NovelToon NovelToon
MODEL RAHASIA TEMAN KAKAK

MODEL RAHASIA TEMAN KAKAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Hayden menghentikan langkahnya tepat di tepi podium. Tatapannya menelusuri tiap lekuk tubuh Aluna. Pria itu mengulurkan tangannya, seolah-olah hendak membenarkan letak kain selendang yang tersingkap di atas paha Aluna.

Namun, gerakan jemari Hayden tidak berhenti di sana. Jemarinya yang dingin dan kasar bergeser perlahan, sengaja menyapu permukaan kulit halus Aluna, bergerak semakin naik menyentuh area yang tertutup selendang putih tipis itu.

Sentuhan asing dan lancang itu seketika meletupkan amarah Aluna.

"Jangan sentuh!"

Aluna menepis tangan Hayden dengan kibasan keras. Dalam sekejap, gadis itu menarik kain selendang untuk menutupi dadanya, merapatkan kedua kakinya, dan mundur ke sudut podium. Matanya yang sembab menatap Hayden dengan kilatan amarah yang membara.

"Jaga tanganmu, Hayden!" bentak Aluna dengan suara bergetar hebat, napasnya memburu cepat oleh kombinasi rasa takut dan murka. "Aku di sini cuma jadi model lukisanmu! Aku menjual posisiku sebagai model untuk melunasi _

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2

Hayden berdiri kaku. Tatapan matanya yang semula dipenuhi keangkuhan dan rasa jijik mendadak mengeras, seolah berusaha mencerna ucapan gadis yang kini berlutut di bawah kakinya. Keheningan di lorong remang itu terasa makin mencekat, hanya diselingi oleh isak tangis Aluna yang sesak dan bergetar.

Beberapa detik berlalu tanpa suara. Hayden tidak bergerak untuk menenangkan, tidak pula berjongkok untuk menyetarakan posisinya. Pria itu menyilangkan kedua tangan di dada, mempertahankan jarak dan topeng dinginnya, meski ada sesuatu yang bergejolak samar di balik manik matanya.

"Kapan kecelakaan itu terjadi?" tanya Hayden akhirnya. Suaranya datar, berat, dan tanpa nada kasihan sedikit pun.

Aluna menyapu air matanya dengan punggung tangan yang gemetar. Ia menolak untuk terus terlihat lemah di hadapan pria yang baru saja merendahkannya. Dengan sisa-sisa tenaga dan harga diri yang masih ia genggam erat, Aluna berdiri tegak. Meski gaun merah hati itu masih mengeposkan kulitnya dan riasan matanya luntur oleh air mata, ia menatap Hayden tanpa rasa gentar sedikit pun.

"Empat hari yang lalu," jawab Aluna, suaranya parau namun tertata rapat. "Saat dia menjemputku di kampus. Truk rem blong menghantam motornya dari samping."

Hayden memicingkan mata, mengamati lekat-lekat raut wajah Aluna. "Dan kamu tidak mengabari siapa pun? Termasuk teman-teman kerja pabriknya?"

Aluna tersenyum sumbang, senyuman pahit penuh ironi. "Mengabari siapa, Hayden? Kak Romeo tidak punya asuransi. Orang tua kami sudah lama tiada. Aku tidak punya siapa-siapa lagi untuk dimintai bantuan. Teman-temannya di pabrik juga hanya buruh biasa yang hidupnya pas-pasan. Apa aku harus mengemis pada mereka?"

"Tapi bukan berarti kamu harus menjual dirimu di tempat sampah ini!" potong Hayden cepat, nadanya tajam menembus udara dingin lorong. "Apa kamu pikir dengan berdiri telanjang di depan puluhan pria tua bangkai ini, masalahmu selesai? Berapa uang yang kamu dapat dari malam ini? Dua juta? Lima juta? Apa itu cukup untuk membayar biaya ICU dan operasi saraf kepala?"

Kata-kata Hayden tepat menyasar titik terlemahnya. Aluna mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga kuku-kukunya memutih. Rasa panas kembali membakar dadanya.

