Pada satu malam ... seorang pria merenggut kehormatannya, hingga menanamkan benih dalam rahimnya.
Lima tahun kemudian ... the twins hadir dikehidupannya. Selama itu tidak ada yang pernah tahu siapa ayah biologisnya, hingga the twins Semi & Arsyad mencari ayah mereka.
Dan di satu waktu Kedua orangtua mereka dipertemukan.
Akankah mereka saling mengenali?
Apa usaha Semi & Arsyad berhasil?
subscribe karya ini untuk ikuti cerita lanjutannya. Jangan jadi pembaca bisu ya, harus like, komen dan vote.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semi & Arsyad
"Mama ...."
Panggilan anak itu hampir tidak pernah Zahra pedulikan. Bagi Zahra, dia hanya anak pembawa sial, jika melihat wajahnya membuatnya teringat laki-laki brengsek itu. Namun, walau begitu Semi tidak pernah membenci ibunya, dia terus berusaha agar dipandang sang ibu. Disayang seperti anak yang lain.
"Mama, Mama ... gendong."
Untuk pertama kalinya Semi fasih bicara, gadis kecil itu selalu meminta digendong, dan dipeluk ibunya. Tapi selama dua tahun ini Zahra hanya menatap tanpa berniat memeluk apalagi menggendong putrinya. Masa lalu yang menyakitkan membuat jiwanya trauma, selama itu pula hidup Zahra bagaikan mayat hidup.
Ia hidup tapi jiwanya tidak, Zahra selalu takut untuk bertemu orang, melihat dunia luar dan mendengar ocehan tetangga.
Tapi, keberadaannya di dalam pondok pesantren membuat hati Zahra perlahan luluh, ayat suci Al-Qur'an yang selalu didengar menghancurkan hatinya yang keras hingga lambat laun ia bisa menerima anaknya.
"Assalamualaikum Mama, Nini, Aki!" teriak Semi yang begitu imut. Gadis kecil itu sudah berusia 4 tahun, dia berjalan memasuki rumah sambil membawa tas kecilnya berisi kitab Iqra.
Wajah yang bulat, gemoy, dan hidung mancungnya membuat Semi disayang banyak orang saking lucunya. Semi kini tidak kesepian lagi apalagi diabaikan, semua orang menggemaskan nya.
"Waalaikumsalam," jawab Ummi Hawa, neneknya yang terlihat keluar dari kamar sambil memainkan biji tasbih ditangannya, sepertinya orang tua itu baru selesai melakukan salat fardu yang lanjut berdzikir.
"Nik, Mama mana? Semi nggak lihat." Bocah itu menghampiri neneknya, Ummi Hawa hanya tersenyum.
"Cucu Ninik baru pulang ngaji? Nanyain Mama saja, Mama di kamar pasti masih salat." Ummi Hawa menjelaskan sambil merapihkan kerudung Semi.
Semi kini berusia lima tahun, yang sebentar lagi memasuki sekolah dasar. Tapi anak itu sudah dilatih sejak dini, hingga diusianya yang ke lima tahun sudah mau menghapal juz pertama, yang sudah menyelesaikan kitab Iqra-Nya.
"Semi sudah tamat Iqra Nin, jadi besok Semi sudah mulai baca Al-Qur'an besar, kata Mama kalau Semi udah tamat Iqra mau jalan-jalan beli jajanan di perapatan jalan itu lo!"
Gemasnya Semi, membuat Ummi Hawa tersenyum.
"Semi, kamu curang ya. Pulang lebih awal untuk dibelikan jajanan, aku abangmu lebih dulu tamat Iqra."
Arsyad Athallah, itulah namanya. Arsyad tidak sering diceritakan, dia Abang sekaligus saudara kembar Semi. Ya, Zahra melahirkan anak kembar yang pandai, dianugerahi kecerdasan yang luar biasa.
Sejak kecil Arsyad tahu luka ibunya sehingga ia memilih untuk diam tanpa memohon, apalagi merajuk untuk dipeluk dan digendong. Arsyad lebih dekat dengan Ummi Hawa, sang nenek yang merawatnya sejak bayi tapi bukan berarti Arsyad tidak rindu pelukan Zahra.
Dia ingin disayang juga tapi Arsyad lebih sabar dan menunggu waktu yang tepat. Karena Arsyad yakin ibunya pasti datang untuk memeluknya. Diusianya yang ke empat tahun ini Arsyad sudah menjadi dewasa, bisa melindungi sang adik juga ibunya. Walau begitu, mereka tetaplah anak-anak yang masih butuh manjaan.
"Abang yang lelet," skat Semi melirik sinis pada Arsyad.
"Eh ... kenapa kalian bertengkar? Mama gak jadi ajak jalan-jalannya kalau begini."
Sosok Zahra muncul dari balik pintu kamarnya, wajahnya yang anggun, menyejukkan hati siapa saja yang memandangnya, senyum yang menawan mampu menggetarkan hati banyak orang. Tapi dibalik semua itu tersimpan luka yang sangat dalam.
"Mama ...!" Semi merengek, bibirnya cemberut dihadapan Zahra.
"Makanya, jangan bertengkar. Kalian kan adek sama Abang, dan Abang harus ngalah dong." Arsyad memonyongkan bibirnya.
"Arsyad terus yang ngalah, mentang-mentang aku Abang," ocehnya demikian.
"Ya, sudah. Kalian ganti baju dulu ya, kita jalan-jalan sebentar lagi. Mama mau buatkan teh hangat dulu untuk Ninik."
"Baik Mama." Serempak si kembar menjawab. Keduanya berlari ke dalam kamar untuk berganti pakaian, diusianya yang masih kecil mereka sudah terbiasa mandiri.
