Ayu mengira rumah tangganya baik-baik saja—Bayu tampak suami penyayang dan bertanggung jawab. Namun perlahan ia sadar, penghasilannya selama ini diam-diam menghidupi wanita lain: istri kedua Bayu yang tak pernah ia ketahui keberadaannya. Ketika kebenaran terbongkar, Ayu bukan hanya menghadapi pengkhianatan, tapi juga fitnah dan kekerasan dari orang-orang yang seharusnya ia percaya. Dari titik paling rapuh itu, ia bangkit dan diam-diam menyusun rencana untuk membalikkan keadaan yang selama ini merugikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB DUA PULUH EMPAT
Malam-malam belakangan ini, Bayu sering terjaga lebih lama dari biasanya, meski tubuhnya lelah setelah seharian bekerja. Ia berbaring di samping Ayu yang sudah tertidur pulas, menatap langit-langit kamar sambil pikirannya terus berputar, terjebak di antara dua perasaan yang sama-sama kuat namun saling bertentangan.
Di satu sisi, ia benar-benar ingin memperbaiki rumah tangganya bersama Ayu. Melihat perubahan sikap Ayu yang kini jauh lebih tegas namun tetap memberinya kesempatan, membuat Bayu menyadari betapa besar cinta dan kesabaran yang selama ini dimiliki istrinya, cinta yang, meski sudah ia khianati sedemikian rupa, masih bersedia memberi ruang untuk perbaikan.
Namun di sisi lain, setiap kali ponselnya bergetar dengan pesan dari Wulan—meski kini jauh lebih jarang sejak ia berusaha keras untuk tidak membalas—ada semacam tarikan emosional yang sulit ia abaikan begitu saja. Foto-foto Raka yang dikirimkan Wulan, cerita-cerita kecil tentang perkembangan anak itu, semuanya membangkitkan rasa sayang seorang ayah yang, meski lahir dari kesalahan, tetap terasa nyata dan tulus dalam dirinya.
*Aku ini sebenarnya orang macam apa,* batinnya, sebuah pertanyaan yang semakin sering muncul belakangan ini, terutama di tengah malam ketika kesendirian memberinya terlalu banyak ruang untuk merenung.
---
Suatu siang di kantor, di sela istirahat, Bayu menyempatkan diri menelepon Feri, mencari sedikit ketenangan dari sahabatnya yang selama ini menjadi satu-satunya tempat ia bisa benar-benar jujur tanpa takut dihakimi berlebihan.
"Fer, gue bingung banget," kata Bayu, suaranya terdengar lelah melalui sambungan telepon.
"Bingung kenapa, Bay? Bukannya rumah tangga lo sama Ayu udah mulai membaik?" tanya Feri, sedikit heran mendengar nada suara sahabatnya yang masih terdengar penuh beban.
"Iya, emang membaik. Tapi Wulan masih sering kirim pesan, foto-foto Raka. Gue tau seharusnya gue nggak bales, tapi tiap kali liat foto anak itu, hati gue tuh kayak diremas, Fer," jelas Bayu, mengungkapkan kegelisahan yang selama ini ia coba sembunyikan bahkan dari dirinya sendiri.
Feri terdiam sejenak, mencoba mencerna situasi yang, meski sudah beberapa kali ia dengar dalam berbagai versi, tetap saja terasa rumit setiap kali dibahas kembali. "Bay, gue ngerti perasaan lo sebagai ayah. Tapi inget, keputusan yang udah lo buat sama Ayu itu keputusan yang tepat. Jangan biarin perasaan sesaat ngerusak semuanya lagi."
"Aku tau, Fer. Tapi susah banget rasanya buat benar-benar motong semua perasaan itu," jawab Bayu, jujur mengakui kelemahannya.
"Makanya, Bay, kalo emang niat lo buat tanggung jawab ke Raka, urus itu secara resmi, lewat jalur hukum, bukan lewat komunikasi personal yang bisa bikin lo balik lagi ke pola lama," saran Feri, memberikan pandangan yang cukup masuk akal meski sulit untuk benar-benar dijalankan oleh Bayu yang masih terus bergulat dengan perasaannya sendiri.
