"
Lima tahun Naira menyusun kerajaan bisnis suaminya dari balik bayang, tapi lelaki itu malah memberikan undangan kongres penting kepada cinta lamanya. Lalu Dimas membatalkan janji menjemput ayahnya sendiri demi perempuan itu. Naira tidak berteriak. Ia hanya melepas cincinnya, mengajukan cerai, dan mengambil kembali seluruh aset yang ia bangun.
Keluarga Mahendra panik. Mereka tidak tahu bahwa Naira adalah putri tunggal Atmadja yang kekayaannya bisa membeli seluruh perusahaan mereka. Tepat saat segalanya kacau, Raka Wiratama muncul. Penguasa bisnis paling ditakuti itu bersumpah melindungi Naira dengan satu alasan: lima tahun lalu, perempuan itu menyelamatkan nyawanya. Dan Raka tidak pernah main-main soal utang nyawa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21
Penghentian pasokan dimulai tanpa suara.
Tidak ada konferensi pers. Tidak ada pengumuman besar. Hanya surel resmi dari kuasa hukum Atmadja yang masuk ke kotak masuk divisi legal Mahendra Health Group pukul delapan lewat tujuh belas menit.
Subjeknya pendek.
Pemberitahuan Penghentian Lisensi dan Akses Distribusi.
Lima belas menit kemudian, sistem pemesanan bahan baku untuk produk Neurovan ditolak otomatis.
Tiga puluh menit kemudian, distributor utama di Surabaya meminta kepastian tertulis.
Satu jam kemudian, gudang produksi Bekasi melaporkan jalur produksi harus berhenti karena bahan stabilisasi tidak bisa dipesan ulang.
Pukul sebelas, ruang direksi Mahendra Health Group berubah menjadi tempat orang-orang menahan panik.
Dimas berdiri di depan layar besar. Grafik stok ditampilkan merah di hampir semua wilayah.
"Berapa lama stok aman?" tanyanya.
Direktur operasional menjawab, "Untuk rumah sakit rekanan, dua belas hari. Untuk apotek besar, mungkin sembilan hari. Tapi kalau isu ini bocor, permintaan bisa melonjak dan stok habis lebih cepat."
"Pasien yang sedang terapi?"
"Masih bisa dipenuhi kalau distribusi dibatasi."
Dimas menatap angka itu. Dulu, angka penjualan Neurovan selalu membuatnya bangga. Produk itu membawa nama Mahendra ke forum bisnis kesehatan, membuka pintu investor, membuat ibunya bisa duduk di arisan keluarga besar dengan dagu terangkat.
Hari ini, angka yang sama seperti tali di lehernya.
Handoko, investor utama, mengetuk meja. "Kita butuh Naira Atmadja."
Tidak ada yang berani menatap Dimas.
Handoko tidak peduli. "Saya tidak bicara sebagai urusan rumah tangga. Saya bicara sebagai investor. Kalau pemegang paten tidak membuka transisi, kita habis."
Direktur legal menambahkan, "Ibu Naira menawarkan transisi terbatas untuk pasien berjalan, tetapi tidak untuk produksi komersial baru."
"Itu tidak cukup."
"Secara hukum, itu sudah lebih dari cukup."
Handoko mengumpat pelan.
Dimas menatap layar. "Jangan ada yang menyerang Naira di media."
Semua orang menoleh.
Rendi yang berdiri di sudut tampak terkejut.
Dimas mengulang, "Tidak ada narasi mantan istri dendam. Tidak ada bocoran soal perceraian. Tidak ada yang memakai pasien sebagai tameng opini."
Handoko menyipitkan mata. "Anda melindungi dia atau perusahaan?"
"Saya melindungi perusahaan dari langkah bodoh."
Ruangan diam.
Dimas tahu sebagian dari mereka tidak percaya. Mungkin ia sendiri juga belum sepenuhnya percaya pada dirinya. Tapi satu hal jelas: menyerang Naira hanya akan membuat pintu yang sudah tertutup dikunci permanen.
