Luo Chen tidak punya air mata untuk ditangisi saat ibunya meninggal; ia hanya punya ingatan sempurna yang merekam setiap detail wajah pembunuhnya. Berbekal satu foto tua, ia menyusup ke sarang Shen Mo, penguasa mafia paling ditakuti di Yucheng. Alih-alih dibunuh sebagai penyusup, kecerdasan brilian Chen justru memukau sang raja mafia. Bersama-sama, mereka membentuk aliansi maut melawan sindikat pengkhianat yang haus darah. Tanpa kekuatan fisik, Chen menjadi otak di balik setiap langkah balas dendam, membuktikan bahwa musuh paling berbahaya di dunia bukan lah orang yang memegang senjata, melainkan anak kecil yang tahu seluruh rahasia gelapmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: DERMAGA RAHASIA
Desau angin malam yang dingin menyusup masuk melalui celah-celah reruntuhan beton di sektor bawah tanah The Crown Tower, membawa aroma karat dan mesiu yang menusuk hidung. Di tengah gulita yang pekat, pendar lampu darurat merah berkedip lemah, menyoroti dinding-dinding yang retak akibat ledakan hebat sesaat sebelumnya.
Shen Mo berdiri tegak dengan napas menderu berat; tubuh tegapnya menutupi jalur pelarian sementara tangan kanannya yang terluka masih menggenggam erat gagang senjata. Rasa sakit di pergelangan tangannya diabaikan sepenuhnya demi memastikan keselamatan bocah yang berada di belakangnya. Di dekat reruntuhan tumpukan kabel server, Luo Chen berlutut di atas lantai semen yang dingin; jemari kecilnya bergerak lincah di atas layar tablet portabel untuk melacak pergerakan musuh yang mulai mendekat dari koridor utama dengan kecepatan tinggi.
Suara derap sepatu bot militer yang terorganisir menggema mantap di kejauhan, semakin mendekati posisi mereka tanpa ampun di malam yang kelam. Vane yang baru saja dilumpuhkan di ruang server kini terkapar bersimbah darah di sudut ruangan, mengerang kesakitan sambil menatap tajam ke arah Shen Mo dan Chen dengan penuh kebencian.
Namun, ancaman terbesar mereka saat ini bukanlah lagi Vane yang sekarat, melainkan unit pasukan elit pembunuh bayaran bayangan yang dikirim oleh dalang utama di balik konspirasi internal organisasi.
"Mereka menggunakan frekuensi pelacak termal baru," bisik Chen tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet; suaranya tenang namun menyiratkan ketegangan luar biasa yang merayap di balik manik mata jernihnya. "Jalur evakuasi utama di sektor timur sudah diblokade total oleh faksi konservatif."
Shen Mo melangkah mundur perlahan, mendekati posisi bocah tersebut, lalu berjongkok sejajar untuk menyamakan pandangan mereka di bawah pendar merah lampu darurat. Tatapan mata hitam sang raja mafia menatap lekat ke dalam mata Chen, membaca sisa-sisa kelelahan di balik kecerdasan luar biasa yang dimiliki anak itu.
Hubungan yang terjalin di antara mereka telah melewati batas sekadar pelindung dan buronan; ia telah menjelma menjadi sosok ayah pelindung bagi anak yang kehilangan segalanya di dunia hitam.
"Dengar, Chen," ucap Shen Mo rendah namun sarat akan keyakinan mutlak yang tidak tergoyahkan. "Apa pun yang terjadi saat kita membuka pintu terowongan itu, tetaplah berada di belakangku. Aku tidak akan membiarkan satu goresan pun menyentuhmu."
Chen mengangguk pelan satu kali—sebuah gestur kepercayaan mutlak yang dibalas oleh sang raja mafia dengan genggaman tangan yang meyakinkan.
Tanpa membuang waktu berharga, Shen Mo menendang pelat besi penutup lantai terowongan pemeliharaan hingga terbuka lebar, memunculkan lubang gelap gulita yang berbau lembap. Suara hantaman senjata di pintu masuk ruang server semakin keras terdengar, menandakan bahwa pasukan elit musuh sudah berada tepat di ambang pintu ruangan.
Shen Mo mengangkat senjatanya tinggi-tinggi, melepaskan rentetan tembakan pengalih perhatian ke arah langit-langit ruangan untuk menjatuhkan reruntuhan semen guna menahan laju pengejaran.
"Masuklah duluan, Chen!" perintah Shen Mo tegas.
Bocah tujuh tahun itu tidak membantah; ia melompat masuk ke dalam lubang terowongan dengan gesit, sementara Shen Mo menyusul tepat di belakangnya sambil menarik pelat besi penutup dan menguncinya rapat-rapat dari dalam sebelum musuh sempat menerobos masuk ke dalam lorong.
Mereka merayap cepat dalam kegelapan total, hanya mengandalkan ingatan spasial dan cahaya redup dari layar tablet Chen untuk menavigasi labirin pipa pemeliharaan yang sempit. Suara benturan keras dan tembakan teredam masih terdengar dari lantai atas, membuktikan betapa tipisnya selisih waktu pelarian mereka malam ini.
