NovelToon NovelToon
Satpam Penjaga CEO

Satpam Penjaga CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Bimo, seorang pemuda kaya yang enggan dijodohkan, menyusun rencana konyol dengan meminta sahabatnya semasa SMA, Arga, seorang anak panti asuhan bertubuh tegap yang akrab dipanggil Dewa, untuk menyamar menjadi dirinya. Tugas Dewa sederhana: bersikap norak dan menyebalkan di depan Nadia Nugroho, CEO wanita dingin pemimpin imperium bisnis Nugroho Group, agar kencan perjodohan itu batal total.

Namun, rencana konyol itu berantakan. Nadia yang tak mudah terkecoh justru melayangkan ancaman pembalasan yang sanggup membangkrutkan perusahaan keluarga Bimo seketika. Terdesak, Dewa terpaksa menandatangani Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak atas nama Bimo.

Di tengah situasi yang kian kacau dan pernikahan resmi yang dihitung hari, Dewa berusaha menyambung hidup dengan melamar kerja sebagai petugas keamanan. Tanpa ia sadari, hari pertama tugasnya sebagai Satpam justru menempatkannya di lobby utama Menara Utama Nugroho Group, gedung megah milik keluarga sang CEO dingi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Topeng yang Terkelupas

Genggaman jemari Nadia pada kartu nama tebal bertuliskan Bimo Wira Perkasa makin mempertegas amarah yang membakar dadanya. Ia tidak membuang waktu sedetik pun. Dengan langkah cepat dan penuh kepastian, Nadia menghampiri Rina yang baru saja keluar dari area toilet tamu di lorong belakang kedai kopi.

"Rina! Lihat pria berkaos kusam di luar dekat sedan putih itu?" bisik Nadia dengan intonasi dingin yang amat mengancam.

Rina menoleh ke arah kaca luar, mengamati Bimo yang sedang memegang gagang pintu mobilnya dengan raut muka gelisah. "Iya, Bu Nadia. Ada apa ya, Bu?"

"Bawa dia masuk ke dalam sekarang juga. Pakai cara apa pun, jangan sampai dia lolos atau kabur!" perintah Nadia tanpa kompromi.

"Baik, Bu!"

Rina yang terlatih sigap langsung melangkah cepat keluar kedai. Tepat saat Bimo hendak membuka pintu sedan putihnya, Rina menyergap dari belakang. Tanpa peringatan, Rina mencengkeram lengan Bimo dengan kencang lalu menariknya secara paksa.

"Aduh! Mbak! Apa-apaan nih?! Lepasin! Culik ya?!" jerit Bimo histeris, tubuh gempalnya terhuyung-huyung diseret Rina melintasi pelataran parkir.

"Diam dan ikut saya masuk kalau Mas tidak mau saya panggilkan polisi!" gertak Rina tegas seraya terus menyeret Bimo kembali menerobos pintu kaca kedai kopi.

Bimo yang dasar kerakter begitu penakut dan mudah panik seketika menciut. Ia tidak berani melawan dan hanya bisa menuruti tarikan Rina hingga akhirnya dihempaskan duduk di sebuah kursi kayu pada meja privat bagian belakang kedai. Di seberang meja, Nadia sudah duduk anggun seraya menyilangkan kaki, menatap Bimo dengan pandangan tajam bak belati yang siap menguliti.

Bimo menelan ludah dengan susah payah, mukanya pucat pasi bagaikan kertas polos. "M-Mbak ini siapa sih? Kok main seret-seret orang sembarangan di tempat umum?!"

Nadia menggeser kartu nama putih bergaris emas itu ke tengah meja, tepat di depan mata Bimo.

"Kamu Bimo Wira Perkasa, anak pemilik Wira Perkasa Group, kan?" tanya Nadia dingin, suaranya sangat menekan.

Bimo melotot melihat kartu namanya sendiri tergeletak di sana. "L-loh... kok kartu nama saya ada di Mbak?"

"Jawab pertanyaan saya!" bentak Nadia pelan namun sangat intimidatif.

"I-iya! Saya Bimo! Emang kenapa sih?!" sahut Bimo gemetaran, kedua tangannya memegang erat pinggiran meja kayu.

