" PLAAKK " Ester memegang pipinya yang terasa sakit karena tamparan dari seseorang yang ia sebut sebagai ibunya. " Anak tidak tahu diri, kau mirip dengan ibumu, wanita murahan " . " Setidaknya ibuku mendapatkan kasih sayang dari ayahku " Ucap Aster. . " Berani kau mengeluarkan suara lagi aku tidak segan-segan mengambil semua jatah bulananmu " Teriak Maria keras. Tetapi Ester tak perduli dengan apa yang diucapkan oleh wanita paruh baya itu. . Ester Castello putri dari Amir Castello dengan istri keduanya, ibu Ester awalnya selingkuhan dari ayahnya karena sedang hamil terpaksa harus menikah dan menjadi istri kedua ayahnya. Tentu hidupnya benar-benar seperti dalam neraka setelah kematian ibunya, karena sudah tidak ada lagi yang melindunginya dari kekejaman istri pertama ayahnya. Takdir mempertemukan dirinya dengan seorang pewaris dari keluarga Moretti, hingga membuat dirinya bisa melihat dunia yang selama ini belum pernah ia lihat sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mylavender, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana
Ester gembira sekali saat didepannya ada beberapa gaun pakaian yang baru saja datang. Dengan cepat ia mengamankan baju pilihannya.
Ester memang lebih sering memakai dress ala-ala putri, entah menjuntai panjang se kaki atau pendek selutut. Dengan segera ia langsung membawa pakaiannya ke kamarnya dan mulai menata.
Hingga tatapan Ester mengarah pada sesuatu yang ia sembunyikan, catatan kecil…
“ Semua orang telah tiada “ gumam Ester.
Ia tak menyangka jika dirinya akan berada di mansion orang asing, bahkan keluarga Moretti yang begitu berkuasa.
Ia memejamkan matanya, ada plus minusnya mengenai kejadian ini, pertama ia bisa terbebas dari perilaku Maria dan Monika yang selalu menganiayai dirinya, tetapi ia menjadi kehilangan orang yang ia sayangi yaitu Ely.
Ester mengusap air matanya yang luruh ke pipinya, sekarang dirinya sendiri tidak tahu bagaimana nasib kedepannya.
“ Apa yang harus aku lakukan “ gumam Ester.
Hingga terdengar suara mobil yang memasuki pelataran mansion, Ester mengintip dari balik jendela.
Hingga bola matanya membulat sempurna saat ia melihat Monika yang keluar mobil dengan seorang wanita paruh baya.
Ester menegang.
“ Dia masih hidup.., dia juga berada di keluarga ini “ gumamnya
Ester mondar-mandir didalam kamar, ia tahu sudah pasti jika Monika bertujuan untuk mengambil hati seorang pewaris dari keluarga Moretti.
“ Dia pasti sedang berusaha “ gumam Ester,
Tangannya mulai bergetar, entah bagaimana nasibnya karena Monika berada satu langkah didepannya.
“ Dia mengambil hati orang tua Mr Moretti, bisa di pastikan jika dirinya sangat ingin dijodohkan dengan sang pewaris “ gumam Ester.
“ Jika begini… lalu aku bagaimana? “ Ester bimbang dengan dirinya sendiri, ia mengingat dengan jelas ucapan Ely bahwa nasib dirinya tentu hanya dirinya sendirilah yang bisa menentukan.
Ester memejamkan matanya, ia harus berpikir dengan baik… Ia ingat.. jika dirinya ingin tahu siapa di balik dalang penyebab kejadian di mansion keluarganya sampai-sampai Ely menjadi korban.
“ Jika Monika mengambil hati orang tua Tuan, maka aku akan mengambil hati Tuannya sendiri. Yang bisa melawan dan menolak keinginan orang tua hanyalah anaknya sendiri “ gumam Ester.
“ Yaaa.. aku harus merebut Tommy darinya, kita akan bersaing Monika “ ucap Ester dengan mantap.
Ester berjalan dan melihat ke arah cermin. Tatapan Ester pada cermin didepannya, ia sadar jika penampilannya berantakan terus. Ia lupa mengurus diri sendiri.
Hingga Ester memutuskan untuk mandi dan mulai merawat dirinya. Ia memilih pakaian yang begitu membuat dirinya sangat cantik, ia harus bisa membuat Tommy Moretti melirik ke arahnya.
Ia memutuskan memakai dress selutut berwarna biru pastel, lalu ia biarkan menggerai rambutnya yang panjang dan mengeringkannya dengan sangat indah.
Disisi lain, Liana berjalan dan melihat ke arah putranya yang sedang berdiri berbicara dengan beberapa anak buah.
“ Son “ panggil Liana.
Tommy melirik dan kaget karena ibunya datang tanpa izin.
“ Kenapa tidak memberitahu jika ingin ke sini “ Tommy menatap tajam.
Liana menatap putranya.
“ Karena Momm mengajak orang spesial “ senyum Liana menunjuk ke arah Monika.
“ Mr Tommy Moretti.. terimakasih karena telah menolongku “ ucap Monika.
“ Aku tidak menolongmu. Kau datang sendiri “
Ucapan Tommy tentu membuat Monika malu, dan pelayan yang ada disana saja ingin tertawa saat mendengar hal itu.
