Kaelen—seorang pendekar dengan pedang besi berkarat yang menyimpan misteri dimensi lain—bersama Lyra, seorang alkemis cerdas berdarah dingin, nekat menerobos reruntuhan kuil kuno peninggalan Mazhab Pedang Purba.
Diintai oleh bayangan mematikan dari Faksi Tengkorak Darah dan desakan ancaman dari pengkhianat faksi lokal bernama Vance, perjalanan mereka bukan sekadar pelarian, melainkan perburuan berbahaya demi menemukan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit. Menghadapi entitas Qi gelap, formasi penjara kuno, dan bisikan purba yang menguji jiwa, Kaelen dan Lyra harus mempertaruhkan nyawa untuk mengungkap kebenaran di balik masa lalu yang terkubur, sebelum perangkap pengkhianatan merenggut nyawa mereka di ujung lorong yang sunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liam Harrison, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Misteri Lembaran Kuno
Di kedalaman gua yang lembap, tersembunyi dari tatapan dunia luar, Kaelen dan Lyra berlutut di hadapan sebuah meja batu kuno. Kristal luminescent yang Lyra tata dengan hati-hati memancarkan cahaya biru remang-remang, menari di atas guratan waktu yang menghiasi dinding batu. Udara dingin menyengat, membawa aroma tanah basah yang purba—aroma yang entah bagaimana terasa menyimpan rahasia jutaan tahun. Di atas meja, terhampar selembar perkamen tua, berwarna kuning kecoklatan, dengan tulisan-tulisan kuno yang nyaris memudar, diselimuti debu keabadian. Ini adalah "Lembaran Kuno" yang mereka cari, peninggalan dari era Sekte Langit yang telah lama runtuh, yang diyakini menyimpan petunjuk tentang Jiwa Artefak Reruntuhan Langit.
Kaelen mengerutkan kening, jari-jarinya yang kasar namun tangkas menyusuri simbol-simbol aneh itu. "Ini bukan aksara Sekte Bulan, Lyra. Terlalu purba. Bahkan simbol-simbol yang kita pelajari di Akademi Pedang Langit pun tak sekompleks ini. Seolah setiap guratan adalah sebuah mantra yang membeku dalam waktu."
Lyra mendekat, matanya yang tajam memindai setiap detail dengan intensitas seorang ahli alkimia yang mengurai formula racun paling mematikan. "Aku setuju, Kaelen. Tapi... perhatikan guratan di sini. Garis-garis ini... seperti vena yang terhubung. Dan titik-titik ini... apakah itu konstelasi, atau mungkin... lokasi?"
Ia menunjuk dengan lembut ke bagian tengah lembaran, di mana sebuah pola spiral rumit mengitari simbol yang menyerupai mata sedang mengawasi. Simbol itu sendiri tampak hidup, seolah berkedip samar dalam cahaya redup.
"Mata itu..." Kaelen bergumam, tatapannya terpaku. Sebuah getaran dingin menjalari tulang punggungnya, bukan karena takut, melainkan karena kesadaran akan kedalaman misteri yang mereka gali. "Aku pernah melihatnya di beberapa relief yang hancur di reruntuhan Kuil Naga Emas. Konon, itu adalah simbol 'Pelihat Abadi', entitas purba yang menjaga Jiwa Artefak Reruntuhan Langit. Jika lembaran ini benar-benar terkait dengannya, maka informasi yang kita genggam ini jauh lebih berbahaya dari yang kuduga."
"Dan simbol di bawahnya..." Lyra menyentuh pola lain yang lebih samar, terukir seolah oleh benang tak terlihat di antara aksara-aksara yang tak dapat dimengerti. "Ini seperti segel. Sangat mirip dengan mantra kutukan yang pernah disebutkan dalam teks alkimia terlarang—segel yang mengikat... jiwa. Atau mungkin, energi vital."
Kaelen menatapnya, ekspresinya serius dan tegang. "Apakah kau mengatakan bahwa Jiwa Artefak itu terikat oleh suatu kekuatan, atau... seseorang mengikatnya?"
Sebelum Lyra sempat menjawab, embusan angin dingin yang tak wajar menyelinap masuk melalui celah tersembunyi, membawa serta aroma samar bunga lili malam—aroma mematikan yang selalu mendahului Liliyana. Seketika, kristal luminescent yang menerangi ruangan meredup, seolah energi vitalnya tersedot habis oleh kehadiran yang mengancam.
"Kita tidak sendirian," bisik Kaelen. Tangannya sudah menggenggam erat gagang Pedang Besi Berkarat miliknya. Aura Jurus Jiwa Pedang Hampa mulai bergolak samar di sekelilingnya, menciptakan riak-riak distorsi kecil di udara yang siap meledak kapan saja.
