NovelToon NovelToon
Surat Cinta Nyasar

Surat Cinta Nyasar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Fajar cuma pegawai biasa yang nekat menulis surat cinta buat sekretaris direktur. Sayangnya, amplop merah muda itu malah nyasar ke meja Kirana, Direktur muda yang dingin dan anti-romansa.
Satu kesalahan pengiriman membuat mereka berdua berhadapan. Fajar panik setengah mati. Kirana justru mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dia abaikan.
Apakah satu surat yang salah kirim bisa mengubah segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Perubahan kecil

Hari-hari berikutnya di PT Arunika Jaya terasa seperti ada sesuatu yang bergeser pelan-pelan di bawah permukaan. Tidak ada pengumuman. Tidak ada perubahan kebijakan resmi. Tapi orang-orang mulai saling berbisik di pantry, di koridor, bahkan di toilet.

Kirana, sang direktur yang biasanya hanya muncul saat meeting penting atau saat ada masalah besar, sekarang lebih sering keluar dari ruangannya. Kadang dia hanya berjalan di antara meja-meja pegawai dengan langkah yang lebih pelan dari biasanya. Kadang dia berhenti di depan jendela besar di ujung koridor, seolah sedang memikirkan sesuatu. Dan yang paling membuat orang-orang heran… dia sering sekali melirik ke arah meja Fajar.

Tidak mencolok. Tidak terlalu lama. Tapi cukup sering untuk membuat Bayu mulai mencatat di otaknya seperti detektif murahan.

Suatu sore, hampir pukul tujuh, sebagian besar pegawai sudah pulang. Lampu di lantai operasional sudah banyak yang dimatikan. Hanya beberapa meja yang masih menyala, termasuk meja Fajar. Dia sedang lembur menyelesaikan revisi laporan yang tiba-tiba diminta pagi tadi. Matanya sudah agak perih, bahu terasa pegal, tapi dia terus mengetik.

Langkah kaki pelan mendekat dari arah koridor.

“Kamu belum pulang?”

Fajar hampir terjungkal di kursinya. Dia menoleh cepat dan melihat Kirana berdiri tidak terlalu jauh dari mejanya. Cahaya lampu meja membuat bayangan wanita itu sedikit lebih lembut dari biasanya.

“Eh, Bu Direktur! Belum… masih kerja,” jawab Fajar cepat, tangannya langsung merapikan kertas yang berserakan.

Kirana mendekat sedikit. Tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat Fajar menegakkan punggung secara otomatis.

“Jangan terlalu memaksakan diri,” katanya pelan.

Fajar bengong. Dia menatap Kirana beberapa detik, seolah memastikan bahwa yang berbicara memang orang yang sama.

“…ini… beneran direktur?” gumamnya tanpa sadar.

Kirana mengangkat alis. “Ada yang aneh?”

“Eee… enggak!” Fajar buru-buru menggeleng. “Cuma… biasanya Ibu bilang ‘selesaikan’ atau ‘jangan ditunda’. Sekarang malah… bilang gitu.”

Kirana terdiam sejenak. Matanya menatap Fajar, lalu beralih ke layar komputer yang masih menyala. Dia menarik napas pelan sebelum berkata,

“Kadang… orang juga perlu istirahat.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi untuk Fajar, terdengar sangat aneh keluar dari mulut Kirana. Dia hanya mengangguk kaku, tidak tahu harus menjawab apa. Kirana tidak menambah kata-kata lagi. Dia hanya mengangguk kecil, lalu berbalik dan berjalan menjauh. Langkahnya tetap tegap, tapi ada sesuatu yang berbeda di bahunya. Lebih longgar. Lebih manusiawi.

Fajar menatap punggung Kirana sampai menghilang di balik pintu lift. Baru setelah itu dia menghela napas panjang dan bergumam,

“Gue beneran nggak ngerti lagi…”

Malam itu, di rumahnya yang sederhana, Fajar rebahan di kasur sambil menatap langit-langit. Lampu kamar dimatikan. Hanya cahaya dari luar jendela yang masuk samar-samar.

“Direktur… berubah banget ya…” gumamnya.

Dia memejamkan mata, mencoba mengingat kembali semua interaksi aneh beberapa hari terakhir. Selamat pagi. Jangan terlalu memaksakan diri. Kadang orang juga perlu istirahat.

“Ah, mungkin cuma lagi baik aja,” katanya akhirnya, mencoba meyakinkan diri sendiri. “Atau lagi mood bagus. Siapa tahu besok balik lagi jadi dingin.”

Tapi entah kenapa, dia tidak terlalu yakin dengan penjelasannya sendiri. Ada rasa aneh yang tertinggal di dada, seperti sesuatu yang belum selesai. Dia membalikkan badan, mencoba tidur, tapi pikiran tentang Kirana terus muncul tanpa diminta.

Di sisi lain kota, di balkon rumah yang lebih lega dan tenang, Kirana duduk sendirian. Angin malam berhembus pelan, membawa bau tanah basah dari taman di bawah. Di tangannya, sekali lagi, ada surat merah muda itu. Dia sudah membacanya berkali-kali, tapi malam ini terasa berbeda.

“Fajar…” namanya terucap pelan, hampir seperti bisikan yang takut terdengar oleh siapa pun.

Dia menghela napas panjang, menatap langit yang dipenuhi bintang samar.

“Kenapa… aku jadi sering memikirkan dia?”

