NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak Dengan Ceo Dingin Mantan Kaka Iparku

Pernikahan Kontrak Dengan Ceo Dingin Mantan Kaka Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Atha Diyuta

Alena tidak pernah menyangka akan dinikahi oleh Aditya Pradana, CEO dingin yang juga mantan kakak iparnya.

Tujuannya satu: menjadi ibu untuk Sean, anak tiri berandal yang membencinya setengah mati.

Sean melakukan segala cara untuk mengusir Alena.

Balapan liar, berkelahi, membolos.

Tapi Alena yang berjilbab ini tidak takut.

Ia lawan balik Sean di arena balap dan di lapangan futsal.

Hingga Sean diam-diam kagum dan berbisik, "Siapa sebenarnya kamu, Bunda?"

Di sisi lain, Aditya Pradana yang dibantu Rendra, mulai menyadari...

Adik iparnya yang dulu pendiam itu, kini menjadi wanita yang tidak bisa ia lepaskan.

Pernikahan kontrak ini, apakah akan berakhir dengan cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1

Alena tidak pernah membayangkan dalam hidupnya yang sederhana bahwa ia akan dilamar di sebuah ruangan yang begitu dingin, megah, dan mengintimidasi. Ruang rapat di lantai 42 gedung Pradana Tower, dengan dinding kaca dari lantai ke langit-langit yang menampilkan seluruh pemandangan kota Jakarta yang sibuk di bawahnya. Gedung-gedung pencakar langit terlihat begitu dekat, tapi terasa begitu jauh dan dingin.

Di ruangan ber-AC yang suhunya mungkin hanya 18 derajat itu, Alena duduk dengan canggung. Ia mengenakan gamis hijau sage sederhana yang sudah ia setrika semalaman, dan hijab yang sama, yang ia cuci dengan hati-hati agar terlihat rapi. Di depannya, di seberang meja rapat marmer hitam yang panjangnya mungkin lima meter, duduk seorang pria.

Aditya Pradana.

Pria itu berusia 38 tahun, dengan wajah tampan yang tegas seperti pahatan, rahang yang kokoh, dan mata yang tajam. Ia mengenakan setelan jas hitam yang dijahit sempurna, kemeja putih tanpa cela, dan jam tangan yang harganya mungkin bisa untuk membeli rumah kontrakan Alena selama sepuluh tahun. Ia adalah CEO Pradana Group, salah satu perusahaan properti terbesar di Indonesia. Dan ia juga adalah mantan kakak ipar Alena.

Duda dari almarhumah kakak kandung Alena, Ratna.

Aditya menatap Alena bukan dengan tatapan seorang pria yang akan melamar wanita. Tidak ada cinta. Tidak ada gugup. Tatapannya adalah tatapan seorang CEO yang sedang menilai seorang calon karyawan baru yang CV-nya tidak begitu meyakinkan.

"Alena," suara Aditya akhirnya memecah keheningan, berat dan datar. "Saya tidak punya banyak waktu. Rapat direksi saya 15 menit lagi. Jadi saya akan langsung ke intinya."

Alena menelan ludah, tangannya yang berada di atas pangkuannya saling meremas. "Iya, Pak Aditya..."

"Menikahlah dengan saya," ucap Aditya.

Satu kalimat. Dua kata. Tanpa bunga. Tanpa cincin berlian yang berkilau. Tanpa berlutut. Hanya perintah dingin.

Alena membeku. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut Aditya bisa mendengarnya dari seberang meja.

"Menikah... menikah dengan saya, Pak?" bisik Alena, memastikan ia tidak salah dengar.

"Itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan Sean," jawab Aditya sambil menggeser laptopnya ke arah Alena.

Di layar laptop itu, sebuah video CCTV diputar. Alena melihatnya dan darahnya langsung surut dari wajahnya.

Seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun, dengan wajah tampan tapi penuh amarah, mengenakan jaket kulit hitam dan celana jeans robek, sedang menggeber motor Ducati Panigale merah menyala di dalam lobi sekolah internasional yang mewah. Suara knalpotnya memekakkan telinga. Satpam mencoba menghentikannya, tapi remaja itu, Sean, justru membanting helm mahalnya ke kepala satpam itu. Siswa-siswa lain berteriak ketakutan.