"Kaelen yang cerdik, dan Lyra si pemurni racun," suara merdu namun dingin itu memecah keheningan, bergema dari bayangan di sudut ruangan, seolah suara itu sendiri adalah bagian dari kegelapan. "Selalu saja menemukan jalan ke tempat yang seharusnya tetap tersembunyi. Kemampuan kalian dalam mengendus rahasia memang patut diacungi jempol... atau dijebak."
Liliyana melangkah keluar dari kegelapan, siluetnya ramping namun mematikan, diselimuti aura bayangan yang tampak menelan cahaya. Matanya yang kejam menari-nari dalam cahaya redup, memancarkan nafsu serakah yang tak tertahankan saat memandang Lembaran Kuno di atas meja batu.
"Begitu cepat kalian mengurai misteri kuno. Sayang sekali, kerja keras kalian akan sia-sia, karena harta karun itu akan segera berpindah tangan."
"Apa maumu, Liliyana?" tanya Kaelen. Suaranya tenang meskipun ketegangan memuncak di setiap serabut ototnya. Pedangnya bergetar pelan, siap menyerang.
"Tentu saja, Lembaran Kuno itu, dan segala informasi yang terkandung di dalamnya," Liliyana tersenyum tipis—senyum yang tak menjanjikan kebaikan, melainkan janji akan derita. "Dan mungkin... pedang lusuhmu itu. Kudengar ia memiliki rahasia yang menarik, meskipun penampilannya menyedihkan."
Tatapannya beralih ke Lyra, menyiratkan ketertarikan yang mengerikan. "Atau mungkin, formula racunmu yang selalu menarik perhatianku. Senjata yang hebat untuk tujuan yang tepat."
Lyra melangkah maju sedikit, memposisikan dirinya di samping Kaelen. Tangannya memancarkan cahaya hijau kebiruan samar; energi Tangan Pemurni Racun Api mulai terkumpul, siap melepaskan ancaman yang tak kalah mematikan. "Kau tidak akan mendapatkan apa-apa dari kami, Liliyana. Jangan bermimpi."
"Kesetiaan yang mengagumkan," Liliyana mencibir, nada suaranya dipenuhi ejekan. "Tapi kesetiaan tidak akan menyelamatkan kalian dari bayanganku. Jiwa Artefak itu adalah milikku, milik faksi Sekte Laba-laba Malam. Kalian hanyalah serangga yang tak sengaja menemukan sarang naga, dan kini, kalian harus dibasmi."
"Faksi Laba-laba Malam," ulang Kaelen. Matanya menyipit tajam. "Jadi kaulah dalang di balik pengkhianatan Sekte Kuno. Kau yang mencoba membangkitkan entitas jahat dari reruntuhan, bukan?"
Liliyana tertawa. Suaranya menggema mengerikan di ruang sempit itu, membuat bulu kuduk merinding. "Kau lebih cerdas dari yang kukira, Kaelen. Tapi pengetahuanmu akan menjadi kehancuranmu. Kalian telah melihat terlalu banyak, mendengar terlalu banyak, dan hidup terlalu lama."
Dengan gerakan kilat, Liliyana melesat maju. Bayangan di sekelilingnya memanjang dan meliuk seperti tentakel hitam yang haus darah. Aura gelap menyembur dari tangannya, membentuk cakar bayangan yang menusuk lurus ke arah Lembaran Kuno, seolah ingin merenggutnya dengan paksa.
"Tidak akan!" Kaelen meraung, suaranya menggelegar di gua.
Pedang Besi Berkarat itu bersinar dengan cahaya hampa yang aneh—bukan cahaya yang memancar, melainkan kehampaan yang menyerap segala bentuk energi di sekelilingnya, menciptakan distorsi visual yang menakutkan. Dengan putaran pergelangan tangan yang presisi, Kaelen melancarkan tebasan horizontal. Jurus Jiwa Pedang Hampa bukan sekadar serangan fisik; ia membelah ruang dan mengganggu aliran energi. Cakar bayangan Liliyana terdistorsi sejenak, melemah, dan pecah berkeping-keping sebelum mencapai perkamen.
Namun, itu hanyalah pengalih perhatian. Dari bayangan di belakang Kaelen—yang bahkan lebih gelap dari bayangan di sekitarnya—muncul bayangan Liliyana yang lain, atau mungkin refleksi dari kecepatan luar biasanya. Telapak tangannya, yang kini diselimuti kabut hitam pekat dan menguarkan bau busuk, mengarah ke punggung Kaelen. Jurus Telapak Bayangan Iblis!
"Kaelen, awas!" teriak Lyra seraya melemparkan botol kecil berisi cairan hijau kebiruan pekat.
