Dulu ia Kaisar Pil Jiwa Bintang. Penguasa Sembilan Benua.
Tetapi, satu tusukan dari murid kesayangannya, membuat ia mati. Sekarang, Murid itu naik tahta menjadi Dewa Alkemis yang disembah seluruh benua.
500 tahun kemudian, Lin Xuan terbangun.
Bukan di singgasana. Tapi di tubuh seorang sampah. Tubuh dari Tuan Muda Keluarga Lin yang meridiannya hancur, menjadi bahan tertawaan se-Kota Awan Merah. Tunangannya menghina, pamannya meracuni dan semua orang menunggu ia mati.
Mereka salah besar.
Karena di dalam jiwanya, Kuali Naga Hitam yang berkarat ikut bangkit. Di kepalanya, ingatan 500 tahun teknik alkimia bertarung yang bisa membakar langit tidak hilang.
Lin Xuan tidak mau sekadar bangkit. Ia mau berburu 18 Api Surgawi. Mengubah tubuh cacatnya menjadi kuali hidup.
Mengubah bahan sampah menjadi pil dewa. Dan naik lagi ke Benua Ke-9 untuk satu hal:
Menagih darah dengan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Bangkitnya Kuali Naga Hitam
Pintu pemandian terbuka.
Xiao Ya yang dari tadi berlutut sambil nangis langsung mendongak. Dan langsung bengong.
Pemuda yang keluar dari uap itu bukan lagi Tuan Muda yang sekarat tadi. Sekarang jubahnya bersih, punggungnya tegak. Dan kulitnya yang pucat sekarang berkilau sehat.
"T-Tuan Muda? Ini... ini benar benar Tuan Muda?" Xiao Ya terbata bata.
Lin Xuan tersenyum tipis.
"Sudah selesai. Mulai sekarang tidak ada lagi yang bisa menginjak nginjak kita lagi di sini. Beresin ruangan pemandian nya, terus istirahat."
Tanpa menunggu jawaban, Lin Xuan melangkah masuk ke kamarnya dan menutup pintu. Waktunya sangat mepet. Paman Ketiga pasti tidak akan tinggal diam setelah dipermalukan di aula tadi. Begitu Lin Hai tau Lin Xuan bisa berkultivasi lagi, yang dikirim untuknya pasti bukan lagi obat beracun, tapi para pembunuh.
Ia duduk bersila di ranjang.
Matanya terpejam, dan kesadarannya tenggelam ke Lautan Jiwanya.
Kuali Naga Hitam masih mengambang diam, karatnya masih tebal. Tapi untuk saat ini Lin Xuan sudah memiliki Qi.
"Bangunlah, teman lama."
Ia mengumpulkan semua Qi Tingkat 2-nya dan menghantamkannya langsung ke kuali itu.
Dungggh!
Dengungan menggema di kepalanya. Karat tebal itu retak. Cahaya emas hitam menyembur dari celahnya. Lapisan karat rontok satu per satu, memperlihatkan perunggu hitam legam di bawahnya.
Sembilan naga di dinding kuali yang tadinya mati mulai bergerak pelan. Lalu, mata naga pertama menyala merah darah.
Naga itu membuka mulutnya. Semburan api kecil seukuran lilin yang warnanya merah gelap kehitaman, melesat keluar dan mendarat di telapak tangan Lin Xuan di dunia nyata.
Lin Xuan membuka matanya. Di tangannya, api itu menari-nari. Suhu kamar seketika langsung naik drastis.
"Api Nafas Naga," gumamnya puas. "Bukan Api Surgawi, tapi api bawaan kuali. Api ini masih di level Binatang menengah, tapi buat meracik pil di kota kecil ini sudah lebih dari cukup."
Bersamaan dengan api itu, sebuah koordinat samar masuk ke kepalanya.
"Pegunungan Abu Kematian... lima ratus mil ke utara." Matanya seketika menyipit. "Resonansi Api... Teratai Bumi Terdalam. Jadi kau bisa melacak keberadaan Api Surgawi juga ya?"
Target pertama ketemu. Tapi Lin Xuan tidak bodoh buat langsung ke sana. Api itu ada di rawa magma. Dengan tubuh Tingkat 2 sekarang, ia masuk ke sana cuman mencari kematian.
Hukumnya sangat mutlak, mau menaklukkan api super panas, butuh penawar super dingin. Ia butuh Pil Pelindung Jantung Kutub Es.
"Masalahnya, butuh Teras Es Binatang Tingkat 3 sama Teratai Salju Seratus Tahun. Di tempat lelang harganya bisa 500 Batu Roh." Ia langsung menghitung dengan cepat. Untuk saat ini ia tidak memiliki uang sepeser pun.
