Reyhan (31), pemilik Waroeng Sederhana di Bandung, dingin dan penuh gengsi. Anindya (30), tukang cuci piring baru dengan mimpi kecil membuka usaha kuliner sendiri.
Sepasang sarung tangan tanpa nama, wedang jahe yang "kebetulan kelebihan", dan tumpangan "searah" mengubah segalanya. Tapi gengsi lebih keras dari perasaan, dan gosip dapur tak pernah berhenti.
Saat Reyhan terpaksa memecatnya, mereka berpisah. Akankah gengsi terus berdiri di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aravienne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Antrean di depan gerbang kos itu tidak lagi terlihat seperti kebetulan.
Sudah tiga bulan sejak meja lipat berkaki goyang itu pertama kali diganjal kardus, dan Anindya tidak lagi menyiapkan rantang dengan perasaan menebak-nebak. Ia sudah hafal pola. Hari Senin ramai ojek dan mahasiswa. Hari Rabu, ibu-ibu yang belanja ke pasar sebelum matahari terlalu tinggi. Hari Jumat, laki-laki berseragam yang membeli dua bungkus sekaligus, satu untuk dimakan dan satu untuk dibawa pulang. Dan hampir setiap pagi, sebelum jam delapan, rantang terakhirnya sudah bersih sampai ke dasar.
Meja lipat itu sudah lama pensiun. Sekarang ia punya gerobak kecil, bekas, dengan roda yang sedikit mengerang kalau didorong. Ia membelinya dari penjual bakso yang pindah ke kota lain, dengan uang yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit dan dua puluh persen yang ia pinjam dari Bu Heni, yang menolak bunga dengan tatapan tersinggung.
"Ibu nggak minjemin duit buat dapet untung," kata Bu Heni. "Ibu minjemin karena Neng itu anak yang tahu cara berhenti merengek."
Gerobak itu dicat ulang oleh Pak Jajang, pengemudi ojek langganan yang kebetulan pernah bekerja di bengkel las. Ia menambahkan kanopi kecil dari seng, dua rak di bawah, dan sebuah laci kayu tempat Anindya menyimpan uang kembalian. Ia menolak dibayar, dan Anindya memaksanya menerima tiga bungkus nasi uduk gratis setiap hari selama sebulan.
Sekarang, setiap pagi jam setengah enam, gerobak itu berdiri di depan gerbang rumah kos di Gang Mawar, dengan papan kecil bertulisan cat putih di atasnya.
*NASI UDUK ANIN. Telur gosong, sambal kacang. Sejak 5.30.*
Huruf *K*-nya masih sedikit miring. Anindya sengaja tidak memperbaikinya.
---
Enam puluh bungkus.
Itu angka yang ia tetapkan sebagai batas setelah beberapa minggu berlatih menghitung. Lebih dari itu, tubuhnya mulai terlalu lelah dan kualitas nasinya mulai turun. Kurang dari itu, ia kehilangan penghasilan yang ia butuhkan. Ia menulis angka itu besar-besar di halaman depan buku tulisnya, dan menaatinya seperti hukum.
"Enam puluh, Pak. Habis ya habis."
"Wah, Teh, saya baru dateng jam delapan kurang lima belas," kata seorang bapak berseragam kantor dengan wajah kecewa. "Nggak bisa sisain satu?"
"Kalau saya sisain satu buat Bapak, besok yang kehabisan malah orang yang datang jam enam, Pak. Kita adilnya begitu."
Bapak itu tertawa pendek, menggeleng, dan akhirnya mengangguk. "Oke, oke. Besok saya datang lebih pagi."
Mereka semua akhirnya belajar datang lebih pagi.
Suatu pagi di bulan ketiga, seorang pemuda berkaus hitam dengan ponsel di tangan berdiri di antrean paling belakang, merekam sesuatu. Anindya tidak terlalu memperhatikan, sampai ia mendengar suara pemuda itu berbicara pada kamera.
"Oke guys, ini Nasi Uduk Anin, di Gang Mawar, Bandung. Antrean udah dari jam lima, dan katanya ini sering habis sebelum jam delapan. Kita coba, ya."
