Valeska Aurelia punya tiga prinsip hidup: habiskan uang, tabrak aturan, dan jangan pernah dengarkan orang lain.
Sebagai putri tunggal konglomerat ternama, Valeska terbiasa hidup bak ratu yang tak tersentuh hukum. Pesta malam, mobil sport, dan deretan kartu kredit tanpa limit adalah makanan sehari-harinya.
Sampai dalam semalam, sebuah skandal besar menghancurkan bisnis keluarganya. Ayahnya dipenjara, aset disita, dan semua kartu kreditnya diblokir. Valeska yang kemarin dipuja-puja kini terdepak dari istananya dan terpaksa angkat kaki hanya dengan membawa satu koper berisi barang-barang tak berguna.
Dari kamar seluas lapangan basket ke kontrakan sempit yang airnya sering mati, Valeska dipaksa menghadapi kenyataan pahit: dia tidak tahu cara menyapu, kaget melihat harga mi instan, dan harus mencari uang sendiri.
Mampukah si Nona Muda yang ugal-ugalan ini bertahan hidup tanpa uang sepeser pun, atau gengsi setinggi langitnya justru bikin hidupnya makin berantakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Rencana yang Gagal
Saat bel istirahat pertama berbunyi, Valeska tidak langsung menuju kantin untuk makan. Dia merapikan seragamnya, mengoleskan kembali pemerah bibir tipis di cermin, lalu melangkah menuju area bangku semen di bawah pohon rindang samping lapangan basket—tempat anak-anak cowok biasa nongkrong.
Dari kejauhan, Valeska melihat Elang duduk santai bersama Marco dan Leo. Otak manipulatifnya langsung berputar. Setelah mempermalukan Jena di koridor pagi tadi, dia butuh menegaskan posisinya. Dia butuh memperlihatkan pada seluruh sekolah bahwa Elang—cowok yang disegani dan selalu netral itu—ada di pihak dirinya.
Dengan langkah mantap dan senyum percaya diri yang dibuat-buat, Valeska berjalan mendekati area tempat duduk mereka.
"Hai, Lang!" sapa Valeska dengan nada suara sok akrab yang sengaja dikeras-keraskan agar terdengar oleh beberapa siswa yang melintas di sekitar lapangan.
Dia tanpa ragu duduk di samping Elang di atas bangku semen, memiringkan tubuhnya agak dekat ke arah cowok itu.
"Ramai banget ya di sini," lanjut Valeska kekeh pelan, memasang gestur seolah-olah mereka berdua sudah sangat dekat. "Kalian lagi ngomongin apa sih? Kok seru banget kayaknya? Elang, lo kok enggak pesenin gue minum sekalian?"
Marco yang sedang memegang gelas es teh langsung menghentikan sedotannya. Matanya membelalak kaget, lalu senyum jahil dan godaan muncul di wajahnya.
"Waduh, waduh! Ada angin apa nih Ratu Sekolah mendadak nimbrung di sini?" goda Marco sambil menyiku lengan Elang heboh. "Cieee, Elang! Diam-diam lo makin nempel aja nih sama Valeska! Pakai ditagih minum segala lagi, berasa udah jadian aja lo pada!"
Leo yang duduk di ujung meja sama sekali tidak bergeming. Matanya tetap menempel pada layar ponsel, jemarinya lincah menekan tombol skill game Mobile Legends dengan dahi berkerut, mengabaikan drama di sekitarnya. "Woy, Marco! Backup gue woy! Malah sibuk gosip!" gerutu Leo tanpa mendongak.
Valeska tersenyum kian lebar mendengar godaan Marco. Ini persis seperti reaksi yang dia harapkan. Dia melirik Elang dari samping, berniat makin memanas-manasi suasana.
"Ih, apaan sih Marco," sahut Valeska manja sambil terkekeh pelan, sengaja menyentuh lengan jaket Elang secara halus. "Elang mah emang gitu, dari kemarin perhatian banget sama gue. Ya kan, Lang?"
Namun, harapan Valeska untuk mendapatkan respons manis atau kepanikan dari Elang langsung hancur berkeping-keping.
