Bagaimana jika dua orang remaja yang tidak saling dekat, namun dipaksakan berdua karena perjodohan?
Akankah mereka menerima nya? atau sebaliknya?
"Dia selalu serius ketika menyimak penjelasan dari guru saat jam pelajaran di kelas," batin seorang gadis yang bernama Lyra, sedang memandangi seorang cowo yang terlihat keren saat pelajaran, namun terlihat kesal dengan kesombongannya.
____
"Kenapa harus dia?!" teriak Lyra, tidak menyukai perjodohan yang dilakukan orang tua mereka.
Sedangkan di sisi lain, cowo itu menatapnya dingin dan tajam, sesekali menyetujui ucapan Lyra, tidak ingin perjodohan mereka berlanjut.
____
"Oh iya... yang pintar mah beda." ucap Lyra menyindir cowo dihadapannya itu.
"Makanya belajar! Bukan baca novel!" sarkas cowo itu, yang membuat Lyra ingin mencabik-cabik cowo yang dihadapannya ini.
-- Dua orang Sikap berbeda yang terpaksa bersama --
Follow akun ini(@dinda.glow), like & komen disetiap cerita yaw! di upload setiap hari Jam 09:00 WIB & 21:00 WIB
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dinda.glow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Persiapan Masuk Sekolah dan Percakapan Trio SMA
Masih di rumah Lyra, suasana rumah Lyra masih meriah.
Bagaimana tidak, mereka berempat melanjutkan bermain bersama dengan permainan yang lain yang mereka sukai yaitu: mereka tengah asyik memainkan permainan papan (board game) yang baru dibeli Lyra.
Bwahahaha.....
Tawa mereka pecah saat adik perempuan Lyra melakukan gerakan lucu karena kalah dalam permainan.
Gerakan Persiapan Panik dalam membuat nasi goreng.
Adik perempuan Lyra memperagakan, seperti sedang memegang wajan imajiner yang terlalu panas. Kibaskan tangan seolah terkena percikan minyak sambil berjingkat-jingkat konyol.
Kehangatan persahabatan tersebut membuat waktu seolah berhenti, melupakan sejenak rasa gugup yang diam-diam menyelimuti hati mereka.
______________
Allahuakbar... Allahuakbar.... (Suara azan mengumandang)
Saat jarum jam dinding menunjuk ke waktu magrib, suara azan berkumandang sahut-sahutan dari masjid terdekat.
Seketika itu juga, suasana yang tadinya riuh berubah menjadi tenang.
"Eh, sudah magrib, nih! Suara azan sudah kedengaran," kata Amel sambil merapikan papan permainan.
Adik Lyra pun mengangguk setuju dan segera beranjak untuk mengambil air wudu.
"Oh iya, Minda pulang dulu ya, mau siap-siap salat dan makan malam di rumah," sahut Minda dengan senyum manisnya.
Amel ikut berdiri, "Aku juga ya, Lyra. Maklum, besok kan hari pertama kita masuk SMA. Harus banyak istirahat biar badan segar."
______________
Ptap-ptap.... (Suara decitan lembut di lantai)
Lyra mengantar kedua sahabat sampai ke teras depan rumah. Sembari melambaikan tangan, Lyra tersenyum hangat menyaksikan punggung Amel dan Minda yang berjalan menjauh di bawah temaram lampu jalan menuju rumah mereka masing-masing.
Mengingat esok adalah hari pertama mereka melangkah ke bangku SMA, rasa antusias dan cemas bercampur aduk.
Sebelum sepenuhnya berpisah, Amel berteriak pelan dari ujung jalan.
"Lyra, jangan lupa nanti malam kita chat atau video call ya! Biar kita tahu bawa perlengkapan apa saja buat MOS hari Senin!" teriak Amel.
"Siap! Nanti aku call kalian setelah salat isya!" balas Lyra sambil melambaikan tangan terakhir kalinya sebelum menutup pintu kayu bercat cokelat di rumahnya.
