NovelToon NovelToon
Terjebak Duda Dan Tiga Pewaris Nakalnya

Terjebak Duda Dan Tiga Pewaris Nakalnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Identitas Tersembunyi / Mafia
Popularitas:67.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Arabelle Vasillo kabur dari rumah demi membuktikan bahwa dirinya bisa hidup mandiri tanpa bantuan keluarga. Dengan waktu satu tahun sebagai taruhan, ia membuka warung sarapan sederhana dan berusaha menjalani hidup biasa.

Namun, hidup tenangnya berakhir saat tanpa sengaja memecahkan kaca mobil Nathan Pradipta Anderson, seorang duda kaya dan berpengaruh yang memiliki tiga anak super nakal, Elang, Theo, dan Alya.

Dari satu kesalahan kecil, Arabelle justru terjebak dalam kehidupan keluarga Anderson yang penuh kekacauan, rahasia, dan konflik. Bisakah Arabelle bertahan menghadapi duda dingin dan tiga anak nakalnya, atau justru mereka akan mengubah hidupnya selamanya?

"Menikah denganku dan jadi ibu tiri dari ketiga anakku, maka hutangmu ku anggap lunas,"

Arabelle, hanya tersenyum menanggapi ucapan Nathan, tetapi Arabelle justru tak punya pilihan lain, semenjak hidup mandiri semua kartunya dan fasilitasnya telah dia serahkan pada keluarganya.

"Oke, deal! Setahun tidak lebih!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26

Suasana di taman mendadak canggung. Reno masih memegang kepalanya yang baru saja menjadi korban lemparan sandal Ara. Sementara Alya berdiri dengan wajah pucat, berharap bumi terbuka dan menelannya hidup-hidup.

Reno bergantian menatap Alya lalu Ara. Tadi ia mendengar jelas. Alya memanggil wanita itu Ibu. Namun, ada satu hal yang membuatnya bingung.

"Tunggu dulu." Reno menunjuk Ara. "Ibu?"

Alya langsung menutup wajahnya.

"Bukannya ibumu sudah meninggal?" Tanya Reno heran.

Alya membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

"Emm..."

Ia melirik Ara yang berdiri santai di sampingnya.

"Dia..." Belum sempat Alya menyelesaikan kalimatnya, Ara lebih dulu angkat bicara.

"Aku ibu tirinya." Ucap Ara santai.

"Hahahahaha!" Reno tertawa keras sampai membungkuk. Saking kerasnya, beberapa orang di sekitar taman sampai menoleh.

"Hahahaha! Serius?!"vReno memegangi perutnya. "Aku kira kakak tertua kamu!"

Alya langsung menutup mata. Sementara Ara hanya memiringkan kepalanya.

"Lucu ya?"

"Hahaha! Maaf, maaf." Reno berusaha menghentikan tawanya tetapi gagal.

"Wajahmu masih muda banget."

Ara mengangguk. "Memang."

"Berapa umurmu?"

"Dua puluh tujuh."

Reno kembali melongo. "Dua puluh tujuh?!"

"Kenapa?"Ara menatapnya datar. "Kamu kira aku tujuh puluh?"

Reno kembali tertawa. "Hahaha! Nggak, tapi—"

Tatapan Ara semakin dingin, seketika tawa Reno mulai mengecil. Entah kenapa, wanita itu terlihat menyeramkan saat diam. Ara lalu melangkah mendekat. Sampai kini ia berdiri tepat di depan Reno.

Senyumnya masih ada. Tetapi matanya tidak ikut tersenyum.

"Sudah selesai ketawanya?"

Reno berdeham. "Ya..."

"Bagus." Ara mengangguk pelan. Lalu tiba-tiba mengulurkan tangan.

Reno mengernyit. "Mau apa?"

"Sandalku," Reno melirik sandal yang masih tergeletak di dekat bangku.

Ara mengangkat sebelah alis.

"Apa perlu aku lempar sandal yang satunya juga baru kamu ambil?"

Reno langsung diam. Alya yang melihat itu buru-buru mengambil sandal tersebut lalu menyerahkannya kepada Ara.

"Nih,"

Ara menerima sandalnya, "Anak baik..."

Alya semakin meringis. Reno memperhatikan interaksi keduanya dengan bingung. Namun, sebelum ia sempat bicara lagi, Ara sudah menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tatapan itu membuat Reno merasa seperti sedang dinilai. Kini ia sudah melihat langsung kelakuan pacar Alya. Sangat buruk sampai Ara harus menahan diri agar tidak melempar sandal yang satunya lagi ke kepala Reno.

"Jadi..." Ucap Ara pelan sambil melipat kedua tangannya di dada. "Kita ngobrol sebentar, ya?"

Senyum Reno perlahan menghilang. Dia merasa dirinya sedang berada dalam masalah besar.

Ara melipat kedua tangannya di dada lalu berkata tegas, "dengar baik-baik. Mulai hari ini, jauhi Alya."

Reno mengernyit. "Memangnya siapa kamu nyuruh-nyuruh aku?"

"Aku ibu tirinya."

