Tiga tahun lalu, Kaluna Adiswara dinyatakan meninggal setelah mobilnya ditemukan hancur di dasar sungai. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Selama bertahun-tahun ia dianggap telah meninggalkan suami dan putrinya, bahkan dituduh menggelapkan uang perusahaan. Ketika ingatannya pulih dan Kaluna kembali, ia justru menemukan suaminya telah menikahi Veyra, adik angkat yang dulu ia anggap sebagai keluarga. Lebih menyakitkan lagi, putrinya, Elara, kini memanggil Veyra Mama. Kaluna tidak datang untuk merebut suaminya. Ia datang untuk mendapatkan kembali namanya, hak sebagai ibu, aset yang dirampas, dan mencari tahu siapa yang mencoba membunuhnya. Di balik keluarganya yang terlihat sempurna, ternyata tersimpan rahasia tentang pemalsuan dokumen, pengkhianatan, dan sebuah kejahatan yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 TES DNA YANG TIDAK BOLEH BERHASIL
Veyra berhenti di anak tangga pertama. Elara menunduk, lalu menarik lengan bajunya sampai menutupi bekas luka di bagian dalam lengannya. Kaluna masih berdiri beberapa langkah dari mereka. Ia tidak berniat membuat anak itu takut. Tapi gerakan Veyra membuat perhatiannya tertahan di sana.
“Dia pernah jatuh waktu main.”
“Jatuh di mana?”
“Di taman belakang.”
Elara mengangkat wajah. “Bukan di taman, Ma.”
Veyra menatapnya. “Waktu kamu main dekat pintu kaca.”
“Itu di ruang belakang.”
“Ruang belakang kan menghadap taman.”
Elara tampak memikirkan penjelasan itu, lalu mengangguk kecil. Kaluna sempat melihat bekas luka itu sebelum tertutup sepenuhnya. Bentuknya memanjang dan tidak rata. Luka itu sudah lama sembuh, tetapi cukup dalam untuk meninggalkan bekas.
“Kapan kejadiannya?” tanya Kaluna.
“Sekitar setahun lalu,” jawab Veyra. “Pintu kacanya retak. Elara tidak melihat pecahan di bawah.”
“Aku mau ambil boneka,” kata Elara.
Veyra mengusap rambutnya. “Iya. Kamu waktu itu buru-buru.”
“Siapa yang membawanya ke rumah sakit?”
“Aku.”
Veyra tidak terlihat gelisah. Ia justru tampak seperti tidak ingin Elara terlalu lama mengingat kejadian itu. Kaluna menelan pertanyaan berikutnya. Ia ingin tahu apakah Elara menangis. Apakah anak itu memanggil namanya ketika dokter menjahit luka tersebut. Apakah Elara takut melihat darah seperti dahulu. Ia tidak berada di sana. Veyra yang menggendong Elara. Veyra yang menenangkan dan menunggu sampai luka itu selesai dirawat. Semua yang seharusnya menjadi bagian hidup Kaluna kini menjadi bagian dari kenangan perempuan lain.
“Apa masih sakit?” tanya Kaluna.
Elara menggeleng, lalu kembali mendekat kepada Veyra.
Arsen mengembuskan napas. “Cukup. Elara harus istirahat.”
Kaluna tidak membantah lagi. Veyra menggandeng Elara menaiki tangga. Sebelum menghilang di lantai atas, Elara sempat menoleh. Tatapan mereka bertemu sebentar, tetapi anak itu langsung memalingkan wajah. Kaluna berdiri diam sampai suara langkah mereka tidak lagi terdengar.
“Sekarang kita bicara.”
Arsen berjalan menuju ruang kerja tanpa menunggu jawaban. Kaluna mengikuti bersama Naren. Mbok Rini masih berada di ruang tengah, memandangnya dengan wajah penuh harap.
“Nona jangan pergi lagi,” katanya pelan.
Kaluna menahan langkah. “Aku tidak akan pergi tanpa penjelasan.”
Mbok Rini mengangguk, meskipun air matanya kembali memenuhi mata.
Ruang kerja Arsen tidak banyak berubah. Lemari buku masih berada di sisi kanan, sedangkan meja kayu besar menghadap jendela. Hanya foto di atas meja yang berbeda. Dahulu, ada foto Kaluna sedang menggendong Elara. Sekarang, foto itu memperlihatkan Arsen, Veyra, dan Elara mengenakan pakaian berwarna senada.
Kaluna duduk tanpa diminta. Naren memilih berdiri dekat pintu.
Arsen tetap berdiri di balik meja.
“Kita mulai dari awal. Pria itu siapa?”
“Naren Atmadja.”
“Apa hubungan kalian?”
“Hubungan kami tidak penting untuk pembicaraan ini.”
Naren menjawab dengan tenang, “Hubungan kami nggak ada hubungannya sama ini.”
Arsen menatapnya tajam. “Ini rumah saya.”
