Di mata dunia, Theodore hanyalah "menantu benalu" yang bisanya mencuci piring, mengepel lantai, dan menelan setiap hinaan dari keluarga istrinya tanpa perlawanan. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik celemek kusamnya, ia adalah Dewa Perang yang ditakuti, Raja Mafia terkuat, dan miliarder pemilik perusahaan raksasa yang sengaja memalsukan kematiannya. Ia menahan semua caci maki hanya demi Yevone, satu-satunya wanita yang setia membelanya di tengah keluarga yang kejam. Namun, ketika keserakahan keluarga mertuanya dan Keluarga Z melewati batas hingga mengancam keselamatan Yevone, Theodore memutuskan sudah waktunya melepas penyamarannya. Dengan sebuah cincin naga hitam usang di jarinya, Theodore bersiap menunjukkan kepada mereka bahwa kemiskinan yang absolut adalah hukuman yang jauh lebih mengerikan daripada kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RDBMB 14
Ruang kerja Yevone terasa jauh lebih tenang dari biasanya. Suara ketikan keyboard dari luar ruangan tidak terdengar menembus pintu kaca tebalnya. Di atas meja kerjanya yang penuh dengan tumpukan map, kini tergeletak dua kotak bekal plastik yang isinya sudah tinggal separuh.
Yevone menopang dagu dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya mengaduk-aduk nasi goreng di dalam kotak bekal menggunakan sendok plastik tanpa selera. Matanya tidak lepas menatap sosok pria di seberangnya yang sedang makan dengan lahap.
"Pelan-pelan makannya, nanti tersedak," Yevone memperingatkan dengan nada lembut, namun sorot matanya penuh selidik.
"Habisnya masakanmu hari ini enak banget," Theodore tersenyum lebar dengan mulut yang masih mengunyah pelan. Ia menyendok suapan terakhirnya lalu meneguk air putih dari gelas di atas meja.
Yevone menghela napas panjang. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi empuknya, menyilangkan tangan di depan dada. Pikirannya masih berputar-putar seperti benang kusut memikirkan rentetan kejadian gila selama dua puluh empat jam terakhir.
"Theo, kamu ngerasa ada yang aneh nggak sih?" Yevone bertanya dengan dahi berkerut.
"Aneh gimana maksudnya? Rendi yang ketahuan korupsi itu?" Theodore membalas santai sambil membereskan kotak bekal yang sudah kosong, memasukkannya kembali ke dalam tas kain.
"Bukan cuma soal Rendi," Yevone memajukan tubuhnya, menatap lurus ke arah mata suaminya. "Coba kamu pikir pakai logika. Kemarin sore perusahaanku nyaris mati. Semua bank nolak, supplier kabur. Terus pagi ini, tiba-tiba ada dana hibah anonim masuk lima puluh miliar rupiah. Nggak lama setelah itu, supplier utama kita nelepon sambil nangis-nangis minta maaf dan ngirim bahan baku dengan diskon gila-gilaan."
"Mungkin mereka sadar perusahanmu prospeknya bagus," Theodore mengangkat bahu dengan ekspresi polos tanpa dosa.
"Nggak, Theo. Dunia bisnis nggak jalan pakai keajaiban kayak gitu," Yevone menggeleng tegas. "Belum lagi soal Rendi. Dia bawa bukti audit palsu yang nyaris sempurna ke ruang rapat. Kakek bahkan udah percaya. Tapi tiba-tiba ada *hacker* misterius yang ngeretas server utama keluarga kita cuma buat nayangin bukti transfer judinya Rendi ke Makau. Itu bukan kebetulan."
"Terus menurutmu apa? Ada jin botol yang lagi ngabulin permintaanmu?" Theodore terkekeh pelan, bersandar santai di kursi tamunya.
"Aku serius, Theo," Yevone memicingkan matanya, menatap wajah Theodore lekat-lekat. "Semua kejadian ini berasa kayak ada orang yang bener-bener punya kuasa tanpa batas lagi ngelindungin aku dari bayang-bayang. Kayak ada malaikat pelindung yang sengaja ngeratain semua masalahku dalam semalam."
Theodore membalas tatapan Yevone. Wajahnya tetap datar, detak jantungnya tidak berubah sedikit pun. Kemampuannya mengendalikan ekspresi mikro sudah berada di tingkat dewa.
"Malaikat pelindung, ya? Kalau memang ada, berarti kamu orang yang sangat beruntung," Theodore tersenyum tipis.
Yevone terdiam sejenak. Ia mengingat kembali kejadian di teras rumah kemarin sore, saat Zico mau menyentuh wajahnya. Theodore dengan santai memelintir tangan pemuda sombong itu. Lalu kata-kata ancaman Theodore tentang pabrik Keluarga Z yang akan hangus terbakar.
Dan pagi ini, berita di televisi lokal sibuk menyiarkan kebakaran besar yang meluluhlantakkan pabrik perakitan utama Keluarga Z.
Semuanya terlalu pas. Terlalu kebetulan.
