NovelToon NovelToon
Anak Jenius Yang Melumpuhkan Raja Mafia

Anak Jenius Yang Melumpuhkan Raja Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Anak Genius / Mafia
Popularitas:362
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Luo Chen tidak punya air mata untuk ditangisi saat ibunya meninggal; ia hanya punya ingatan sempurna yang merekam setiap detail wajah pembunuhnya. Berbekal satu foto tua, ia menyusup ke sarang Shen Mo, penguasa mafia paling ditakuti di Yucheng. Alih-alih dibunuh sebagai penyusup, kecerdasan brilian Chen justru memukau sang raja mafia. Bersama-sama, mereka membentuk aliansi maut melawan sindikat pengkhianat yang haus darah. Tanpa kekuatan fisik, Chen menjadi otak di balik setiap langkah balas dendam, membuktikan bahwa musuh paling berbahaya di dunia bukan lah orang yang memegang senjata, melainkan anak kecil yang tahu seluruh rahasia gelapmu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: ARSIP YANG TERBAKAR

"Sayang sekali, arsip itu sudah aku bakar tadi pagi. Sama seperti aku akan bakar kalian berdua malam ini."

Vane tersenyum. Senyum orang yang sudah menang sebelum perang dimulai.

Di belakangnya, dua anggota Blackwood dengan topeng tengkorak hitam mengangkat senapan laras pendek. Laser merah mereka menari-nari di dahi Shen Mo dan di dada kecil Chen.

Ruang arsip lantai 60 itu gelap. Hanya diterangi cahaya lampu darurat merah yang berkedip dari koridor luar dan cahaya kilat dari jendela pecah tempat mereka masuk tadi. Bau kertas lama yang terbakar masih menyengat.

Di tengah ruangan, lemari besi berlabel KEMATIAN WARGA SIPIL - YUCHENG BARAT - 2026 memang sudah hangus. Pintunya menganga, isinya hanya abu hitam.

Bukti kematian ibu Chen. Hilang.

Leo dan Jax masih tertahan di lantai 100 karena ledakan. Tidak ada bala bantuan.

Vane melangkah maju, pistolnya tetap mengarah ke kepala Chen.

"Aku akui, bocah. Kau pintar. Terlalu pintar untuk umur 7 tahun. Bisa tahu aku gelapkan dana Aegis Corp, bisa tahu frekuensi Blackwood, bisa tahu katrol kaca. Tapi kau lupa satu hal."

Vane mendekatkan wajahnya ke Chen.

"Orang pintar selalu datang ke tempat yang paling dia butuhkan. Dan aku sudah tunggu di sini. Sejak jam 9 malam."

Shen Mo berdiri di depan Chen, setengah membungkuk melindungi. Kemeja hitamnya basah kuyup, menempel di tubuhnya yang tegap. Tangan kanannya perlahan bergerak ke belakang pinggang, tempat pistol peraknya terselip.

Vane melihat gerakan itu dan tertawa.

"Jangan bodoh, Tuan Shen. Kau tahu aku lebih cepat. 12 tahun aku jadi tangan kananmu, aku hafal semua gerakanmu. Kau ambil pistol, aku tembak bocah ini dulu. Kau lebih cepat dari peluru?"

Suasana membeku.

Tapi Chen tidak gemetar. Bocah 7 tahun itu malah menatap abu di dalam lemari besi yang hangus. Matanya yang besar dan hitam bergerak cepat, memindai.

Otak fotografisnya bekerja.

Dalam 1 detik, ia menghafal pola abu itu.

Abu itu tidak rata. Ada bekas tumpukan kertas yang lebih tebal di pojok kanan bawah. Ada bekas klip besi yang meleleh. Dan yang paling penting...

Ada bau.

Bukan bau kertas terbakar. Tapi bau alkohol medis 70% yang dicampur dengan pemutih. Bau yang Chen hafal dari Rumah Sakit Harapan tempat ibunya dirawat. Bau cairan pembersih lantai rumah sakit.

"Arsipnya tidak kau bakar di sini," ucap Chen tiba-tiba, suaranya jernih memecah ketegangan. "Kau bakar di luar, lalu abunya kau bawa ke sini untuk pamer."

Vane mengernyit. "Apa?"

"Kalau kau bakar kertas setebal 200 lembar di dalam lemari besi tertutup ini, asapnya akan penuhi ruangan dan alarm asap lantai 60 akan bunyi. Tapi alarm tidak bunyi. Artinya kau bakar di tempat terbuka. Dan kau pakai alkohol medis biar cepat hangus."

Chen menunjuk sisa abu yang menggumpal.

"Dan abu ini masih agak basah di bawahnya. Berarti baru kau pindahkan 10-15 menit lalu. Kau buru-buru karena kau tahu kami turun lewat katrol."

Shen Mo melirik Chen sekilas. Sudut bibirnya naik setengah mili lagi.

Vane mulai kesal. "Bocah sialan, kau pikir dengan pintar begitu aku akan takut? Arsip asli tetap sudah jadi abu! Ibumu mati karena sakit! Tidak ada yang ganti obatnya!"

"Justru karena kau bakar arsipnya, berarti isinya penting," balas Chen, kali ini ia melangkah maju, keluar dari belakang Shen Mo. Berani. "Kalau Ibu memang mati sakit biasa, kenapa repot-repot bakar arsip kematian warga sipil? Harusnya kau bakar arsip keuangan Aegis Corp biar kau aman. Tapi kau malah bakar arsip Ibu. Berarti... ada yang lebih besar dari uang."