Satu-satunya cara mendapatkan uang sebesar itu dalam semalam, menjual pil tingkat tinggi.
Ia tersenyum miring. "Di mata orang biasa, bahan bagus sama dengan pil bagus. Tetapi di mata Kaisar Pil, bahan sampah bisa menjadi harta.."
Ia kemudian berjalan ke dapur kecil Halaman Bambu Hijau. Disana tidak ada kuali alkimia, jadi ia mengambil periuk tanah liat yang sudah usang bekas Xiao Ya masak sup. Kemudian mencucinya.
Di sakunya masih ada sisa Koin Tembaga Spiritual yang nggak jadi dipakai Xiao Ya tadi.
Koin Tembaga di Benua bawah ini dibuat dari debu bijih roh kotor dicampur bubuk herbal. Makanya cuma jadi uang receh.
"Ekstraksi Ekstrem."
Ia melemparkan lima keping koin ke dalam periuk, dan menyalakan Api Nafas Naga di bawahnya.
Kalau seorang alkemis lain melihat apa yang dilakukan Lin Xuan, pasti mereka akan ketawa sampai mati. Bikin pil dari uang receh? Pakai periuk sup? itu sungguh gila.
Tapi apa yang terjadi, Lin Xuan mengontrol suhu di level tertinggi. Kekuatan Jiwanya menyelimuti periuk, memisahkan kotoran logam dan debu roh dengan sangat presisi.
Cuma dengan sepuluh napas, koin itu meleleh. Kotoran hitamnya jadi asap, sementara sisanya menjadi setetes cairan bening yang murni di dasar periuk.
Tangannya bergerak cepat, ia memasukan sisa Rumput Darah Ayam sebagai pengikat.
Wusss!
Api itu ia tarik. Aura dingin dan panas bertabrakan, cairan itu berputar cepat menjadi bola kecil.
Blam!
Aroma manis yang luar biasa meledak memenuhi ruangan. Lin Xuan buru-buru menahan aromanya, memakai Kekuatan Jiwa biar tidak bocor keluar. Kalau kecium para Tetua, itu bakal repot.
Ia membalik periuknya. Sebutir pil seukuran kelereng jatuh ke telapak tangannya. Pil itu putih bersih kayak mutiara. Di permukaannya, ada sembilan garis emas melingkar.
"Pil Pengumpul Qi, Sembilan Cincin," nilainya santai. "Sayang sekali, periuknya jelek, jadi cuma sembilan cincin. Kalau pakai kuali asli alkimia bisa sepuluh cincin Tapi buat kota kecil ini, ini sudah menjadi harta legenda."
Di Kota Awan Merah, alkemis bisa bikin Tiga Cincin saja sudah disebut jenius. Enam Cincin cuma bisa dibikin oleh seorang master. Sembilan Cincin? Cuma ada di dongeng dan cerita legenda.
Pil Pengumpul Qi biasa harganya sepuluh Koin Tembaga. Pil Sembilan Cincin ini tidak memiliki racun sama sekali. Kalau dikonsumsi kultivator Tingkat 9, bisa menembus tahap selanjutnya dengan akurasi 100% tanpa efek samping sedikitpun. Di pasar gelap, harganya nggak bisa diukur pakai uang.
Lin Xuan langsung mengambil jubah hitam bertudung panjang dari lemarinya. Ia membungkus dirinya rapat rapat.
Malam semakin larut, bayangan hitam melesat keluar dari Kediaman Keluarga Lin.
Tujuannya bukan paviliun keluarga Lin, melainkan Paviliun Seratus Herbal - cabang Asosiasi Alkemis, faksi paling netral dan paling kaya di kota.
Jalanan semakin sepi, tapi paviliun itu masih terang benderang.
Begitu Lin Xuan yang tertutup tudung hitam melangkah untuk masuk, seketika dua penjaga besar Tingkat 6 menyilangkan tombak.
"Tunjukan Identitas atau plakat VIP!" bentak penjaga yang berada di sebelah kiri.
Di balik tudung, Lin Xuan mendengus.
Ia tidak membuangnya waktu untuk berbicara. Ia hanya melepaskan sedikit tekanan Kekuatan Jiwanya, dan dihantamkan ke kedua penjaga itu.
Dua penjaga itu langsung pucat. Kakinya gemetar. Rasanya kayak gunung dijatuhkan ke pundaknya. Tombak mereka jatuh berdenting ke lantai marmer.
Suara serak yang sengaja dipalsukan keluar dari balik tudung, pelan tapi bikin bulu kuduk berdiri.
"Panggil Penilai Utama kalian. Bilang, ada Tuan Tua bawa obat yang seumur hidup kalian belum pernah lihat di kota kecil ini."