Sebuah kisah tentang seorang pria dari masa lalu yang bangkit di masa ini.
Di masa ini, ia bertemu dengan perempuan yang mirip dengan seseorang yang ia cintai di masa lalunya. Seseorang yang tidak berani ia gapai karena kondisi fisiknya yang seperti monster saat itu.
Akankah ia berhasil menyingkirkan kenangan buruk masa lalunya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dicegat di Jalan
Lan Suya buru-buru mencari alasan agar pertanyaannya tadi tidak terdengar aneh.
“Maksud Bibi... bagaimana jadwal Senior Sha Nuo selama berada di Kota Wuye nanti?”
Gao Rui masih menatapnya dengan bingung.
Lan Suya segera melanjutkan sebelum bocah itu sempat berpikir lebih jauh.
“Tidak mungkin kita membiarkan Senior sendirian di kota itu sementara kita meninggalkan dirinya begitu saja. Bagaimanapun juga, kita akan berada di Kota Wuye selama beberapa waktu.”
“Ohhh...”
Gao Rui akhirnya mengangguk. Ekspresinya berubah seolah baru memahami maksud pertanyaan Lan Suya.
“Kalau begitu, biarkan saja Paman Nuo ikut agenda kita. Seharusnya orang itu tidak akan mempermasalahkannya.”
Lan Suya langsung mengangguk.
“Itu ide yang bagus.”
Dalam hati, Lan Suya menghela napas lega. Untung saja Gao Rui tidak curiga.
Ia sendiri hampir tidak percaya bisa mengeluarkan pertanyaan seperti itu secara tiba-tiba. Seandainya Gao Rui terus bertanya mengapa dirinya begitu memperhatikan kegiatan Sha Nuo, ia tidak tahu harus memberikan alasan apa. Lan Suya kembali melihat keluar jendela.
Kota Wuye memang memiliki beberapa urusan penting yang harus diselesaikannya. Perjalanan kali ini bukan sekadar perjalanan biasa. Sebagai pemimpin Harta Langit, Lan Suya memiliki beberapa agenda yang sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari.
Pertama, ia harus meninjau salah satu toko cabang Harta Langit yang berada di Kota Wuye. Toko tersebut sudah berjalan cukup lama, tetapi beberapa laporan mengenai perkembangan perdagangan di wilayah itu membuat Lan Suya ingin melihat keadaannya secara langsung.
Kedua, ia harus memeriksa sebidang tanah yang baru saja diperoleh Harta Langit. Rencananya, tempat tersebut akan digunakan untuk membangun cabang baru Penginapan Kayu Mawar.
Terakhir, Lan Suya mendapat undangan untuk menghadiri ulang tahun pernikahan emas Patriark Keluarga Wong. Keluarga Wong merupakan salah satu rekan bisnis Harta Langit. Selain memiliki hubungan perdagangan yang cukup erat, keluarga tersebut juga termasuk salah satu keluarga terpandang di Kota Wuye.
Oleh karena Kota Wuye tidak terlalu jauh dari ibu kota, Lan Suya memutuskan untuk menghadiri acara tersebut secara langsung. Ia sengaja membawa Gao Rui bersamanya.
Bocah itu memang seorang pendekar muda dengan bakat yang luar biasa, tetapi gurunya, Boqin Changing pernah berpesan kepadanya agar Gao Rui tidak hanya mempelajari ilmu bela diri. Pengetahuan mengenai perdagangan, hubungan antarkeluarga, cara membaca situasi, serta bagaimana menjalankan sebuah kelompok juga penting bagi seseorang yang suatu hari nanti akan berdiri di dunia yang jauh lebih luas.
Lan Suya sendiri memahami hal tersebut. Karena itu, perjalanan ke Kota Wuye kali ini juga menjadi kesempatan baginya untuk membimbing Gao Rui sekaligus memperkenalkannya kepada dunia perdagangan Kekaisaran Zhou.
Kereta kuda terus bergerak meninggalkan ibu kota. Di luar, suara langkah kaki kuda terdengar teratur. Roda kereta sesekali berguncang ketika melewati jalan yang tidak rata. Sha Nuo menunggang kuda hitamnya di belakang rombongan. Sesekali ia melirik ke arah kereta, tetapi tidak pernah mencoba mendekat.
Waktu berlalu tanpa terasa. Empat jam telah berlalu sejak rombongan meninggalkan ibu kota.
Jalan yang mereka lewati sekarang semakin sepi. Rumah-rumah penduduk sudah jarang terlihat. Pepohonan tumbuh di kedua sisi jalan, sementara di kejauhan mulai terlihat sebuah desa kecil.
Salah satu anggota Harta Langit yang berada di bagian depan menoleh ke belakang.
“Sebentar lagi kita sampai di desa.”
Pemimpin rombongan mengangguk.
“Kita akan beristirahat di sana. Biarkan kuda-kuda juga mendapatkan waktu untuk makan dan minum.”
Perjalanan selama empat jam membuat sebagian anggota rombongan mulai merasa lelah. Meskipun mereka semua merupakan pendekar, menunggang kuda dalam perjalanan panjang tetap menguras tenaga.
Namun sebelum mereka mencapai desa tersebut, sesuatu terjadi. Di sebuah jalan datar yang cukup lebar, belasan orang tiba-tiba berdiri menghadang.
Rombongan Harta Langit langsung memperlambat laju kuda.
“Berhenti!”
Teriakan dari bagian depan membuat seluruh rombongan berhenti. Gao Rui yang berada di dalam kereta segera mengangkat kepalanya.
“Ada apa?”