Anindya hampir menjatuhkan sendok. Ia menatap pemuda itu dengan alis terangkat, tapi laki-laki itu hanya tersenyum sopan dan mengacungkan jempol.
Tiga hari kemudian, nasi uduknya habis jam enam lewat dua puluh.
Sepuluh hari kemudian, ada orang dari Jakarta yang datang naik kereta pagi hanya untuk makan nasi uduk di pinggir jalan.
---
Di antara semua pembeli, ada satu yang tidak akan pernah Anindya lupakan.
Seorang nenek berkerudung putih, berjalan pelan dengan tongkat, datang di hari kedelapan puluh sejak ia mulai berjualan. Ia berdiri paling belakang dalam antrean, menunggu dengan sabar, dan ketika tiba gilirannya, ia tidak langsung memesan. Ia hanya menatap telur dadar gosong di atas baki, lama sekali.
"Satu, Nek?"
"Satu, Nak."
Anindya membungkus nasinya dengan hati-hati. Nenek itu menerimanya dengan kedua tangan, membuka sedikit daun pisangnya, dan mencium aromanya. Lalu ia terdiam. Bahunya bergetar sedikit.
"Nek? Kenapa? Ada yang salah?"
"Nggak, Nak." Suaranya serak. "Cuma... suami Nenek dulu jualan nasi uduk. Dua puluh tahun. Telurnya selalu digosongin dikit, katanya biar ada rasa." Ia mengusap matanya dengan ujung kerudung. "Sudah tujuh tahun dia nggak ada. Nenek nggak pernah nemu yang rasanya sama."
Anindya membeku dengan sendok di tangan.
"Boleh Nenek makan di sini aja?"
"Boleh, Nek. Boleh banget."
Ia menarik bangku plastik dari sisi gerobak dan menuntun nenek itu duduk. Nenek itu makan pelan, satu suapan demi satu suapan, dengan mata yang tidak pernah kering. Anindya melayani pembeli berikutnya, dan berikutnya, tapi dari sudut matanya ia terus melihat nenek itu, dan sesuatu di dadanya terasa penuh, seperti gelas yang diisi sampai tepi.
Ketika nenek itu selesai, ia berdiri dengan bantuan tongkat, merogoh dompet kecil, dan mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu.
"Nek, nasinya cuma dua belas ribu."
"Sisanya buat kamu, Nak." Nenek itu menggenggam tangan Anindya erat. "Kamu nggak tahu apa yang kamu kasih ke Nenek hari ini."
Anindya menggeleng, tidak sanggup bicara. Ia hanya membalas genggaman itu, dan di antara dua tangan yang saling menggenggam itu, ia mengerti sesuatu yang belum pernah ia mengerti sebelumnya: bahwa nasi uduk yang ia buat bukan hanya makanan. Itu pintu, yang membuka bagi orang-orang yang kehilangan, untuk pulang sebentar ke rumah yang sudah tidak ada.
Malam itu, ia menyimpan uang lima puluh ribu itu di dalam buku resep ibunya, di halaman pertama, di bawah kalimat tentang orang yang kamu pikirkan saat mengaduk.
---
Tawaran itu datang dari seorang perempuan berpenampilan rapi dengan blus putih dan tas kulit, yang menunggu sampai antrean terakhir selesai sebelum mendekati gerobak.
"Mbak Anindya?"
"Iya, Bu?"
"Saya Bu Maya, dari Dapur Nusantara Catering. Kami lagi cari produk lokal untuk dikembangkan." Ia menyodorkan sebuah kartu nama dengan tulisan emas. "Nasi uduk Mbak sangat menarik. Kami ingin bicara kemungkinan kerja sama."
Anindya menatap kartu itu, lalu menatap Bu Maya. "Kerja sama bagaimana, Bu?"
"Kami yang urus produksi, distribusi, dan pemasaran. Mbak cukup memberikan resep dan menjadi wajah merek. Tentu dengan kompensasi yang pantas."
"Pantas itu berapa, Bu?"
Bu Maya tersenyum, dan menyebutkan sebuah angka. Angka itu cukup besar untuk membuat siapa pun yang baru saja memulai merasa tergoda. Tapi Anindya sudah belajar membaca di antara baris dari semua hal yang pernah ia alami.