"Kalau begitu urus saja rumah tangga kamu, ngapain urus urusan pribadi kami!"

Ara tersenyum tipis. "Saya sedang mengurusnya."

Reno langsung terdiam. Ara melangkah satu langkah lebih dekat.

"Aku tidak peduli kamu suka atau tidak. Tapi kalau sampai aku lihat kamu membuat Alya menangis, memanfaatkannya, atau menyeretnya ke dalam masalah, aku sendiri yang akan membuat perhitungan denganmu."

Nada suaranya tidak tinggi, tetapi itu sudah membuat Reno sedikit tidak nyaman.

"Kamu ngancam aku?" Tanya Reno.

Ara mengangkat bahu. "Anggap saja peringatan."

Sebelum Reno sempat membalas, Alya tiba-tiba maju berdiri di depan Reno.

"Kenapa Anda terus ikut campur urusan pribadi aku?" Suara Alya meninggi.

Ara menatap gadis itu dengan diam.

"Bahkan Ayah tidak pernah mengurus urusan pribadi aku seperti ini! Kakak-Kakak juga tidak pernah ikut campur! Kenapa harus Anda?" Alya sedikit berteriak.

Raut wajahnya memperlihatkan kekesalan sekaligus rasa malu karena semua ini terjadi di depan Reno tetapi Ara tidak marah.

Ia justru menghela napas pelan. Lalu berkata dengan santai, "karena kakak-kakakmu tidak berguna."

"Hah?" Alya melongo.

"Mereka tidak tahu cara menjaga adik mereka."

Alya langsung kehabisan kata-kata. Ara lalu menatap Alya lebih lembut dibanding sebelumnya.

"Ayo pulang..." Suaranya jauh lebih lembut sekarang. Ara tahu, memarahi Alya di depan Reno hanya akan membuat gadis itu semakin membangkang. Tetapi, Alya tetap menggeleng.

"Nggak mau,"

"Alya..."

"Nggak mau!"

Ara menatap wajah keras kepala itu beberapa detik. Lalu mendekat dan berbisik pelan agar hanya Alya yang bisa mendengarnya.

"Mau ikut Ibu pulang..." Ara sengaja memberi jeda. "Atau tunggu dijemput Ayah, sayang?"

Mata Alya langsung membulat, Ara memasang wajah polos. Padahal ia sendiri tahu Nathan sedang berada di Bali, Alya juga tahu. Tetapi entah kenapa, mendengar nama ayahnya disebut membuat keberaniannya langsung berkurang setengah. Jika Nathan sampai tahu ia masih keluyuran sampai malam bersama Reno, akhir hidupnya mungkin benar-benar tiba.

Ara tersenyum manis. Senyum yang justru membuat Alya semakin gugup.

"Jadi?" Tanya Ara lembut. "Ikut Ibu..." Senyumnya semakin lebar. "Atau kita telepon Ayah sekarang?"

Alya langsung menelan ludah.

Sementara Reno yang tidak tahu situasi sebenarnya mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.

"Aku pulang dulu." Akhirnya Alya menyerah.

Ia tahu tidak ada gunanya berdebat lebih lama dengan Ara. Apalagi setelah ancaman halus tentang ayahnya tadi.

Reno langsung berdiri. "Alya, tunggu—"

Namun, sebelum sempat mendekat, Ara sudah lebih dulu melangkah ke samping Alya. Tatapannya tajam mengarah pada Reno.

Reno spontan menghentikan langkahnya. Entah kenapa, wanita itu membuatnya enggan mencari masalah saat ini. Ara kemudian menggenggam pergelangan tangan Alya dengan lembut.

"Ayo,"

Alya hanya mengangguk pelan. Keduanya berjalan meninggalkan taman. Sementara Reno berdiri di tempatnya sambil mengepalkan tangan. Ia tidak suka dipermalukan seperti itu. Terlebih oleh seorang wanita yang bahkan baru dikenalnya beberapa hari. Tak jauh dari sana, sebuah taksi masih menunggu.

Ara membuka pintu belakang dan mempersilakan Alya masuk terlebih dahulu. Setelah memastikan gadis itu duduk dengan aman, Ara ikut masuk ke dalam mobil. Taksi pun perlahan meninggalkan taman kota.

Dari balik kaca belakang, Reno masih terlihat berdiri memandangi mereka. Entah kenapa, perasaan tidak nyaman mulai muncul di hati Alya.

Di waktu yang sama.

Malam sudah larut ketika Nathan dan Mohan keluar dari ruang pertemuan hotel. Hari itu sangat melelahkan. Sejak siang hingga malam, jadwal Nathan hampir tidak memiliki jeda. Keduanya berjalan menyusuri koridor hotel menuju kamar masing-masing.

Namun, sebelum berpisah, Mohan menghentikan langkahnya.

"Tuan."

Nathan menoleh. "Ada apa?"

Mohan membuka tablet yang sejak tadi dibawanya.

"Saya menerima laporan transaksi hari ini."

Nathan mengangguk. "Masalah perusahaan?"

"Bukan."

