Naila Maharani, menikah selama 3 tahun hanya di jadikan pembantu gratisan di rumah nya sendiri.
Setiap tahun sang suami membawa seluruh keluarga nya berlibur ke pulau Bali saat tahun baru. Sedangkan Naila, dia tidak pernah di ajak.
Pada tahun ke tiga, Naila menyadari bahwa dia hanya di manfaat kan oleh suami nya dan juga keluarga nya.
Naila menjual rumah nya sendiri, agar mereka tidak bisa lagi pulang ke sana. Tidak hanya itu, Naila pun menyiapkan banyak kejutan untuk mereka semua.
Kejutan demi kejutan yang di berikan oleh Naila pada akhir nya membuat keluarga sombong itu hancur, ikuti kisah selengkap nya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Tidak berselang lama sebuah mobil polisi berhenti di depan rumah pak Doni, Rama datang bersama beberapa orang polisi. Rama adalah putra sulung pak Doni, dia adalah kakak nya Naila.
Rivan dan yang lain nya langsung ketakutan melihat kedatangan para polisi itu, mereka semua tidak akan menduga bahwa akan ada yang melaporkan kan perbuatan mereka.
"Bapak Rivan, anda dan keluarga anda kami tangkap karena sudah berbuat keributan dan menebar fitnah di tempat ini!" Salah satu dari polisi itu berkata.
"Tidak pak, tolong jangan bawa kamu. Kami hanya ingin menuntut hak kami!" Bu Rima mulai ketakutan.
"Hak apa yang kalian maksud? Rumah itu bukan milik kalian, rumah itu milik Nadila dan kami punya bukti nya!" Rana berkata sambil mengeluarkan sebuah map.
Di dalam map itu ada salinan surat kepemilikan rumah itu, di sana terdapat tanggal rumah itu di beli.
"Rumah itu saya beli jauh sebelum Naila menikah dengan mu Rivan, dan rumah itu milik Nadila sepenuh nya. Tapi dengan sangat tidak tahu malu, kalian mengakui rumah itu sebagai milik kalian. Kalian juga telah menuduh putri ku selingkuh dengan laki- laki lain, apakah kalian punya bukti nya?" Tanya pak Doni lagi.
"Bu Besan tolong lah kami, tolong jangan penjarakan kami. Kasihan cucu ku, dia masih sangat kecil!" Kini bu Rima mulai memohon pada bu Lestari.
"Tadi kalian dengan lantang nya menyalakan putri ku, sekarang buktikan saja kalau kalian memang tidak bersalah. Pak bawa mereka dari hadapan kami!" Bu Lestari berkata pada polisi- polisi itu.
"Tidak, jangan,,,!" Teriak bu Rima dengan histeris.
Para polosi itu langsung membawa Rivan dan keluarga nya pergi dari sana, kini kesombongan mereka lenyap begitu saja. Mereka tidak menduga akan berakhir seperti ini, semua warga yang tadi nya mendukung mereka, kini mulai ketakutan.
Ponsel Rama berdering, dan dia melihat nama adik nya tertera di sana.
"Hallo mas, bagai mana keadaan di sana?" Tanya Naila pada kakak nya.
"Mereka semua sudah di bawa oleh posisi, kamu tenang saja!" Jawab Rama.
"Terima kasih mas, tolong jaga bapak dan ibu. Aku tidak bisa pulang!" Naila berkata pada kakak nya.
"Iya, kamu tenang saja, jaga diri mu aik - baik. Aku akan mengurus dan menjaga bapak dan ibu!" Rama berkata pada adik nya.
"Terima kasih, Mas. Aku lebih tenang sekarang!" Jawab Naila lagi dari seberang sana.
Naila memutuskan sambungan telepon dengan kakak nya, dia menjadi lega sekarang. Setidaknya Rivan dan keluarga nya tidak bisa lagi berbuat onar.
Naila sebenar nya tidak berniat untuk memenjarakan mereka, tapi jika di diam kan mereka akan semakin menjadi.
"Rivan, ibu tidak mau masuk penjara. Tolong keluarkan ibu dari sini, ibu sudah tua!" Bu Rima merengek pada Rivan seperti anak kecil.
"Iya Van, mbak juga tidak mau masuk penjara. Kasihan Aira, dia masih terlalu kecil!" Yuni berkata sambil menahan tangis nya.
"Naila benar - benar keterlaluan, dia sudah membuat kita masuk penjara!" Pak Jamal ikut geram.
"Rivan, cepat lah telpon Naila. Minta dia membebaskan kita, ibu tidak mau berada di sini!" Bu Rima kembali mengeluh.
Rivan meminta izin pada petugas untuk menghubungi Naila, tidak ada cara lain dia harus memohon pada Naila. Jika tidak dia dan seluruh keluarga nya akan mendekam di balik jeruji besi.