"Ini bukan menjual diri!" jerit Aluna pelan namun sarat akan penekanan. "Aku bekerja! Aku tidak melakukan hal tidak senonoh! Aku hanya menjadi model lukis, Hayden! Dan uang dari acara privat ini tiga puluh juta untuk satu malam! Itu cukup untuk menyambung sewa ruang ICU Kak Romeo selama seminggu!"

Aluna melangkah mendekati Hayden, mendongak menatap pria yang jauh lebih tinggi darinya itu.

"Kau tidak berhak menghakimiku," bisik Aluna dengan mata menyalang keteguhan. "Kau lahir dengan sendok emas di mulutmu. Kau bisa kabur dari keluargamu, berlagak jadi anak jalanan, dan menyalurkan hobi senimu karena kau punya jaring pengaman bernama Mahendra Group! Jika kau gagal, kau tinggal pulang ke rumah mewahmu. Tapi aku? Jika aku tidak melakukan ini malam ini, Kak Romeo mati!"

Hayden tertahan. Rahangnya mengeras tajam mendengar tuduhan jujur itu. Keheningan kembali menguasai mereka, lebih menekan dari sebelumnya. Hayden memalingkan wajah sejenak, menghembuskan napas berat dari hidungnya sebelum kembali menatap Aluna dengan tatapan dingin yang tak tertebak.

"Aku akan mengurus semua biaya rumah sakit Romeo," ucap Hayden singkat. Begitu mudah, seolah ia baru saja membicarakan pembelian segelas kopi. "Semua biaya ICU, operasi, dan perawatan sampai dia sembuh total. Tanpa syarat."

Aluna tertegun. Jantungnya berdesir hebat, namun bukannya lega, rasa ganjal justru merayapi hatinya. Harga dirinya yang terluka menolak bantuan yang terasa seperti belas kasihan cuma-cuma dari orang yang baru saja menginjak-injaknya.

"Tidak," tolak Aluna tegas, menggelengkan kepala.

Hayden mengerutkan kening, tampak terkejut sekaligus gusar dengan penolakan itu. "Apa katamu?"

"Aku tidak mau uang belas kasihanmu," ujar Aluna, suaranya bergetar namun lugas. "Kau memandagku rendah karena bersikap manja pada Kak Romeo. Kau menganggapku gadis tak berguna yang hanya bisa bergantung pada orang lain. Jika aku menerima uangmu begitu saja, kau hanya akan makin mengesahkan pikiran dangkalmu tentangku."

"Jangan bodoh, Aluna!" gertak Hayden, langkah kakinya maju mengikis jarak mereka hingga Aluna bisa merasakan aura intimidasi pria itu. "Ini bukan soal harga dirimu yang dangkal! Ini soal nyawa kakakmu! Romeo itu temanku. Aku membantunya, bukan membantumu!"

"Kalau begitu bantu dia sebagai teman, bukan sebagai penyelamat yang memandagku seperti pengemis!" balas Aluna tak kalah sengit, matanya lurus menembus manik mata Hayden. "Jika kau memang ingin membiayai operasional Kak Romeo, jadikan itu pinjaman. Aku akan bekerja padamu untuk melunasinya. Katakan berapa rupiah yang kau keluarkan, dan aku akan membayar tiap sennya."

Hayden menatap Aluna seolah gadis di hadapannya telah kehilangan akal sehatnya. "Bekerja padaku? Sebagai apa? Kau bahkan tidak tahu cara bertahan hidup!"

"Tawarkan aku pekerjaan di pabrik orang tuamu," potong Aluna cepat. "Posisi apa saja. Buruh cuci, pembersih ruangan, atau staf administrasi bawah. Seperti Kak Romeo dulu. Aku bisa belajar!"

Hayden tertawa sinis, sebuah tawa dingin tanpa humor yang menggema di dinding-dinding beton. Ia memperhatikan Aluna dari ujung kepala hingga ujung kaki—gaun satin mewah yang melekat di tubuh moleknya, riasan yang tersisa, serta sorot mata liar penuh keputusasaan yang dipaksakan menjadi keberanian.

Sebuah gagasan gelap dan impulsif mendadak melintas di benak Hayden. Sudut bibirnya terangkat miring, memancarkan aura dominasi yang pekat.

