Arga pulang ke dusun terpencil di Banyuwangi warisan kakeknya, di kaki Gunung Raung.
Kampung itu aneh, Azan terdengar jam 3 pagi tanpa muadzin, rumah kosong tapi piring masih hangat. Warga tutup pintu sebelum maghrib.
Ternyata kampung itu dibagi dua: Jin Islam yang sholat dan menjaga, dipimpin Ustadz ghaib bernama Malik dan Jin Kafir haus tumbal yang disegel di pohon beringin Alas Purwo.
Kepulangan Arga membangunkan Jin Kafir. Sekarang dia harus pilih: kabur dan biarkan gadis yang dia suka jadi tumbal, atau sumpah setia jadi penjaga manusia untuk pasukan Jin Islam.
Kalau kalah, kampung ini akan hilang dari peta Banyuwangi selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi Wahyuni Halim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 : Aku Bukan Lagi Manusia Aku Penjaga Kampung Jin
Hari ke-7.
Aku duduk di lantai masjid tua tanpa karpet. Padahal tadi pagi 40 warga sudah pasang karpet hijau baru. Tapi karpet itu aku gulung lagi. Aku tidak boleh sholat di atas karpet. Penjaga tidak boleh.
Jam di dinding masjid jam 03:33 pagi. Jam yang sama dengan jam aku tutup sumur.
Tangan kanan ku di perban kain sarung. Darah masih menetes netes. Tes... tes... tes... tidak berhenti sudah tujuh hari,Sejak aku tutup sumur tua belakang masjid pakai darah.
Kiai Jirji duduk depan ku, buka kitab kulit kerbau halaman 199, halaman terakhir yang tulisan tangan Mbah Suro Joyo tahun 1984. Judulnya "HARGA UNTUK MENJADI PENJAGA".
Isinya lima harga. Dan lima harga itu sudah lunas semua hari ini.
HARGA 1: DARAH TIDAK BERHENTI
Aku buka perban. Luka sobekan di telapak tangan kanan dan kiri tidak sembuh. Luka itu menganga, tapi tidak busuk, tidak infeksi. Dari luka itu darah keluar pelan, terus menerus. Darah ku bukan merah 100% lagi. tujuh hari lalu merah, sekarang merah campur putih cahaya. Darah setengah manusia setengah Jin Islam.
Malik bilang, "Itu darah penjaga. Selama sumur belakang masjid masih ada, darah mu akan jadi kunci. Kalau darah berhenti, sumur kebuka lagi."
Di belakang masjid, sumur tua yang tertutup batu besar aku kunci pakai darah, sekarang tutup batu itu menyala merah putih. Cahaya dari darah ku. Kalau cahaya itu padam, kabut hitam naik lagi, kampung hilang lagi.
Jadi aku harus biarkan darah menetes terus. Seumur hidup.
HARGA 2: TIDAK BISA KELUAR DARI BATAS KAMPUNG
Jam 5 pagi, aku coba jalan ke jembatan bambu, batas Dusun Krajan. Baru jalan 10 meter dari masjid, tongkat cendana merah hitam yang Malik kasih ke aku , tongkat itu panas, bergetar keras, mau patah.
DUK! DUK! DUK!
Dari sumur belakang masjid keluar asap hitam sedikit, seperti peringatan.
Aku mundur lagi masuk halaman masjid, tongkat dingin lagi, asap hitam hilang.
Malik bilang, "Penjaga tidak bisa keluar dari batas kampung yang dia jaga. Kalau penjaga keluar, kunci lepas, sumur kebuka."
Artinya aku tidak bisa pulang ke Surabaya lagi. Selamanya.
HARGA 3: HILANG DARI DUNIA LUAR
Ini harga paling sadis.
HP ku di lantai masjid bunyi. Aku buka. Tidak ada sinyal, tapi ada notifikasi terakhir dari tujuh hari lalu.
Aku buka WhatsApp. Kontak Bu Wiwik Ibu Angkat, kontak Rania adik ku di Surabaya, semua berubah jadi "Unknown Number". Chat history kosong. Seperti aku tidak pernah chat mereka.
