Pada satu malam ... seorang pria merenggut kehormatannya, hingga menanamkan benih dalam rahimnya.
Lima tahun kemudian ... the twins hadir dikehidupannya. Selama itu tidak ada yang pernah tahu siapa ayah biologisnya, hingga the twins Semi & Arsyad mencari ayah mereka.
Dan di satu waktu Kedua orangtua mereka dipertemukan.
Akankah mereka saling mengenali?
Apa usaha Semi & Arsyad berhasil?
subscribe karya ini untuk ikuti cerita lanjutannya. Jangan jadi pembaca bisu ya, harus like, komen dan vote.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Tak Diundang
Sebuah mobil sedan memasuki halaman pondok pesantren An-Nur. Mobil itu masuk lebih dalam sampai berhenti di depan rumah Kyai Adam.
Di teras, ada Neng Arum, yang sedang mengepel lantai. Arum tiba-tiba masuk ke dalam setelah mobil sedan itu berhenti di depan rumah Umminya.
Arum segera berlari memanggil Ummi.
"Ummi, di luar ada mobil. Mungkin tamu Abi," ujarnya yang masih memegang gagang pel.
"Ummi yang tengah beres-beres meja makan langsung berdiri memanggil suaminya. "Abiiii tamunya sudah datang, Bi," kata Ummi yang merapikan gamisnya.
"Arum, pergi ke dapur. Suruh Mak Wiroh, siapin minum tamunya sudah datang," pinta Ummi pada Arum.
"Iya Ummi."
Arum berjalan ke arah dapur sementara Ummi dia pergi keluar. Setibanya di pintu, Ummi menatap heran ke arah Zahra dan si kembar turun dari mobil Ilham.
"Assalamualaikum," ucap Ilham yang langsung naik ke atas teras.
"Waalaikumsalam," jawab Ummi, yang menerima salaman dari Ilham juga Zahra.
"Kalian bisa bareng?" tanya Ummi heran.
"Tadi nggak sengaja ketemu di jalan Ummi. Untung saja, Mas Ilhamnya masih kenal sama Zahra," ucap Zahra, membuat Ilham tersenyum.
"Ya, inget dong Zahra. Kita kan satu angkatan dulu juga aku mondok di sini," balas Ilham.
"Iya, tapi Mas Ilham sudah jadi orang hebat. Dia dosen di Al-Azhar Lo, Ummi," bisik Zahra pada Umminya.
Ummi Hawa terbelalak mendengar kesuksesan Ilham.
"Iya, itu benar. Makanya Abi undang Ilham kesini," ujar Adam yang baru datang. "Biar anak-anak, di sini bisa termotivasi," tambahnya.
Ilham langsung mencium tangan Adam, guru besarnya.
"Apa kabar pak Kiai?" tanya Ilham.
"Alhamdulillah baik. Kamu bagaimana? Kabarmu sehat? Ya ... Jangan sampai nanti bilang sehat, setelah ngobrol di dalam malah meriang," canda Abi Adam.
Semua orang tertawa.
"Ya sudah, kita ngobrol di dalam." Abi Adam merangkul Ilham. "Datang jauh-jauh dari Kairo, ya? Nggak disuruh duduk."
Adam terus bergurau sampai dia tiba di kursi tamu lalu mengajaknya duduk. Zahra, pamit ke dapur untuk memberikan kuenya kepada Mak Wiroh.
"Mak, ini kuenya jangan lupa dipotong, ya. Terus pindah ke piring untuk tamu."
"Baik Neng, nanti Mak Wiroh bawakan sama tehnya ke depan."
"Makasih, ya Mak Wiroh. Zahra ke kamar dulu mau simpan tas."
"Eh, tunggu Mbak." Arum menghentikan Zahra.
"Ada apa?" tanya Zahra yang berbalik pada adiknya. "Sore ini, Arum mau keluar ada yang harus Arum beli sama teman-teman. Tolong deh, Mbak yang minta izinin ke Abi."
"Loh, kok Mbak. Kamu saja yang minta izin langsung. Ngomong baik-baik aja, Abi juga pasti izinin kalau itu ada hubungannya dengan kegiatan sekolah."
"Yaaaa ... Mbak gitu." Arum membuang napas kasar. "Mbak tahu sendiri, Arum gak pernah keluar rumah. Sekalinya keluar sama Abi," keluh Arum.
Zahra memandang adiknya dengan heran.
"Kamu bohong, ya sama Mbak? Jangan-jangan kamu keluar bukan untuk kepentingan sekolah," selidik Zahra.
"Mbak apa-apaan sih." Marah Arum. "Mbak jadi sama kayak Abi dan Ummi. Mbak, enak bisa ke luar negeri, tapi Arum ... keluar pondok pun gak boleh. Ini semua gara-gara Mbak, juga." Arum berkata dengan sedikit emosi.
"Kerja di luar negeri tapi pulang malah bawa aib," celetuknya.
_Deg_
Ucapan Arum seketika membuat Zahra diam. Arum sadar dengan ucapannya yang salah, sehingga suasana dapur mendadak hening. Arum, terlihat canggung karena keceplosan bicara sedangkan Mak Wiroh, dia hanya diam. Bingung harus membela yang mana, mau ikutan ngomong takut salah juga.
