Yun Sheren seorang Putri Mahkota dari Kekaisaran Awan Emas terseret melintasi waktu. Dia terjebak di dalam raga sang ibu ketika masih muda di zaman modern.
Namun alih-alih takut--- Yun Sheren justru menikmati semua itu. Ia bersumpah akan membalaskan dendam ibu dan neneknya pada keluarga benalu yang telah merampas seluruh hak ibunya.
Namun--- perjalanan Yun Sheren tidak semudah itu, saat ia harus berhadapan dengan para kultivator iblis dari zaman modern--- kelompok kultivator tersembunyi yang ternyata bekerja sama dengan keluarga Jia.
Dalam perjalanan nya, Yun Sheren di pertemukan kembali sama kedua kakaknya yang ternyata juga terlempar ke zaman modern. Kini, sama seperti sang ibu yang menjalankan takdirnya di zaman kuno. Mereka juga harus menjalankan takdirnya di zaman modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah Misi
Brak!
Tanpa ragu sedikit pun, Jia Li menghempaskan selembar amplop putih berisi surat pengunduran dirinya tepat di hadapan seorang pria paruh baya yang duduk di balik meja kerja mewah.
Pria itu adalah Direktur Wang Chu, kepala pimpinan tertinggi di Rumah Sakit Pusat Huayuan, tempat di mana Jia Li telah mendedikasikan seluruh hidupnya selama beberapa tahun terakhir.
Direktur Wang menatap nanar kertas yang baru saja dilemparkan oleh dokter mudanya itu dengan kening berkerut dalam.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mengambil amplop tersebut, membukanya perlahan, dan mulai membaca baris demi baris kalimat di dalamnya.
Seketika itu juga, raut wajahnya berubah drastis. Warna kulitnya menggelap, dan sepasang matanya langsung mendongak, mengunci pandangan pada sepasang manik mata Jia Li yang berdiri tegak tanpa rasa takut.
Tatapan Direktur Wang saat itu begitu rumit, penuh dengan kilatan amarah, kebingungan, dan ketidakpercayaan yang sulit dibaca.
"Apa maksud dari semua ini, Dokter Jia Li?" tanyanya dengan suara berat, sangat berharap bahwa penglihatannya yang mulai menua telah salah membaca untaian kata di kertas tersebut.
Jia Li berdehem sebentar untuk membersihkan tenggorokannya, lalu menjawab dengan nada suara yang tenang, kontras dengan atmosfer ruangan yang mendadak membeku. "Saya rasa tulisannya cukup jelas, Direktur Wang. Anda bisa membaca dan memahaminya sendiri tanpa perlu saya jelaskan kembali."
Direktur Wang melipat kedua tangannya di dada, mencoba mengintimidasi dengan wewenang yang dimilikinya. "Berikan saya alasan yang logis, Dokter Jia! Setelah mengambil beberapa hari cuti pemulihan setelah koma, Anda kembali ke rumah sakit ini hanya untuk menyerahkan surat pengunduran diri? Apakah ada masalah dengan kepala Anda sampai membuat Anda kehilangan akal sehat? Apa Anda benar-benar baik-baik saja?" tanya Direktur Wang bertubi-tubi, berusaha keras mempertahankan ekspresi tegasnya meski kepanikan mulai merayap di hatinya.
Jia Li mengulas senyum tipis, hampir tak terlihat. "Rumah sakit ini... terlalu membosankan," katanya tanpa keraguan sedikit pun.
"Aku membutuhkan..." Jia Li sengaja menggantung kalimatnya.
Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan kedua telapak tangannya di atas permukaan meja kayu jati milik Direktur Wang, mengikis jarak di antara mereka agar setiap kata yang diucapkannya menghunjam tepat ke ego pria di hadapannya.
"...sedikit udara kebebasan," bisik Jia Li tajam, sebelum akhirnya kembali menegakkan tubuhnya dengan anggun.
"Intinya... aku tidak akan bekerja di tempat ini lagi. Jadi, silakan Anda proses surat pengunduran diri itu secepatnya," lanjut Jia Li tegas.
BRAK!
Direktur Wang menggebrak meja dengan keras hingga cangkir kopi di sudut meja bergetar. Wajah paruh bayanya kini memerah padam akibat amarah yang membubung tinggi.
