Shevi (20 tahun) adalah pemuda miskin di Jakarta yang menyambung hidup sebagai buruh cuci motor panggilan. Sudahlah dihina dan dicampakkan oleh pacarnya karena dianggap tidak punya masa depan, emaknya pun terancam diusir dari kontrakan petak karena menunggak tiga bulan.
Di titik terendah hidupnya, sebuah mukjizat datang lewat "Sistem Poin Keberkahan".
Setiap kali Shevi bersabar dari hinaan, bekerja jujur, dan ikhlas menolong sesama di kerasnya ibu kota, dia akan mendapatkan Poin Keberkahan yang bisa ditukar dengan uang tunai atau kemampuan ajaib. Berbekal jalur langit ini, Shevi merangkak naik membalikkan takdir dari buruh jalanan menjadi miliarder nomor satu di Jakarta!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyyy ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skakmat Menit Terakhir
Langkah kaki Shevi yang dibalut sepatu kets kusam berdecit keras menghantam lantai semen gang sempit Tambora. Jarum jam di dinding petak kontrakan menunjukan pukul 23.45 WIB. Waktunya menyisakan kurang dari lima menit dari batas janji tiga puluh menit yang dia lontarkan kepada Bu Ratmi.
Napasnya memburu. Di dalam saku jaket lusuhnya, bundelan tiga puluh lembar uang kertas pecahan seratus ribu rupiah tersimpan aman—hasil pembayaran profesional yang diserahkan langsung oleh Pak Teguh di bawah jembatan layang tadi.
Sesampainya di depan pintu kontrakan petak nomor tiga, suasana terasa makin panas dan mencekam.
Bu Ratmi berdiri bersedekap dengan wajah merengut. Kaki kanannya mengetuk-ngetuk lantai semen secara berkala, menimbulkan suara ketukan yang menguji kesabaran. Di sampingnya, dua preman berbadan tegap menyandar pada tiang kayu dengan tato naga pudar di lengan.
Salah satu dari mereka memainkan rantai besi tebal, sengaja membenturkannya ke dinding untuk menakut-nakuti warga.
Di ambang pintu, Emak Aminah berdiri gemetar. Wajahnya yang tampak lebih segar tetap tidak mampu menyembunyikan rasa cemas yang mendalam. Kedua tangannya meremas ujung daster batik pudar yang dikenakannya.
"Halah! Manusia kayak anakmu itu emang cuma bisa ngibul, Nah!" semprot Bu Ratmi dengan nada melengking tinggi, memecahkan keheningan malam gang. "Tiga puluh menit sudah lewat! Mana dia? Mana duit tiga jutanya? Kabur kan anakmu itu karena takut?!"
Beberapa tetangga yang belum tidur mulai mengintip dari balik celah tirai jendela petakan. Bisik-bisik warga mulai terdengar samar, memperkeruh suasana.
"Bu Ratmi... tolong beri waktu sebentar lagi. Shevi pasti pulang..." suara Emak Aminah terdengar lirih, memohon dengan mata berkaca-kaca.
"Gak ada waktu lagi! Gua udah cukup sabar nampung keluarga miskin kayak kalian!" Bu Ratmi mendesis sinis, lalu menoleh tajam ke arah dua preman di belakangnya. "Woi! Seret perempuan tua ini keluar! Buang barang-barangnya ke jalan! Gua mau gembok pintu ini sekarang juga!"
Salah satu preman berbadan kekar melangkah maju, memamerkan seringai kasar. Tangannya yang besar terulur hendak mencengkeram lengan Emak Aminah.
"Jangan sentuh Emak saya!"
Teriakan lantang itu membelah lorong gang, menghentikan gerakan sang preman seketika.
Semua mata menoleh ke sumber suara. Dari balik kegelapan gang, Shevi berjalan cepat mendekat. Bajunya basah kuyup, rambutnya berantakan, tetapi tatapan matanya begitu tajam dan teguh.
Shevi langsung berdiri di antara preman tersebut dan ibunya, membentengi sang ibu dengan tubuhnya sendiri. Dia menarik napas dalam, meredam gejolak amarah di dadanya, lalu menatap Bu Ratmi lurus-lurus.
