32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.
Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.
Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Lima anakku. Kalimat itu menusuk Sinta dengan cara yang tidak ia duga. Karena perempuan yang dulu ingin ia hancurkan masa depannya Ternyata berhasil menemukan kebahagiaannya sendiri. Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun lalu Dokter Sinta mulai takut. Takut suatu hari Vivi meminta pendapat kedua. Takut ada dokter lain yang membuka semua kebohongan yang selama ini ia sembunyikan. Dan yang paling ia takuti Adalah kenyataan bahwa rahasia itu mungkin tidak bisa disembunyikan selamanya.
Dokter Sinta segera memaksakan senyum setelah beberapa detik kehilangan kata-kata. Pengalamannya puluhan tahun sebagai dokter membuatnya cukup terlatih menyembunyikan kepanikan. Setidaknya di permukaan. "Kalau menurut Tante..."Sinta melipat kedua tangannya di atas meja. "Dilanjutkan saja dulu."
Vivi mengernyit. "Masih perlu?"
"Ya." jawab Sinta cepat. Hingga ia sendiri harus mengoreksinya. "Maksud Tante, tidak ada salahnya dilanjutkan."
Vivi tampak berpikir. "Tapi aku sudah tidak mengejar itu lagi, Tante."
"Tidak mengejar apa? Punya anak." Kalimat itu membuat dada Sinta kembali terasa sesak.
Vivi tersenyum kecil. "Dulu mungkin aku berharap. Sekarang tidak lagi. Karena aku sudah bahagia. Aku juga sudah menerimanya kalau tidak semua perempuan bisa memiliki keturunan." Jawaban itu sederhana. Tetapi justru itulah yang membuat Sinta semakin tidak nyaman. Vivi melanjutkan, "Aku punya suami. Punya keluarga. Punya lima anak yang setiap hari membuat rumah berisik." Ia tertawa kecil mengingat Saka. "Kadang aku bahkan merasa lima itu terlalu banyak."
Sinta ikut tertawa..Namun tawanya terasa kering. "Tetap saja." katanya. "Kalau menurut Tante, terapi ini diteruskan saja."
"Untuk apa?"
Sinta langsung menjawab, "Siapa tahu ada keajaiban." Sinta berusaha terdengar santai. "Kalaupun memang tidak berhasil, ya tidak apa-apa. Kamu tidak rugi." Vivi masih mendengarkan. "Tapi kalau berhasil..." Sinta tersenyum. "Itu bonus." Ruangan hening beberapa saat. Biasanya kalimat seperti itu akan membuat Vivi bersemangat. Karena selama bertahun-tahun ia hidup dari harapan-harapan kecil semacam itu. Namun hari ini berbeda. "Makanya terapi dilanjutkan saja."
Vivi mengangguk pelan. Namun kali ini ia tidak langsung setuju seperti dulu. Karena hidupnya sudah berubah. Dulu setiap resep adalah harapan. Setiap pil adalah doa. Setiap kontrol adalah usaha terakhir untuk menjadi seorang ibu. Sekarang Ia sudah bangun setiap pagi untuk menyiapkan sarapan lima anak. Mengurus PR. Mengobati demam. Mendamaikan pertengkaran. Menjadi tempat bercerita. Menjadi tempat pulang. Tanpa sadar ia tersenyum. "Kalau dipikir-pikir..." Sinta menunggu. "Aku memang tidak melahirkan mereka." Mata Vivi terlihat hangat. "Tapi rasanya aku sudah menjadi ibu juga."
Sinta tidak bisa menjawab. Karena di balik kalimat sederhana itu ada ironi yang hanya ia sendiri yang pahami. Perempuan yang diyakinkan bertahun-tahun bahwa dirinya tidak akan pernah menjadi ibu. Kini sedang bercerita dengan wajah bahagia tentang lima anak yang memanggilnya saat takut, sakit, atau sedih. Dan untuk pertama kalinya Sinta mulai bertanya pada dirinya sendiri apakah dendam yang dulu ia pelihara benar-benar layak dipertahankan. Karena semakin ia melihat Vivi, semakin sulit baginya membenarkan kebohongan yang selama ini telah mengubah jalan hidup seorang perempuan.
***
Malam itu rumah sudah tenang. Sean dan adik-adiknya sudah tidur. Lampu-lampu utama dimatikan, hanya menyisakan cahaya temaram dari lampu sudut kamar. Di atas meja kecil dekat tempat tidur, beberapa strip obat masih tergeletak. Obat yang baru saja diberikan Dokter Sinta siang tadi.