"Jangan bercanda, Dokter Jia!" bentak Direktur Wang dengan kilatan mata yang menajam. "Aku menolak surat pengunduran dirimu! Keputusan ini tidak bisa diganggu gugat!"
Tentu saja Direktur Wang tidak akan pernah sudi kehilangan dokter bedah terbaik di rumah sakitnya.
Jia Li bukan sekadar dokter biasa; ia adalah dokter spesialis kardiotoraks jenius yang reputasinya telah melambungkan nama Rumah Sakit Huayuan ke tingkat internasional. Lebih tepatnya, Jia Li adalah aset emas yang sangat berharga dan mesin penghasil uang serta reputasi bagi pihak rumah sakit.
Terlebih lagi--- ia mendapatkan perintah dari keluarga Jia untuk mengawasi Jia Li.
Namun—apakah Jia Li peduli pada penolakan keras dan kemarahan Direktur Wang? Tentu saja tidak! Dunia yang ia jalani telah mengajarkannya bahwa setiap orang memiliki kartu as yang bisa dihancurkan kapan saja.
Jia Li melangkah satu langkah lebih dekat, lalu menyunggingkan senyum misterius. "Direktur Wang... jika Anda menolak, izinkan saya bertanya satu hal kecil. Bagaimana sebenarnya hubungan rahasia Anda dengan Suster Sheng di ruang rawat VIP akhir-akhir ini?"
Pertanyaan bernada santai itu seketika membuat mata Direktur Wang membelalak sempurna. Seluruh darah di wajahnya seolah tersedot habis, meninggalkan rona pucat pasi seperti mayat dalam sekejap mata.
"Kau... kau—apa yang kau bicarakan?!" tanya Direktur Wang dengan suara yang mendadak parau dan gagap, kehilangan seluruh wibawa serta ketegasannya yang agung tadi.
Jia Li tetap bersikap tenang, menatap pria paruh baya di hadapannya tanpa emosi sedikit pun. "Aku bukan orang yang suka mencampuri urusan orang lain," katanya santai.
Ia kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak di antara mereka, lalu setengah berbisik dengan nada dingin, "Tapi aku juga bukan orang yang sabaran... aku harap, Anda mengerti."
Jia Li berucap sambil mengetuk-ngetukkan surat pengunduran dirinya di atas meja kayu yang mewah itu. Setiap ketukan terdengar seperti bom waktu di telinga sang direktur.
Direktur Wang menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Akhirnya, ia mengangguk cepat. "Aku... aku akan segera memprosesnya!" katanya pasrah.
Jia Li tersenyum penuh kemenangan."Itu yang ingin aku dengar,"
Tanpa membuang waktu, ia berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu. Begitu pintu tertutup rapat, sepasang matanya yang semula tenang langsung berubah menjadi setajam silet.
Semua orang di tempat ini hanya mengenalnya sebagai Dokter Jia Li—seorang genius muda sekaligus spesialis Kardiotoraks terbaik di Rumah Sakit Huayuan.
Namun sekarang, jiwa yang bersemayam di dalam tubuh itu adalah seorang Putri Mahkota dari Kekaisaran besar bernama Awan Emas.
Entah bagaimana keajaiban ini terjadi, saat ini ia justru terlempar ke masa depan dan menempati raga ibunya ketika masih muda.
Saat Jia Li berjalan tegap menyusuri lorong rumah sakit yang ramai, langkah kakinya mendadak terhenti.
Ding!
Sebuah suara mekanis yang jernih bergema langsung di dalam kesadarannya.
[Misi pertama berhasil diselesaikan: Mengundurkan diri dari Rumah Sakit Huayuan.]
Mendengar suara itu, sudut bibir Jia Li terangkat membentuk seringai tipis.
[Hadiah diberikan: Perisai Tingkat Dewa telah aktif otomatis.]
Jia Li kembali melanjutkan langkahnya dengan ritme yang lebih mantap. Aura di sekujur tubuhnya kini berubah, terasa begitu menonjol dan mengintimidasi.
Kali ini, ia tidak akan lagi bersembunyi di balik jubah putih seorang dokter. Ia siap menjalani kehidupan baru di tempat di mana ibunya dulu pernah hidup dalam penderitaan yang mendalam.
Di dalam hatinya, ia bersumpah. Saatnya pembalasan dimulai bagi keluarga yang tidak tahu diri itu!