Aku buka galeri foto. Foto aku sama Bu Wiwik dan Rania di Taman Bungkul Surabaya tahun 2024, foto aku wisuda, foto aku di kos. Semua foto wajah ku blur, hilang, jadi putih. Tinggal Bu Wiwik dan Rania saja di foto.
Aku coba telpon nomor Bu Wiwik pakai HP Kiai Jirji, aku hafal nomornya di luar kepala. Aku telpon.
Diangkat.
📱"Halo? Siapa ya?" suara Bu Wiwik.
📱"Bu! Ini Arga! Arga! Ucapku.
📱"Arga? Arga siapa ya? Maaf salah sambung, saya tidak punya anak laki-laki, saya cuma punya anak perempuan satu namanya Rania..."
TUT! Telepon ditutup.
Aku telpon lagi nomor Rania adik ku.
📱"Halo? Siapa?" suara Rania.
📱"Rania! Ini Kak Arga!"
📱"Kak Arga? Aku tidak punya kakak... Aku anak tunggal..."ucap Rania.
Aku jatuh duduk. HP jatuh dari tangan.
Kiai Jirji buka kitab halaman 199 lagi, dia baca tulisan kecil di bawah:
"Dalam tujuh hari setelah jadi penjaga, namamu akan hilang dari Dukcapil, KTP mu hilang, KK mu hilang, orang di luar batas kampung akan lupa kamu pernah lahir, fotomu blur, seperti kamu tidak pernah ada di dunia luar, kamu hanya akan ada di ingatan 40 warga Krajan dan di buku masjid ini."
Hari ini hari ke tujuh dan Lunas. Aku resmi hilang dari Surabaya. Bu Wiwik dan Rania lupa aku total.
Aku bukan lagi warga Surabaya. Aku warga Krajan selamanya.
HARGA 4: HIDUP LEBIH LAMA DARI MANUSIA
Ibu kandung ku Mira, yang bebas dari retakan sumur karena aku tutup sumur , dia peluk aku. Kaki kiri Ibu yang kejepit di retakan dua meter selama 15 tahun sejak 2009, sekarang sudah bebas, sudah bisa jalan.
Ibu lihat darah ku menetes terus, dia menangis.
"Arga, maafkan Ibu, karena Ibu ditarik Jin Kafir tahun 2009, kau yang harus bayar harga jadi penjaga..."ucap ibuku.
Malik yang dada bolongnya bekas perang lawan Raja Iblis sudah sembuh, dia bilang, "Mira, jangan menangis, Arga tidak akan mati cepat, penjaga hidup lebih lama, dia akan lihat anak-anak Krajan jadi kakek-kakek, dia akan jaga masjid ini sampai masjid ini roboh, 100 tahun mungkin, itu harga, tapi juga hadiah, dia tidak akan sakit seperti manusia..."ucap Malik.
Aku lihat tangan ku, luka tidak infeksi, kepalaku pusing karena darah keluar terus tapi tidak mati, jantung ku masih kuat.
Aku tidak akan mati seperti manusia biasa. Aku akan hidup lama.
HARGA 5: NAMAMU MASUK PETA GAIB DAN JADI MAKAM
Pak Min datang bawa HP, buka Google Maps.
"Dusun Krajan sudah ada lagi di peta, Pak Penjaga, setelah hilang , sekarang sudah ada lagi!"
Aku lihat Google Maps. Titik Dusun Krajan Ponorogo ada lagi, jembatan bambu ada lagi, sinyal 2 bar ada lagi.
Tapi di titik masjid tua tanpa karpet, ada tulisan baru warna abu-abu yang tidak ada sebelumnya, tidak bisa dihapus, tidak bisa di-report.
Tulisannya: "Makam Penjaga Baru - Arga - 28 September 2026".
Semua warga lihat tulisan itu, mereka menangis.
Itu makam ku, padahal aku masih hidup, duduk di sini. Tapi di peta gaib, di peta Jin Islam, aku sudah dianggap mati sebagai manusia, dan lahir sebagai penjaga.