Sean. Anak tirinya. Lebih tepatnya, anak kandung dari almarhumah kakaknya, Ratna, dan Aditya. Anak yang telah Alena rawat sejak ia masih bayi merah, sejak kakaknya meninggal dalam kecelakaan mobil tragis sepuluh tahun lalu. Alena yang saat itu masih kuliah semester 4, rela tidak menikah dan merawat Sean dengan kasih sayang penuh, dengan uang hasil jualan kue dan mengajar ngaji.

"Sean itu anak tiri saya, Pak. Tapi bagi saya dia seperti anak kandung sendiri. Saya sudah merawatnya sejak bayi, sejak kakak meninggal..." suara Alena bergetar menahan tangis.

"Dan lihat hasilnya didikanmu, Alena!" potong Aditya dengan nada tajam yang menusuk. "Manja, berandal, tidak punya aturan! Nilai anjlok, berkelahi, bolos sekolah tiga hari! Minggu lalu dia balapan liar di Senayan dan hampir ditangkap polisi! Kalau bukan karena nama saya, dia sudah masuk penjara anak!"

Setiap kata Aditya seperti cambukan bagi Alena. Ia tahu Sean berandal. Ia tahu Sean berubah menjadi pemberontak sejak masuk SMA. Tapi ia tidak pernah berhenti menyayanginya. Ia selalu membela Sean.

"Sean butuh sosok ibu yang sah secara hukum di depan sekolah dan hukum. Bukan hanya 'bibi' yang numpang tinggal. Dan saya..." Aditya berhenti sejenak, rahangnya mengeras. "Saya butuh seorang istri. Dewan direksi mulai mempertanyakan stabilitas keluarga saya. Mereka bilang saya tidak becus mengurus anak setelah istri saya meninggal. Mereka mengancam akan menurunkan saya dari jabatan CEO jika Sean membuat skandal lagi. Pernikahan ini menguntungkan kita berdua. Pernikahan kontrak."

Pernikahan kontrak. Dua kata itu membuat Alena semakin sesak.

"Apa... apa Bapak mencintai saya?" tanya Alena akhirnya, dengan suara yang sangat lirih, hampir tidak terdengar. Ia tahu itu pertanyaan bodoh. Tapi hatinya sebagai seorang wanita berusia 30 tahun yang belum pernah menikah, yang diam-diam pernah mengagumi ketampanan dan ketegasan Aditya dari jauh, perlu bertanya.

Aditya tertawa kecil. Tawa yang sinis dan dingin tanpa kehangatan sama sekali.

"Cinta?" Aditya menatap Alena dengan tatapan merendahkan. "Alena, dengarkan saya baik-baik. Cinta saya sudah mati sepuluh tahun lalu, bersamaan dengan kakakmu di dalam mobil itu. Hati saya sudah beku. Saya menikahimu karena kamu adalah satu-satunya orang di dunia ini yang masih bisa membuat Sean sedikit saja mendengarkan. Karena kamu satu-satunya yang dia panggil 'Bunda' saat dia demam tinggi, meskipun dia membencimu saat sadar. Itu saja. Jangan pernah berharap lebih dari itu. Jangan pernah berharap saya akan mencintaimu, menyentuhmu, atau menganggapmu sebagai istri sungguhan."

Hati Alena hancur berkeping-keping mendengar itu. Ia menunduk, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes satu per satu ke atas gamisnya, meninggalkan bercak basah.

Ia ingat kejadian semalam. Sean pulang jam 2 pagi, dalam keadaan mabuk, motor Ducati merah kesayangan Aditya lecet di sana-sini, bibirnya berdarah karena berkelahi dengan geng motor lain. Alena yang menunggu di ruang tamu sambil menangis, langsung berlari memeluk Sean.

"Sean, Ya Allah nak, kamu dari mana? Ibu khawatir sekali!"

Tapi Sean mendorong tubuh Alena dengan kasar hingga Alena terjatuh ke lantai.

"JANGAN SOK JADI IBUKU! KAMU ITU CUMA BIBIKU YANG MISKIN! BUKAN IBUKU! GARA-GARA KAMU YANG MISKIN DAN KAMPUNGAN, AKU JADI BAHAN EJEKAN DI SEKOLAH! MEREKA BILANG BIBIKU JUALAN KUE!"