"Di pabrik?" Hayden melangkah lebih dekat, mengikis habis sisa jarak di antara mereka hingga napas hangatnya berembus di puncaknya kepala Aluna. "Gaji buruh pabrik tidak akan cukup untuk melunasi biaya operasi kepala ratusan juta bahkan dalam sepuluh tahun, Aluna. Kau mau kakakmu mati duluan sebelum utangmu lunas?"

Aluna menelan ludah. Lidahnya mendadak terasa kelu. "Lalu... lalu aku harus bagaimana?"

Hayden merogoh saku jaketnya, mengulurkan sebuah kunci berkilau dengan gantungan perak berbentuk pahatan abstrak ke hadapan Aluna.

"Aku punya studio lukis pribadi di daerah perbukitan," kata Hayden, suaranya turun satu oktav, terdengar rendah, bernada perintah yang tak bisa dibantah. "Mulai besok, kamu bekerja padaku. Bukan di pabrik, bukan di panggung publik seperti ini."

Aluna menatap kunci di tangan Hayden dengan ragu, lalu beralih menatap wajah tajam pria itu. "Bekerja... sebagai apa?"

"Model lukis pribadiku," jawab Hayden tanpa ragu, tatapannya mengunci manik mata Aluna rapat-rapat. "Eksklusif. Hanya untukku. Tidak ada orang lain, tidak ada penonton lapar seperti di ruangan tadi. Kamu melukis, duduk, dan diam di hadapanku sesuai instruksiku. Setiap jamnya akan kuhargai tinggi untuk memotong utang perawatan Romeo."

Aluna tercekat. Bernapas pun terasa berat. Menjadi model pribadi bagi pria sedingin dan seliar Hayden Mahendra terasa seperti melangkah masuk ke dalam sarang serigala. Namun, bayangan wajah tenang Romeo yang terbaring kaku di bawah hembusan ventilator rumah sakit kembali terbayang jelas.

Tidak ada pilihan lain. Dunia nyata yang selama ini disembunyikan Romeo darinya kini menagih harga yang sangat mahal.

Dengan tangan yang gemetar hebat namun gerakan yang mantap, Aluna mengulurkan jemarinya. Ia mengambil kunci perak itu dari telapak tangan Hayden.

"Setuju," bisik Aluna, berusaha menahan agar matanya tak berkaca-kaca lagi. "Tapi ingat satu hal, Hayden. Ini hubungan kerja. Kau membantuku menyembuhkan Kak Romeo, dan aku membayarmu dengan waktuku. Jangan pernah berpikir kau bisa memiliki atau mengendalikanku."

Hayden hanya memberikan senyuman dingin yang sarat akan intrik, seolah memperingatkan Aluna bahwa gadis itu baru saja menandatangani perjanjian dengan sesuatu yang tak bisa ia kendalikan.

"Kita lihat saja nanti, Tuan Putri," gumam Hayden pelan, lalu berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Aluna sendirian di dalam remangnya lorong.

*

*

*

1
Mita Paramita
🔥🔥🔥
Mia Camelia
Hayden makin gak bisa melepaskan Aluna nih🤭
𝐀⃝🥀Weny
baru aja baca, udah disuguhin Bombay banyak sama othor😭
Mia Camelia
siap thor 😁penasaran nih visual ny gimana😂
diga pues
+21☻️☻️☻️
diga pues
☻️☻️☻️
diga pues
serigala☻️
diga pues
ugh☻️
Mia Camelia
hayden obsesif banget ini mah ke aluna🤭
sukaa banget nih sama modelan ky hayden 😁
diga pues
ugh🌚
Ita Putri
haduuhh
bahaya Aluna
sudah dong Hayden kasihan aluna
Mia Camelia
lanjut thor😁
Mita Paramita
Thor nih novelnya sampai tamat kn? gak kayak novel kemarin yang dihapus? padahal lagi seru cerita ny
Mita Paramita: siap Thor 🔥🔥🔥🔥
semangat Thor 🔥🔥🔥
total 2 replies
Mia Camelia
seru banget thor😁😁😁
MissSHalalalal: terimakasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!