NovelToon NovelToon
Jin Nyasar Di Desa Kertajaya

Jin Nyasar Di Desa Kertajaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Komedi
Popularitas:642
Nilai: 5
Nama Author: My Chubby

Tiga pemuda bokek di Desa Kertajaya nekat mencari cara mendapatkan uang. Alih-alih menemukan keberuntungan, mereka justru selalu terjebak dalam masalah kocak yang bikin hidup mereka semakin kacau. Tanpa mereka sadari, petualangan aneh yang lebih besar sudah menunggu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalan Keluar Sang Putri

BAB 12

Suara banting pintu yang dilakukan oleh Bu Ratna pagi tadi masih menyisakan dengung tipis di gendang telinga. Suasana di dalam kamar nomor empat terasa semakin sesak oleh keputusasaan yang merayap pelan. Bayu masih terduduk di lantai sambil bersandar pada dinding kusam, menatap kosong ke arah langit-langit kamar yang dihiasi sarang laba-laba kecil.

Dimas duduk diam di dekat meja sambil memutar-mutar sebuah pulpen patah di antara jemarinya, sementara Raka mondar-mandir gelisah dengan langkah berat.

Waktu menunjukkan pukul delapan pagi. Matahari di luar sana sudah mulai meninggi, memancarkan terik panas yang menembus celah ventilasi kamar dan membuat udara di dalam ruangan berukuran tiga kali tiga meter itu terasa semakin gerah.

"Jam lima sore, Bro," gumam Bayu pelan dengan suara parau, memecah keheningan yang sejak tadi mencekam. Ia menoleh ke arah Raka dengan tatapan memelas. "Kurang dari sepuluh jam lagi kasur busa kesayangan kita bakal resmi diangkut ke halaman depan sama Bu Ratna. Mau cari utang ke siapa lagi coba? Warung Madura sebelah gang udah nolak muka kita gara-gara utang sebungkus mie instan minggu lalu belum lunas."

Raka berhenti melangkah. Ia menghela napas panjang, meraup wajahnya dengan kedua telapak tangan untuk meredakan pusing di kepala. "Gue juga bingung, Bay. Semua tempat udah dicoba. Kalau kita minjam ke mandor kemarin, bayarannya baru turun akhir bulan. Nggak mungkin nutup deadline jam lima sore nanti."

Dimas mendengus pelan, menatap lurus ke depan dengan ekspresi datarnya. "Udah, ikhlasin aja. Paling nanti kita tidur di emperan pos ronda sambil meluk tas pakaian."

Mendengar percakapan penuh keputusasaan itu, Zahmira yang sejak tadi berdiri diam di dekat jendela dengan anggun akhirnya berbalik badan. Perempuan bergaun ungu itu menatap tiga pemuda di depannya dengan sorot mata yang menyiratkan keheranan.

Alisnya yang terbentuk sempurna berkerut tipis, mengamati kerepotan kecil yang sedang dihadapi oleh manusia-manusia fana tersebut.

"Kalian ini benar-benar hobi meributkan hal-hal sepele," suara dingin Zahmira memecah keheningan kamar, membuat Raka, Bayu, dan Dimas kontan menoleh serempak. "Hanya karena secarik kertas atau nominal uang dari perempuan berdaster hijau tadi, kalian rela merendahkan martabat dan meratap separah ini?"

Bayu mendengus pelan, menatap Zahmira dengan senyum pahit. "Mbak Zahmira sih enak, hidup sebagai bangsawan di alam gaib nggak kenal namanya inflasi, token listrik habis, atau tagihan kos bulanan. Lah kita? Kalau nggak punya uang, kita diusir dari kamar ini."

Zahmira mendengus sinis, melipat kedua tangannya di dada dengan elegan. Sulaman benang emas di gaunnya memantulkan pendar cahaya lampu neon kamar. "Jangan samakan kebutuhan hidup yang agung dengan urusan remeh temeh buatan manusia fana. Di duniaku, benda-benda semacam itu bisa diciptakan dalam sekejap mata tanpa harus membuat seseorang memohon-mohon di lantai."

