Arabelle Vasillo kabur dari rumah demi membuktikan bahwa dirinya bisa hidup mandiri tanpa bantuan keluarga. Dengan waktu satu tahun sebagai taruhan, ia membuka warung sarapan sederhana dan berusaha menjalani hidup biasa.
Namun, hidup tenangnya berakhir saat tanpa sengaja memecahkan kaca mobil Nathan Pradipta Anderson, seorang duda kaya dan berpengaruh yang memiliki tiga anak super nakal, Elang, Theo, dan Alya.
Dari satu kesalahan kecil, Arabelle justru terjebak dalam kehidupan keluarga Anderson yang penuh kekacauan, rahasia, dan konflik. Bisakah Arabelle bertahan menghadapi duda dingin dan tiga anak nakalnya, atau justru mereka akan mengubah hidupnya selamanya?
"Menikah denganku dan jadi ibu tiri dari ketiga anakku, maka hutangmu ku anggap lunas,"
Arabelle, hanya tersenyum menanggapi ucapan Nathan, tetapi Arabelle justru tak punya pilihan lain, semenjak hidup mandiri semua kartunya dan fasilitasnya telah dia serahkan pada keluarganya.
"Oke, deal! Setahun tidak lebih!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Sore itu, sebuah taksi berhenti di depan kediaman Anderson.
Ara turun sambil membawa tas selempangnya. Setelah membayar ongkos, ia melangkah masuk ke dalam rumah dengan santai. Namun, baru beberapa langkah memasuki ruang tamu, langkahnya terhenti.
Theo sedang duduk di sofa. Kedua tangannya terlipat di dada, sementara tatapannya mengarah lurus ke Ara dengan sorot sinis.
Sejak menerima foto dari Alya, Theo semakin yakin kalau ibu tirinya diam-diam mengkhianati ayahnya. Dalam benaknya, Ara sudah tertangkap basah.
Ara yang tidak tahu apa-apa justru tersenyum santai. "Sore, Theo." Sapa Ara.
Theo tidak menjawab, bahkan tidak menoleh.
Ara mengangkat sebelah alis. "Halo?"
Masih diam.
"Budek ya? Orang nyapa kok dicuekin."
Theo mendengus pelan. Ia berdiri dari sofa lalu langsung berjalan menuju tangga tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Ara memperhatikan punggung anak tirinya itu hingga menghilang ke lantai atas.
"Aneh." Gumamnya. "Biasanya paling ribut kalau lihat aku."
Perasaannya mengatakan Theo sedang menyembunyikan sesuatu. Namun, sebelum memikirkan hal itu lebih jauh, Ara menoleh ke arah salah satu pelayan yang sedang lewat.
"Alya sudah pulang?"
Pelayan itu menggeleng. "Belum, Nyonya."
Kening Ara langsung berkerut. "Belum?"
"Iya."
"Biasanya pulang jam berapa?"
Pelayan itu tampak berpikir sejenak. "Nona muda biasanya pulang sekitar jam enam sore."
Ara mengangguk pelan.
"Kadang juga jam delapan malam."
"Jam delapan?" Ulang Ara.
Pelayan itu mengangguk lagi.
Mendengar jawaban itu, wajah Ara langsung berubah tidak senang. Nathan menitipkan anak-anaknya selama berada di Bali. Meski sering bertengkar dengan mereka, Ara tetap merasa bertanggung jawab.
Terlebih Alya masih SMP. Pulang malam seperti itu jelas membuatnya khawatir.
"Kalau Elang?" Tanya Ara lagi.
"Tuan muda biasanya tiba sekitar jam em—"
Pintu depan tiba-tiba terbuka. Ucapan pelayan langsung terpotong. Semua orang menoleh. Elang baru saja masuk ke dalam rumah dengan tas laptop di bahunya.
Wajah pemuda itu semula terlihat jauh lebih cerah dibanding biasanya. Bahkan, ada senyum tipis yang belum sempat hilang dari bibirnya. Hari ini bimbingan skripsinya berjalan sangat baik. Namun, begitu matanya bertemu Ara, senyum itu langsung lenyap.
Ara yang melihat perubahan ekspresi itu hampir tertawa.
"Sore, Elang." Sapanya santai.
Elang mengangguk singkat. "Sore." Nada suaranya kembali dingin.