"Tepat waktu," ucap Shevi dengan suara berat dan terkontrol. "Saya belum terlambat."
Bu Ratmi tertegun sesaat melihat kemunculan Shevi, namun detik berikutnya dia tertawa sinis penuh penghinaan. "Gaya lu sok pahlawan, Shev! Datang bawa badan basah kuyup mau pamer apa? Mana duit tiga jutanya?! Kalau gak ada, gak usah banyak drama!"
Shevi tidak terpancing. Mengingat pesan ibunya, dia memilih membuktikannya lewat tindakan nyata.
Shevi merogoh saku dalam jaketnya, lalu mengeluarkan ikatan uang kertas merah yang masih kaku. Tanpa ragu, Shevi melemparkan ikatan uang itu hingga mendarat telak di telapak tangan Bu Ratmi yang terbuka.
Plak!
Suara bundelan uang yang menghantam tangan Bu Ratmi terdengar jelas di keheningan malam.
Tawa sinis di wajah pemilik kontrakan itu seketika membeku. Matanya membelalak lebar, mulutnya menganga sampai rol rambut di kepalanya nyaris melorot ke tanah. Dua preman di belakangnya ikut terpaku tak percaya.
"Itu uang tiga juta rupiah. Lunas untuk tunggakan sewa tiga bulan," tegas Shevi.
Bu Ratmi menyapu matanya berulang kali, menghitung cepat lembaran merah di tangannya. Uang itu asli, baru, dan beraroma khas bank.
Namun, alih-alih merasa lega, sifat picik dan iri hati di dada Bu Ratmi justru tersulut hebat.
Bagaimana mungkin seorang buruh cuci motor keliling bisa memegang uang tunai sebesar itu dalam waktu singkat di tengah malam?
"T-tunggu dulu!" bentak Bu Ratmi dengan nada curiga yang melengking liar. "Lu dapat dari mana duit sebanyak ini, Shev?! Lu baru aja merampok ya?!"
Emak Aminah tersentak kaget. "Bu Ratmi! Jangan asal nuduh! Anak saya cari uang dengan cara halal!"
"Halah, halal dari mana?!" potong Bu Ratmi tajam, memelototi Shevi. "Orang miskin kayak dia mana mungkin punya duit tiga juta cash dalam waktu setengah jam! Pasti duit haram! Gua gak mau kontrakan gua digerebek polisi gara-gara nampung uang kejahatan!"
Suasana di depan petakan makin memanas. Para tetangga yang mengintip mulai berbisik-bisik curiga. Beban di pundak Shevi bertambah berat—pembuktian kejujurannya diuji di hadapan para tetangga.
Alih-alih emosi, Shevi justru melangkah satu tapak maju. Dia merogoh dompetnya, lalu mengeluarkan kartu nama bersepuh emas milik Pak Teguh dan menunjukkannya tepat di depan muka Bu Ratmi agar bisa dibaca oleh warga sekitar.
"Uang ini bukan hasil curian. Ini adalah upah resmi dari hasil kerja jasa perbaikan sistem rem kendaraan darurat yang saya lakukan untuk pemilik jaringan bengkel," ucap Shevi lantang. "Kalau Ibu masih berniat menyebar fitnah pencurian, mari kita ke kantor polsek sekarang juga untuk memeriksa keaslian uang dan meminta pertanggungjawaban atas fitnah Ibu di hadapan petugas."
Melihat kartu nama perusahaan otomotif besar serta ketegasan mutlak di wajah Shevi, nyali Bu Ratmi mendadak ciut. Wajahnya yang tadinya garang kini berubah pucat, kehilangan kata-kata di hadapan para tetangga yang mulai menatapnya sinis karena terbukti salah menuduh.
Shevi tidak berhenti di situ. Dia menatap tajam mata Bu Ratmi, menuntut janji yang tadi diucapkan wanita paruh baya itu.
"Sekarang... sesuai perjanjian kita, Ibu harus minta maaf secara terbuka karena sudah membentak dan memfitnah Emak saya di depan umum."
Bu Ratmi menelan ludahnya dengan susah payah, terjepit di antara rasa malu dan kemarahannya sendiri di hadapan para tetangga yang kini menunggu reaksinya.