---
Sore harinya, sepulang kerja, Bayu memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah, memilih untuk duduk sebentar di sebuah taman kota yang cukup sepi, mencoba menenangkan pikirannya yang terus berkecamuk. Ia membuka kembali chat dengan Wulan, membaca ulang pesan-pesan terakhir yang belum ia balas—foto Raka yang sedang belajar berjalan, cerita tentang anak itu yang mulai bisa mengucapkan beberapa kata sederhana.
Jarinya sempat mengetik beberapa kalimat balasan, namun setiap kali ia hendak menekan tombol kirim, bayangan wajah Ayu—wajah yang penuh kepercayaan baru yang rapuh, wajah yang baru saja mulai kembali tersenyum tulus setelah melalui masa-masa tergelap dalam pernikahan mereka—selalu berhasil menghentikannya di detik-detik terakhir.
Ia menghapus kembali kalimat yang sudah ia ketik, menutup aplikasi pesan itu, mencoba mengalihkan perhatian dengan menatap anak-anak kecil yang bermain riang di taman itu, tawa mereka terdengar begitu polos, mengingatkannya pada Raka yang, meski jauh darinya, tetap tumbuh menjadi anak yang, ia yakin, membutuhkan sosok ayah dalam hidupnya.
*Tapi aku juga butuh Ayu,* batinnya, mencoba menyeimbangkan dua kebutuhan yang, sayangnya, tidak bisa sepenuhnya terpenuhi tanpa mengorbankan salah satunya.
---
Malam itu, sesampainya di rumah, Ayu menyambutnya seperti biasa, kini dengan senyum yang mulai terlihat lebih tulus dibandingkan minggu-minggu awal setelah kejadian besar itu. Melihat kehangatan yang perlahan mulai kembali itu, Bayu merasakan tekad baru untuk benar-benar mempertahankan komitmennya, meski jauh di dalam hati, ia tahu perang batin ini tidak akan selesai dalam waktu singkat.
"Mas, kamu kelihatan capek banget. Kerjaan lagi berat ya?" tanya Ayu, membantu melepas jaket kerja Bayu dengan penuh perhatian.
"Iya, Yu. Lumayan," jawab Bayu, singkat, tidak ingin membebani Ayu dengan pergulatan batin yang sebenarnya jauh lebih berat dari sekadar tekanan pekerjaan.
"Istirahat dulu, ya. Aku udah masak makanan kesukaan kamu," kata Ayu, tersenyum hangat, sebuah kehangatan yang, meski Bayu tahu ia tidak sepenuhnya pantas menerimanya setelah semua kebohongan yang telah ia lakukan, tetap menjadi satu-satunya hal yang membuatnya merasa memiliki alasan kuat untuk terus berjuang memperbaiki dirinya sendiri.
Malam itu, setelah makan malam, Bayu duduk sendirian sebentar di teras belakang rumah, menatap langit malam yang sama seperti biasa, namun kali ini dengan tekad yang, ia harap, cukup kuat untuk membawanya melewati godaan-godaan yang, ia tahu, akan terus datang dari Wulan yang belum sepenuhnya menyerah untuk mendapatkan kembali posisinya dalam hidupnya.
Ia mengambil ponselnya, membuka kembali chat dengan Wulan, kali ini dengan keputusan yang sudah bulat. *Lan, tolong jangan kirim foto atau cerita Raka lagi ke aku secara langsung. Kalau ada kebutuhan penting soal dia, komunikasi lewat jalur resmi aja, biar semuanya jelas dan nggak ada yang dirugikan. Aku minta maaf, tapi ini demi kebaikan semua pihak,* tulisnya, sebuah pesan yang terasa berat untuk dikirimkan, namun ia yakini sebagai langkah penting untuk benar-benar mengakhiri babak lama dalam hidupnya.
Pesan itu terkirim, namun Bayu tidak tahu, bahwa keputusan tegasnya malam itu justru akan memicu reaksi yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan dari pihak Wulan, yang kini merasa satu-satunya jalan untuk mempertahankan posisinya benar-benar mulai tertutup rapat.
---