"Kita hampir sampai di ujung terowongan," bisik Chen di tengah deru napas mereka yang mulai memburu. "Pintu keluar itu terhubung langsung dengan dermaga rahasia di tepi sungai kota, tempat kapal penyelundup kita seharusnya menunggu dengan mesin menyala."
Namun, saat cahaya putih samar dari ujung terowongan mulai terlihat, langkah kaki mereka mendadak terhenti kaku seketika. Di hadapan gerbang besi keluar yang terbuka sedikit, berdiri sesosok bayangan pria tinggi dengan mantel panjang yang berkibar pelan, berdiri membelakangi mereka sambil memegang sebatang rokok menyala.
Asap tipis mengepul di udara malam yang dingin, menciptakan atmosfer yang jauh lebih mematikan daripada seluruh pasukan pembunuh bayaran yang baru saja mereka tinggalkan di belakang.
Pria misterius itu perlahan membalikkan badannya, menatap tajam ke arah Shen Mo dan Chen dengan senyuman sinis yang terukir jelas di wajahnya—sebuah pengungkapan identitas yang membuat darah sang raja mafia mendesir hebat karena mengenali sosok di hadapan mereka.
Sosok yang berdiri di balik bayangan dermaga rahasia itu bukanlah anak buah sembarangan. Di bawah terpaan cahaya bulan sabit yang pucat, wajah pria paruh baya tersebut tampak sangat familier di dalam ingatan Shen Mo—seorang petinggi senior The Crown Tower yang selama ini dianggap telah gugur dalam pertempuran berdarah sepuluh tahun lalu.
Shen Mo mengerutkan keningnya dalam-dalam; rahangnya mengeras hebat seiring dengan ingatan masa lalu yang mendadak berhamburan kembali ke permukaan.
"Kau..." geram Shen Mo tertahan; suaranya mengandung amarah dan keterkejutan luar biasa yang belum pernah diperlihatkan sebelumnya kepada siapa pun.
Pria berjas panjang itu mengisap rokoknya perlahan, lalu menghembuskan asap abu-abu ke udara malam sambil tersenyum tipis tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Terkejut melihatku masih hidup, Shen Mo?" suara serak dan berat pria itu menggema di dinding dermaga yang basah oleh air sungai. "Kau terlalu sibuk mengurus organisasi dan melindungi anak ini, hingga kau lupa bahwa musuh terbesar yang sebenarnya tidak pernah benar-benar mati terkubur di bawah tanah."
Luo Chen, yang berdiri tepat di samping Shen Mo, menyipitkan matanya yang tajam sambil mengamati setiap gestur pria asing tersebut dengan kecepatan analisis fotografisnya. Bocah itu menyadari bahwa kehadiran orang ini tidak mungkin terjadi secara kebetulan; ia adalah otak intelektual di balik seluruh kekacauan internal yang hampir merenggut nyawa mereka malam ini.
Suasana di dermaga rahasia mendadak berubah menjadi sangat tegang dan mematikan, seakan-akan embusan angin malam pun berhenti berembus di antara kedua belah pihak yang saling berhadapan dalam jarak kurang dari sepuluh meter.
Shen Mo merapatkan posisi berdirinya di depan Chen, mengokang senjata laras pendeknya dengan jari telunjuk yang siaga di atas pelatuk.
"Apa yang kau inginkan dari anak ini?" tanya Shen Mo dingin, suaranya mengiris keheningan malam dengan ketajaman pisau bedah.
Pria paruh baya itu tertawa kecil—suara tawa yang sarat akan kelicikan dan ambisi kekuasaan yang tak bertepi.
"Aku tidak hanya menginginkan kecerdasan anak itu, Shen Mo. Aku menginginkan seluruh takhta The Crown Tower yang selama ini kau pegang dengan tangan besi."
Pengakuan mengejutkan itu membuat udara di sekitar dermaga terasa semakin menipis. Shen Mo menyadari bahwa konspirasi ini jauh lebih dalam dari perkiraannya; pengkhianatan Vane hanyalah bidak kecil dari permainan besar yang dirancang oleh dalang utama di hadapan mereka.
Sebelum Shen Mo sempat menarik pelatuk senjatanya, puluhan laser merah dari penembak jitu mendadak muncul dari atas atap kontainer dermaga, mengarah tepat ke kepala mereka berdua dari berbagai penjuru tanpa celah pelarian.
Di tengah kepungan maut yang mematikan tersebut, Luo Chen melangkah maju tanpa ragu, berdiri sejajar dengan Shen Mo sambil menyentuh layar tablet di tangannya dengan gerakan jari yang sangat cepat.
"Kau salah perhitungan jika mengira kami datang tanpa persiapan," bisik Chen dingin.
Seketika itu juga, seluruh lampu sorot dermaga padam total akibat perintah siber otomatis yang dikirimkan oleh sang bocah brilian. Suara tembakan membabi buta meledak di tengah gulita, mengawali pertarungan hidup dan mati yang menentukan takdir kerajaan bayangan di malam jahanam ini.