________________
klik.... (Suara pintu dikunci)
Setelah mengunci pintu depan, Lyra segera melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Guyuran air hangat meluruhkan seluruh rasa lelah setelah seharian bermain bersama sahabat-sahabatnya dan adik perempuannya.
Usai mandi, Lyra mengenakan mukena putihnya dan menunaikan ibadah salat Magrib dengan khusyuk di sudut kamar.
___________________
Setelah melipat mukena, ia berjalan menuju tempat tidur kayu kesayangannya.
Ptap-ptap (Suara langkah kaki Lyra)
Lyra merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk berselimut abu-abu.
Ia mengembuskan napas panjang, "Huuh..."
Lyra menatap langit-langit kamar dengan perasaan campur aduk antara lelah, bahagia, dan gugup menyambut esok hari.
Lyra meraih ponsel pintar berwarna hitam yang tergeletak di atas meja nakas. Layar menyala, menunjukkan pukul 19.15 WIB. Jarinya mulai lincah mencari sesuatu di ponselnya.
Setelah ketemu, ia membuka aplikasi pesan singkat, lalu menekan tombol panggilan video grup bertuliskan "Trio SMA". Tidak butuh waktu lama hingga wajah Amel dan Minda muncul di layar.
_________________
Percakapan Mereka dalam Bentuk Vidcall 👇 (Bayangkan saja ya!! mereka sedang Vidcall seperti apa 🙏😅)
"Halo! Wah, kompak banget langsung pada diangkat. Sudah pada rapi nih tampaknya?" sapa Lyra dari jarak jauh.
"Halo, Lyra! Jelas dong, aku baru banget selesai makan malam. Ini langsung stanby karena jujur aku mulai deg-degan parah buat besok!" balas amel sedikit cerocos.
"Sama! Aku dari tadi bolak-balik ngecek ransel tahu. Takut ada barang MOS yang ketinggalan. Hai, Lyra! Kamar kamu kelihatan nyaman banget ya kalau habis mandi gitu." balas Minda setuju dengan ucapan Amel.
"Iya nih, aku sengaja langsung rebahan di kasur, pegal banget kaki kita tadi pas main. Eh, ngomong-ngomong soal MOS besok Senin, kalian sudah lengkap belum semua barang bawaannya?" ucap Lyra sambil bertanya.
"Nah, itu dia! Aku mau mastiin teka-teki dari panitia OSIS kemarin. Kalian paham enggak maksud dari 'Air Kehidupan' sama 'Roti Berdarah'?" tanya amel dengan nada serius.
"Oh, aku tahu! Kakak sepupuku bilang, 'Air Kehidupan' itu maksudnya air mineral merk Nestlé Pure Life atau sejenisnya. Kalau 'Roti Berdarah', itu roti ekonomis yang pakai selai stroberi di dalamnya!" balas Minda dengan nada mantap.
"Untung kamu tahu, Minda! Aku hampir aja mau bawa jus tomat sama roti tawar biasa. Berarti air mineral sama roti selai stroberi ya. Oke, aku catat di buku kecil dulu." ucap Lyra menghela napas lega, lyra meraih pulpen di dekat kasurnya.
"Terus, baju seragam SMP kita besok harus dipasang pita warna-warni kan di lengan kanan? Kalian pakai pita ukuran berapa senti? Aku beli yang dua senti, kekecilan enggak ya?" tanya amel memastikan supaya tidak salah bawa.
"Kemarin di grup angkatan katanya bebas sih Mel, yang penting warnanya sesuai gugus masing-masing. Kita kan bertiga masuk Gugus 4, berarti wajib pakai pita warna kuning kunyit." balas Minda meyakinkan temannya.
"Betul, aku sudah potong pitanya tadi siang sebelum kalian datang ke rumah. Panjangnya sekitar 15 senti biar bisa diikat pita kupu-kupu yang rapi. Mau aku sisain enggak pitanya? Aku beli satu gulung besar nih." tanya Lyra.
