Pernikahan Sora dan Rian terancam hampa akibat dinginnya sikap sang suami. Di tengah kesepian yang menghimpit, hadir Aris, sahabat masa kecil Rian yang perhatian dan selalu ada. Sentuhan lembut dan kehangatan Aris perlahan mengikis benteng pertahanan Sora. Sebuah kisah tentang godaan terlarang, dilema kesetiaan, dan gairah yang membakar di balik pintu tertutup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PINTU YANG TERBUKA
"Kamu bilang kamu senang Rian nggak ada di sini?"
Suara Sora terdengar bergetar tipis. Ia reflek menarik jemarinya pelan dari genggaman Aris, menatap pria di hadapannya dengan tatapan tak percaya bercampur bingung.
Aris tidak segera menarik tangannya kembali. Ia membiarkan lengannya menggantung santai di udara selama beberapa detik sebelum akhirnya menyunggingkan senyum tipis yang terkesan sangat tenang.
"Bukan maksudku meremehkan pernikahan kalian, Sora. Aku cuma senang karena akhirnya punya kesempatan buat mengobrol sama kamu tanpa perlu terdistraksi sama Rian."
Sora menghela napas panjang untuk menetralkan detak jantungnya yang mendadak tidak beraturan. Kehadiran Aris di ambang pintu rumahnya terasa begitu dominan. Aroma parfum kayu cendana dan sitrus yang menguar dari tubuh pria itu seolah memenjarakan indra penciumannya.
"Masuklah dulu, Aris. Tidak enak mengobrol di depan pintu begini," ucap Sora pelan, mencoba mengalihkan ketegangan. Ia membalikkan badan dan melangkah menuju ruang tamu.
Aris melangkah masuk, menutup pintu kayu jati yang kokoh di belakangnya dengan gerakan perlahan. Matanya memperhatikan setiap sudut rumah mewah bergaya modern minimalis itu. Rumah yang megah, bersih, dan sangat tertata—namun terasa begitu dingin dan hampa dari kehidupan.
Sora meletakkan seikat bunga tulip putih pemberian Aris di atas meja kaca ruang tamu. Ia membelakangi Aris, menyatukan kedua tangannya di depan dada untuk menyembunyikan jemarinya yang masih gemetar.
"Rumah yang indah," puji Aris dengan suara baritonnya yang berat dan mantap. "Rian selalu pandai memilih properti."
Sora tersenyum hambar tanpa menoleh. "Ini semua pilihan Rian. Aku cuma bertugas menjaga agar tempat ini tetap bersih."
"Dan kamu melakukannya dengan sangat baik... sampai rumah ini kehilangan nyawanya," sahut Aris tenang.
Sora mendadak membalikkan badan. Matanya membelalak menatap Aris yang kini melangkah mendekat ke arah sofa. Kalimat pria itu sangat menohok, membakar lapisan pertahanan emosi Sora yang selama ini disembunyikannya rapat-rapat.
"Maksudmu apa bilang begitu?" tanya Sora dengan nada membela diri.
Aris menghentikan langkahnya tepat dua tapak di depan Sora. Ia menatap mata bening wanita itu secara langsung—sebuah tatapan mata yang jujur, intens, dan seolah sanggup membaca setiap helai penderitaan yang disimpan Sora.
"Mata kamu nggak bisa bohong, Sora. Rian mungkin buta buat ngelihat itu, tapi aku enggak."
Sora terpaku di tempatnya berdiri. Lidahnya mendadak terasa kelu. Tidak pernah ada seorang pun—bahkan ibunya sendiri—yang sanggup membongkar rasa sepinya hanya dalam hitungan menit setelah bertemu.
Aris menyerahkan kotak kue yang dibawanya ke tangan Sora. Sentuhan singkat kulit mereka kembali terjadi, dan kali ini Sora tidak menarik tangannya dengan cepat. Sengatan hangat itu kembali hadir, menjalar perlahan membasahi kekeringan di dadanya.
"Makan siangnya sudah siap di meja," bisik Sora mengalihkan pembicaraan, suaranya hampir tak terdengar. "Ayo ke ruang makan."
Aris mengangguk pelan, menyunggingkan senyuman hangat yang sangat menenangkan. "Tentu. Aku sudah sangat merindukan masakan rumahan."
Di ruang makan, suasana terasa jauh berbeda dari kebiasaan sehari-hari Sora. Biasanya, meja makan yang luas itu hanya diisi oleh keheningan dan denting sendok. Namun siang ini, Aris duduk di hadapannya, menikmati setiap sendok masakan buatan Sora dengan pujian tulus yang tak henti-hentinya mengalir dari bibirnya.
