Abimana Rahardjo adalah putra pemilik sebuah pesantren dan merupakan penerus dari pondok pesantren milik keluarganya karena dia merupakan putra satu-satunya keluarga tersebut.
Sejak kecil dia telah di jodohkan dengan seorang gadis yang merupakan putri asuh keluarga Rahardjo yakni Kemala Putri Dewi yang merupakan putri sahabat kedua orangtuanya.
Kemala yang telah lama jadi yatim piatu sejak usia 10 tahun harus merelakan cita-citanya yang ingin jadi dokter karena sebuah balas budi.
Pernikahan karena dijodohkan itu benar-benar mencekik Kemala dikarenakan sang suami yang rupanya memilih poligami dengan perempuan yang telah lama ada dihati Abimana.
Hati Kemala hancur karena cinta suami yang tak kunjung dia dapatkan dan karena kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga mereka.
Hingga suatu hari, seorang pemuda mampu menggoyahkan hati Kemala.
Laki-laki yang dianggap urakan dan bertato layaknya preman.
simak kisahnya di Memeluk Bayangan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
hampir keguguran
Kirana sudah ditangani oleh dokter obgyn dan saat ini sedang beristirahat di ruang rawat inap setelah diberi obat.
Abimana masih menemaninya dengan wajah khawatir dan juga lelah tanpa beranjak sedikit pun dari sisi istri keduanya.
Kedua orangtua Kirana sedang berada diluar kota dan besok baru tiba.
Dari keterangan dokter kandungan, Kirana hampir saja kehilangan calon bayi mereka dikarenakan stres serta kecapean. Dan dokter menyarankan agar dirinya harus istirahat total demi kesehatannya dan juga calon bayi mereka.
Sementara dikediaman Kemala, Ummi masih berupaya menenangkan menantu pertamanya.
Ummi Dewanti merangkul bahu Kemala yang tubuhnya berguncang tertahan isak tangis, menepuk-nepuk lembut punggung perempuan malang itu, seolah menenangkan anak kecil yang terluka.
"Sudah, nak.... sudah jangan dipikirkan terlalu dalam," suaranya lembut namun tegas, membelai rambut Kemala yang sedikit berantakan. "Kata-kata itu keluar karena emosi, bukan dari hati yang sebenarnya. Abimana itu hanya sedang bingung, tidak tahu bagaimana menyeimbangkan semuanya, lalu melampiaskan rasa tak berdayanya kepadamu. Itu bukan kesalahanmu."
Kemala menunduk, jemarinya mencengkeram ujung kain gamis Ummi, matanya bengkak dan basah. "Tapi... dia mengatakannya, Ummi. Dia bilang menyesal. Bilang menikahiku hanya karena Abah dan Ummi memintanya. Seolah selama ini aku tidak pernah berarti apa-apa baginya. Dia juga membenciku, Ummi... Bahkan sejak pertama kali aku tiba dirumah Ummi..."
Ummi mengusap air mata yang menetes di pipi Kemala dengan lembut, menatap mata itu dengan pandangan yang penuh pengertian. "Kamu tahu betul bagaimana sifat Abimana. Keras kepala, sulit mengakui perasaannya sendiri, apalagi mengatakannya. Saat ia merasa terjepit, ia melukai orang yang paling dekat dengannya karena ia tahu kamu akan tetap menerima dia. Itu salahnya, sangat salah."
Ia menarik napas pelan, menambahkan dengan suara yang lebih tenang namun mantap. "Kamu adalah istri yang baik, Kemala. Setia, sabar, dan selalu mengerti. Jangan biarkan satu kalimat yang terucap di saat amarah menghapus semua kebaikan yang telah kalian bangun bersama selama ini. Biarkan waktu yang membuktikan. Kalau lelah, istirahatlah tapi jangan pergi. Jangan berhenti membangun rumah tangga kalian. Ummi ada di sini, tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu sendirian."
Kemala menyandarkan kepalanya di bahu Ummi, membiarkan kehangatan itu menyusup ke dadanya yang terasa sesak.
Sejak dulu, tangan hangat Ummi selalu merangkulnya.
Kemala ingat betul, betapa sabarnya Ummi membujuknya ketika Kemala kecil dipaksa harus kehilangan kedua orangtua dalam sebuah insiden kecelakaan.
Dan bagaimana penolakan paman Aiden ketika pengadilan memberikan hak asuh kepadanya.
Ummi dan Abah lah dengan kehangatan dan tangan terbuka mengambil tanggung jawab itu.
Melakukan sidang perihal hak asuh hingga Kemala menjadi putri angkat mereka.
Abah dengan sabar mengajarinya banyak hal.
Ummi yang memeluknya ketika pertama kali mendapat tamu bulanan serta merawatnya ketika sakit datang bulan itu menyerang Kemala remaja.
Sampai kapanpun, Kemala tidak akan pernah lupa akan jasa kedua orangtua angkatnya hingga sebuah permintaan datang. Memberi dilema dalam hatinya.
Kemala menerima keputusan yang menjadikannya menantu di keluarga Rahardjo.
Puas menangis, Kemala akhirnya tertidur di sofa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ummi... Apa Kemala baik-baik saja?" teguran Abah hampir membuat Ummi menjerit kaget.
Senyum di bibir pria yang masih awet muda meski telah berusia lebih dari 55 tahun itu merekah.
"Abah... Hampir saja jantung Ummi lompat keluar.." rengek manja Ummi Dewanti.
