NovelToon NovelToon
Jin Nyasar Di Desa Kertajaya

Jin Nyasar Di Desa Kertajaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Komedi
Popularitas:650
Nilai: 5
Nama Author: My Chubby

Tiga pemuda bokek di Desa Kertajaya nekat mencari cara mendapatkan uang. Alih-alih menemukan keberuntungan, mereka justru selalu terjebak dalam masalah kocak yang bikin hidup mereka semakin kacau. Tanpa mereka sadari, petualangan aneh yang lebih besar sudah menunggu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gosip Di Warung Pak Jaya

BAB 17

Matahari merayap naik, memancarkan terik yang mulai menyengat permukaan jalan berbatu di Desa Kertajaya. Raka, Bayu, dan Dimas melanjutkan perjalanan mereka melewati lorong-lorong kecil pasar desa, ditemani oleh sang putri jin yang masih mempertahankan ekspresi wajah dinginnya, meskipun matanya tak henti-henti melirik berbagai keanehan dunia manusia di sekelilingnya.

Di sudut perempatan dekat balai desa, di bawah naungan pohon randu yang rindang, beberapa orang ibu paruh baya tampak sedang berkumpul mengerubungi gerobak sayur keliling. Suara gelak tawa dan obrolan bersemangat terdengar bersahut-sahutan, menciptakan suasana pagi yang sangat khas perkampungan.

"Eh, kalian tahu nggak?" seru Bu Rini, seorang ibu berkerudung merah dengan nada suara yang sengaja dilebih-lebihkan. Ia melambaikan tangannya memanggil tetangga sebelah.

"Kemarin pagi kan si Bu Ratna ngomel-ngomel nagih utang ke anak-anak kos nomor empat. Katanya mereka bokek parah, sampai mie instan aja ngutang!"

Bu Siti, yang sedang memegang seikat kangkung, langsung mendekat dengan mata berbinar-binar penuh minat. "Wah, iya? Terus gimana? Emangnya kasurnya beneran diangkut?"

"Nah, itu dia serunya!" lanjut Bu Rini bersemangat, menepuk paha sendiri. "Tadi pagi pas saya ngopi di warung Pak Jaya, Pak Jaya cerita kalau anak-anak kos itu tiba-tiba sudah lunas bayar sewa kosnya! Full sebulan tunai, nggak pakai cicil!"

"Hah? Seriusan?!" Bu Siti ternganga lebar. "Dapat uang dari mana mereka? Bukannya si Raka sama Bayu kerjanya cuma buruh gabah serabutan?"

"Makanya itu! Suami saya bilang, jangan-jangan mereka nemu harta karun di rumah tua pinggir desa itu," sahut Bu Rini dengan nada berbisik-bisik penuh curiga. "Atau... jangan-jangan mereka memelihara sesuatu?"

Tanpa disadari oleh para ibu-ibu tukang gosip itu, Raka, Bayu, Dimas, dan Zahmira kebetulan sedang berjalan melewati jalur yang tidak jauh dari tempat mereka mangkal.

Bayu, yang telinganya cukup tajam menangkap kata-kata 'memelihara sesuatu', langsung menyenggol lengan Raka dengan panik.

"Ka, dengar nggak tuh? Baru juga beberapa jam yang lalu kita lolos dari Bu Ratna, sekarang gosip kita malah sudah jadi bahan perbincangan nasional tingkat RT."

Raka melirik sekilas ke arah gerombolan ibu-ibu tersebut, lalu menghela nafas panjang. "Makanya gue bilang, uang sihir kemarin itu berisiko tinggi. Untung aja mereka cuma nebak-nebak harta karun, belum sampai mikir yang aneh-aneh."

Zahmira, yang mendengar percakapan itu dari belakang, mendengus pelan dengan dagu terangkat. "Manusia fana benar-benar makhluk yang tidak punya pekerjaan lain selain membicarakan urusan orang lain. Di istanaku, siapa pun yang berani bergosip sembarangan di depan bangsawan akan langsung dihukum membersihkan ruang bawah tanah selama sebulan."

"Iya sih, Mbak. Tapi masalahnya di sini kita bukan di istana, kita lagi di kampung orang yang radar gosipnya cepat banget menyebar," balas Bayu meringis.

"Sudah, jangan didengar," lerai Dimas dengan nada datarnya yang tenang. "Yang penting kita fokus cari warung makan buat ngisi perut. Dari tadi jalan kaki keliling pasar bikin tenaga gue terkuras habis."

Raka mengangguk setuju. Ia melirik jam tangan plastiknya. Pukul sebelas lewat sedikit. Perut mereka bertiga memang sudah mulai keroncongan sejak tadi akibat berjalan kaki cukup jauh di bawah terik matahari.

"Gimana kalau kita mampir sebentar ke warung soto Mbok Darmi di ujung jalan itu?" usul Raka menunjuk sebuah warung kecil berkanopi terpal biru tua yang tampak bersih dan teduh. "Harganya ramah di kantong, porsinya pas buat anak kos."

"Setuju banget! Perut saya udah demo minta diisi kuah hangat," seru Bayu antusias, langsung mempercepat langkahnya menuju warung tersebut.

Warung soto Mbok Darmi tampak cukup ramai siang itu. Beberapa buruh panggul pasar dan sopir angkutan umum terlihat sedang menikmati semangkuk soto ayam berkuah kuning mengepul dengan taburan bawang goreng yang harum.