Botol itu pecah di udara, melepaskan semburan uap menyengat yang membentuk dinding kabut korosif antara Liliyana dan Kaelen. Uap itu mendesis, mengikis bayangan yang menempel pada Liliyana, memaksanya mundur sejenak dengan ekspresi jijik dan amarah yang membara.
"Racunmu selalu saja merepotkan, Lyra," geram Liliyana sambil mengusap tangannya yang sedikit memerah dan mengelupas, matanya menyala kebencian. "Tapi itu tidak akan cukup untuk menghentikanku! Ini hanyalah penundaan sesaat!"
Kaelen mengambil kesempatan, melompat mundur, dan memposisikan dirinya di depan Lyra serta meja batu. Pedangnya kini memancarkan aura hampa yang lebih intens, menciptakan riak-riak distorsi yang terlihat jelas di udara, seolah menolak keberadaan Liliyana. "Apa yang ingin kau sembunyikan, Liliyana? Apa hubungan Jiwa Artefak ini dengan pengkhianatan faksi Sekte Laba-laba Malam dan Pelihat Abadi?"
Liliyana mendengus; tawa keringnya terdengar seperti pecahan kaca. "Pertanyaan yang terlalu banyak untuk seekor lalat. Cukuplah kau tahu, Jiwa Artefak adalah kunci menuju kekuatan yang tak terhingga—kekuatan untuk membentuk kembali dunia ini sesuai kehendakku—dan faksi bodohmu tidak akan pernah memahaminya." Matanya kembali tertuju pada Lembaran Kuno, nafsu di sana semakin membara. "Tapi sepertinya kalian sudah cukup dekat. Aku tidak bisa membiarkan itu. Rahasia ini harus mati bersamamu."
Ia mulai melafalkan mantra kuno. Suaranya rendah dan mengancam, setiap suku kata terasa berat dengan energi gelap. Bayangan di sekelilingnya mulai berputar liar, membentuk pusaran energi gelap yang mengerikan—sebuah badai mini yang siap melahap apa saja. Ini bukan lagi serangan biasa; Liliyana berniat menggunakan kekuatan penuhnya, tidak peduli apa yang akan hancur.
Lyra segera menyadari bahayanya. "Kaelen, dia akan memanggil entitas bayangan! Kita harus pergi! Sekarang!"
Kaelen melirik Lembaran Kuno sekali lagi. Di tengah kekacauan, di bawah simbol mata yang kabur, sebuah guratan halus yang sebelumnya tak terlihat kini bersinar samar. Itu adalah koordinat, atau mungkin petunjuk arah, yang tersembunyi di balik mantra perlindungan yang telah melemah. "Tunggu, Lyra! Aku melihat sesuatu! Sebuah petunjuk!"
Namun, Liliyana tidak memberi mereka waktu. Pusaran bayangan meletus, melontarkan serpihan energi gelap yang tajam seperti belati, menyerang mereka berdua dengan kekuatan yang menghancurkan. Kaelen dengan cepat mengangkat pedangnya, menciptakan perisai hampa yang melengkung, menangkis serangan itu dengan susah payah. Setiap tabrakan menghasilkan suara desisan yang mengerikan. Namun, dorongan energi itu cukup kuat untuk mengguncang ruangan, membuat retakan muncul di dinding batu yang telah bertahan ribuan tahun.
"Kita tidak punya pilihan!" Lyra menarik lengan Kaelen dengan kekuatan yang mengejutkan, matanya memancarkan tekad. "Lembaran itu akan hancur jika kita tetap di sini!"
Kaelen mengangguk, keputusannya cepat. Informasi itu penting, tapi nyawa mereka lebih berharga, dan informasi tersebut tidak akan berguna jika mereka mati di sini. Dengan satu ayunan pedang terakhir yang melepaskan gelombang hampa yang kuat untuk menahan Liliyana sejenak, Kaelen meraih Lembaran Kuno itu, melipatnya dengan cepat, dan menyimpannya ke dalam jubahnya.
"Sampai jumpa, lalat-lalat kecil," suara Liliyana menggelegar dari tengah pusaran bayangan, penuh ancaman dan janji balas dendam. "Tak ada yang bisa kabur dariku selamanya! Jiwa Artefak itu akan menjadi milikku!"
Kaelen dan Lyra melesat pergi, menerobos celah sempit di dinding yang Lyra tunjukkan—sebuah jalan rahasia yang hanya diketahui oleh segelintir orang. Mereka meninggalkan ruang bawah tanah yang bergetar, dikejar oleh gema tawa kejam Liliyana dan gemuruh runtuhnya batu-batu di belakang mereka. Mereka berhasil kabur, namun kini mereka membawa beban yang lebih berat: informasi krusial yang mengarah pada kekuatan purba, dan musuh mematikan yang tidak akan pernah berhenti memburu mereka. Misteri Lembaran Kuno baru saja dimulai, dan babak baru dalam epos mereka telah terbuka.