"Hallo Nai, maafkan kami Nai. Aku berjanji pada mu, aku dan keluaga ku tidak akan menganggu mu. Tolong bebaskan aku dan keluarga ku, aku mohon!" Rivan berkata pada Naila.
"Mas, kau dan keluarga mu sangat keterlaluan. Kalian membuat kekacauan di depan rumah orang tua ku, dan kau juga memfitnah diri ku. Aku tidak akan mengampuni kalian!" Ujar Naila dengan geram.
"Nai, tolong lah kasihan Ibu ku. Dia sudah tua, begitupun dengan Aira. Kasihani lah kami Nai!" Rivan kembali memohon.
Naila terdiam sejenak, dia dalam hati kecil nya sendiri tidak tega melihat mereka sekeluarga mendekam di dalam penjara. Sekalipun mer4ka semua sudah sangat jahat pada diri nya, tetap saja Naila tidak tega membiarkan mereka semua mendekam di dalam penjara.
"Baik lah, kali ini aku maafkan kalian. Tapi jika kalian mengulangi nya lagi, aku tidak akan tinggal diam!" Ujar Naila dari seberang sana.
"Baiklah Nai, aku janji!" Mau tidak mau Rivan pun merendahkan harga diri nya di hadapan Naila.
Naila akhir nya membebaskan Rivan dan keluarga nya, rasa kemanusiaan yang ada di dalam hati nya membuat Naila tidak tega. Tapi Naila sudah mempersiapkan diri nya untuk menghadapi mereka, Naila yakin setelah ini mereka pasti akan melakukan hal yang lebih gila lagi.
Sore ini setelah pulang dari kantor, Naila sengaja mendatangi tempat di mana rumah keluarga Rivan berada. Rivan dan keluarga nya telah membuat orang tua Nadila malu dan menjadi bahan gunjingan di kampung nya, dan Naila pun akan melakukan hal yang sama.
"Mas Rivan, aku akan melakukan hal yang sama dengan keluarga mu. Akan ku buat kalian mendapatkan hujatan dan di kucilkan oleh warga sekitar!" Naila berkata pada diri nya sendiri.
Naila menghentikan mobil nya di depan sebuah warung, di sana ibu - ibu sedang berkumpul bersama. Naila turun dari mobil nya, dan dia langsung di sambut oleh mereka.
"Naila, ini beneran kamu nak?" Tanya salah satu perempuan pada Naila.
"Iya bu, ini aku Naila. Ibu masih ingat aku?" Naila balik bertanya.
"Tentu saja nak, ibu ingat dengan mu. Kau sudah lama tidak datang kemari, semenjak mertua mu pindah ke rumah mu!" Seorang ibu yang bernama Ratmi berkata.
"Naila tidak punya waktu, bu. Naila sibuk mengurus mereka semua, tapi sekarang tidak lagi!" Jawab Naila dengan wajah sendu.
"Ada apa nak? Kemarin kamu lihat Rivan dan keluarga nya datang ke sini sambil membawa banyak barang!" Ibu yang lain nya berkata.
"Mereka baru saja pulang dari liburan tahun baru di Pulau Bali, bu. Setiap tahun mereka pergi berlibur, tapi tidak mengajak ku!" Naila berkata dengan wajah yang di buat sesedih mungkin.
"Astagfirullah hal adzim, mereka sangat keterlaluan. Bisa - bisa nya mereka berlibur tanpa diri mu, tidak tahu diri!" Bu Ratmi memaki Rivan dan keluarga nya.
"Mereka juga menjadikan aku babu di rumah ku sendiri, lalu aku menjual rumah ku saat mereka meninggal kan aku sendiri! Apakah aku salah?. Mas Rivan dan keluarga nya tidak terima, mereka bahkan datang dan membuat kekacauan di rumah orang tua ku!" Naila menunjuk kan video di mana mereka membuat kekacauan di depan rumah orang tua nya.
"Tidak tahu diri, kau tidak salah telah menjual rumah yang memang milik mu. Dasar manusia - manusia tidak tahu malu!" Umpat ibu - ibu yang lain nya.
Semua ibu - ibu yang ada di sini memaki dan menyalahkan bu Rima bersama keluarga nya, mereka semua mendukung Naila. Naila tersenyum puas, dia berhasil membuat keluarga Rivan di benci di lingkungan nya sendiri.
mkne gedek juga ma nayla. di permalukan di kantor juga ttp lembek gk sat set. baik nya nayla mlh njelehi.
nyebelin banget
bisa2nya nduh orng smbrangn,pdhl dia sndri yg slingkuh....jd laki2 kere aja sok2an miara slingkuhan....😫😫😫
next double up ya atau crazy up gitu Thor 😄😄
msa udh d ftnah dn d bkin malu d dpn bnyak orng,tp msih diem aja....tar lma2 kluarga benalu mkin gila....