Lan Suya juga mengerutkan kening. Ia belum sempat keluar ketika dari sisi kanan dan kiri jalan tiba-tiba muncul puluhan orang lainnya. Beberapa bahkan keluar dari balik pepohonan.
Tidak hanya itu, dari belakang rombongan juga muncul beberapa kelompok lain yang sebelumnya bersembunyi. Dalam sekejap, seluruh jalan telah dikepung. Jumlah mereka mencapai puluhan orang.
Hampir semuanya membawa senjata. Pedang, golok, tombak, kapak, bahkan beberapa senjata aneh tergenggam erat di tangan mereka. Tidak perlu seorang ahli untuk mengetahui bahwa mereka sama sekali tidak memiliki niat baik.
Gao Rui mengintip melalui jendela kereta. Ia melihat orang-orang bersenjata yang mengepung mereka dengan ekspresi bingung.
“Bibi, sepertinya ada orang-orang jahat di luar sana yang berniat buruk?”
Lan Suya menghela napas kecil.
“Tenanglah, Rui’er.”
Ia kemudian melirik ke arah anggota Harta Langit yang sudah bersiap menghadapi keadaan.
“Orang-orang Harta Langit akan mengurusnya terlebih dahulu.”
Lan Suya berhenti sebentar.
“Jika mereka gagal, barulah kita bergerak.”
Gao Rui mengangguk.
“Baik.”
Di luar kereta, salah seorang anggota Harta Langit turun dari kudanya. Ia berjalan beberapa langkah ke depan sebelum memandang orang-orang yang menghadang.
“Kami berasal dari Kelompok Harta Langit ibu kota.”
Suaranya terdengar tenang.
“Kami tidak ingin mencari masalah. Mohon izinkan kami melewati tempat ini.”
Begitu nama Harta Langit disebutkan, beberapa orang dari kelompok yang menghadang langsung menunjukkan perubahan ekspresi.
“Harta Langit?”
“Bukankah itu kelompok perdagangan yang cukup terkenal di Kekaisaran Zhou?”
“Aku pernah mendengar nama mereka.”
Bisikan mulai terdengar di antara kerumunan.
Nama Harta Langit memang bukan nama sembarangan. Meskipun dikenal sebagai kelompok perdagangan, kekuatan yang mereka miliki juga cukup besar. Harta Langit mempunyai banyak ahli yang tersebar di berbagai wilayah Kekaisaran Zhou.
Terlebih lagi, beberapa waktu lalu salah satu pendekar terkuat di kekaisaran, Yuang Dao, telah bergabung dengan Harta Langit. Berita tersebut membuat banyak kelompok tidak berani meremehkan mereka.
Beberapa anggota Kelompok Serigala Hutan Angin saling memandang. Mereka awalnya mengira rombongan yang lewat hanyalah rombongan pedagang biasa yang mudah diperas. Siapa sangka mereka justru berhadapan dengan Harta Langit? Berurusan dengan kelompok seperti ini bisa mendatangkan masalah besar.
Pemimpin Kelompok Serigala Hutan Angin mengerutkan kening. Ia berpikir beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat tangannya.
“Biarkan mereka lewat.”
Salah seorang anak buahnya terkejut.
“Pemimpin, kita tidak meminta bayaran?”
Pemimpin itu menggeleng.
“Tidak perlu.”
“Jangan mencari masalah yang tidak perlu.”
Ia kemudian memandang rombongan Harta Langit.
“Kalian boleh lewat.”
Anggota Harta Langit yang berdiri paling depan mengangguk.
“Terima kasih.”
Ia kembali menaiki kudanya.
Tidak lama kemudian, kereta kuda mulai bergerak. Para penunggang kuda di bagian depan ikut maju, disusul anggota lainnya yang berada di belakang.
Tidak seorang pun dari Kelompok Serigala Hutan Angin mencoba menghentikan mereka. Beberapa bahkan sengaja membuka jalan lebih lebar.
Rombongan Harta Langit perlahan melewati kepungan tersebut. Namun ketika hampir seluruh rombongan sudah bergerak maju, terdengar sesuatu yang aneh. Salah satu kuda tidak bergerak. Kuda hitam itu masih berdiri di tempat.
Sosok yang duduk di atasnya juga tidak bergerak sedikit pun. Tubuhnya tinggi dan besar. Dua pedang hitam tergantung di pinggangnya. Orang itu tentu Hantu Pedang, Sha Nuo.
Sha Nuo menatap orang-orang yang sebelumnya berniat memeras Harta Langit. Tidak ada satu pun anggota Kelompok Serigala Hutan Angin yang berani berbicara.
Suasana yang sebelumnya mulai tenang mendadak kembali menjadi sangat hening. Sha Nuo akhirnya membuka mulut.
“Serigala Hutan Angin?”
Nada suaranya datar.
Pemimpin kelompok tersebut menelan ludah.
“Ya...”
Sha Nuo menyipitkan mata.
“Kelompok yang menarik.”
Ia tidak segera pergi. Kuda hitam di bawahnya juga tetap berdiri di tempat.
Rombongan Harta Langit yang sudah bergerak beberapa puluh langkah di depan mulai menyadari bahwa Sha Nuo tidak mengikuti mereka.
Gao Rui membuka tirai kereta dan menoleh ke belakang.
“Eh?”
Lan Suya ikut melihat.
Ketika menyadari Sha Nuo masih berada di tengah kelompok yang menghadang mereka, ekspresi Lan Suya berubah sedikit.
“Senior Sha Nuo...”
Sementara itu, Sha Nuo masih menatap orang-orang di hadapannya. Tatapannya tenang, tetapi entah mengapa puluhan anggota Kelompok Serigala Hutan Angin tiba-tiba merasakan hawa dingin menjalar di punggung mereka.