NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kera Putih

Kebangkitan Kera Putih

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Ketika langit di atas pinggiran Kekaisaran Yanling tiba-tiba terkoyak oleh invasi mendadak monster binatang, ilusi kedamaian hancur dalam semalam. Di tengah kepanikan para kultivator muda elit yang formasinya porak-poranda, Lin Juan—seorang yatim piatu bermarga Lin yang selalu dicaci karena Jiwa Rohnya yang cacat—menjadi satu-satunya yang menolak mundur. Tanpa pancaran energi spiritual yang mewah, ia mengandalkan insting murni dan tubuh yang ditempa penderitaan untuk bertahan hidup. Di tengah genangan darah dan keputusasaan, sebuah jiwa purba yang tertidur di kedalaman nadinya, Roh Kera Putih yang legendaris, akhirnya membuka mata, merespons panggilan kematian dengan raungan yang mengguncang surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KERETA TAHANAN

Roda kayu berlapis besi berderit kasar menembus jalanan berbatu yang tak rata. Kereta tahanan terus berguncang, melempar tubuh-tubuh yang terbelenggu rantai ke dinding kayu lapuk. Bau keringat kotor, darah membusuk, dan jerami basah menyatu erat di dalam ruang sempit berjeruji besi itu.

Lin Yuan duduk bersila di pojok paling dalam. Rantai besi tebal yang mengikat kedua pergelangan tangan serta kakinya berdenting pelan setiap kali roda kereta menghantam lubang jalanan. Di sekelilingnya, ada tujuh tahanan lain. Rata-rata dari mereka adalah perampok jalanan, pencuri, atau mantan prajurit buangan berwajah bopeng dengan mata yang liar.

"Oi, Budak," Panggil seorang tahanan bertubuh kekar dengan bekas tebasan di dahi. Tangannya yang dipasangi rantai menunjuk ke arah Lin Yuan. "Baju klanmu koyak bersimbah darah, tapi mukamu tenang sekali. Kau membantai siapa sampai dilempar ke gerobak maut ini?"

Lin Yuan tidak menjawab. Matanya tetap terpejam, napasnya keluar masuk secara teratur melalui hidung.

"Muka tembok," Cibir tahanan lain di sebelahnya sambil meludah ke lantai jerami. "Paling-paling cuma anak haram yang dibuang klan karena tidak berguna. Kau pikir kau bisa bertahan berapa hari di jalur utara, Bocah?"

Lin Yuan mengabaikan racatan itu sepenuhnya. Hinaan seperti itu tidak lagi berarti apa-apa baginya. Selama bertahun-tahun ia hidup di tengah cemoohan warga dan murid klan; telinganya sudah kebal, jiwanya sudah mengeras.

Di dalam dadanya, Lin Yuan memusatkan seluruh perhatiannya ke lautan jiwa.

Guncangan keras kereta tahanan dan hembusan angin dingin yang menerobos celah jeruji besi membuat lautan jiwanya bergetar tipis. Cahaya emas dari mata Kera Putih terpancar samar di kegelapan badannya. Setiap kali Lin Yuan menarik napas dalam-dalam, ia mengarahkan udara dingin itu menyusuri garis-garis meridian di sepanjang tangannya.

Ia sedang mencoba menyapa kembali Roh Jiwa Kera Putih.

*Kera Putih ini bukan milik klan, bukan milik siapapun,* Batin Lin Yuan pelan. *Ini adalah warisan yang hidup dari pertarungan.*

Saat Lin Yuan mencoba mengalirkan energi hangat dari ulu hatinya menuju pergelangan tangan yang terbelenggu besi, lautan jiwanya merespons. Siluet Kera Putih raksasa di dalam jiwanya perlahan membuka mulut, menghembuskan uap murni yang langsung membalut tulang-tulang di pergelangan tangannya.

KLANG!

Rantai besi tebal di tangannya mendadak bergetar pelan. Suara deretan logam tebal yang tertahan energi murni menimbulkan gemerincing tipis.