“Dan perempuan di depan Anda juga mengaku sebagai pemilik rumah ini.”
Kaluna mengangkat tangan, meminta Naren berhenti. Ia tidak ingin percakapan berubah menjadi adu kuasa antara dua laki-laki.
“Naren membantuku ketika ingatanku mulai kembali,” kata Kaluna. “Itu saja yang perlu kamu tahu sekarang.”
“Sekarang?” Arsen mengulang. “Kamu datang setelah tiga tahun, bawa orang asing, terus mau menentukan apa yang boleh aku tahu?”
“Aku datang bukan buat minta izin.”
Arsen tertawa pendek. “Kamu belum membuktikan siapa dirimu.”
“Cerita soal luka di punggungmu masih belum cukup?”
“Itu membuatku ragu. Bukan percaya.”
Kaluna menahan napas. “Lalu apa yang kamu inginkan?”
“Bukti yang tidak bisa dipelajari dari orang lain.”
“Tes DNA.”
Arsen terdiam sesaat.
Kaluna melanjutkan, “Aku dan Elara. Atau aku dan keluargaku yang masih memiliki hubungan darah. Pilih sendiri.”
“Jangan libatkan Elara.”
“Dia anakku.”
“Kalau kamu ternyata bukan Kaluna, aku sudah membiarkan seorang penipu mendekati putriku.”
Kaluna mencengkeram sandaran kursi. “Kalau aku benar-benar Kaluna, selama tiga tahun kamu membiarkan putrimu percaya bahwa ibunya pencuri.”
Rahang Arsen kembali mengeras. Naren memperhatikan keduanya, tetapi tetap tidak ikut campur.
Setelah beberapa saat, Arsen menarik kursi dan duduk. “Tes dilakukan di rumah sakit yang kupilih.”
“Tidak.”
“Kamu takut?”
“Aku nggak percaya sama orang-orang yang dulu mengurus kematianku.”
Kalimat itu membuat Arsen menatapnya tajam.
Kaluna melanjutkan, “Kita pilih tempat bersama. Sampel diambil di depan pengacara masing-masing. Hasilnya dikirim kepada dua pihak.”
“Aku tidak butuh pengacara.”
“Aku butuh.”
“Sudah kamu siapkan?”
Kaluna tidak menjawab.
Naren mengeluarkan sebuah kartu nama dan meletakkannya di atas meja. “Salindri Wisesa akan mendampingi Kaluna.”
Arsen membaca nama yang tercetak di kartu tersebut. Rautnya langsung menegang.
“Kalian sudah merencanakan semuanya.”
“Kami cuma mau memastikan dia nggak dinyatakan mati lagi,” jawab Naren.
Kaluna menoleh kepada Naren. Lelaki itu tidak mengubah ekspresi.
Arsen bersandar. “Besok pagi. Rumah Sakit Adikara.”
Naren menggeleng. “Laboratorium independen.”
“Adikara punya fasilitas lengkap.”
“Dan keluarga Mahardika menjadi salah satu penyumbang terbesarnya.”
Arsen mengepalkan tangan, tetapi tidak membantah. Akhirnya mereka sepakat menggunakan sebuah laboratorium genetika swasta yang ditentukan bersama. Pengambilan sampel dilakukan pukul sepuluh pagi, disaksikan Salindri dan perwakilan hukum keluarga Mahardika.
Ketika Kaluna keluar dari ruang kerja, Veyra sudah menunggu di dekat tangga. Elara tidak bersamanya.
“Apa yang kalian putuskan?” tanya Veyra.
“Tes DNA,” jawab Arsen.
Veyra menatap Kaluna, lalu kembali kepada Arsen. “Dengan Elara?”
Arsen mengangguk.
Sejenak, Kaluna melihat jari-jari Veyra menegang di sisi gaunnya. Perempuan itu segera mengembuskan napas.
“Kalau itu bisa bikin semuanya jelas, ya sudah.”
Jawaban itu terdengar terlalu tenang untuk sebuah penolakan. Kaluna sendiri tidak tahu apakah ia berharap Veyra ketakutan atau mencoba menghalangi. Perempuan itu justru terlihat menerima keputusan tersebut.
“Jangan membuat Elara merasa seperti sedang diperiksa karena melakukan kesalahan,” kata Veyra kepada Kaluna.
“Aku tidak akan menyakitinya.”
“Aku nggak bilang kamu bakal nyakitin dia.”
“Tapi kamu kepikiran soal itu.”
Veyra diam sebentar. “Aku cuma nggak mau dia tambah bingung.”
Arsen berdiri di antara mereka. “Cukup. Besok kita selesaikan.”
Kaluna memandang tangga menuju lantai atas. Ia ingin meminta bertemu Elara sekali lagi sebelum pergi, tetapi menahan diri. Malam itu sudah cukup berat bagi anak itu.
“Aku akan datang pukul sepuluh,” katanya.