“ Tapi tetap saja karena aku diberi kesempatan untuk tinggal bersama keluarga anda “
“ Itu karena Ibuku yang menampungmu “ sarkas Tommy
Monika mengepalkan tangannya dengan kuat, karena sosok Tommy masih saja ketus dan dingin padanya, padahal ia sudah berusaha untuk tampil istimewa saat ini.
“ Sonn… jaga sikapmu, dia sudah mengalami hal yang buruk di keluarganya, dia sedang bersedih karena kehilangan orang tuanya “ ucap Liana.
“ Lalu? “
“ Hufftt Son, Momm ingin kamu baik dengannya dan dekat dengan Monika, aku rasa dia adalah wanita yang berbudi dan memiliki background pendidikan yang bagus, jadi cocok saja denganmu “
“ Aku tidak ingin menikah “
“ Son “
Monika kaget akan hal itu.
“ Menikah itu merepotkan, seperti Dadd kerepotan dengan permintaan Momm “
“ Itu cinta sayang, jika kau sudah mencintai seseorang.. maka apapun yang kau lakukan tidak akan menjadi beban untukmu “
“ Aku sibuk… “ bohong Tommy.
“ Kamu adalah pria terstruktur. Pukul menjelang malam seperti ini Momm tahu jika dirimu sedang santai “
“ Aku ingin istirahat “
“ Makan bersama dulu “ ucap Liana.
Liana menarik tangan putranya menuju meja makan, lalu Monika disuruh duduk di samping Tommy.
Monika saja kagum dengan kemewahan mansion keluarga Moretti. Benar-benar Mansion keluarganya dulu tidak ada apa-apanya.
Tommy makan dalam diam tanpa ada pembicaraan sama sekali.
“ Besok temani Monika untuk belanja, dia butuh keperluan pribadi “
“ Aku bukan pengawal “ tangan Tommy mencengkram gelas dengan kuat.
“ Tomm… “
PYAARRRR
Tommy melepar gelas yang berisi air putih.
“ Siapa yang berani memerintahku? “
Monika takut ketika melihat kemarahan Tommy.
“ Aunty.. tidak perlu, aku bisa beli sendiri saja “ cicit Monika ketakutan.
“Kau harus sadar diri! Di rumah ini, kau hanyalah tamu yang tak diundang. Mimpimu? Terlalu besar untuk keluarga sekelas kami!” Kata-kata Tommy meluncur bak pisau berujung racun, menusuk dalam sampai Monika terdiam, seolah semua udara di sekitarnya menghilang.
Dadanya sesak, mata mulai membasah tanpa mampu ia tahan lagi. Tangis itu tak keluar, tapi perihnya meradang, menuntut luapan yang sulit dipendam lebih lama. Monika tahu, hari itu mimpi dan harapannya diluluhlantahkkan tanpa ampun di hadapan kenyataan yang kejam. Rasa malu sangat terlihat.. semua orang seperti tampak begitu menertawakan Monika.
“ Tommy.. Momm tidak suka kamu bicara kasar pada Monika “ Liana menatap putranya.
Tommy tak menjawab dan meninggalkan mereka begitu saja.
Monika menunduk, air matanya mengalir tanpa suara. Liana segera berdiri, langkahnya pasti mendekat ke sisi Monika.
“Maafkan putra Momm... Bersabarlah, ya,” suaranya lembut tapi penuh tekad.
“ Momm janji akan membantumu agar Tommy bisa menerima kamu. Jangan pernah menyerah.” Hati Liana terbakar harap, berharap bisa menenangkan badai yang bergemuruh dalam diri Monika akibat ulah putranya itu.
Hingga Monika dan Liana kembali pulang ke kediaman Moretti, saat mobil telah pergi… Ester bangkit dari duduknya, ia berjalan pelan keluar dari kamar, dengan sengaja kakinya melangkah dari pintu samping ke arah jalan setapak taman. Ia berjalan pelan di bawah sinar rembulan.
Siapa sangka sosok pria yang sedang duduk dikursi taman dengan menghisap rokoknya kaget saat melihat siluet wanita yang begitu cantik.
Tatapannya menyipit ketika melihat kulit Ester yang bercahaya di bawah sinar rembulan.
Langkah kaki Tommy perlahan mendekat pada wanita yang sedang berdiri diam menatap bunga.
“ Apa yang kau lakukan? “ suara Tommy mengalun membuat Ester langsung menoleh kebelakang.
“ Tuan.., “
Ester langsung menunduk.
“ Aku sedang kesepian.. “ lirih Ester menatap ke arah bunga lagi.
“ Bagaimana hidupmu berlangsung selama ini? “
“ Tidak ada yang indah, jadi tidak ada bahan untuk diceritakan “ jawab Ester terdengar sendu.
“ Aku tidak suka wanita cengeng “
Ester terdiam.
Ester berbalik lagi dan ketika akan melangkah tiba-tiba kakinya tak seimbang hingga ia ingin jatuh,
SRETT
Dengan sigap, tangan Tommy mencekal pinggang Ester, memaksanya saling dekat. Tatapan mereka terkunci di bawah sorot rembulan yang dingin, seolah malam itu sendiri menjadi saksi bisu dari ketegangan yang menggunung di antara mereka. Hati Ester berdebar keras, udara terasa semakin berat, sementara matanya mencari-cari jawaban di kedalaman mata Tommy yang tak kalah penuh gejolak sedang menatap dirinya.
Moga sukses selalu ya Thor 🫶