"Daging steak-nya empuk sekali, Sora. Bumbunya meresap sempurna," puji Aris setelah mengunyah sesuap daging. "Sudah lama sekali aku tidak makan seenak ini di Singapura."
Sora merasa pipinya agak memanas. Sebuah rona merah tipis muncul di wajah cantiknya. "Terima kasih, Aris. Aku senang kalau kamu suka. Rian... Rian jarang sekali memuji masakan rumah."
Aris menghentikan gerakannya memegang pisau dan garpu. Ia menatap Sora dengan raut wajah yang berubah menjadi lebih serius.
"Rian terlalu sibuk mengejar hal-hal di luar sampai lupa kalau harta paling berharga di rumahnya sendiri justru diabaikan," ucap Aris pelan namun sarat akan makna.
Sora menundukkan kepalanya, memainkan ujung serbet makan di pangkuannya. "Dia bekerja keras demi masa depan kami, Aris. Aku harus mengerti posisinya."
"Sampai kapan kamu mau terus mengerti, Sora?" potong Aris cepat. "Mengerti sampai kamu lupa rasanya dihargai sebagai seorang wanita? Mengerti sampai kamu terbiasa tidur sendirian setiap malam?"
Pertanyaan Aris bertubi-tubi menusuk ulu hati Sora. Airmata hangat mendadak menumpuk di pelupuk matanya. Sora berusaha sekuat tenaga menahannya agar tidak jatuh di depan pria yang baru dikenalnya secara dekat ini.
Ia berdiri mendadak dari kursinya. "Aku... aku mau ambil air minum dingin dulu di dapur."
Sora bergegas melangkah ke dapur bersih, bersandar pada kabinet marmer dan memejamkan matanya rapat-rapat. Dadanya naik turun menahan gumpalan sesak yang tiba-tiba menyeruak bebas. Kenapa kata-kata Aris terasa begitu benar? Kenapa perhatian pria ini terasa begitu membakar sekaligus menenangkan?
Tiba-tiba, suara langkah kaki mantap terdengar mendekat dari arah belakang. Sebelum Sora sempat membalikkan badan, sosok Aris sudah berdiri sangat dekat di belakangnya.
Aroma maskulin kayu cendana dari tubuh Aris merayap menyelimuti Sora. Sora dapat merasakan kehangatan tubuh pria itu hanya berjarak beberapa sentimeter dari punggungnya.
"Sora," panggil Aris dengan suara lirih yang sangat dalam.
Sora berbalik perlahan. Posisinya kini terkunci—belakang tubuhnya menempel pada pinggiran kabinet dapur, sementara Aris berdiri tegap tepat di hadapannya. Kedua tangan Aris terangkat, bertumpu pada pinggiran kabinet di kiri dan kanan tubuh Sora, memenjarakan wanita itu dalam jarak yang sangat intim.
Sora mendongak dengan napas memburu. Wajah Aris hanya berjarak segaris tipis dari wajahnya. Ia dapat melihat dengan jelas kilatan gairah dan emosi terpancar dari mata cokelat gelap milik sahabat suaminya itu.
"Aris... ini salah. Kamu sahabat Rian..." bisik Sora gugup, berusaha mengumpulkan sisa akal sehatnya.
Jemari Aris terulur perlahan. Dengan gerakan yang sangat lembut dan hati-hati, ibu jari Aris menyapu sudut mata Sora, mengusap setetes air mata yang sempat lolos membasahi pipi wanita itu. Usapan itu terasa begitu hangat, halus, dan penuh kerinduan yang ditahan sekian lama.
Sora terkejut saat merasakan sentuhan itu. Tubuhnya membeku, namun di dalam dadanya, sebuah gairah dan kehangatan asing yang sudah lama mati mendadak meledak kembali. Sentuhan jemari Aris di pipinya perlahan turun menyusuri garis rahang Sora, lalu berhenti di leher jenjangnya yang halus.
Napas Aris berhembus hangat mengenai permukaan kulit leher Sora, membuat bulu kuduk wanita itu merinding hebat.
"Aku sudah menahan rasa ini selama lima tahun, Sora..."
Sora menahan napasnya, matanya membelalak menatap Aris yang kini mendekatkan wajahnya makin rapat.
"Dan sekarang, melihat Rian menyia-nyiakanmu seperti ini... aku nggak akan tinggal diam lagi."