Raka, Bayu, dan Dimas memilih meja panjang di sudut pojok ruangan yang agak sepi agar mereka bisa leluasa mengobrol tanpa terlalu menarik perhatian orang lain. Zahmira memilih berdiri di sebelah bangku kayu Raka, menolak duduk di kursi plastik murahan yang menurutnya tidak layak untuk seorang putri bangsawan.

"Pesen tiga mangkuk soto ayam ya, Mbok! Sama es teh manisnya tiga!" pesan Bayu kepada Mbok Darmi seorang wanita paruh baya berambut kelabu yang ramah dengan senyum mengembang.

"Siap, mas ganteng! Ditunggu sebentar ya, kuahnya lagi dipanasin biar makin sedap," jawab Mbok Darmi ramah sebelum kembali sibuk meracik pesanan di dekat meja panci besar.

Sambil menunggu pesanan datang, Zahmira mengedarkan pandangannya ke sekeliling warung. Matanya berhenti pada mangkuk-mangkuk keramik bermotif ayam jago yang berjajar di atas meja saji.

Bagi Zahmira, peralatan makan sederhana itu tampak sangat primitif dibandingkan piring perak bertatahkan permata yang biasa ia gunakan di istana.

"Kalian benar-benar makan menggunakan wadah bergambar unggas aneh itu setiap hari?" tanya Zahmira dengan nada heran yang kentara.

"Unggas aneh gimana, Mbak? Itu namanya mangkok legendaris sejuta umat," sahut Bayu membela.

"Mangkok ayam jago itu punya nilai estetika tersendiri buat anak kos. Kalau dipakai makan mie instan rasanya naik level jadi masakan restoran bintang lima."

Zahmira memutar bola matanya malas. "Alasan yang sangat konyol untuk menutupi kemiskinan."

Sebelum Bayu sempat membalas ucapan Zahmira, Mbok Darmi datang membawa nampan berisi tiga mangkuk soto ayam yang masih mengepulkan uap panas beserta aroma rempah serai dan kunyit yang sangat menggugah selera. Mbok Darmi meletakkan mangkok-mangkok itu dengan hati-hati di atas meja plastik.

"Silahkan dinikmati, Mas. Soto ayam spesial kuah bening resep turun-temurun," kata Mbok Darmi tersenyum ramah kepada Raka, Bayu, dan Dimas.

"Makasih banyak, Mbok!" balas Raka sopan.

Begitu aroma soto ayam itu menyebar di udara meja mereka, Zahmira yang sejak tadi berdiri kaku tiba-tiba terdiam. Ia tidak berkata apa-apa, namun hidungnya tampak mengendus pelan beberapa kali. Aroma kaldu ayam asli yang berpadu dengan irisan seledri, jeruk nipis, dan bawang goreng ternyata memberikan sensasi penciuman yang jauh berbeda dan jauh lebih menggoda daripada pisang goreng semalam.

Bayu, yang paling peka dengan gerak-gerik sang putri jin, langsung tersenyum penuh selidik. Ia mengambil botol kecap manis di atas meja, menuangkannya sedikit ke dalam mangkok sotonya, lalu sengaja mengaduk kuahnya pelan-pelan agar suaranya terdengar jelas.

"Wah... kuahnya gurih banget, daging ayamnya empuk, ditambah perasan jeruk nipis..." puji Bayu dengan nada yang sengaja dilebih-lebihkan, melirik ke arah Zahmira dari ekor matanya.

"Sayang banget ya, Mbak Zahmira cuma bisa jadi penonton setia lagi hari ini. Padahal soto buatan Mbok Darmi ini juara se-Kecamatan Kertajaya."

Zahmira mendelik tajam ke arah Bayu. Wajah cantiknya merengut sebal, namun sorot matanya tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran yang mulai mendesak dada.

"Jangan mencoba memancingku, manusia usil! Aku tidak tertarik dengan makanan berkuah keruh itu."

"Siapa juga yang manggil, Mbak? Saya kan cuma muji masakan Mbok Darmi," dalih Bayu cengengesan, lalu mulai menyuap sesendok besar soto ke dalam mulutnya dengan ekspresi kenikmatan yang luar biasa. "Hmm... mantap!"

Dimas dan Raka hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan Bayu yang hobi sekali mencari gara-gara dengan makhluk gaib penunggu kamar mereka. Di tengah suasana meja yang diwarnai candaan usil Bayu dan tawa tertahan dari Dimas, suasana di luar warung tiba-tiba mendadak berubah riuh.

Suara sirene ambulans yang meraung-raung nyaring melintas kencang di jalan raya depan warung, disusul oleh teriakan beberapa orang warga yang berlari panik ke arah barat pasar.

"Ada apa itu?" gumam Raka heran, menghentikan sendoknya di udara.

Seorang pria paruh baya yang duduk di meja sebelah melongokkan kepalanya ke luar jalan. "Katanya ada pohon besar di dekat balai desa yang tiba-tiba tumbang melintang di jalan! Padahal cuaca lagi cerah banget, nggak ada angin nggak ada hujan!"

Mendengar berita tersebut, Raka, Bayu, dan Dimas saling berpandangan dengan kening berkerut. Di sudut ruangan, Zahmira yang sejak tadi asyik menahan gengsi mendadak tertegun. Alisnya berkedut pelan, sementara sorot matanya menatap ke arah luar jendela dengan kilatan heran yang disembunyikan rapat-rapat.

1
falea sezi
lanjut🤣 q kirim bunga
Putri Pinrang: Baik terimah kasih sudah koment😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!