"Wah, mau dong, Lyra! Besok pagi jam 6 pas aku mampir ke rumah kamu ya buat minta pitanya. Soalnya punyaku ternyata warnanya kuning terang, takut ditegur panitia karena beda sendiri." balas Amel semangat.
"Aku juga mau nebeng dong besok pagi! Kita berangkat bareng naik angkutan umum atau diantar ayah kamu, Lyra?" tanya Minda.
"Boleh banget, besok Ayahku cuti kerja khusus buat antar aku di hari pertama SMA. Jadi kita bertiga bisa barengan di mobil. Berkumpul di rumahku paling lambat jam 06.15 WIB ya, biar enggak kena macet di gerbang sekolah." balas Lyra antusias.
"Asyik! Terima kasih banyak, Lyra. Ih, ngomong-ngomong, kalian kepikiran enggak sih nanti bakal dapat teman sebangku kayak gimana? Aku takut dapat yang galak atau enggak asyik diajak ngobrol." ucap Amel dengan nada bercampur antara senang dan di akhiri dengan nada rasa takut.
"Jangan pesimis duluan, Amel. Anak SMA kan sudah pada dewasa. Semoga aja kita bertiga bisa sekelas lagi ya, atau minimal kelas kita tetanggaan biar pas istirahat bisa jajan bakso bareng di kantin." balas Minda meyakinkan.
"Amin! Aku juga berharap begitu. Oh iya, jangan lupa bawa buku catatan kecil sama pulpen dua warna ya. Kata pengumuman, besok ada materi pengenalan visi misi sekolah dari Kepala Sekolah." ucap Lyra, mengingatkan temannya untuk persiapan sekolah besok.
"Oke, siap. Semua barang sudah aku masukkan ke tas sekarang biar besok subuh enggak panik. Eh, ini sudah mau jam 8 malam. Kita tidur duluan yuk, biar besok muka kita enggak kelihatan mengantuk pas upacara bendera." balas Amel, mengajak teman-temannya supaya tidur lebih cepat.
"Iya nih, mata aku juga sudah mulai berat. Lyra, Amel, sampai ketemu besok pagi di rumah Lyra ya! Jangan sampai ada yang kesiangan!" seru Minda.
"Sip, tidurnya yang nyenyak ya kalian. Selamat malam calon anak SMA!" ucap Lyra.
Amel dan Minda, "Malam, Lyra!"
Panggilan video berakhir dengan lambaian tangan dan senyuman penuh semangat.
_____________
Tutt... (Suara panggilan video berakhir)
Layar ponsel perlahan menggelap setelah panggilan video dengan sahabatnya usai.
Lyra berhenti sejenak, menghembuskan napas panjang, dan membayangkan kengerian masa MOS esok hari.
Pikirannya melayang pada deretan kakak OSIS yang tegas, membentak, dan tugas-tugas aneh.
Membayangkan hal-hal yang tidak-tidak membuat Lyra bergidik ngeri. Ia segera menggelengkan kepala untuk membuyarkan bayangan menyeramkan itu.
"Tidak, tidak akan seburuk itu," gumamnya, berusaha berpikir positif dan menenangkan detak jantungnya yang berdebar.
Ia mulai mengatur napas dan menyemangati dirinya sendiri bahwa ia pasti bisa menjalani MOS esok hari. "Pasti bisa!!" batinnya menyemangati dirinya sendiri, dengan tangan mengepal ke arah ke depan tanda ia semangat berjuang dan tidak akan menyerah.
Setelah merasa jauh lebih tenang, Lyra merapikan tempat tidur dan bersiap untuk tidur.
Bersambung~~
Haloo!! Bagaimana dengan ceritanya? semoga suka ya!! 🤗
Jangan lupa follow akun ini, like, komen dan share ceritanya ya!! 🤩😉
Instagram: @dinndaayu_64
Wattpad: @dinda.glow (Cerita PERMEN AJAIB 🍬🍬)
See you~~