Chen menatap mata Vane lurus-lurus.

"Siapa yang suruh kau ganti obat Ibu? Blackwood tidak butuh bunuh perempuan miskin. Jadi bukan mereka. Ada orang lain di atasmu. Orang yang takut Ibu bicara tentang ayahku."

DUAAR! Petir menyambar tepat di luar jendela pecah, menerangi wajah Vane yang pucat seketika.

Ucapan Chen tepat sasaran. Vane mundur setengah langkah tanpa sadar.

Shen Mo menangkap keraguan itu. Itu celah.

Dalam sepersekian detik, Shen Mo bergerak.

Bukan mengambil pistol. Ia mengambil sesuatu yang lebih dekat.

Sebuah pecahan kaca jendela yang besar dan tajam dari lantai, sisa tendangannya tadi.

SRET!

Pecahan kaca itu melesat, bukan ke Vane, tapi ke lampu darurat merah di langit-langit.

Pyar! Lampu pecah. Ruangan gelap total. Hanya cahaya kilat dari luar yang menyala sedetik-sekali.

"Turun!" bentak Shen Mo.

Chen langsung menjatuhkan diri ke lantai.

Dor! Dor! Dor!

Vane dan dua Blackwood menembak membabi buta dalam gelap, ke arah tempat Shen Mo berdiri tadi.

Tapi Shen Mo sudah tidak di sana.

Dalam gelap, Shen Mo bergerak seperti hantu. 12 tahun jadi raja dunia hitam bukan karena jago tembak, tapi karena ia bisa membunuh dalam gelap tanpa suara.

Buk! Buk!

Dua anggota Blackwood roboh, leher mereka terpelintir sebelum sempat berteriak.

Vane panik, menembak ke segala arah. "Keluar! Keluar kalian tikus!"

Cahaya kilat menyambar lagi. Dan di cahaya itu, Vane melihat Shen Mo sudah di depannya. Jarak 1 meter.

Pistol perak Shen Mo sudah menempel di dahi Vane.

"Kau salah hitung satu hal, Vane," bisik Shen Mo, suaranya sedingin es Yucheng. "Aku memang ajari kau semua gerakanku. Tapi aku tidak pernah ajari kau bagaimana aku bertahan hidup 12 tahun tanpa mereka."

Dor!

Bukan peluru. Shen Mo menghantam gagang pistol peraknya keras ke pelipis Vane. Vane roboh, pistolnya terlepas, darah mengucur dari kepalanya, tapi tidak mati. Sesuai perintah: jangan matikan.

Shen Mo menyalakan senter kecil dari sakunya, menyorot wajah Vane yang mengerang di lantai.

"Kau bilang arsip sudah jadi abu?" tanya Shen Mo, lalu menginjak dada Vane. "Abu pun masih bisa bicara kalau anak ini yang baca."

Chen sudah berdiri lagi. Bocah itu berjalan ke lemari besi yang hangus, tidak peduli dengan dua mayat Blackwood di sebelahnya.

Ia mengambil sisa abu itu dengan ujung jarinya, mengusapnya.

Lalu ia memejamkan mata.

Otaknya memutar ulang ingatan 3 hari terakhir di Rumah Sakit Harapan.

Hari 1: Suster Lian bilang obat Ibu datang dari apotek pusat, kotak putih.

Hari 2: Chen lihat perawat baru, bukan Suster Lian, masuk kamar 302 jam 2 pagi, bawa kotak yang sama tapi segelnya beda. Chen hafal nomor batch di kotak itu: B-7739-X.

Hari 3: Ibu kejang setelah disuntik.

Chen membuka matanya.

"Batch B-7739-X," ucap Chen pelan. "Itu bukan obat jantung. Itu larutan saline yang dicampur potasium klorida tinggi. Kalau disuntikkan ke pasien jantung lemah, akan terlihat seperti serangan jantung alami."

Ia menatap Vane yang terkapar.

"Kau tidak perlu arsip aslinya. Aku Adalah arsipnya. Aku hafal nomor batch itu. Dan aku hafal wajah perawat yang suntik Ibu. Dia punya tato laba-laba kecil di pergelangan tangan kiri. Orang Blackwood punya tato itu."

Shen Mo menatap Chen lama. Lalu ia menekan tombol di jam tangannya.

"Leo, siapkan tim medis dan tim interogasi di basement. Vane masih hidup. Dan cari semua perawat di Yucheng Barat dengan tato laba-laba di tangan kiri. Bawa ke Crown Tower malam ini juga."

Ia menatap Chen.

"Kau dapat arsipmu, Tuan Muda. Tanpa perlu kertas."

Chen menggenggam foto ayahnya erat. Hujan di luar masih deras, tapi di dalam ruang arsip itu, untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa sedikit lebih dekat dengan kebenaran.

Tapi sebelum mereka bisa keluar dari ruangan, walkie-talkie milik Vane yang jatuh di lantai tiba-tiba berbunyi.

Suara berat, tua, dan sangat familiar bagi Shen Mo, keluar dari sana.

_"Vane? Vane, apa sudah beres? Anak itu dan Shen Mo sudah kau urus? Jangan lupa... bakar juga foto Li Wei. Jangan sampai bocah itu tahu ayahnya masih hidup."_

Chen dan Shen Mo sama-sama membeku.

Ayahnya... masih hidup?

1
T🥀007
lanjuttt minn.. semangattt
Aisyah Suyuti
good
Aksara Handini: makasih kak 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!