"Waktu kamu ngancem Zico kemarin... kamu bilang pabriknya bakal kebakar," Yevone berucap pelan, suaranya nyaris seperti bisikan yang menuntut kejujuran. "Pagi ini pabriknya beneran hangus rata sama tanah. Terus waktu kita di ruang rapat tadi, kamu sama sekali nggak kelihatan kaget waktu video judi Mas Rendi muncul di layar."
"Terus?" Theodore menaikkan sebelah alisnya.
"Apakah... apakah kamu yang ngelakuin semua ini, Theo?" Yevone akhirnya melontarkan pertanyaan itu. Napasnya tertahan. Jantungnya berdebar menunggu jawaban suaminya.
Hening sejenak menyelimuti ruang kerja itu. Theodore menatap mata istrinya yang memancarkan campuran rasa penasaran, harapan, dan sedikit ketakutan. Jika ia mau, ia bisa saja mengaku saat ini juga. Ia bisa memanggil Exel, mendatangkan helikopter ke atap gedung ini, dan menjadikan Yevone nyonya besar dunia bawah detik ini juga.
Tapi belum saatnya. Dalang pengkhianat di markas asalnya belum sepenuhnya terpancing keluar. Membongkar identitasnya sekarang sama saja dengan menaruh target tembak di dahi Yevone.
Theodore tiba-tiba tertawa lepas. Tawanya terdengar sangat renyah dan tulus, seolah ia baru saja mendengar lelucon paling lucu sedunia.
"Kamu ini kebanyakan nonton film mafia ya akhir-akhir ini?" Theodore tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku nggak lagi bercanda, Theo!" Yevone bersungut-sungut, wajahnya sedikit memerah karena merasa ditertawakan.
"Yevone sayang, coba kamu lihat aku baik-baik," Theodore merentangkan kedua tangannya, memamerkan kemeja putihnya yang sudah agak menguning di bagian kerah dan celana bahannya yang jahitannya mulai lepas di bagian bawah. "Aku beli kuota internet aja nunggu promo akhir bulan. Baju masih numpang nyuci di mesin cuci ibumu. Gimana ceritanya aku bisa nyewa peretas kelas dunia buat ngebobol server Keluarga Mahendra?"
Yevone terdiam. Logikanya langsung membenarkan perkataan Theodore.
"Lalu soal pabrik Keluarga Z yang kebakar?" Yevone masih mencoba mencari celah.
"Itu namanya karma," Theodore menjawab santai. "Orang sombong kayak Zico pasti punya banyak musuh di luar sana. Mungkin kebetulan aja ada musuh bisnisnya yang nyabotase pabriknya pas barengan sama dia cari gara-gara sama kita. Soal aku nggak kaget di ruang rapat, ya karena aku emang nggak ngerti apa yang lagi diomongin. Kalian bahas angka miliaran sama audit, mana aku paham?"
Penjelasan Theodore terdengar sangat masuk akal dan natural. Yevone menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang terasa lelah. Khayalannya memang terlalu liar. Bagaimana mungkin suaminya yang selama tiga tahun ini cuma tahu cara ngepel lantai dan masak sayur sop tiba-tiba berubah jadi miliarder rahasia penguasa dunia gelap?
"Iya juga sih. Agak gila kalau mikir kamu yang dalangin ini semua," Yevone tersenyum getir, menertawakan kebodohannya sendiri. "Mungkin emang Tuhan lagi kasihan sama aku, makanya Dia ngirim bantuan lewat tangan orang lain."
"Yang jelas, sekarang perusahanmu aman. Rendi udah ditahan sama kakekmu sendiri. Kamu bisa kerja dengan tenang," Theodore berdiri dari kursinya, menenteng tas berisi kotak bekal. "Aku pulang dulu ya. Ibumu pasti udah ngomel-ngomel nyariin orang buat nyiram tanaman."
"Maafin keluargaku ya, Theo. Kamu terus yang jadi sasaran," Yevone menatap suaminya dengan penuh rasa bersalah.
"Udah biasa," Theodore tersenyum hangat, mengusap puncak kepala Yevone dengan lembut sebelum berbalik menuju pintu.
Begitu Theodore melangkah keluar dari ruang kerja Yevone dan menutup pintu kaca di belakangnya, senyum hangat di wajahnya lenyap seketika. Sorot matanya kembali menajam.
Ia berjalan menyusuri lorong kantor sambil merogoh ponsel hitam dari saku celananya. Ada satu pesan masuk dengan enkripsi tingkat tinggi dari Exel.
*[Tim penjemputan sudah mendarat di bandara. Kami menyusup masuk malam ini.]*
Theodore mengetikkan balasan singkat tanpa menghentikan langkahnya.
*[Siapkan pasukan di titik buta kota. Jangan ada yang bergerak tanpa perintahku. Musuh yang sebenarnya mulai mencium darah.]*
Permainan kucing-kucingan ini akan segera berakhir. Dan ketika saat itu tiba, Yevone akan menyadari bahwa malaikat pelindung yang ia cari selama ini bukanlah makhluk dari surga, melainkan Sang Dewa Perang yang bangkit dari neraka terdalam.