Aku resmi bukan manusia lagi.
Jam 06:00 pagi. Azan subuh.
Kiai Jirji azan. Untuk pertama kalinya setelah dua tahun masjid ini tanpa azan yang bersuara , sekarang azan bersuara keras, pakai toa baru, sampai ke sawah timur yang dulu mati jadi abu, sekarang hijau lagi.
40 warga datang, gelar karpet lagi, sholat subuh berjamaah.
Yang jadi imam bukan Kiai Jirji. Yang jadi imam adalah aku.
Aku pakai baju putih yang dikasih Ibu Mira, pegang tongkat cendana merah hitam, jadi imam.
Di belakang ku, 40 warga manusia kelihatan.
Di belakang mereka, ada 300 Jin Islam yang tidak kelihatan warga, tapi kelihatan aku, mereka pakai jubah putih, sholat juga, Malik jadi makmum paling depan.
Kami sholat subuh berjamaah, manusia dan Jin Islam, untuk pertama kalinya setelah 15 tahun.
Setelah sholat, Kiai Jirji buka buku besar masjid, buku catatan penjaga sejak 1984.
Dia tulis di halaman baru:
"28 September 2026 - Penjaga Baru Sah - Nama: Arga - Umur: 23 Tahun - Asal: Surabaya - Darah: Setengah Manusia Setengah Jin Islam - Tugas: Jaga Sumur Tua Belakang Masjid Dan Jaga 40 Warga Krajan Dan 300 Jin Islam - Harga Lunas: Darah netes terus, tidak bisa keluar batas jembatan bambu, hilang dari dunia luar, hidup lama, makam di Google Maps."
Aku tanda tangan pakai darah ku.
Setelah tanda tangan, tongkat cendana di tangan ku yang merah hitam, berubah warna jadi putih bersih bercahaya, seperti tongkat Malik.
Cahaya sumur belakang masjid yang merah, berubah jadi putih juga.
Sumur terkunci sempurna.
Ibu Mira yang sudah bebas, dia putuskan tidak akan pergi dari Krajan lagi, dia akan temani aku jaga kampung ini, dia jadi ibu penjaga.
Malik datang ke aku, dia buka jubahnya, dia kasih sorban putihnya ke aku, "Arga, mulai hari ini kau bukan lagi manusia, kau penjaga, kau saudara kami 300 Jin Islam, kalau kau butuh kami, panggil saja..."ucap Malik.
Aku pakai sorban putih Malik.
Aku lihat di cermin wudu masjid.
Wajah ku masih Arga, tapi mata kiri putih bercahaya, mata kanan coklat manusia, rambut setengah hitam setengah putih, darah netes putih merah.
Aku bukan lagi manusia. Aku bukan lagi Jin. Aku di tengah-tengah.
Aku penjaga.
Aku lihat keluar masjid, sawah hijau, jembatan bambu utuh, anak-anak kecil main lagi, tidak ada lagi anak bermata hitam seperti tidak ada lagi azan tidak bersuara, tidak ada lagi sesajen di pohon beringin.
Kampung aman.
Tapi aku tidak bisa pulang ke Surabaya lagi. Bu Wiwik dan Rania sudah lupa aku. Aku sudah hilang dari dunia luar.
Aku duduk di mimbar masjid tua tanpa karpet yang sekarang sudah berkarpet, pegang tongkat putih, lihat 40 warga dan 300 Jin Islam.
Kiai Jirji bilang, "Pak Penjaga, mau doa apa untuk kampung? tanya Kiai Jirji.
Aku doa pelan, suara ku setengah manusia setengah ghaib, "Ya Allah, jagalah kampung ini, selama aku masih berdarah..."
Semua mengucap kata amin.
Di luar, matahari terbit di Dusun Krajan, pertama kali setelah 2 tahun gelap.
Aku masih di sini. Aku akan tetap di sini. 100 tahun mungkin.
AKU BUKAN LAGI MANUSIA - AKU PENJAGA KAMPUNG JIN.
TAMAT.