Pria kekar bertato di sebelahnya mendadak menghentikan tawa remehnya. Matanya melotot menatap pergelangan tangan Lin Yuan. Ada hawa dingin yang aneh merambat keluar dari tubuh pemuda itu, membuat bulu kuduk semua tahanan di dalam kereta berdiri seketika.

"Hawa apa ini...?" Bisik pria kekar itu seraya menggeser tubuhnya mundur beberapa jengkal, menatap Lin Yuan dengan kewaspadaan baru.

Lin Yuan perlahan membuka mata. Cahaya perak berkelebat tipis di pupil hitamnya sebelum memudar sempurna. Ia menatap pria kekar itu dengan pandangan datar.

"Kalau kau butuh tempat legar untuk duduk, katakan saja. Tidak perlu banyak bicara," Ucap Lin Yuan dingin.

Pria bertato itu menelan ludah serak. Ia melihat darah kering di dada Lin Yuan dan luka-luka yang sudah mulai mengering secara tak wajar. Naluri kriminalnya memberi tahu bahwa pemuda di depannya ini bukanlah anak manja yang biasa menangis saat dihukum.

"Cih," Dengus pria itu sambil memalingkan muka, memilih untuk tidak mencari masalah lebih jauh.

Kereta terus bergerak menembus bukit-bukit gundul menuju wilayah utara. Sinar matahari siang mulai tenggelam, digantikan oleh awan kelabu yang tebal dan angin pegunungan yang menusuk tulang.

Dari luar jeruji besi, suara derap kuda pengawal militer terdengar teratur. Dua orang prajurit bersenjata tombak berkuda di samping kereta tahanan, menatap ke dalam dengan pandangan bosan dan dingin.

"Hei, lihat anak klan yang dibuang itu," Bisik salah satu pengawal berkuda kepada temannya. "Seharian duduk bersila tanpa merintih sama sekali. Padahal tahanan lain dari tadi terus mengeluh minta air."

"Biarkan saja," Sahut pengawal lainnya sambil meludah ke samping. "Begitu kita melewati Ngarai Gagak besok pagi, dia akan tahu apa artinya neraka perbatasan. Udara di utara cukup dingin untuk membekukan darah dalam semalam."

Di dalam kereta, Lin Yuan mendengar setiap kata percakapan itu. Ia merogoh saku dalam baju kusamnya dengan jari-jari yang terbelenggu, menyentuh kantong kain kecil yang diberikan Paman Gu sebelum berangkat.

Sentuhan kasar kain usang itu menghangatkan hatinya. Di dalam kantong itu ada peta tua perbatasan dan minyak gosok keras. Paman Gu telah mengorbankan masa tuanya demi menjaga nyawa Lin Yuan agar tetap utuh, dan Lin Yuan tidak berniat menyia-siakan pengorbanan itu.

Lin Yuan menyandarkan punggungnya pada dinding kayu kereta, menatap langit sore yang perlahan menggelap melalui celah jeruji besi.

Di luar sana, pegunungan utara berdiri membayang bagai raksasa batu yang tertidur. Di balik pegunungan itulah Benteng Tembok Besi berdiri—sebuah tempat pembantaian tempat manusia dan monster saling mencabik setiap hari.

Bagi orang lain, pembuangan ke perbatasan adalah vonis mati. Namun bagi Lin Yuan, perbatasan utara adalah medan latihannya. Di sana, di antara hujan darah dan raungan binatang buas, Roh Kera Putih dalam tubuhnya akan menemukan nutrisi sejati untuk bangkit sepenuhnya.

"Tembok Besi..." Bisik Lin Yuan pelan pada kegelapan malam yang mulai turun. "Tunggulah aku."

Lin Yuan kembali memejamkan matanya, membiarkan guncangan kereta tahanan membawanya makin dekat menuju pusaran pembantaian di utara, sementara aliran *qi* di meridiannya berputar makin cepat dan padat.

1
Iskandar Muda
mantap
Fery Oktavian: semoga suka dengan ceritanya 👍🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!