Padahal, sebenarnya ia ingin memberitahu hasil bimbingannya. Hanya saja gengsinya terlalu tinggi untuk mengakui bahwa revisi dari Ara sangat membantu. Sementara itu Ara juga ingin bertanya bagaimana hasil bimbingan skripsinya. Sayangnya pikirannya sedang dipenuhi Alya, dan anak itu belum pulang. Dan entah kenapa perasaannya mulai tidak tenang.
Ara kembali menoleh ke arah pelayan. "Kalau Alya pulang, langsung hubungi saya."
Ia mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan nomor teleponnya.
"Nih, catat nomor saya."
Pelayan itu buru-buru mengeluarkan ponselnya dan menyimpan nomor tersebut.
"Baik, Nyonya."
Ara mengangguk. "Oke."
Lalu ia mengambil tasnya lagi dan berbalik menuju pintu.
"Saya pergi sebentar."
Kening Elang langsung berkerut. "Pergi?"
"Iya."
"Mau ke mana?"
Ara sudah berjalan beberapa langkah. "Ada urusan mendesak." Jawabnya singkat.
Elang semakin bingung. Biasanya wanita itu suka mengatur semua orang di rumah. Sekarang malah mau pergi lagi.
Namun, sebelum sempat bertanya lebih jauh, Ara sudah sampai di depan pintu. Dalam pikirannya hanya ada satu kemungkinan. Jangan-jangan Alya sedang bersama pacar mokondonya lagi. Karena itulah Ara sengaja tidak menjelaskan apa pun kepada Elang. Kalau dugaannya benar, Elang pasti langsung mengamuk dan mencari anak itu ke seluruh kota.
Pintu depan tertutup pelan setelah Ara meninggalkan rumah. Elang masih berdiri di ruang tamu dengan kening berkerut. Entah kenapa, tingkah wanita itu sejak tadi terasa aneh. Biasanya Ara selalu ingin tahu semua yang terjadi di rumah.
Sekarang justru pergi terburu-buru tanpa menjelaskan apa pun. Saat Elang masih berpikir, suara Theo tiba-tiba terdengar dari lantai dua.
"Dia pergi lagi?"
Elang mendongak. Theo sedang berdiri di balik pembatas lantai dua sambil menatap ke arah pintu depan yang baru saja tertutup.
"Siapa?" Tanya Elang.
"Itu." Theo mendecak. "Ibu tiri."
Elang mengangguk pelan. "Oh."
Theo lalu melipat kedua tangannya di dada. Wajahnya penuh kecurigaan. "Pasti pergi menemui pacarnya lagi." Gerutunya.
Elang langsung mengerutkan kening. "Pacar?"
Namun Theo sudah keburu berbalik. "Hmph."
Tanpa menjelaskan apa pun, pemuda itu kembali berjalan menuju kamarnya.
Pintu kamarnya tertutup keras. Elang masih berdiri di tempatnya. Beberapa detik kemudian Elang menghela napas panjang. Daripada memikirkan hal yang tidak jelas, lebih baik ia fokus pada hal yang lebih penting.
Sampai sekarang ia masih tidak percaya dosennya memuji pekerjaannya tadi siang. Pemuda itu lalu berjalan menuju ruang keluarga. Saat melewati salah satu pelayan, ia menghentikan langkahnya.
"Siapkan jus."
Pelayan itu langsung membungkuk. "Baik, Tuan muda."
"Dan cemilan."
"Baik."
"Bawa ke ruang keluarga."
Pelayan itu mengangguk cepat. "Segera, Tuan muda."
Elang lalu masuk ke ruang keluarga dan menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Kepalanya bersandar pada sandaran sofa sambil menatap langit-langit. Setelah berbulan-bulan, beban di pikirannya terasa sedikit berkurang.
Meskipun ia tidak akan pernah mengakuinya dengan lantang, bantuan Ara memang sangat berguna. Namun, detik berikutnya wajah Ara kembali terlintas di benaknya.
Wanita itu pergi terburu-buru. Theo mengatakan sesuatu tentang pacar. Dan sekarang Elang mulai merasa ada sesuatu yang tidak diketahuinya.
"Pacar apaan sih?" Gumamnya pelan.
Sayangnya, tidak ada seorang pun yang bisa menjawab pertanyaan itu. Karena saat ini, Theo sedang sibuk menyusun teori perselingkuhan di dalam kamarnya. Sementara Ara justru sedang berkeliling kota dengan taksi mencari Alya yang belum pulang ke rumah.
Dr bab pertama ngakak mulu bacanya 🤣🤣🤣