Stella itu berisik, ceria, dan keras kepala. Seluruh sekolah tahu dia cinta mati-matian pada Gibran, sang kapten futsal populer.
Sialnya, Stella selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari Gibran. Namun, di balik bayang-bayang koridor sekolah, ada Lingga. Cowok pendiam, misterius, dan sedingin es yang diam-diam selalu memperhatikan Stella.
Saat Gibran terus mematahkan hati Stella, Lingga hadir membawa kehangatan yang tak terduga. Lewat perhatian-perhatian kecil yang terselubung, Lingga perlahan mengobati luka Stella hingga mereka resmi jadian.
Di saat Lingga dan Stella sedang manis-manis nya sebagai best couple satu sekolah, Gibran justru datang kembali dan berbalik mengejar Stella.
Bisakah Lingga yang dingin tetap mempertahankan kehangatan cintanya untuk Stella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Stella Lingga 16.
Kelas dua belas A mendadak sepi begitu bel tanda istirahat kedua selesai berbunyi.
Di sudut paling belakang dekat jendela, Stella masih bergeming. Di atas mejanya tergeletak selembar kertas memo kecil berwarna biru muda yang permukaannya agak lecek.
Kepalanya terasa agak pening, campur aduk antara sisa rasa sesak di dada dan rasa penasaran yang mendesak. Lima jam lalu, bekal nasi goreng sosis yang ia siapkan sejak jam lima subuh berakhir di tempat sampah koridor barat. Dijatuhkan begitu saja oleh Gibran dengan wajah dingin tanpa beban.
Stella ingat betul bagaimana hatinya serasa dicubit melihat wadah bekalnya terbalik di antara tumpukan tisu kotor.
Namun, misterinya bukan di situ. Saat Stella kembali ke kelas dengan niat melupakan kotak bekal itu, kotak makan itu sudah bersih. Isinya habis tak bersisa. Dan di atas tutup wadah yang ditaruh di atas meja nya, dengan memo ini.
"Masakanmu keasinan, tapi lumayan."
Tulisannya seperti ceker bebek yang khas orang baru belajar nulis—namun rapi tapi terkesan ditulis buru-buru.
"Siapa, sih?" gumam Stella lirih. Matanya menyipit, menelusuri tiap coretan tinta hitam itu.
Jelas ini bukan tulisan Gibran. Tulisan cowok itu mirip cakar ayam yang kelaparan tapi tidak rapi. Stella mengetukkan ujung telunjuknya ke dagu. Ia mulai membuka buku tugas kelompok minggu lalu, membalik halaman demi halaman, membandingkan tulisan tangan teman-teman sekelasnya. Ia benar-benar buntu.
Rasanya aneh ada orang yang rela memungut makanan dari tempat sampah hanya untuk menghargai usahanya—atau mungkin karena orang itu memang tahu betapa hancurnya Stella saat Gibran membuangnya.
Di saat Stella tenggelam dalam barisan aksara, ia tidak sadar ada sepasang mata yang memperhatikannya dari barisan bangku deretan tengah.
Lingga memutar-mutar pulpen gel hitam di sela jarinya. Napasnya berembus pelan, agak lega karena Stella tampaknya tidak menyadari siapa pemilik tulisan di memo itu.
Lingga tahu tindakannya tadi sangat konyol. Memungut kotak bekal dari tempat sampah atas? Cowok waras mana yang melakukannya? Tapi melihat air mata Stella yang luruh di koridor tadi pagi, akal sehat Lingga mendadak menguap.
Lingga menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap punggung Stella yang sedikit membungkuk. Pikirannya perlahan terseret mundur. Jauh ke belakang, menembus waktu dua tahun yang lalu.
**
Kilas Balik
Saat itu, Lingga bukan siapa-siapa di sekolah ini. Dia hanyalah anak baru berwajah pucat yang membawa beban terlalu berat di pundaknya.
Dua tahun lalu adalah titik nadir dalam hidup Lingga. Rumahnya hancur. Ayah dan ibunya memutuskan bercerai dengan drama pertengkaran hebat yang saban malam memecahkan kaca jendela dan piring di dapur. Lingga ingat betul rasanya menjadi orang asing di rumah sendiri, diusir secara tidak langsung oleh ego kedua orang tuanya.
Hari itu hujan turun deras sekali. Tepat di bulan November. Lingga berjalan keluar gerbang sekolah tanpa niat untuk pulang. Untuk apa pulang kalau yang menyambut hanya makian? Dia sengaja membiarkan seragamnya basah kuyup, berharap air hujan bisa menyamarkan air mata yang mati-matian ia tahan sejak jam pelajaran pertama.