"Dan resepnya, Bu? Setelah kerja sama, siapa yang pegang?"
"Itu bisa kita bicarakan di kontrak."
"Mohon maaf, Bu." Anindya meletakkan sendoknya dengan tenang. "Saya mau tahu sekarang. Resep ini punya ibu saya. Saya tidak akan menjualnya."
"Mbak, ini peluang besar. Banyak orang yang akan..."
"Saya tahu, Bu." Anindya tersenyum sopan. "Dan saya berterima kasih. Tapi kalau saya bukan pemilik penuh apa yang saya buat, saya lebih baik terus mendorong gerobak ini."
Bu Maya menatapnya cukup lama. Ada sesuatu yang berubah di wajahnya, bukan kesal, tapi sesuatu yang lebih menyerupai penghargaan yang diam-diam.
"Kalau Mbak berubah pikiran," katanya akhirnya, menunjuk kartu di tangan Anindya, "nomor saya ada di situ."
"Terima kasih, Bu."
Perempuan itu pergi dengan langkah yang rapi. Anindya berdiri diam beberapa detik, menatap kartu emas itu. Lalu ia menyelipkannya ke laci kayu tanpa sedikit pun menyesal.
Bu Heni yang mengintip dari jendela kos hanya mengangguk puas dan kembali masuk.
---
Sore hari, ketika gerobak sudah dibersihkan dan rantang-rantang dikembalikan ke dapur, Anindya duduk di bangku plastik depan kos dengan segelas teh hangat.
Ia kelelahan, tapi lelah yang ia kenali, lelah yang membuat tidur nyenyak.
"Neng." Pak Jajang berhenti di depan gerbang dengan motornya. "Tadi pagi saya mampir ke warung makan di daerah sini. Nasi uduk Neng kemarin viral di grup ojek kita."
"Viral banget, Pak?"
"Ya nggak nyampe segitu sih." Pak Jajang tertawa. "Tapi anak-anak pada nyariin."
Ia mengobrol sebentar, lalu berkata dengan nada yang agak lebih biasa dari sebelumnya, seolah baru teringat sesuatu.
"Eh, Neng, tadi saya sempet lewat Waroeng Sederhana yang di perempatan itu. Katanya Neng dulu kerja di sana ya?"
Tangan Anindya yang memegang gelas berhenti sebentar. Hanya sebentar.
"Iya, Pak."
"Sekarang kayaknya agak sepi. Padahal dulu mah ramai." Pak Jajang menggaruk kepala. "Kasihan juga ya, yang punya."
Anindya menatap teh di gelasnya. Uap tipis naik dari permukaannya, membentuk garis-garis halus yang buyar di udara.
Seharusnya ada sesuatu yang bergolak. Seharusnya ia merasa menang, atau lega, atau marah. Yang ia rasakan justru sesuatu yang lebih tenang dan lebih sulit disebutkan: jarak. Dan di bawah jarak itu, sesuatu yang lebih kecil dan lebih lama menetap: rasa kasihan yang ia tidak izinkan menjadi harapan.
"Semoga lancar lagi, Pak," katanya pelan.
"Neng nggak dendam?"
"Dendam itu capek, Pak." Anindya tersenyum kecil. "Saya lagi sibuk ngurusin nasi."
Pak Jajang tertawa, melambai, dan pergi dengan motornya.
Anindya duduk sendirian di bawah langit sore yang mulai berwarna jingga. Dari kejauhan terdengar suara azan, dan angin membawa aroma hujan yang belum turun. Ia memejamkan mata sebentar, dan di tengah kegelapan di balik kelopak matanya, sebuah wajah berkemeja putih muncul tanpa diundang, dengan jari-jari yang mengetuk kusen pintu dua kali.
Ia membuka mata dengan cepat, meneguk tehnya habis, dan masuk ke dalam untuk menghitung uang.
Angka-angkanya cukup bagus malam itu. Tapi untuk pertama kalinya, ia menghitung sambil menyadari bahwa ada satu hal yang tidak bisa dimasukkan ke kolom mana pun di buku tulisnya: seseorang yang pernah berkata *kamu nggak perlu berhenti bikin*, dan yang kini tidak tahu bahwa ia tidak berhenti.
Bersambung ke Bab 21...