Ponselnya bergetar.
Clara.
Ia tidak mengangkat.
Rapat berlangsung dua jam dan tidak menghasilkan apa pun selain daftar kerugian. Setelah semua orang keluar, Dimas tetap duduk di ruang direksi. Di meja depannya ada salinan surel dari Maya. Bahasa hukumnya rapi, dingin, tanpa celah emosional.
Rendi masuk pelan.
"Pak, Dokter Clara menunggu di lobi."
"Bilang aku tidak bisa bertemu."
Rendi ragu. "Dia bilang penting. Soal Naira."
Dimas menutup mata sebentar. "Suruh masuk."
Clara masuk dengan wajah cemas yang tertata. Ia memakai blouse putih dan rok krem. Di tangannya ada map tipis. Begitu melihat Dimas, ia berjalan cepat.
"Mas, aku dengar soal lisensi. Aku khawatir sekali."
"Dari siapa kamu dengar?"
Clara berhenti.
"Orang-orang bicara."
"Rapat tadi tertutup."
"Mas, sekarang semua orang tahu perusahaan sedang bermasalah. Aku cuma ingin membantu."
Dimas menatap map di tangannya. "Dengan apa?"
Clara meletakkan map itu di meja. "Aku dapat beberapa informasi. Naira mungkin sengaja menahan lisensi agar kamu terpaksa kembali padanya."
Dimas tidak menyentuh map.
"Siapa yang memberimu itu?"
"Teman."
"Teman di Cakradinata?"
Wajah Clara berubah terlalu cepat.
Dimas melihatnya.
Untuk pertama kali, ia benar-benar melihat.
"Clara," katanya pelan, "jangan bawa nama Naira untuk menutup sesuatu yang kamu lakukan."
Mata Clara berkaca-kaca. "Mas, kamu sekarang selalu membela dia."
"Aku membela fakta."
"Fakta apa? Fakta bahwa dia meninggalkanmu di tengah krisis? Fakta bahwa dia membuat keluargamu dipermalukan? Fakta bahwa dia menarik paten saat perusahaanmu butuh?"
Dimas berdiri. "Perusahaan ini memakai miliknya."
"Karena kamu suaminya!"
Kalimat itu menggema di ruang direksi.
Dimas menatap Clara. "Kamu dengar sendiri ucapanmu?"
Clara sadar ia terlalu jauh. Ia cepat melembut. "Maksudku, dalam pernikahan, seharusnya saling membantu."
"Dia sudah membantu."
"Lalu kenapa sekarang dia berhenti?"
Dimas tidak menjawab.
Karena jawabannya terlalu jelas.
Karena ia membuat Naira berhenti.
Di sisi lain kota, Naira duduk bersama Maya dan tim distribusi yayasan. Di depannya ada daftar rumah sakit dan pasien yang sedang memakai Neurovan.
"Prioritaskan pasien berjalan," kata Naira. "Stok transisi harus sampai ke dokter penanggung jawab, bukan ke gudang Mahendra."
Maya mengangguk. "Mahendra bisa menuduh kita memotong distribusi."
"Biarkan mereka menuduh lewat jalur hukum. Pasien tetap aman."
Bagas masuk membawa tablet. "Non, ada pergerakan akun gosip. Mereka mulai membangun narasi bahwa Non menghancurkan perusahaan mantan suami."
Naira membaca sekilas.
Mantan istri dendam, pasien jadi korban?
Ia meletakkan tablet.
"Siapkan pernyataan. Pendek saja. Pemegang hak menyediakan transisi untuk pasien aktif dan menolak penggunaan komersial tanpa lisensi."
"Tidak menyebut Dimas?"
"Tidak."
"Clara?"
"Belum."
Bagas menunduk. "Baik."
Ponsel Naira bergetar.
Dimas.