Nadia menyandarkan punggungnya, menatap Bimo penuh cemooh. "Kalau kamu Bimo Wira Perkasa yang asli... lalu siapa laki-laki tinggi tegap yang datang ke Kafe Merah dua malam lalu untuk kencan perjodohan sama saya?!"

Mata Bimo membelalak sempurna. Seluruh persendian tubuhnya mendadak lemas seketika. "K-kencan Kafe Merah? M-maksud Mbak... Mbak ini... Nadia Nugroho?!"

"Iya! Saya Nadia Nugroho!" tegas Nadia tanpa berkedip sedikit pun. "Jawab jujur sekarang, atau detik ini juga saya telepon ayah kamu dan saya batalkan seluruh investasi Nugroho Group di perusahaan kamu sampai keluarga kamu bangkrut!"

Ancaman itu bagaikan eksekusi mati bagi Bimo. Kepanikan tingkat tingginya pecah seketika, membuat pertahanannya runtuh tanpa sisa.

"Jangan, Bu Nadia! Tolong jangan bangkrutkan perusahaan Papa!" jerit Bimo pasrah dengan suara hampir menangis, melipat kedua tangannya memohon. "Saya ngaku! Saya ngaku! Yang datang ke Kafe Merah malam itu bukan saya! Saya yang suruh dia!"

"Siapa dia sebenarnya?!" cecar Nadia makin tajam.

"Dewa! Dia Dewa, sahabat saya dari SMA!" ceracau Bimo ketakutan, membocorkan segalanya tanpa disaring lagi. "Saya panik dipaksa nikah, makanya saya suruh Dewa nyamar jadi saya di Kafe Merah! Saya suruh dia akting norak biar Bu Nadia ilfil dan batalin perjodohan! Beneran Bu, ini semua ide konyol saya, Dewa cuma bantu saya karena kasihan!"

Nadia mengerutkan alisnya dalam-dalam, dahinya bertaut rapat. "Dewa? Nama orang itu Dewa?!"

"Iya, Bu! Dewa! Nama panggilannya Dewa!" jawab Bimo cepat dengan napas memburu.

Nadia memutar otak secara cepat. Nama "Dewa" terasa asing di telinganya, tidak cocok dengan berkas resmi yang baru saja ia baca di kantor. Namun, dalam hitungan detik, sel-sel otaknya menghubungkan sebuah benang merah yang sangat mengejutkan.

Dewa? Tunggu dulu... Nama di tag dada Satpam bermasker itu... ARGA D. P. Jangan-jangan D itu... Dewa?! Arga Dewa Putra?! batin Nadia bergejolak hebat.

Nadia menarik napas panjang, mengepalkan kedua tangannya erat-erat di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya yang tajam menatap Bimo yang sedang menunduk ketakutan, lalu beralih menatap kosong ke cangkir kopi di mejanya. Sebuah monolog internal membanjiri pikirannya dengan tingkat kemarahan yang luar biasa.

"Luar biasa... Bener-bener gila! Jadi selama ini saya dipermainkan sama dua laki-laki konyol ini?! Bimo penakut ini ngirim sahabatnya buat nyamar jadi dia di Kafe Merah, bertingkah norak di depan saya, dan berani-beraninya menandatangani Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak satu tahun pakai nama palsu!"

"Dan yang lebih tidak masuk akal lagi... Laki-laki bernama Dewa itu, yang punya nama lengkap Arga Dewa Putra, sekarang malah melamar kerja dan berdiri tegap jadi Satpam di lobi kantor saya sendiri?! Dia pakai masker hitam tebal, pura-pura batuk parah, bahkan nekat kabur lewat tangga darurat tadi pagi cuma buat menutupi wajahnya dari saya!"

Nadia menggertakkan giginya rapat-rapat, dadanya naik turun menahan gumpalan amarah dan rasa harga diri yang terinjak-injak.

Berani sekali kamu, Arga Dewa Putra... Kamu pikir kamu bisa bermain-main di dalam gedung saya sendiri? Kamu pikir kamu cerdik dengan topeng masker hitam itu? Sekarang puzzle-nya sudah lengkap. Orang yang menandatangani kontrak pernikahan dengan saya... dan Satpam bermasker yang lari ketakutan di tangga darurat itu... adalah orang yang sama! Lihat saja apa yang akan saya lakukan padamu besok di kantor!

1
Dian Paramita Dewi
Salam kenal, bantu like ya Kak 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!