Vivi duduk di tepi ranjang. Memandangi obat-obatan itu cukup lama. Tangannya sempat mengambil satu strip. Lalu meletakkannya lagi. Mengambil kembali. Lalu mengembalikannya ke meja. Entah kenapa hari ini ia merasa lelah. Bukan lelah fisik. Melainkan lelah menjalani sesuatu yang bahkan sudah tidak lagi ia yakini. Sudah lebih dari sepuluh tahun. Sepuluh tahun minum obat. Sepuluh tahun terapi. Sepuluh tahun berharap. Sepuluh tahun kecewa. Dan sekarang Untuk pertama kalinya ia merasa ingin berhenti.
Pintu kamar terbuka pelan. Baskara masuk setelah memastikan anak-anak benar-benar tertidur. Melihat Vivi masih duduk, ia mengernyit. "Belum tidur?"
Vivi menoleh. "Belum."
Baskara berjalan mendekat. Lalu duduk di sampingnya. "Ada yang dipikirkan?"
Vivi tersenyum tipis. "Banyak." tetapi Vivi memutuskan tidak ingin berbagi cerita ini dengan Baskara. Ia merasa bisa memutuskan sendiri, lanjut terapi atau tidak. Matanya beralih ke foto keluarga yang berdiri di atas lemari.Foto pertama mereka bersama. Sean yang pura-pura tidak mau tersenyum. Yuan yang terlihat bosan. Saka yang hampir melompat keluar frame. Ella yang memeluk lengannya. Dan Lili yang duduk di pangkuannya. Tanpa sadar Vivi tersenyum. "Aku sudah punya keluarga." Baskara mengikuti arah pandangannya. "Aku sudah punya lima anak yang membuatku pusing setiap hari."
Kini Baskara ikut tersenyum. "Terutama Saka."
"Nah itu." Mereka tertawa kecil. Lalu Vivi mengambil semua obat di atas meja. Memandangnya beberapa detik. Bukan dengan kebencian. Bukan dengan kemarahan. Melainkan seperti seseorang yang sedang mengucapkan selamat tinggal pada bab hidupnya yang lama. Perlahan ia membuka laci meja. Lalu menyimpan seluruh obat itu di dalamnya. Klik. Laci tertutup. Sesederhana itu. Namun rasanya seperti meletakkan beban yang sudah ia bawa bertahun-tahun. "Aku selesai." gumamnya.
Dan malam itu, ivi merasa untuk pertama kalinya dalam hidupnya benar-benar berdamai dengan masa lalunya. Ia tidak tahu bahwa jauh di luar sana, seseorang sedang panik karena keputusan yang baru saja ia ambil. Seseorang yang selama bertahun-tahun menyembunyikan kebenaran. Seseorang bernama Dokter Sinta. Dan rahasia itu perlahan mulai mendekati waktunya untuk terbongkar.
Malam semakin larut. Rumah sudah benar-benar tenang. Setelah menyimpan obat-obatan itu ke dalam laci, Vivi duduk diam di tepi ranjang. Perasaannya jauh lebih ringan. Seolah ada sesuatu yang akhirnya ia lepaskan setelah bertahun-tahun menggenggamnya terlalu erat.
Baskara masih duduk di sampingnya. Tidak bicara. Namun pandangannya tak lepas dari perempuan yang sudah lebih dari satu bulan itu menjadi istrinya. Dan entah kenapa, keheningan malam itu terasa nyaman. Baskara bukan orang yang pandai merangkai kata. Bukan tipe lelaki romantis. Bahkan ucapan terima kasih saja dulu sulit keluar dari mulutnya. Karena itu, untuk memulai kembali dengan Vivi, butuh sedikit waktu. "Vi," kata Baskara dengan setelah mengerahkan semua keberaniannya.
Mereka saling menatap. Untuk beberapa saat. Tanpa tergesa-gesa. Baskara lalu merapikan sedikit anak rambut yang ada di kening Vivi. Gerakan sederhana. Lembut. Hampir ragu-ragu. Seolah ia sendiri masih belajar menjadi suami yang baik. "Capek?" tanyanya.
Vivi mengangguk. "Sedikit."
"Karena anak-anak?"
"Karena suaminya."
Baskara langsung tertawa. "Aku serius."
"Aku juga." Vivi tersenyum jahil. "Suamiku itu sibuk sekali."
"Sudah berkurang."
"Masih."
"Sedang diusahakan." Nada suara Baskara terdengar seperti seseorang yang benar-benar sedang berusaha. Dan Vivi bisa melihatnya. Lelaki itu memang tidak pandai mengungkapkan perasaan. Namun setiap hari ia berusaha. Sedikit demi sedikit. Lelaki itu menggenggam tangan istrinya, lalu mengecup bibirnya. Butuh waktu ketika akhirnya ia menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami kepada istrinya.
demi keluarga mantan mertua dia malah mengkhianati amanah ibu sendiri,,
bloon banget
baskara sebagai suami tidak menjalankan amanah dgn baik