Ia menatap layar beberapa detik, lalu mengangkat.
"Saya akan mengirim agenda tertulis," kata Dimas tanpa pembukaan. Suaranya terdengar lelah. "Transisi pasien, kewajiban distributor, dan opsi pembelian lisensi terbatas."
"Kirim ke Maya."
"Aku tahu."
Hening sebentar.
Lalu Dimas berkata, "Terima kasih karena tidak memutus stok pasien."
Naira menatap berkas di depannya.
"Aku dokter. Pasien tidak membayar dosa perusahaanmu."
Kalimat itu membuat Dimas diam.
Di ruang direksi, Clara menatap Dimas yang menelepon dari dekat jendela. Ia tidak mendengar suara Naira, tetapi ia melihat wajah Dimas.
Lelah.
Bersalah.
Dan masih terikat.
Clara menggenggam map dari Cakradinata.
Jika Naira tidak bisa ditarik turun lewat perusahaan, mungkin ia harus ditarik lewat luka yang lebih dalam.
Lewat ibunya.
Malam itu, Dimas pulang ke rumah Mahendra lebih lambat dari biasanya.
Bu Ratna menunggunya di ruang keluarga. Wajahnya masih penuh amarah.
"Kamu harus paksa Naira memperpanjang lisensi itu. Dia masih istrimu secara hukum."
Dimas melepas jasnya. "Justru karena masih proses hukum, kita harus hati-hati."
"Hati-hati? Perempuan itu menghancurkan perusahaanmu!"
"Perusahaan ini memakai miliknya, Ma."
Bu Ratna berdiri. "Kamu mau menyalahkan Mama juga?"
"Mama ikut menikmati hasilnya. Kita semua."
Vina muncul dari tangga. "Mas, teman-temanku mulai tanya apa benar rumah ini milik Kak Naira."
Dimas menutup mata sebentar. Tidak ada jawaban yang bisa menyelamatkan harga diri mereka.
Ia berjalan ke dapur. Kotak makanan restoran masih ada di meja. Tidak ada sup hangat, tidak ada catatan obat, tidak ada suara Naira bertanya apakah kepalanya sakit.
Di ponselnya, Clara mengirim pesan baru.
Mas, aku hanya tidak ingin kamu hancur sendirian.
Dimas membaca pesan itu, lalu menatap dapur yang kosong.
Ia baru paham, sendirian bukan keadaan yang datang hari ini.
Naira sudah sendirian di rumah ini selama lima tahun.
Di kantor Yayasan Anggraini, Naira menerima laporan stok transisi terakhir sebelum pulang.
"Rumah sakit daerah minta tambahan," kata Maya.
"Kirim selama pasiennya terdaftar."
"Mahendra tidak akan mendapat keuntungan dari jalur itu."
"Bagus."
Maya menutup berkas. "Kamu masih memberi mereka cara agar tidak terlihat kejam."
Naira menatap daftar pasien. "Aku memberi pasien cara agar tidak ikut dihukum."
Setelah Maya keluar, Naira duduk sendirian beberapa menit. Di layar tablet, nama Dimas masih tercatat sebagai kontak perusahaan yang harus menandatangani perjanjian transisi.
Dulu nama itu berarti rumah.
Sekarang hanya pihak terkait.
Rasanya tidak sesakit yang ia kira.
Justru karena itu, Naira tahu keputusan ini benar. Luka yang benar-benar sembuh tidak selalu terasa hangat. Kadang hanya terasa kosong, bersih, dan tidak lagi memanggil orang yang sama.
Ia menutup berkas, mematikan lampu, dan meninggalkan ruangan tanpa menoleh ke tablet. Besok Mahendra mungkin datang dengan tawaran baru, alasan baru, atau rasa bersalah baru.
Semua itu bisa menunggu.
Pasien tidak. Dan Naira memilih tetap menjadi dokter sebelum menjadi mantan istri siapa pun.