Elang sama sekali tidak menoleh. Wajah cowok itu tetap datar, sedingin es. Dengan gerakan santai dan tanpa ekspresi, Elang menarik lengannya menjauh dari sentuhan Valeska, meraih kaleng minuman dinginnya di meja, lalu menyedotnya perlahan.
Elang mengacuhkan keberadaan Valeska sepenuhnya. Dia bahkan tidak melirik atau membalas satu kata pun dari ucapan cewek di sampingnya itu, seolah Valeska hanyalah patung kasat mata.
"Co, gue ke toilet sebentar," kata Elang datar pada Marco, bangkit dari duduknya tanpa mempedulikan Valeska yang mendadak membeku di tempatnya.
"Eh? Lang! Kok ditinggal?" panggil Marco bingung.
Elang berjalan melenggang pergi meninggalkan area bangku semen tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.
Valeska tertahan di posisinya, senyum percaya diri di bibirnya perlahan luntur menggantikan rasa malu yang membakar seluruh wajahnya. Upayanya untuk cari perhatian dan menjadikan Elang sebagai tameng sekali lagi gagal total di hadapan semua orang.
"Elang! Tunggu!" teriak Valeska menahan malu, langsung bangkit dari bangku semen dan melangkah cepat mengejar Elang.
Namun, karena terburu-buru dan tidak memperhatikan jalan, Valeska berbelok tajam di sudut koridor hingga—
BRUK!
"Auw!"
Valeska bertabrakan keras dengan seseorang hingga bahunya terpental. Tas kecil dan beberapa lembar kertas yang dipegang orang itu berserakan di atas lantai granit.
"Aduh, maaf... Maaf banget, Kak!" cicit suara yang sangat familiar dengan nada panik.
Valeska meringis sambil memegang bahunya yang agak nyeri. Begitu dia mendongak dan melihat siapa yang ditabraknya, raut wajah Valeska seketika berubah makin tajam dan penuh kekesalan.
Itu Caca.
"Lo lagi?!" bentak Valeska galak, matanya menatap Caca dengan penuh keangkuhan. "Punya mata enggak sih?! Kalau jalan tuh lihat-lihat, jangan asal nyelonong aja!"
Caca yang berlutut hendak memunguti kertas-kertasnya mendadak membeku. Tubuhnya agak gemetaran melihat raut wajah Valeska yang sangat galak.
"M-maaf, Kak Valeska..." gagap Caca dengan suara bergetar, pandangannya menunduk takut. "Caca tadi... Caca tadi buru-buru mau antarkan tugas kelas ke ruang guru, jadi enggak kelihatan Kak Valeska jalan dari belokan..."
"Buru-buru mata lo?!" semprot Valeska makin pedas, melangkah mendekat dan sengaja menendang pelan lembaran kertas tugas Caca yang tergeletak di dekat kakinya. "Lo sengaja kan?! Lo sengaja nyari gara-gara sama gue dari kemarin?!"
"Enggak, Kak! Beneran enggak!" Caca makin gugup, menggelengkan kepalanya cepat-cepat dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Caca beneran enggak sengaja, Kak Valeska... Caca minta maaf..."
"Halah, enggak usah sok polos deh!" gertak Valeska melipat tangan di dada, menyunggingkan senyum sinisnya. "Muka kayak lo tuh yang biasanya paling pinter akting di depan cowok-cowok!"
"Ada masalah apa lagi lo sama Caca, Valeska?!"
Suara berat dan dingin yang mendadak memotong udara koridor itu membuat Valeska tersentak.
Elang berjalan mendekat dengan langkah lebar, raut wajahnya tampak sangat marah dan muak. Dia langsung melangkah menutupi posisi Caca, berdiri pasang badan tepat di depan Valeska sambil menatap cewek itu dengan sorot mata yang amat tajam.
"Elang...?" cicit Valeska kaget, keangkuhannya mendadak goyah.
"Puas lo?!" bentak Elang tanpa kompromi, suaranya menggelegar hingga beberapa anak kelas sepuluh di sekitar situ menoleh kaget. "Kemarin lo udah dibantuin, dibawain makanan, didoain sembuh sama Caca! Sekarang lo malah ngamuk-ngamuk enggak jelas dan bentak-bentak dia di sini?!"