Lingga duduk di halte bus yang sepi, menekuk lutut, dan menunduk dalam-dalam. Dunia rasanya begitu gelap dan berisik, sampai-sampai dia berpikir apakah segalanya akan lebih mudah jika dia menghilang saja.
"Eh, pus! Jangan basah-basahan dong, nanti kamu flu kayak manusia!"
Sebuah suara cempreng, sedikit serak namun sarat akan energi, memecah suara gemuruh hujan. Lingga perlahan mendongak.
Beberapa meter dari halte, di dekat tiang listrik, seorang anak perempuan dengan seragam SMP yang basah di bagian pundak sedang berjongkok. Dia memegang sebuah payung lipat berwarna kuning mencolok. Di hadapannya, ada seekor anak kucing jalanan berwarna oranye yang mengeong kelaparan di dalam kardus rusak.
Anak perempuan itu—yang belakangan Lingga ketahui bernama Stella—sedang bertingkah sangat konyol.
Dia memiringkan payung kuningnya sepenuhnya untuk melindungi si kucing, membuat tubuhnya sendiri justru tersiram sisa air hujan dari talang atap.
"Nih, makan biskuit regal. Enak tahu, dicelup air hujan... eh jangan ding, nanti mencret," cerocos Stella, berbicara pada kucing seolah hewan itu mengerti bahasanya.
Dia tertawa, sebuah tawa lepas tanpa beban yang luar biasa nyaring. Wajahnya yang terkena rintik air tampak bersinar, kontras dengan langit sore yang mendung kelabu.
Lingga terpaku. Di tengah dunianya yang terasa runtuh dan hitam putih, tawa perempuan asing itu berputar seperti rol film penuh warna.
Selesai dengan urusan kucing, Stella berdiri. Dia berbalik dan baru menyadari keberadaan Lingga yang duduk membeku di halte. Stella berkedip beberapa kali, menatap seragam Lingga yang basah kuyup dan matanya yang merah.
Tanpa ragu, Stella melangkah mendekat. Langkah kakinya menimbulkan kecipak air yang berisik. Begitu sampai di depan Lingga, tanpa sepatah kata pun, Stella menyodorkan gagang payung kuningnya dengan senyum paling manis yang di sunggingkan.
"Nih, pakai," kata Stella, napasnya agak terengah.
Lingga hanya menatap payung itu, lalu beralih ke wajah Stella. "Gak usah. Rumah gue dekat," bohong Lingga, suaranya serak.
"Boong banget, muka kamu kayak orang mau pingsan gitu," sahut Stella ceria, sama sekali tidak takut pada tatapan dingin Lingga.
Dia mendesakkan gagang payung itu ke tangan Lingga yang gemetar. "Ambil aja. Aku suka main hujan-hujanan kok! Lagian, payung kuning ini punya kekuatan sihir. Kalau kamu pakai, sedihnya bakal luntur bareng air hujan."
Stella tersenyum lebar. Sangat lebar hingga matanya menyipit membentuk bulan sabit. Itu adalah senyuman paling tulus dan paling konyol yang pernah Lingga lihat seumur hidupnya. Setelah itu, Stella berbalik dan berlari menerobos hujan sambil tertawa, meninggalkan Lingga yang mematung dengan payung kuning di genggamannya.
Hari itu, hujan tidak lagi terasa dingin bagi Lingga. Payung kuning dan senyum konyol Stella secara harfiah menyelamatkan nyawanya yang hampir putus asa. Stella tidak tahu, tindakan kecilnya hari itu memberi Lingga alasan untuk bertahan hidup satu hari lagi. Dan satu hari lagi. Sampai hari ini.
"Lingga! Lo dengerin gue gak, sih?"
Suara bisikan tertahan dari Aldo, teman sebangkunya, membuyarkan lamunan Lingga. Lingga mengerjap, kembali ke realitas kelas sebelas yang pengap.
"Apa?" tanya Lingga datar.
"Itu, si Stella dari tadi ngeliatin buku absen mulu. Dia lagi nyari apaan sih? Kesurupan?" Aldo bergidik.
Lingga tidak menjawab. Matanya kembali tertuju pada Stella. Cewek itu sekarang sedang mengacak rambutnya frustrasi, menyerah karena tidak menemukan kecocokan tulisan tangan di buku absen kelas. Stella menghela napas panjang, menyandarkan dagunya di atas meja dengan wajah cemberut yang persis sama seperti saat dia kehabisan biskuit untuk si kucing dua tahun lalu.
Lingga tersenyum tipis, sangat tipis hingga Aldo tidak menyadarinya.
'Gue gak akan membiarkan air mata lo jatuh buat cowok yang gak bisa menghargai lo, Stel,' batin Lingga hangat. 'Biarpun sekarang lo belum tahu siapa gue, setidaknya gue bisa mastiin usaha lo gak pernah sia-sia.'
......................
...****************...
Tbc,