Siapa sangka, Sindi Permata gadis cantik anak miliarder yang penampilannya selalu anggun dan kelihatan lemah lembut ternyata punya sisi gelap yang bikin bulu kuduk merinding. Sindi adalah Ratu Mafia yang memimpin dunia hitam dengan tangan besi. Nggak ada yang berani macam-macam sama dia.
Tapi, sehebat-hebatnya Sindi menaklukan dunia luar, dia akhirnya takluk juga pasrah waktu disuruh nikah paksa sama papanya.
Suaminya adalah Mike Sanjaya, dokter muda jenius yang terkenal dingin, kaku, dan judesnya minta ampun. Masalahnya bukan cuma sifat Mike yang kayak es batu, tapi cowok itu udah punya pacar kesayangan: Putri Adisti, seorang perawat manis yang selama ini jadi ratu di hati Mike, begitu resmi jadi suami-istri, Mike langsung pasang tembok tinggi. Dia terang-terangan nunjukkin kalau pernikahan mereka cuma formalitas dan nggak ada tempat buat Sindi di hatinya. Mike bahkan masih sering nemenin dan merhatiin Putri adisti.
akankah pernikahan mereka bertahan??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4 Ratu mafia istri dokter dingin
BAB 4
Angin malam berembus cukup kencang, membawa hawa dingin yang menusuk tulang di area taman belakang Rumah Sakit Sanjaya Utama.
Lampu-lampu taman yang remang memancarkan bayangan panjang di atas rumput hijau yang basah oleh embun.
Di salah satu bangku taman yang sepi, Mike duduk sambil menyandarkan punggungnya.
Jas mewahnya sudah ia lepas dan ia lempar begitu saja di sampingnya. Lengan kemeja putihnya digulung hingga ke siku, memperlihatkan urat-urat tangannya yang menegang keras.
Sejak meninggalkan restoran, amarah dan rasa frustrasi di dadanya belum juga padam.
Suara langkah kaki yang tergesa-gesa mendekat dari arah koridor. Mike menoleh dan mendapati Putri berdiri di sana dengan napas terengah-engah, masih mengenakan seragam perawatnya. Wajah manis wanita itu tampak penuh kecemasan.
"Mike!" panggil Putri setengah berlari mendekat. Ia langsung berlutut di samping bangku, menggenggam erat tangan Mike yang terasa begitu dingin.
"Kamu dari mana saja? Tadi aku dengar dari teman-teman dokter kamu bilang kamu pergi makan malam keluarga!"
Mike menatap wanita di depannya. Tatapan matanya yang tadinya penuh amarah perlahan melunak, berganti dengan rasa bersalah yang teramat dalam. Ia membalas genggaman tangan Putri, membawa jemari halus itu ke pipinya sendiri.
"Putri..." suara Mike terdengar serak, begitu berat dan sarat akan keputusasaan.
"Ada apa, Mike? Kenapa muka kamu pucat banget begini? Tangan kamu juga gemeteran," tanya Putri dengan raut wajah yang makin panik. Tangannya yang sebelah lagi terangkat, mengusap pelan kening Mike. "Cerita sama aku, ada masalah apa sebenarnya sama Papa kamu?"
Mike memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk menetralkan rasa sesak di dadanya. Namun, ancaman sang ayah kembali berputar di kepalanya bagai kaset rusak.
Pilihannya ada di tangan kamu. Menikah dengan Sindi Permata dan hidup tenang, atau menolak dan lihat bagaimana hidup perawat kesayangan kamu itu hancur berantakan dalam semalam.
"Mike, jangan diam aja... Kamu bikin aku takut," bisik Putri pelan, matanya mulai berkaca-kaca melihat keheningan pria yang dicintainya itu.
Mike akhirnya membuka mata. Ia menatap lurus ke dalam iris mata Putri, berusaha menyusun kata-kata yang paling tidak menyakitkan, meski ia tahu itu mustahil.
"Papa... Papa maksa aku buat menikah, Putri," ucap Mike pelan, hampir berupa bisikan.
Tubuh Putri mendadak kaku. Tangannya yang memegang pipi Mike terhenti seketika. "M-menikah? Maksud kamu apa, Mike? Menikah sama siapa?"
"Sindi Permata. Anak tunggal pemilik Permata Corp," jawab Mike dengan nada penuh kepahitan. "Papa jodohkan aku sama dia demi ekspansi bisnis keluarga Sanjaya."
Air mata yang sejak tadi ditahan Putri akhirnya menetes juga, membasahi pipinya.
Ia menggelengkan kepala tidak percaya, mencoba mencerna kalimat yang baru saja keluar dari mulut kekasihnya.
"Enggak... Kamu bercanda, kan? Kamu cuma mau ngerjain aku, kan, Mike? Kita udah tiga tahun pacaran, kamu janji kita nikah setelah aku selesai ambil spesialis!"
"Aku enggak bercanda, Putri!" potong Mike dengan nada bergetar. Ia menarik Putri ke dalam pelukannya, memeluk tubuh wanita itu dengan sangat erat, seolah-olah jika ia melepasnya sebentar saja, Putri akan hilang selamanya.
"Aku udah menolak keras! Aku udah membentak Papa di depan keluarga cewek itu! Aku bilang kalau aku cuma cinta sama kamu!"
Putri terisak keras di dada Mike, jemarinya meremas kemeja putih Mike hingga kusut.
"Terus kenapa, Mike? Kalau kamu udah tolak, kenapa kamu kelihatan sefrustrasi ini? Kita bisa lawan Papa kamu, kan? Kita bisa pergi dari rumah sakit ini!"
Mike makin mempererat pelukannya. Rasa sakit menusuk dadanya mendengar permintaan Putri.