Kemudian ia meninggalkan rumah yang pernah menjadi miliknya.
Keesokan paginya, Kaluna tiba di laboratorium bersama Naren dan Salindri Wisesa. Salindri adalah perempuan berusia sekitar empat puluh tahun dengan rambut dipotong pendek dan cara bicara yang langsung pada tujuan. Sejak bertemu Kaluna di lobi, ia sudah memeriksa semua dokumen tiga kali.
“Kita tidak menerima hasil melalui telepon,” katanya. “Hanya dokumen resmi dan salinan digital yang dikirim langsung kepada saya.”
Kaluna mengangguk pelan.
“Jangan menandatangani apa pun sebelum saya baca.”
“Aku hanya akan memberikan sampel.”
“Masalah besar sering dimulai dari kalimat ‘hanya’.”
Naren melirik Kaluna. “Sudah kubilang dia orang yang tepat.”
Salindri tidak menanggapi.
Arsen tiba beberapa menit kemudian bersama Veyra dan Elara. Seorang pengacara laki-laki berjalan di belakang mereka, tetapi Kaluna tidak mengenalnya. Elara mengenakan jaket tipis berwarna kuning. Wajahnya terlihat mengantuk dan tidak senang.
“Aku tidak sakit,” katanya kepada Veyra.
“Kita tidak datang karena kamu sakit.”
“Terus kenapa darahku diambil?”
Veyra berjongkok. “Cuma sedikit. Setelah itu kita beli es krim.”
“Elara tidak suka jarum.”
Kaluna tanpa sadar menjawab, “Dia akan lebih tenang kalau tidak melihat alatnya.”
Semua orang menoleh kepadanya. Kaluna menyadari kata-kata itu keluar begitu saja. Dulu, setiap kali Elara mendapat vaksin, Kaluna akan mengajaknya menghitung lampu di langit-langit agar anak itu tidak melihat jarum.
Veyra berdiri kembali. “Aku tahu.”
Jawaban itu tidak kasar, tetapi cukup untuk mengingatkan Kaluna bahwa Veyra juga mengenal Elara.
Petugas laboratorium memanggil mereka satu per satu. Identitas diperiksa, formulir ditandatangani, lalu sampel diambil menggunakan usapan dari bagian dalam pipi agar Elara tidak perlu menjalani pengambilan darah. Ia duduk di pangkuan Veyra selama proses berlangsung.
Kaluna hanya bisa duduk di kursi seberang dan memperhatikan. Ketika petugas memasukkan alat kecil ke mulutnya, Elara memejamkan mata.
“Sudah?” tanyanya.
“Sudah,” jawab petugas.
Elara membuka mata dan terlihat lega.
Kaluna mendapat giliran berikutnya. Prosedurnya berlangsung cepat. Tabung sampel diberi kode, dimasukkan ke dalam kantong khusus, kemudian ditunjukkan kepada kedua pengacara sebelum dibawa ke ruang penyimpanan. Salindri memotret nomor segel.
“Berapa lama hasilnya?” tanya Arsen.
“Tiga sampai lima hari kerja,” jawab petugas.
“Tidak bisa lebih cepat?”
“Bisa. Paling cepat dua hari.”
Arsen mengangguk. Kaluna berdiri. Ia tidak tahu apakah dua hari akan terasa singkat atau malah terasa panjang sekali.
Elara sudah menarik tangan Veyra, menagih es krim yang dijanjikan. Sebelum mereka pergi, Elara menoleh kepada Kaluna.
“Kamu juga takut jarum?”
Kaluna tersenyum tipis. “Sedikit.”
“Tapi tadi tidak pakai jarum.”
“Makanya aku nggak terlalu takut.”
Elara hampir tersenyum, tetapi Veyra sudah mengajaknya berjalan.
Kaluna merasa dadanya sedikit lebih ringan.
Mereka belum sempat keluar dari gedung ketika Salindri menerima panggilan. Perempuan itu berhenti di dekat pintu lobi. Setelah mendengarkan beberapa detik, raut Salindri mendadak serius.
“Siapa yang bertugas di ruang penyimpanan?” tanyanya.
Kaluna mendekat. “Ada apa?”
Salindri menutup telepon. “Salah satu kantong sampelnya nggak ada.”
Arsen yang mendengar percakapan itu langsung berbalik.
“Sampel siapa?”
Salindri memandang Kaluna.
“Milik Kaluna.”
Petugas keamanan membawa mereka ke ruang pemantauan.
Mereka memutar rekaman sejak sampel dimasukkan ke ruang penyimpanan. Pada pukul sebelas lewat delapan menit, pintu lorong terbuka. Seorang perempuan berjalan melewati kamera dengan kepala sedikit menunduk. Wajahnya tidak terlihat jelas, tetapi pakaiannya mudah dikenali.
Blus biru pucat.
Kardigan krem.
Pakaian yang sama dengan yang dikenakan Veyra pagi itu.