Nathan langsung menoleh penuh perhatian. Mohan melanjutkan.

"Hari ini ada pengeluaran sebesar tiga puluh lima juta rupiah dari rekening Nona muda."

Langkah Nathan langsung terhenti. "Waktu?"

"Sore hari."

Nathan mengernyit. "Lalu Elang dan Theo?"

"Masih dalam batas normal." Jawab Mohan. "Tidak ada transaksi yang mencurigakan."

Wajah Nathan perlahan berubah serius. Selama ini Alya hampir tidak pernah menggunakan tabungannya sembarangan. Bahkan, untuk membeli barang mahal sekalipun, putrinya selalu meminta izin lebih dulu.

"Periksa." Ucap Nathan tegas. "Untuk apa uang itu digunakan."

Mohan mengangguk. Beberapa detik kemudian informasi transaksi muncul di layarnya. Mata Mohan sedikit membesar. Nathan langsung menangkap perubahan ekspresi tersebut.

"Apa?"

Mohan menghela napas pelan. "Pembelian jam tangan."

Nathan terdiam. "Jam tangan?"

"Iya, Tuan."

Wajah Nathan langsung mengeras. Alya memang menyukai barang bagus. Namun, tidak pernah sampai menghabiskan uang sebanyak itu tanpa alasan. Terlebih membeli jam tangan secara mendadak. Ada sesuatu yang tidak beres. Nathan lalu menatap keluar jendela koridor hotel.

Rahangnya mengeras. "Dia membeli untuk dirinya sendiri?"

"Itu belum bisa dipastikan." Jawab Mohan jujur. "Tetapi transaksi dilakukan menggunakan kartu milik Nona muda."

Nathan menghembuskan napas panjang. Jelas terlihat ia sedang menahan amarah.

"Ada yang disembunyikan anak itu." Gumamnya.

Mohan tidak membantah. Beberapa saat kemudian Nathan menggeleng pelan.

"Kita urus setelah kita pulang." Nada suaranya tenang.

"Sementara ini jangan beri tahu siapa pun." Perintah Nathan.

"Termasuk Nyonya Ara?" Tanya Mohan.

Nathan terdiam sejenak. Lalu mengingat sosok istrinya yang kemungkinan besar sedang sibuk mengatur ketiga anaknya di rumah.

"iya," jawab Nathan. "Biarkan saja."

Namun, baik Nathan maupun Mohan tidak tahu. Saat ini justru Ara sudah selangkah lebih dekat dengan masalah pengeluaran itu.

1
Endang 💖
Ais Reno, si cowok mokondo itu
beybi T.Halim
ayo ara lakukan investigasi,minta tolong kenzo jebloskan reno kepenjara,biar mata alya terbuka lebar bagaimana jahatnya si reno bukan barrac itu
seribu nama
Ayolah biar Tahu Rena si pacar Alya itu dapat pelajaran dari mamah Ara dan si Alya ga deket lagi sama si Reno😠
Retno Palupi
oh Kenzo yg punya arena balap?
Ariany Sudjana
semoga Theo lekas mendapatkan penanganan yang terbaik, dan pasti Arabelle yang akan mengurusnya
Jaya Fandi
menegangkan,,mksh ka,,banyak " up nya,, semangat 💪🏽💪🏽
Jaya Fandi
terserah otornya lah yg menang siapa,,misal nnti theo kalah psti ada hikmahnya,,💪💪
T&K
Heeeeey Reno! kamu kira akan lolos dr Kenzo? tunggulah penyelidikannya
Lisa Halik
semoga saja nathan tidak akan menyalahkan arabelle.....lepas ini kamu sadarlah theo
Les Tary
jgn sampai nanti nathan menyalahkan ara
Ita rahmawati
bengek sih kamu elang malah mikir nti setelah sadar Theo bakal diamuk emak tiri 🤦🤣🤣🤣
yumna
reno licik ara pasti dapet bukti bwat jeblosin reno k pnjraa....bukti d lintasin cctv.....abis lah kau reno...dan kau theo d amuk m ara
Aditya hp/ bunda Lia: puas juga ntar sama si Alya dia nanti jadi tau kalo si Reno emang berengsek
total 2 replies
Fia Ayu
🤣🤔🤣🤣
Fia Ayu
Awalnya aku ragu mau baca nie novel, kaga taunya asik banget
Dr bab pertama ngakak mulu bacanya 🤣🤣🤣
seribu nama
Kalau Thei tahu pacarnya Alya itu Reno musuhnya gimana ya pasti marah banget. Plis Theo hati" jangan sampai dengan kamu celaka rahasia ibu tirimu terbongkar
Ariany Sudjana
Theo kecelakaan, Arabelle yang akan turun tangan untuk merawatnya
Ita rahmawati
tuh kan Theo kuwalat udh ngelawan SM ibu tiri sih 😂😂
Ariany Sudjana
wah kakaknya Arabelle jadi pengelola lintasan balap 😄
Ita rahmawati
owalah Kenzo toh
Ita rahmawati
ikut sedih ih aku 😔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!