Kata-kata Sean itu masih terngiang-ngiang di telinga Alena seperti pisau yang diiriskan berulang kali.

Aditya melihat air mata Alena, tapi wajahnya tetap datar. Ia berdiri, merapikan jasnya yang sempurna.

"Kamu punya waktu 24 jam untuk berpikir, Alena. Besok jam 9 pagi, pengacara saya akan menyiapkan semua surat nikah di KUA. Jika kamu menolak lamaran ini, malam ini juga saya akan mengirim Sean ke sekolah militer di Inggris. Sekolah asrama yang sangat disiplin. Kamu tidak akan bisa bertemu dengannya selama tiga tahun. Tidak ada telepon, tidak ada libur."

Ancaman itu membuat Alena langsung mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. "Jangan! Jangan kirim Sean ke Inggris, Pak! Dia... dia masih butuh kasih sayang..."

"Maka menikahlah dengan saya. Jadilah ibu tirinya yang sah. Bantu saya mendisiplinkan anak berandal itu," Aditya berjalan menuju pintu kaca ruang rapat. Sebelum keluar, ia berhenti dan berkata tanpa menoleh. "Pikirkan baik-baik. Ini bukan tentang perasaanmu, Alena. Ini tentang masa depan Sean. Anak tirimu yang berandal itu."

Pintu tertutup. Aditya pergi, meninggalkan aroma parfum mahalnya yang dingin dan menusuk, dan Alena yang terduduk lemas di kursi kulit yang terlalu besar dan terlalu mahal untuknya.

Di luar jendela kaca lantai 42, hujan deras tiba-tiba turun mengguyur Jakarta. Sama derasnya dengan air mata yang kini tumpah ruah dari mata Alena.

Dengan tangan gemetar, Alena mengeluarkan ponsel bututnya yang layarnya sudah retak. Ada tiga pesan masuk dari wali kelas Sean, Bu Rina: _Bu Alena, mohon maaf, Sean tidak masuk sekolah 3 hari berturut-turut. Dan kemarin dia terlibat perkelahian dengan siswa kelas 12 dan merusak fasilitas sekolah. Mohon kehadirannya besok pagi jam 8 di sekolah untuk bertemu kepala sekolah. Ini sudah sangat serius._

Alena menangis semakin kencang, bahunya terguncang hebat. Ya Allah, sehancur inikah anak yang ia besarkan dengan air susu, doa tahajud setiap malam, dan kasih sayang yang tidak pernah putus selama 17 tahun ini?

Dengan isak tangis yang sesak, ia mengetik balasan untuk Aditya dengan jari-jari yang bergetar: _Pak Aditya, saya menerima lamaran Bapak. Saya mau menikah dengan Bapak. Demi Sean. Demi anak tiriku._

Tidak sampai satu menit, balasan masuk. Sangat dingin dan singkat: _Bagus. Keputusan yang tepat. Besok jam 8 pagi saya jemput di kontrakanmu. Pakai baju terbaikmu yang paling rapi. Kita akan menikah di KUA jam 9. Jangan terlambat. Aditya._

Tanpa kata sayang. Tanpa terima kasih. Tanpa emoji senyum. Sedinin itu.

Malamnya, Sean pulang lagi dengan Ducati merahnya yang knalpotnya menggelegar memecah keheningan gang kontrakan Alena. Alena yang sudah menunggu di depan gerbang dengan mata bengkak berlari menyambutnya.

"Sean, dari mana kamu nak? Ibu sudah menunggu..."

Sean melepas helmnya dengan kasar, matanya merah karena mabuk dan amarah. "BERISIK! Jangan panggil aku anak! Gue denger besok lo mau nikah sama bokap gue kan? Akhirnya kesampaian ya jadi Nyonya CEO setelah 10 tahun ngarep harta bokap gue? Dasar matre!"

*Bersambung...*

1
Atha Diyuta
trimakasih kk😊
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍
Atha Diyuta
Karya terbaruku bantu ramaikan teman-teman ☺️☺️
Atha Diyuta: oke siap ka diperbaiki trimakasih kk ☺️☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!