"Habis Ummi masuk tidak ngucap salam. Padahal lampu ruang tamu kita sudah nyala..." ngeles Abah.
"Iya.. maaf... Assalamualaikum suamiku..." ucap Ummi lembut, mendayu.
"Waalaikum sallam ya istriku..." balas Abah tak kalah lembutnya dengan membelai kepala Ummi yang tertutup khimar lebarnya.
"Abah sudah wudhu?"
"Belum... Tadi Abah lihat dari jendela, Ummi baru sampai. Makanya Abah hampiri.."
"Ya sudah... Mandi lalu wudhu... Anak-anak pasti sudah menunggu Abah di masjid..."
"Kemala bagaimana?" tanya Abah sebelum masuk ke kamarnya.
"Nanti Ummi cerita..." sahut Ummi penuh misteri.
Usai subuh dan kegiatan rutin anak-anak pondok lainnya, Abah Adi baru tiba di kediaman tepat pukul tujuh lewat.
Ummi Dewanti sudah menunggunya di meja makan dengan hidangan sarapan sederhana karema hanya ada mereka berdua sementara Bi Atik dan rekannya terbiasa sarapan di paviliun tempat mereka biasa berisitirahat.
Sebenarnya, keluarga Abah tidak pernah membedakannya siapapun tapi para pekerjanya lebih senang berbaur sesama mereka saja.
"Jadi... Abimana tega mengatakan hal itu pada menantu kita?" seru Abah begitu selesai mendengar cerita keselurahan dari pertengkaran Abimana dan Kemala tadi malam.
Hembusan nafas berat terdengar dari mulut Abah.
"Kali ini Abimana sungguh keterlaluan. Tak seharusnya dia bersikap begitu ataupun berbicara demikian. Itu sama saja dia melukai perasaan kita..." Abah diam sejenak, matanya jauh menerawang kedepan, lalu melanjutkan kalimatnya " Inilah sebabnya Abah melarang Abimana poligami. Selain ilmunya yang masih kecil, sifat Abimana jugalah yang membuat Abah ragu dalam hal ini...."
"Ya.. Apa yang Abah katakan benar. Abimana terlihat begitu menyukai Kirana dan ini semakin membuat Kemala jadi terasing oleh suaminya sendiri. Terlebih, Kemala yang jika berbicara tidak selemah lembut Kirana.... Ummi jadi kasihan pada Kemala.. Dan sekarang, sejak Kirana hamil, Abimana jadi semakin jarang mengunjugi Kemala. Ini tidak mencerminkan sikap adil Abimana... Ummi jadi was-was jika nanti Kemala menuntut pisah... Nauzubillahiminzalik...." beber Ummi akan ketakutan dirinya.
"Nanti Abah akan berbicara pada Abimana ketika mereka sudah pulang..." putus Abah akhirnya.
Ya, kedua orangtua mereka memang harus turun tangan meluruskan permasalahan dan menasehati anak-anak mereka. Bukan ingin ikut campur, tapi sekedar mengingatkan dan memberi nasehat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Usai pertengkaran malam itu, Kemala tak lagi bertemu atau melihat Abimana ataupun Kirana dimanapun.
Desas-desus yang terdengar adalah, Kirana yang diminta untuk bed rest total karena kandungannya yang lemah.
"Saya kasihan pada Mbak Kirana... Harusnya dia bahagia karena sebentar lagi akan memiliki anak, eh malah hampir keguguran karena stress..." ucap Ummu Saidah ketika berada di ruang majelis bersama rekan-rekannya.
"Bagaimana tidak stress Ummu..? Lihat saja perangai madu-nya... Kalau saya jadi Mbak Kirana, saya juga akan meminta untuk tinggal dirumah sendiri. Kita bebas mau ngapain aja sama suami... Tapi ini...? Harus tinggal bersama mertua sementara madu-nya enak-enak tinggal dan tidur dirumah besar sendiri..." Lastri ikut menimpali dengan gaya yang khas tukang gosip.
"Iya ya... Kasihan Mbak Kirana. Padahal keliatannya, Gus Abimana lebih sayang dengan beliau ya..." seru yang lain.
"Bagaimana tidak sayang? Wong Mbak Kirana itu cantik meski pakai niqab dan konon katanya dia juga cinta pertamanya Gus Abimana... Tapi terpaksa merelakan sehingga Gus menikahi saudari angkatnya, yakni Kemala demi bakti beliau...." Ummu Saidah makin semangat bergosip.
"Kalau saya jadi Kemala, bakalan minta cerai deh daripada jadi duri dalam hubungan orang lain...." seru Lastri makin berapi-api. Lastri menundukkan kepalanya "Lagipula, Kemala itu jarang sekali dikunjungi oleh Gus Abimana. Dan terakhir saya dengar mereka bertengkar hampir setiap kali Gus datang ke rumahnya..." lanjut Lastri dengan suara rendah.
Kemala masuk dengan wajah datar.
Mengacuhkan obrolan yang makin bersemangat hingga seseorang menyenggol lengan Lastri agar berhenti karena sumber gosip mereka berada diruangan yang sama.
Semuanya membubarkan diri serempak dengan senyum dibuat-buat kearah Kemala.
Kemala tetap acuh meski hatinya hancur dan sakit.
Tapi dia bisa apa?
Dia tak memiliki teman yang akan membelanya selain Ummi Dewanti yang kini sibuk dengan menantunya Kirana.
Sementara suaminya?
Kemala menghembus nafas kasar kala mengingat Abimana.
bersambung....