenapa?"

Alisha segera memasukkan ponselnya ke dalam saku.

"Aku harus ke rumah sakit setelah bekerja."

"Kenapa? Tante Ratih kenapa?"

"Mereka ingin membicarakan kondisi Ibu dan operasi."

Natasya terdiam, lalu meraih tangan sahabatnya.

"Kalau kamu mau, nanti aku temani."

Alisha menggeleng.

"Kamu masih harus bekerja sampai sore."

"Aku bisa minta izin."

"Nggak usah, Tas. Aku bisa pergi sendiri."

Natasya tampak tidak setuju, tetapi akhirnya mengalah.

"Baiklah. Tapi kabari aku setelah kamu bertemu dokter."

Alisha mengangguk.

Ia kembali bekerja, tetapi pikirannya tidak lagi sepenuhnya berada di toko roti.

Setiap kali melihat pelanggan membayar pesanan, ia membayangkan berapa banyak uang yang harus dikumpulkannya untuk membayar operasi ibunya.

Setiap kali membuka dompet, ia menghitung kembali tabungannya.

Dan setiap kali melihat foto ibunya di layar ponsel, ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Namun, jauh di dalam hatinya, Alisha tahu bahwa waktu tidak akan menunggu sampai ia siap.

---

Sore harinya, setelah menyelesaikan pekerjaannya, Alisha segera menuju rumah sakit.

Ia menemukan ibunya sedang berbaring di ranjang pemeriksaan. Wajah wanita itu terlihat pucat, tetapi ketika melihat putrinya datang, Ratih berusaha tersenyum.

"Kamu sudah datang, Nak?"

Alisha menghampiri ranjangnya.

"Iya, Bu. Ibu kenapa nggak bilang kalau tadi merasa nggak enak badan?"

Ratih mengusap tangan putrinya.

"Ibu nggak mau mengganggu pekerjaanmu."

Alisha menunduk.

"Bu, pekerjaan bisa dicari. Tapi Ibu..."

Kalimatnya terhenti.

Ia tidak sanggup melanjutkan.

Dokter kemudian datang dan menjelaskan kondisi Ratih kepada mereka. Ada beberapa hal yang perlu segera ditangani, dan operasi tetap menjadi pilihan yang perlu dipertimbangkan berdasarkan hasil pemeriksaan serta kondisi kesehatan Ratih.

Alisha mendengarkan dengan saksama.

Ketika dokter menyebutkan kembali perkiraan biaya yang harus dipersiapkan, ia merasa seolah seluruh kekuatannya menghilang.

Angka itu masih terlalu besar baginya.

Setelah dokter pergi, Alisha duduk di kursi samping ranjang.

Ratih memperhatikan putrinya yang sejak tadi terdiam.

"Alisha, lihat Ibu."

Alisha mengangkat wajahnya.

"Jangan terlalu memikirkan biaya itu. Kita bisa membicarakannya lagi nanti."

"Tapi Ibu membutuhkan operasi."

"Kita cari jalan keluarnya bersama-sama."

Alisha menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan air mata.

"Kalau aku nggak berhasil mendapatkan uangnya, bagaimana, Bu?"

Ratih langsung menggenggam tangannya.

"Jangan berpikir seperti itu."

"Tapi aku sudah berusaha. Aku bekerja setiap hari, aku menabung, aku bahkan mencari pekerjaan tambahan. Tapi semuanya masih belum cukup."

Air matanya akhirnya jatuh.

"Aku cuma ingin Ibu sembuh."

Ratih mengusap pipi putrinya dengan lembut.

"Ibu tahu, Sayang. Ibu tahu kamu sudah melakukan semuanya."

Alisha menunduk dan menyandarkan kepalanya di tepi ranjang.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia membiarkan dirinya menangis di hadapan ibunya.

Ia lelah.

Bukan karena pekerjaannya di toko roti, bukan pula karena harus bangun pagi setiap hari.

Ia lelah karena terus berusaha mencari jalan keluar, tetapi belum menemukan satu pun yang benar-benar bisa menyelesaikan masalah mereka.

Malam itu, setelah memastikan ibunya beristirahat, Alisha keluar dari rumah sakit.

Ia duduk di bangku panjang di dekat pintu masuk, memandangi kendaraan yang berlalu-lalang.

Ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk dari Natasya.

Natasya: Lis, gimana keadaan Tante Ratih?

Alisha mengetik balasan singkat.

Alisha: Masih harus menjalani pemeriksaan. Aku belum tahu harus bagaimana soal biaya operasinya.

Tak lama kemudian, Natasya membalas.

Natasya: Jangan menyerah dulu. Kita cari jalan keluarnya, ya. Kamu nggak sendirian.

Alisha membaca pesan itu berulang kali.

Ia mengusap air matanya, lalu menarik napas panjang.

Benar.

Ia tidak boleh menyerah.

Ibunya masih membutuhkannya.

Apa pun yang terjadi, ia akan mencari cara untuk mendapatkan uang itu.

Meskipun harus mengambil pekerjaan tambahan.

Meskipun harus mengorbankan waktu istirahatnya.

Meskipun ia harus bekerja lebih keras daripada sebelumnya.

Alisha tidak tahu bagaimana masa depannya nanti.

Ia juga tidak tahu bahwa di tempat lain, seorang pria bernama Adrian Mahendra sedang menghadapi masalah yang akan mengubah kehidupannya sendiri.

Pria yang memiliki segalanya, kecuali kebebasan untuk menentukan masa depannya.

Pria yang sebentar lagi akan mencari seorang perempuan untuk menjadi istrinya.

Dan tanpa pernah mereka bayangkan, jalan hidup keduanya akan segera bertemu.

Sebuah pertemuan yang berawal dari kebutuhan, bukan cinta.

Sebuah pernikahan yang direncanakan hanya untuk satu tahun.

Dan sebuah kontrak yang kelak akan menguji hati mereka berdua.

1
Grend Levn
ceritanya menarik membuat ku penasaran bagaimana kelanjutannya kerenn
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Clarissa, sedemikian ga lakunya kamu ya sama bujangan, sampai orang udah punya istri juga kamu ganggu, hanya alasan masa lalu? Bodohnya kebangetan kamu
Aqilaa Kezia: Hehehe, sabar ya, Kak 😂 Clarissa memang bikin emosi. Terima kasih sudah membaca novelku! ❤️
total 1 replies
Ariany Sudjana
skak mat, bagus Alisha, kamu harus tegas menghadapi si pelacur murahan itu, tunjukkan kamu itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, meskipun kamu istri CEO, tapi kelas kamu jauh di atas si pelacur murahan itu, yang hanya bisa berharap jadi istri CEO, tapi ga kesampaian
Aqilaa Kezia: makasih banyak Kak Arianya udah selalu dukung Alisha😍
total 1 replies
Ariany Sudjana
Adrian dan alisha harus tegas dan waspada, si pelacur murahan itu ingin menghancurkan rumah tangga kalian
Aqilaa Kezia: terimakasih ka Adriany udah membaca😊
total 1 replies
Ariany Sudjana
jangan menyerah Alisa, buktikan kamu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, dan cocok mendampingi Adrian, jangan biarkan pelacur murahan itu menghancurkan rumah tangga kamu dengan Adrian
katya
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!