Pernikahan impian yang dibayangkan Naya berubah menjadi takdir nekad saat ia terpaksa naik ke pelaminan, menggantikan sang kakak yang kabur tepat sehari sebelum akad. demi menyelamatkan kehormatan keluarganya, Naya pasrah mengikat janji suci dengan pria asing yang bahkan tak pernah ia bayangkan.
Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat tirai malam pertama tersingkap. Pria yang kini sah menjadi suaminya adalah Raka Mahendra—CEO dingin dan arogan yang pernah memanjatkan penderitaan di hidup Naya dengan memecatnya secara sesepihak di depan umum. Pernikahan atas dasar kesepakatan enam bulan pun dimulai dengan kebencian yang masih membakar dada.
Di tengah perang dingin satu atap, benteng pertahanan Raka perlahan runtuh. Sikap ketusnya berganti perhatian samar yang membuat hati Naya berdesir.
Bagaimana keseruan rumah tangga instan yang mereka jalani ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fikafiky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan di Bawah Hujan Bogor
Hujan deras khas Kota Bogor mendadak turun tanpa peringatan. Gemuruh langit bersahut-sahutan di atas langit sore yang kelam, menumpahkan tirai air yang amat lebat menimpa atap seng dan dedaunan rindang di halaman rumah tua itu.
Suara gemericik air hujan yang menghantam tanah berisik mengiringi keheningan yang melingkupi teras depan rumah yang lapuk.
Di bawah naungan atap teras yang agak bocor di beberapa sudut, Naya duduk berlutut di atas lantai semen. Dengan tangan yang gemetar hebat dan air mata yang masih mengalir di pipinya, wanita itu sibuk membalut lengan bawah Raka menggunakan robekan kain selendang bersih yang ia temukan di dalam tasnya.
Darah merah segar masih merembes tipis dari balik balutan kain tersebut, namun Raka sama sekali tidak meringis. Pria itu hanya duduk bersandar pada pilar teras, menatap wajah Naya yang berada sangat dekat darinya dengan pendar mata yang amat dalam dan tenang.
"Lain kali ..." bisik Naya dengan suara parau bercampur isakan kecil, "kalau ada orang membawa pisau, jangan asal terjang seperti orang kesurupan! Anda itu CEO perusahaan triliunan rupiah, bukan pemeran pengganti di film aksi!"
Raka menyunggingkan senyum tipis, sebuah ukiran senyum yang begitu tulus hingga membuat kerutan halus muncul di sudut matanya. Tangannya yang tidak terluka terangkat pelan, lalu jemari hangatnya mengusap lembut bulir air mata di pipi Naya.
"Aku tidak memikirkan jabatanku saat melihat pisau itu terarah padamu, Naya," balas Raka dengan suara rendah yang sarat akan kejujuran murni. "Di kepalaku waktu itu cuma ada satu hal ... aku tidak boleh biarkan seujung kuku pun dari tubuhmu terluka."
Naya tertegun. Sentuhan jemari Raka di pipinya terasa begitu hangat, membakar rasa canggung dan dingin yang tersisa. Dada Naya bergemuruh hebat. Tatapan mata elang Raka yang biasanya penuh keangkuhan dan intimidasi kini bertelanjang dada di hadapannya, memperlihatkan rasa kepedulian yang begitu mendalam, sesuatu yang tidak lagi bisa disembunyikan di balik topeng pernikahan kontrak.
Naya menundukkan kepalanya, menyembunyikan rona merah yang merekah di wajahnya seraya merapikan ikatan kain di lengan Raka. "Sudah selesai dibalut. Begitu kita sampai di Jakarta, kita harus langsung ke rumah sakit untuk minta jahitan dan suntik tetanus."
"Iya, Dokter Naya," goda Raka pelan dengan nada berseloroh yang amat langka.
Naya mendengus pelan, lalu pandangannya beralih pada kotak kayu jati berukir gajah yang tergeletak aman di antara mereka.
Kotak itu berukuran sebesar buku tebal, tampak kusam oleh usia namun strukturnya masih sangat kokoh dan rapat. Di bagian depannya, terdapat sebuah lubang kunci kuningan berukuran kecil.
Naya meraba lehernya sendiri, lalu menarik sebuah kalung rantai tipis dari balik kerah bajunya. Di ujung rantai tersebut, menggantung sebuah kunci kuningan sangat kecil yang selama ini selalu ia kenakan sejak kecil,sebuah liontin kunci yang dulu diberikan Ayahnya sebagai hadiah ulang tahun ke-12.
"Dulu..." suara Naya bergetar nostalgia, "Ayah bilang kalung kunci ini adalah kunci rahasia menuju harta karun terbesar keluarga kita. Saya kira itu cuma dongeng Ayah untuk membuat saya senang."
Raka memperhatikan kunci kecil di tangan Naya dengan mata berbinar. "Ternyata ayahmu memang menyiapkan kunci ini untukmu, Naya. Buka kotaknya."