"Dia yang nabrak gue duluan, Lang!" potong Valeska berusaha membela diri, matanya membelalak tak terima. "Gue cuma—"
"Gue enggak peduli siapa yang nabrak!" pangkas Elang pedas, menuding Valeska lurus-lurus. "Gue tahu taktik busuk lo dari tadi! Lo pura-pura sok akrab sama gue di lapangan basket biar dikira lo punya bekingan, terus sekarang lo mau lampiasin emosi lo ke Caca?!"
Valeska membeku, mukanya memerah padam bercampur rasa malu yang teramat sangat di hadapan Elang dan Caca.
"Denger ya, Valeska," pangkas Elang dengan suara dingin yang menusuk ulu hati. "Gue bantuin lo kemarin murni cuma karena rasa kemanusiaan dan utang budi sama Papa lo. Jangan sekali-kali lo pikir lo bisa manfaatin gue buat tameng lo, apalagi sampai usik Caca. Sekali lagi lo berulah kayak gini ke dia, gue sendiri yang bakal pastikan lo kagak punya tempat lagi di sekolah ini!"
Elang menoleh ke bawah, mengulurkan tangannya pada Caca dengan sangat lembut. "Kertas lo udah beres, Ca? Ayo bangun."
Caca mengangguk pelan, memegang tangan Elang lalu berdiri di balik punggung cowok itu dengan mata sembap.
Tanpa memandang Valeska lagi, Elang merangkul pelan bahu Caca dan menuntun cewek itu berjalan menjauh dari koridor, meninggalkan Valeska yang berdiri sendirian dalam kehancuran harga diri yang paling dalam.
Valeska berdiri membeku di tengah koridor, menatap punggung Elang dan Caca yang perlahan menghilang di balik belokan tangga.
"Gue sendiri yang bakal pastikan lo kagak punya tempat lagi di sekolah ini!"
Isak pelan hampir saja lolos dari tenggorokannya, tapi Valeska mengepalkan jemarinya kencang-kencang. Dia menahan air mata yang mendesak keluar dengan menggigit bibir bawahnya rapat-rapat.
Anak-anak kelas sepuluh yang menyaksikan kejadian itu berbisik-bisik sambil melemparkan tatapan kasihan bercampur cemooh ke arahnya.
"Lihat tuh, sok-sokan galak tapi langsung dikicepkan Kak Elang..."
"Lagian Caca kan enggak sengaja, dasar cewek enggak tahu diri."
Valeska mendongakkan kepalanya kencang. Dengan wajah pucat yang dipoles riasan tipis, dia melemparkan tatapan dingin nan tajam pada murid-murid di sekitarnya.
"Ngapain lo semua lihat-lihat?!" bentak Valeska parau, suaranya bergetar menahan amarah dan kelelahan. "Enggak ada tontonan di sini! Bubar!"
Kerumunan kecil itu membubarkan diri sambil berdecak kesal. Valeska menarik napas panjang yang terasa sangat menyiksa di dada, lalu melangkah perlahan menuju kamar mandi cewek yang sepi di ujung koridor.
Klek.
Dia mengunci pintu toilet dari dalam. Valeska menyandarkan tubuhnya yang gemetaran ke pintu, lalu cermin besar di hadapannya memantulkan bayangan dirinya sendiri. Bayangan seorang cewek dengan mata sembap, wajah pucat penuh keputusasaan, dan napas yang tersengal-sengal.
"Bagus, Valeska... Bagus banget," gumam Valeska sinis pada bayangannya sendiri, menyunggingkan senyum pahit yang teramat hampa. "Rencana lo gagal total. Lo makin kelihatan kayak sampah di depan semua orang."
Valeska memegang pinggiran wastafel dengan tangan yang kasar dan terkelupas. Dia menyalakan kran air, membasuh wajahnya berulang kali untuk menghilangkan rasa panas di pipinya. Air dingin membilas pemerah bibir dan bedak tipisnya, menyisakan wajah aslinya yang kusam dan lelah.
"Elang bener..." bisik Valeska parau, menatap tetesan air yang jatuh dari dagunya. "Gue cuma cewek licik yang memanfaatkan rasa kasihan orang lain. Gue jahat... Gue kotor..."