Raka menatap Zahmira dengan kening berkerut, menangkap nada bicara yang tidak biasa dari perempuan itu. "Maksud Mbak... apa?"

Zahmira melangkah maju mendekati meja kecil di tengah kamar, mengabaikan tumpukan kertas lamaran kerja Raka yang berserakan. Ia menatap Raka, Bayu, dan Dimas bergantian dengan sorot mata penuh keyakinan diri.

"Aku sudah muak mendengar keluh kesah kalian sejak semalam," kata Zahmira dengan nada tenang. "Kalian terus-menerus meributkan masalah secarik kertas sewa ruangan itu. Padahal, jalan keluarnya sangat sepele."

Bayu langsung menegakkan duduknya, matanya berbinar-binar penuh harapan palsu. "Sepele gimana, Mbak? Mau kasih kita contekan jawaban ujian atau mau sulap pintu kamar jadi mesin pencetak uang?"

"Bukan sulap murahan," jawab Zahmira dingin. Ia mengangkat tangan kanannya ke udara, merentangkan jemari lentiknya yang dihiasi gelang emas antik.

Seketika, suhu di dalam kamar nomor empat mendadak turun drastis. Hawa dingin yang menusuk tulang langsung merayap ke kulit, membuat bulu kuduk Raka, Bayu, dan Dimas berdiri serentak. Aroma wangi melati dan dupa yang pekat tiba-tiba menguar memenuhi ruangan, mendesak keluar bau apak dan debu yang sejak tadi melekat.

"Tunggu, Mbak..." protes Bayu setengah panik, refleks menggeser tubuhnya menjauh.

Zahmira tidak mengindahkan ucapan Bayu. Ia memejamkan matanya sejenak, merapalkan sebuah mantra kuno dalam bahasa yang terdengar asing dan menggema di dalam dada mereka. Getaran halus bergelombang di udara, menciptakan pendar cahaya keperakan yang berputar-putar di telapak tangan kanannya.

"Lihat dan belajarlah," bisik Zahmira tajam.

Lalu....

CLING!

Kilatan cahaya putih menyilaukan meledak tanpa suara di atas meja plastik kecil, memancarkan pendar silau yang membuat Raka, Bayu, dan Dimas harus menutup mata dengan tangan mereka.

Kamar nomor empat mendadak menjadi sangat senyap setelah kilatan cahaya putih itu meredup. Bayu masih melongo dengan rahang hampir menyentuh lantai, sementara Dimas mematung menatap tumpukan uang dan kepingan logam emas di atas meja plastik.

Raka adalah orang pertama yang berhasil menarik napas dan memecah keheningan canggung tersebut. Ia menatap Zahmira dengan kening berkerut dalam, mencoba mencerna kejadian barusan yang sama sekali di luar nalar sehat anak kos.

"Mbak Zahmira..." panggil Raka hati-hati. "Kalau dari awal Mbak bisa menciptakan uang semudah ini dengan sihir, kenapa baru sekarang di tunjukkan? Kenapa kemarin-kemarin kita harus repot-repot jadi buruh gabah sampai malam?"

Zahmira mendengus sinis, melipat kedua tangannya di dada dengan angkuh. "Mana kutahu kalian sebegitu menderitanya hanya karena urusan secarik kertas sewa ruangan? Di duniaku, makhluk tidak pernah meratap separah itu hanya untuk bertahan hidup di tempat sekecil ini."

Bayu akhirnya menutup mulutnya yang menganga lebar, lalu menelan ludah dengan susah payah. "Bukan meratap lagi, Mbak. Itu namanya krisis eksistensial anak kos akhir bulan."

Waktu menuju batas yang diberikan Bu Ratna terus berjalan. Dengan tangan sedikit bergetar, Raka mengambil beberapa lembar uang kertas dari atas meja untuk persiapan pembayaran sore nanti, sementara keping emas kecil itu dibiarkan tergeletak di sana. Tidak satu pun dari mereka menyadari bahwa benda kecil tersebut justru akan menjadi sumber masalah berikutnya.

1
falea sezi
lanjut🤣 q kirim bunga
Putri Pinrang: Baik terimah kasih sudah koment😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!