Dengan jemari yang dingin, Naya memasukkan kunci kecil itu ke dalam lubang kuningan di kotak kayu.
Klek.
Suara mekanisme kunci tua yang terlepas terdengar begitu renyah di tengah gemuruh suara hujan. Naya perlahan membuka tutup kotak kayu tersebut.
Di dalam kotak yang dilapisi kain beludru merah yang sudah memudar, tidak ada perhiasan emas atau tumpukan uang tunai. Yang terbaring di sana hanyalah dua buah benda: sebuah buku catatan harian bercover kulit hitam yang sudah agak lapuk di bagian pinggirnya, dan sebuah flashdisk besi berukuran kecil bertuliskan ukiran nama 'S. Kanindita'.
Naya merinding hebat saat menyentuh permukaan buku harian milik ayahnya itu. Ia membuka halaman pertama dengan sangat hati-hati. Di sana, tertulis lembaran demi lembaran catatan tangan bersih khas Surya Kanindita lengkap dengan tanggal dan jam kerja di pabrik tekstil Mahendra Group delapan tahun lalu.
Raka mencondongkan tubuhnya mendekat, ikut membaca baris-baris kalimat yang ditulis oleh almarhum Surya.
Halaman demi halaman menceritakan bagaimana Surya mulai mencium adanya kejanggalan dalam laporan keuangan dan pengadaan bahan kimia mudah terbakar di gudang pabrik. Hingga akhirnya, pada halaman yang ditulis tiga hari sebelum malam tragedi kebakaran itu, sebuah nama tercantum dengan sangat jelas beserta rincian transaksi suapnya:
[ "Aku menemukan bukti bahwa Direktur Operasional Pusat, Hendra Mahendra, telah menyalurkan dana secara ilegal dan menukar bahan kimia standar dengan bahan kimia berbahaya berpotensi meledak. Dia bermaksud merekayasa kebakaran untuk mengklaim asuransi perusahaan bernilai ratusan miliar demi menutupi kerugian investasi pribadinya di luar negeri. Aku harus melaporkan ini pada Pak CEO sebelum terlambat..."
]
"Hendra Mahendra ..." desis Raka dengan suara yang mendadak berubah menjadi sangat dingin dan menusuk. Matanya menyipit tajam, memancarkan amarah yang luar biasa.
Naya membelalak tak percaya. "Hendra Mahendra? Bukankah dia ... paman kandungmu sendiri?! Adik dari almarhum Ayahmu?!"
"Ya," jawab Raka dengan rahang yang mengeras kaku. "Paman Hendra ... orang yang selama delapan tahun ini berakting paling sedih atas kematian pamanku yang lain, orang yang paling gencar mendesak agar kasus ini ditutup dan menyalahkan ayahmu secara penuh!"
Naya meremas ujung buku harian itu. Kebenaran yang akhirnya terkuak ini terasa sangat menyayat hati. Ayahnya, seorang pria jujur yang bertaruh nyawa untuk membongkar kejahatan, justru ditumbalkan dan dihancurkan kehidupannya oleh anggota keluarga pemilik perusahaan itu sendiri.
"Pria berjaket hitam tadi ..." Naya teringat insiden perkelahian beberapa menit lalu, "...dia pasti suruhan Paman Hendra!"
"Tentu saja," sahut Raka tegas. Pria itu meraih flashdisk besi dari dalam kotak, menggenggamnya erat-erat di dalam telapak tangannya. "Hendra tahu aku mulai menyelidiki kembali kasus ini. Dia tahu bahwa jika flashdisk ini dibuka, seluruh data rekaman CCTV rahasia dan salinan transaksi bank miliknya akan terbongkar."
Naya menatap Raka dengan kecemasan yang membuncah. "Raka ... ini berbahaya. Paman Hendra adalah orang berkuasa di Mahendra Group. Kalau dia tahu kita memegang bukti ini, dia tidak akan tinggal diam!"
Raka memutar tubuhnya menghadap Naya. Dalam remang-remang cahaya sore yang tertutup hujan lebat, Raka menggenggam kedua tangan Naya yang gemetar. Pria itu menatap lurus ke dalam bola mata Naya dengan keteguhan dan keyakinan yang tak tergoyahkan.
"Dia memang berkuasa, tapi aku adalah CEO Mahendra Group, Naya," tegur Raka dengan suara berat yang menenangkan.
"Dan lebih dari itu ... aku tidak berjalan sendirian lagi sekarang. Aku punya bukti ini, dan aku punya kamu di sisiku."
Naya menahan napasnya. "Tapi bagaimana kalau dia menyakiti keluargaku lagi? Bagaimana kalau dia mengincar Ibu atau Ayah di rumah sakit?"
"Aku sudah menempatkan tim pengawal pribadi terbaik untuk menjaga rumah sakit Ayahmu dan rumah kontrakan Ibumu sejak kemarin sore," ungkap Raka, membuat Naya terperanjat kaget. "Tidak ada satu orang pun yang bisa menyentuh keluargamu tanpa seizinku. Kamu bisa pegang kata-kataku."