"Aku enggak bisa, Putri... Aku enggak bisa bawa kamu pergi."
Putri melepaskan pelukannya secara paksa, menatap Mike dengan pandangan terluka dan tidak percaya.
"Kenapa?! Kenapa enggak bisa?! Kamu takut kehilangan harta Papa kamu? Kamu takut jadi orang biasa tanpa nama besar Sanjaya?!"
"Bukan soal harta!" bentak Mike menahan tangisnya. Ia memegang kedua bahu Putri dengan kencang.
"Papa ngancam aku pake keselamatan masa depan kamu, Putri! Papa bilang, kalau aku berani nolak perjodohan ini atau kabur sama kamu, papa bakal... izin praktik kamu bakal dicabut permanen! Papa bakal pastikan kamu dipecat secara tidak hormat dan enggak akan pernah bisa kerja di rumah sakit mana pun di negara ini selamanya!"
Kalimat Mike seperti sambaran petir di siang bolong bagi Putri. Tangisannya mendadak terhenti, matanya membelalak lebar.
Pekerjaan sebagai perawat adalah satu-satunya tumpuan hidupnya dan keluarganya di kampung. Jika izin praktiknya dicabut, seluruh usahanya bertahun-tahun akan hancur seketika.
"Papa kamu... sejahat itu?" bisik Putri dengan suara bergetar hebat.
Mike menundukkan kepalanya, menempelkan keningnya ke kening Putri. Air mata Mike akhirnya menetes juga, jatuh mengenai pipi Putri.
"Aku bisa aja hidup melarat demi kamu, Putri. Tapi aku enggak bisa biarkan cita-cita dan masa depan kamu hancur cuma karena keegoisan aku. Aku enggak sanggup lihat kamu menderita karena perbuatan Papa."
Putri menangis terseguk-seguk. Ia paham betul betapa berkuasanya keluarga Sanjaya. Ancaman Baskoro Sanjaya bukanlah gertakan sambal semata.
Pria tua itu punya uang dan kekuasaan untuk merusak hidup orang kecil seperti dirinya dalam sekejap mata.
"Jadi... kamu bakal tetap nikah sama Sindi Permata itu?" tanya Putri lirih dengan nada sangat keputusasaan.
Mike menggenggam kedua tangan Putri, menatapnya dengan penuh keyakinan dan rasa cinta yang mendalam.
"Dengar baik-baik, Putri," tegas Mike, suaranya kembali terdengar mantap meski matanya masih basah.
"Pernikahan ini cuma status di atas kertas. Cuma formalitas konyol buat puaskan keegoisan Papa dan cewek manja itu. Aku enggak akan pernah menyentuh dia, aku enggak akan pernah peduli sama dia, dan aku enggak akan pernah menganggap dia sebagai istriku."
Mike mendekatkan wajahnya, mencium kening Putri dengan lembut dan lama, menyampaikan seluruh rasa cintanya lewat ciuman itu.
"Hati aku, cinta aku, dan seluruh hidup aku cuma milik kamu, Putri Adisti. Cuma kamu satu-satunya wanita yang aku ratukan. Percaya sama aku, setelah urusan bisnis Papa selesai atau setelah aku menemukan cara buat melepaskan diri tanpa membahayakan kamu, aku bakal ceraikan Sindi dan kembali ke kamu."
Putri menatap mata Mike, mencari kejujuran di sana. Mendedikasikan seluruh rasa percayanya, Putri mengangguk pelan sambil mengusap air mata di wajah Mike.
"Aku percaya sama kamu, Mike... Aku bakal tunggu kamu, sampai kapan pun."
Mike tersenyum tipis, lalu membawa Putri kembali ke dalam pelukannya. Mereka berpelukan erat di bawah lampu taman, tenggelam dalam janji cinta yang terikat di tengah paksaan keadaan.
Namun, di atas atap gedung rumah sakit yang berada tepat di belakang taman tersebut...
Seorang pria berjas hitam tebal sedang berdiri kaku di balik kegelapan malam.
Di tangannya, terpegang sebuah kamera dengan lensa super tele yang sangat panjang.
Pria itu baru saja menekan tombol foto berkali-kali dan merekam setiap momen mesra, tangisan, hingga ciuman antara Mike dan Putri dengan sangat jelas dari ketinggian.
Pria itu menurunkan kameranya, lalu menyalakan earpiece bluetooth yang terpasang di telinganya.
"Nona Sindi," ucap pria itu dengan suara berat dan dingin.
"Saya sudah mendapatkan semua bukti foto dan rekaman pembicaraan antara Dokter Mike dan perawat bernama Putri Adisti di taman belakang. Apa perintah selanjutnya?"
Di ujung telepon, suara Sindi Permata terdengar sangat jernih, mengalun lembut namun diiringi kekehan dingin yang sanggup membuat bulu kuduk merinding.
"Bagus sekali," sahut Sindi santai dari seberang telfon.
"Kirimkan semua foto itu ke ponselku sekarang. Dan ingat, jangan sentuh perawat itu dulu..."
Sindi menghentikan kalimatnya sejenak, membuat anak buahnya di atas atap menyimak dengan saksama.
"Biarkan Dokter Mike menikmati drama romantisnya bersama sang pujaan hati untuk beberapa hari ini. Aku ingin lihat seberapa manis janji cintanya itu... saat aku menghancurkannya tepat di hari pernikahan kami."
Bersambung.....
makin seruu cerita ny ,,
bibir ny minta di kepang dua ,, 😒😒😒
gx Mike gx musuh ny ,, ad aj yg cari gara2 ,,
duuuh sindii ,, segera berantas semua musuh mu ,,