Lima sahabat Pramuka Penegak — Bima, Arga, Gilang, Maira, dan Elina— masuk ke Rimba Larangan hanya untuk mencari jejak yang hilang.
Satu langkah salah, mereka terperosok ke dimensi lain yang tak terlihat.
Saat Elina tiba-tiba hilang tanpa jejak, Maira panik dan berteriak memanggil namanya sekeras-kerasnya.
Itulah kesalahan fatal mereka.
Teriakan itu membangunkannya.
BHAYAVEDIN — makhluk buta Sang Perasa Takut yang memburu setiap suara. Semakin keras mereka berteriak, semakin dekat ia datang.
Kini mereka terjebak dalam aturan mengerikan: dilarang bersuara.
Dengan satu teman hilang di dalam kabut dan makhluk itu yang terus memburu, satu-satunya cara pulang adalah memecahkan kode rumit di Gerbang Kelima.
Tapi bagaimana memecahkan kode saat kau bahkan dilarang untuk berteriak meminta tolong?
Berhasilkah mereka keluar??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Narishea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 4: Induk
Tes... tes... tes...
Cairan kuning kehijauan itu sekarang netes kayak hujan rintik. Bau manis menyengat.
Gilang muntah lagi. Bekas jari hitam di keningnya berasap tipis.
Dan di tengah ruangan perut itu, Elina kondisinya paling kritis.
"Ra... dingin... kaki gue dingin..."
Kaki Elina bukan cuma terjerat. Dari paha sampai mata kaki, sudah masuk ke dalam tanah lunak berdenyut itu. Akar-akar cacing putih seukuran lidi keluar dari tanah, bukan cuma melilit, tapi ujungnya runcing dan menusuk kulit Elina pelan-pelan seperti jarum infus. Dari tusukan itu, akar itu menghisap. Elina bisa ngerasain hangat tubuhnya kesedot keluar.
Maira panik, mau narik paksa.
"JANGAN TARIK PAKSA!" Arga nahan tangan Maira. "Makin lo tarik, makin dia tusuk dalam! Ingat tadi! Makin takut makin kenceng!"
Bima yang pegang senter langsung jongkok di depan Elina. Napasnya ngos-ngosan tapi dia paksa tenang. Dia inget pelajaran Pramuka pas tali temali.
"Lin... dengerin gue... jangan lawan akarnya... jangan tegangin kaki lo..."
Bima pelan-pelan meletakkan telapak tangannya di atas tanah lunak di sekitar kaki Elina. Tanah itu hangat dan berdenyut. Bima mengusap tanah itu pelan, bukan menarik.
"Tanah ini hidup... dia ngerespon detak jantung... kalau kita panik dia ngerasa kita mau kabur..."
Maira langsung paham. Dia ikut jongkok, memeluk kepala Elina dari depan, berbisik di telinga Elina pelan.
"Tarik napas sama gue ya... satu... dua... hembusin... kita gak kabur... kita di sini aja... tenang..."
Elina yang tadinya nangis sesenggukan, dipaksa untuk mengatur napas. Susah, karena kakinya sakit ditusuk-tusuk akar putih. Tapi Maira terus bisikin.
Arga dan Bima juga ikut ngatur napas mereka, biar detak jantung mereka yang merambat lewat tanah juga melambat.
Ajaib.
Akar-akar putih yang tadinya menusuk dan melilit kencang, pelan-pelan mengendur. Tusukannya lepas. Lilitannya kendor. Tanah lunak yang tadinya menghisap sampai sepinggang, pelan-pelan mendorong kaki Elina naik.
"Terus... terus Lin... jangan tegang..."
Srup...
Kaki kanan Elina terlepas! Masih ada lendir hitam dan bekas tusukan kecil berdarah, tapi terlepas.
Srup...
Kaki kiri Elina terlepas juga!
Elina langsung dipeluk Maira. Kakinya lemas, dingin, pucat, tapi sudah bebas dari hisapan tanah. Bekas tusukan akar putih itu meninggalkan bintik-bintik merah kecil di kulitnya.