Arum langsung pergi begitu saja setelah menyinggung Kakaknya.
Memang benar apa yang Arum katakan. Kejadian lima tahun lalu membuat Ummi dan Abinya trauma yang menjaga ketat pergaulan Arum yang sekarang. Jangankan keluar bersama teman-teman, keluar pondok hanya untuk membeli jajanan atau ke toko fotocopy Arum tidak diperbolehkan kecuali sama Abi atau Ummi.
Tentu, Arum sangat kesal karena sebagai gadis remaja dia pun ingin bebas. Tidak ingin diam di dalam sangkar saja.
"Neng ... Neng Zahra tidak apa-apa?" tanya Mak Wiroh yang pasti sudah tahu bagaimana perasaan Zahra sekarang. Zahra hanya diam tidak membalas Mak Wiroh, dia pergi menuju kamarnya.
"Ya Allah ... kenapa coba, Neng Arum harus bahas hal itu. Jadi tersinggung kan, mana Ibu ada tamu lagi. Saya harus gimana dong ini." Mak Wiroh jadi bingung sendiri.
"Bodo ah, mending saya anterin teh ini dan kue saja ke depan daripada harus mikirin dua putri keraton itu," ejeknya pada Zahra dan Arum.
"Punten." Mak Wiroh permisi pada Ilham ketika akan menuangkan teh dan kuenya. Ilham dengan ramah menggeser kakinya, memberikan jalan untuk Mak Wiroh.
Tidak berselang lama Zahra datang kembali. Mak Wiroh sedikit lega melihat Zahra, Mak Wiroh langsung bangun setelah menghidangkan jamuan.
"Neng, mau dibuatin teh juga?" tawar Mak Wiroh ketika berpapasan dengan Zahra.
"Nggak usah Mak Wir, nanti saja biar Zahra bikin sendiri."
"Ya, sudah kalau gitu Mak Wir ke dapur dulu." Zahra mengangguk lalu memberi jalan pada Mak Wir.
Zahra dan Ilham terlihat akrab, mereka tidak ada canggung sedikit pun. Dari bicara, bercanda, juga nyambung. Apalagi Ilham ini merupakan laki-laki yang humoris.
Tanpa Zahra sadari, kedua orang tuanya memperhatikan. Mereka merasa heran tapi juga senang, karena Zahra kembali tertawa lepas. Tidak hanya mereka, si kembar Arsyad dan Semi pun merasa bahagia. Bahkan mereka sampai yakin jika Ilham cocok untuk menjadi ayah mereka.
"Calon papa, setuju?" tanya Semi, melirik Arsyad. Arsyad hanya melengos.
"Abang? Adek tanya Abang lo, kalau Om Ilham itu cocok tidak sama Mama. Om lihat kan tadi kalau Mama ketawa terus sama Om Ilham itu artinya Mama sayangg Om Ilham."
"Adek! Bisa gak berhenti!" sentak Arsyad. Semi langsung diam. "Berhenti jodohin Mama."
"Memangnya kenapa Abang?" tanya Semi yang mengejar Arsyad.
"Abang sudah punya calon papa sendiri. Dan .... Abang yakin, dia papa kandung kita."
"Siapa Bang?" tanya Semi penasaran.
"Kamu ini aneh. Terlalu banyak calon papa otakmu sampai eror dan lupa siapa yang kamu sukai." Setelah mengatakan itu Arsyad pergi. Semi masih mematung memikirkan ucapan Abangnya.
Sementara di ruang tamu, suasana menjadi berbeda setelah kehadiran seseorang. Abi Adam hanya punya janji dengan Ilham, dan hanya Ilham tamunya hari ini. Mereka pun mengobrol dengan santai, tapi tanpa diduga ada tamu lain yang datang.
"Assalamualaikum." Suara salam terdengar, menghentikan obrolan hangat Abi Adam dan Ilham.
"Waalaikumsalam," jawab Abi Adam setengah menegakkan tubuhnya.
"Siapa Abi? Ada tamu lain kah Abi?" tanya Ummi.
"Coba Ummi lihat."
"Kalau begitu Ummi lihat dulu, ya."
"Ummi?" Panggil Zahra menghentikan Ummi yang hendak berdiri. "Biar Zahra saja, Ummi duduk lagi saja."
Ummi Hawa kembali duduk. Zahra, permisi sebentar kepada Ilham lantas bangkit dari kursi, berjalan ke arah pintu. Baru saja kaki itu tiba di pembatas pintu Zahra, tiba-tiba diam. Tubuhnya terpaku dengan mata membulat menatap tamu yang baru saja datang.
"Zahra, siapa Nak?"
Zahra hanya diam. Sementara tamu itu semakin mendekat ke arahnya.
Aku jelasin yang sekarang ya🙏
Sebelumya kan author bikin novel ini ingin ikut event tapi yang kemarin itu gak bisa karena publish sebelum bulan Mei. Author tanya dong sama editor dan q&A ternyata tetap gak bisa dan mereka kasih saran kalau mau masuk event novelnya hapus saja lalu upload ulang. yaudahlah aku hapus novel yang kemarin lalu upload ulang.
jadi ... ini bukan plagiat ya, maaf sudah membuat kalian bingung 🙏. Semoga kalian suka dan baca karya ini sampai selesai 🙏