Pertanyaan itu menggantung di udara. Kirana menunduk, menatap surat di tangannya lagi. Kalimat-kalimat sederhana itu seolah punya nyawa sendiri sekarang.

“Apa ini… yang disebut…”

Dia berhenti. Kata itu terasa berat di lidahnya. Seperti sesuatu yang selama ini hanya dia baca di buku atau dengar dari orang lain, tapi tidak pernah dia rasakan sendiri.

“…cinta?”

Angin malam semakin kencang. Kirana menutup surat itu perlahan, lalu menekannya ke dadanya sejenak. Untuk pertama kalinya, dia tidak langsung menepis perasaan itu. Dia membiarkannya ada, meski masih asing dan sedikit menakutkan. Di kejauhan, lampu-lampu kota berkedip pelan, seolah ikut menyaksikan keraguan yang sedang dia rasakan.

Keesokan harinya, suasana kantor kembali ramai seperti biasa. Fajar sedang fokus mengetik ketika tiba-tiba ada suara dari belakangnya.

“Pak Fajar.”

“WAAAAH!”

Fajar hampir jatuh dari kursi. Tangannya refleks memegang tepi meja, jantungnya berdegup kencang. Dia menoleh cepat dan melihat Kirana berdiri tepat di belakangnya, wajahnya tenang tapi matanya sedikit melebar karena kaget dengan teriakan itu.

“Kenapa Anda teriak?” tanya Kirana.

“Refleks, Bu…” jawab Fajar sambil merapikan napas. “Saya nggak sadar Ibu berdiri di belakang.”

Kirana menahan senyum. Sudut bibirnya sempat terangkat, tapi dia segera mengembalikan wajahnya ke ekspresi netral.

“Kalau… saya minta Anda menulis surat lagi…” katanya tiba-tiba.

Fajar mengernyit. “Surat?”

“Iya.”

“Untuk siapa, Bu?”

Kirana diam sebentar. Matanya menatap Fajar dalam-dalam, seolah sedang menimbang seberapa jauh dia bisa melangkah. Lalu dia berkata pelan,

“Untuk… orang yang belum pernah merasakannya.”

Fajar tersenyum santai, tidak curiga sama sekali.

“Oh, semacam latihan ya? Boleh sih. Nanti saya bikinin.”

Kirana hanya terdiam. Dia menatap Fajar beberapa detik lebih lama, lalu mengangguk kecil dan berbalik pergi tanpa menambah kata-kata.

Fajar menggaruk kepala, masih tersenyum sendiri.

Direktur rajin juga belajar beginian ya… pikirnya. Mungkin lagi iseng. Atau lagi pengin latihan nulis formal yang lebih personal. Yah, nggak masalah.

Tapi di dalam hati Kirana, yang sedang berjalan kembali ke ruangannya, ada satu kalimat yang berputar terus:

Dia benar-benar tidak sadar…

Di kejauhan, di dekat meja sekretaris, Sinta berdiri diam sambil menyandarkan tubuh di partisi. Matanya mengikuti pergerakan Kirana yang baru saja pergi, lalu beralih ke Fajar yang sudah kembali mengetik tanpa curiga.

Sinta tersenyum kecil. Senyum yang penuh arti.

“Ini akan menarik…” gumamnya pelan.

Dan di meja Fajar, selembar kertas kosong sudah dia ambil. Dia mulai menulis, tanpa tahu bahwa surat yang akan dia buat kali ini… mungkin akan jauh lebih berbahaya daripada yang sebelumnya. Di luar jendela, matahari pagi semakin tinggi, menyinari ruangan seolah tidak peduli dengan perasaan rumit yang mulai tumbuh di antara dua orang di dalamnya.

1
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr
Purnamanisa
keknya seru... save dulu, baca lagi nanti 😁😁
🍓ADIRA🍓
Tenang Na... selagi ada fajar apapun bisa /Smirk//Smirk//Smirk/
🍓ADIRA🍓
Wah kenapa tidak dapat kontrak Thoorr? Ok ttp semangat Thoorr 💪
🍓ADIRA🍓
suapin donk jar 😂😂
🍓ADIRA🍓
Lihat fajar nanti juga langsung menghangat kok bay 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw semangat jar 💪
🍓ADIRA🍓
Ciyyeeee mas 🤭 akwakakakaww 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Harus cerdas lah Ndrong... kan calsu Bu Direktur ☺️
🍓ADIRA🍓
wkkwkw.😂😂 fajar langsung merona tuh Bu Kir 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Ayang mbeb gtu Jar /Joyful//Joyful//Joyful/
🍓ADIRA🍓
Dirimu yg go publik loh 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwk ti ati burungmu terbang jar 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw 🤣🤣🤣 dalam hatinya, Bu Direktur sebenarnya jga seneng tuh dapat pengakuan cinta dari fajar 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
salah mimpi 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Susulin gih Na, sebelum fajar semakin merajalela karena rindu 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr, perkuat lagi konfliknya biar cerita semakin menarik... semangat /Good//Good/
Hamzah: Ya.. kalau gaada kendala ya😇
total 1 replies
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw kecewa ya jar 😅😅
🍓ADIRA🍓
Dan segera lah bergegas ke RSJ kau Bay 🤣🤣🤣
Nona Cloe
heloo qha qha
Hamzah: halo 👋🏻 terima kasih sudah mampir 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!