"Gue bebas... gue bebas Ra..." bisik Elina nangis lega.
Tapi kelegaan itu cuma 5 detik.
Karena tepat saat Elina bebas dari akar hisap...
DUG!! DUG!! DUG!!
Seluruh perut berguncang hebat! Kubah akar di atas mereka yang tadinya hanya berdenyut, sekarang bergetar dan menyibak paksa!
KRAKKKK...
Kubah terbuka! Di baliknya ada rongga 10 kali lebih besar, gelap pekat, dan dari dalam kegelapan itu ada napas panjang yang menyedot udara di dalam perut.
Induk Bhayavedin bangun karena mencium bau lega mereka. Bau lega setelah takut, itu adalah bau paling manis bagi hutan.
Bima menyorot senter ke atas.
Dan di situlah mereka melihat Induk untuk pertama kali.
Tubuhnya sebesar rumah, terbuat dari akar raksasa, tanah, daging busuk, dan... ribuan wajah manusia menempel di tubuhnya. Ada wajah Kak Reza yang masih pakai kacamata, ada wajah tentara Belanda, ada wajah anak Pramuka kepang dua. Semua korban yang tidak dicerna tapi ditempel jadi daging.
Dan di tengahnya ada satu wajah utama sebesar mobil truk. Botak, tanpa mata, hanya dua cekungan hitam sebesar baskom, dan di seluruh wajahnya ada ribuan lubang kecil sebesar kelereng yang membuka-tutup -pup... pup... pup...-menghirup bau takut mereka.
Elina yang melihat wajah sebesar itu langsung lemas.Dia ingat, wajah itulah yang dia lihat samar-samar di basecamp malam itu. Anak Pramuka tanpa mata yang menatap kedalam hutan. Ternyata itu bukan anaknya. Itu induknya yang mengintip dari jauh.
" Ra, itu.. itu yang manggil aku.."ucap Elina lirih pada Maira.
Tiga anak Bhayavedin yang ada di dinding langsung tiarap ketakutan melihat induknya bangun.
Induk itu menurunkan satu akar raksasa sebesar batang kelapa yang ujungnya terbuka seperti mulut, dan dari mulut itu keluar suara ibu Maira, ibu Gilang, bapak penjaga pos, memanggil-manggil mereka agar menyerah.
Maira langsung nutup telinga Elina. "JANGAN JAWAB!"
Arga yang otaknya masih jalan, di tengah kepanikan itu, melihat sesuatu di bawah.
Saat Induk narik napas panjang, tanah lunak di bawah kaki mereka yang baru saja melepas Elina, ketarik ke atas kencang dan menjadi tipis hampir transparan. Di balik tanah tipis itu, terlihat cahaya putih oranye sore. Terdengar jangkrik. Bau tanah normal.
"Tanah di bawah kita! Itu kulit perutnya! Itu lantai perutnya! Kalau dia narik napas, tipis! Di balik itu ada luar!" bisik Arga cepat.
Bima langsung paham.
Elina yang baru saja berhasil keluar dari akar hisap itu, sekarang harus berjuang lagi. Tapi kali ini bukan berjuang lepas dari akar, tapi berjuang merobek lantai perut induknya itu.
Mereka berlima merapat, punggung ketemu punggung. Elina yang kakinya masih lemas dan berdarah, diposisikan di tengah biar bisa lompat pertama nanti.
Di atas mereka, akar mulut raksasa turun makin dekat.
Di sekeliling, anak-anak Bhayavedin mulai dipaksa induknya merangkak mendekat.
"Pas dia narik napas lagi... kita tusuk bareng-bareng tanah tipis itu... kita robek! Pegangan tangan! Jangan lepas! Elina duluan!" bisik Bima.
Mereka berlima menggenggam pisau lipat kecil, ranting, dan kuku mereka.
Di atas, Induk menarik napas paling dalam...
Tanah di bawah mereka ketarik kencang, menipis transparan, cahaya luar terlihat jelas!
"SEKARANG!!!" teriak Bima.
***
***