"Tidak perlu repot, Ummi bisa buat teh sendiri, atau nggak minta Arum yang bikinin." Usia Ummi Hawa yang sudah tidak muda lagi kini tidak begitu sehat. Kadang gula darahnya naik atau rendah, tensinya pun sangat tinggi. Dulu Ummi Hawa tidak mempunyai penyakit yang beresiko tapi setelah musibah yang terjadi pada Zahra lima tahun lalu, membuat kesehatannya menurun.
"Arum, mana bisa Ummi? Jam segini saja dia belum pulang, paling di asrama sama temen-temennya." Zahra berkata sambil menyimpan gelas berisi air teh hangat yang baru saja dibuatnya di depan Hawa.
Ummi Hawa hanya tersenyum menanggapinya. "Dulu, kamu juga begitu saat masih muda." Katanya sambil mengusap punggung tangan Zahra yang menyentuh pundaknya.
Zahra berpindah mencari kursi kosong yang berhadapan dengan Ummi-Nya. Lantas duduk sambil terus memandangi Umi Hawa. Wanita tua itu sampai menatap heran kepada putrinya, seperti ada hal yang ingin dikatakan.
"Ada apa Nak, ada yang ingin kamu katakan sama Umi?" tanya Umi Hawa setelah meletakkan gelasnya. Umi Hawa menatapnya dengan serius.
"Apa Nak, katakan saja." Ummi Hawa mengulang.
Zahra terlihat ragu, tapi dengan pelan ia berusaha bicara. "Begini Umi, Zahra dapat tawaran dari salah satu penerbit, bahwa ada salah satu produser yang ingin mengangkat novel Zahra ke web series."
Wajah Ummi Hawa bersinar, wanita itu tersenyum cerah mendengar kabar baik dari putrinya yang memang seorang penulis.
"Alhamdulillah, itu bagus Zahra. Seharusnya kamu senang kan? Kenapa wajah kamu muram begitu? Kapan, apa kamu tidak menerima tawarannya? Ini kesempatan Lo, Nak."
"Masalahnya ...."
"Apa? Abi juga pasti setuju." Umi Hawa berkata dengan yakin.
Zahra menghela nafas sejenak, memancarkan senyum hangatnya lantas berkata, "Masalahnya untuk mendapat kontrak kerja itu Zahra harus pergi ke Korea Ummi."
Wajah Ummi Hawa yang semula hangat langsung menegak. Cengkraman pada gelas yang awalnya longgar kini semakin erat. Hatinya yang tenang mendadak cemas-panik, dan nafas terasa sesak.
Ummi Hawa langsung menyimpan gelas dengan kasar ke atas meja, membuat Zahra sedikit terkejut ketika mendengarnya.
"Ummi ...."
"Tidak! Umi tidak izinkan kamu pergi ke sana, tidak akan." Ummi Hawa mendadak berdiri dari duduknya. Ia langsung melangkah menuju kamarnya.
Di meja makan yang kosong hanya Zahra sendirian, wanita itu hanya menunduk dalam diam. Itulah masalahnya, negara gingseng yang terkenal akan keharmonisan, kecantikan alam, dan hangat akan cerita romansa menyimpan masa lalu pahit bagi Zahra dan keluarganya. Menyisakan trauma yang amat dalam, bagi kehancuran hidupnya.
Umi Hawa tidak akan pernah mengizinkan Zahra kembali ke negara itu. Negara yang dianggap indah menurut sebagian orang tapi tidak— bagi mereka.
"Abang, ada apa? Apa yang kamu dengar?" Suara bisik dari balik tangga. Kedua bocah berbeda gender itu saling mendengarkan, apa yang dibicarakan orang tua.
Arsyad yang mendengar semuanya langsung berkata pada adiknya. "Mama bilang, Mama akan pergi ke Korea," ucapnya demikian.
Semi tertegun sesaat, sebelum akhirnya ia berbisik. "Aku mau ikut."
"Tidak semudah itu Adek," ucap Arsyad yang menggeleng. "Ninik, tidak mengizinkan. Hal pertama yang harus kita lakukan adalah membujuk Ninik," tambah Arsyad. Semi mengangguk.
Korea, aku ingin sekali ke sana. Aku ingin bertemu Haesung, idolaku. Ups..
Semi langsung menutup mulutnya, padahal suara batinnya tidak akan terdengar.
Bisa marah Mama, dan Ninik, juga Abang, kalau tahu aku diam-diam suka lihat K-Pop, eh ... bukan sih, aku hanya suka sama Paman Haesung saja, hehe
"Kenapa kamu senyum-senyum?" tegur Arsyad, Semi langsung menggeleng.
"Ayo!" ajak Arsyad menuruni tangga.
Aku harus bujuk Ninik, bagaimanapun aku ingin pergi ke sana, aku penasaran dengan wajah laki-laki itu, dia mirip sekali denganku.
batin Arsyad
****************
Assalamualaikum, selamat datang di karya author yang baru. Semoga kalian suka dengan awal ceritanya. Agar cerita ini lolos 20 bab terbaik maka kencangkan ya guys like dan komentarnya 🙏🤗
Jika banyak dukungan dari kalian author juga semangat nulisnya. Terima kasih ❤️
Aku jelasin yang sekarang ya🙏
Sebelumya kan author bikin novel ini ingin ikut event tapi yang kemarin itu gak bisa karena publish sebelum bulan Mei. Author tanya dong sama editor dan q&A ternyata tetap gak bisa dan mereka kasih saran kalau mau masuk event novelnya hapus saja lalu upload ulang. yaudahlah aku hapus novel yang kemarin lalu upload ulang.
jadi ... ini bukan plagiat ya, maaf sudah membuat kalian bingung 🙏. Semoga kalian suka dan baca karya ini sampai selesai 🙏