NovelToon NovelToon
Restu Yang Ditarik Kembali

Restu Yang Ditarik Kembali

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:345.4k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Sepuluh tahun membina rumah tangga, Adila mengira restu mertua adalah pelindung abadi bagi cintanya dan Revan. Namun, segalanya runtuh saat Meisya sahabat masa lalu Revan hadir membawa janin di rahimnya karena suaminya meninggal.

​Tiba-tiba, pengorbanan Adila sebagai istri sekaligus calon dokter yang mandiri justru menjadi senjata untuk memojokkannya. Karena dianggap mampu berdiri sendiri, Adila dipaksa mengalah. Revan mulai membagi perhatian, waktu, hingga nafkah bulanan demi menjaga Meisya yang dianggap lebih rapuh.

​Hati Adila hancur saat melihat Revan membelai perut wanita lain dengan kasih sayang yang seharusnya menjadi miliknya. Ketika restu itu ditarik kembali dan posisinya sebagai istri perlahan dijandakan di rumah sendiri, masihkah ada alasan bagi Adila untuk bertahan? Ataukah gelar dokter yang ia kejar akan menjadi jalan baginya untuk melangkah pergi dan meninggalkan pengkhianatan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restu Yang Ditarik Kembali

Pagi yang masih sangat buta ketika kabut tipis sisa hujan semalam masih menyelimuti jalanan aspal pinggiran Jakarta. Di depan pagar rumah tua yang catnya sudah mengelupas, sebuah mobil travel elf berwarna silver berhenti dengan mesin yang menderu halus. Lampu sorotnya yang kuning menembus kegelapan fajar, seolah mendesak penghuni rumah untuk segera menyelesaikan urusan mereka.

Meisya berdiri di samping pintu geser mobil travel tersebut dengan tubuh yang gemetar menahan dingin dan tangis. Di tangan kanannya, ia mencengkeram sebuah koper kain tua yang resletingnya sudah rusak di beberapa bagian koper yang sama yang dulu ia bawa saat pertama kali menumpang di rumah ini. Tidak ada pelukan hangat, tidak ada lambaian tangan perpisahan yang penuh air mata dari keluarga Revan.

Mama Revan bahkan sama sekali tidak mau keluar dari kamarnya sejak semalam, pura-pura tidur dengan dahi yang masih ditempeli koyo. Sementara Papa Suryo hanya menatapnya dari balik jendela kaca dengan pandangan dingin yang kosong sebelum akhirnya mematikan lampu teras, sebuah isyarat pengusiran secara halus namun teramat kejam.

Revan berdiri dua langkah di belakang Meisya, mengenakan jaket usang dengan lingkaran hitam di bawah matanya yang semakin menghitam. Ia menyerahkan sebuah tas plastik kecil berisi beberapa botol sisa vitamin hamil Meisya yang sempat ditebus tempo hari.

"Revan... kamu benar-benar ingin aku ke kampung?" rintih Meisya dengan suara parau. Air matanya menetes, menyatu dengan dinginnya embun pagi. "Aku takut sendirian di sana, Revan. Rumah ibuku bocor kalau hujan, tidak ada AC seperti di sini..."

Revan menggelengkan kepalanya perlahan, ekspresi wajahnya nampak begitu flat, datar, dan mati rasa. "Uangku sudah habis, Meisya. Ongkos bensin dan sewa mobil untuk mengantarmu ke sana jauh lebih mahal daripada tiket travel satu arah ini. Aku harus menghemat setiap rupiah yang tersisa di dompetku untuk membayar bunga cicilan bank Mama siang nanti."

Revan menarik napas pendek, lalu menyerahkan selembar kartu nama kecil ke telapak tangan Meisya. "Ini nomor kontak orang jasa pemindahan jenazah dari Adila yang aku ceritakan kemarin. Aku sudah mengonfirmasi kalau sisa paket pemindahan atas nama suami mu masih aktif. Minggu depan mereka akan datang ke pemakaman lama untuk mengangkat kerangka Suami mu dan mengirimkannya ke kampungmu secara gratis. Urus makam itu dengan baik saat kamu sudah sampai di sana."

"Revan... kamu kejam sekali..." bisik Meisya dengan bibir bergetar egois, merasa dunianya sebagai wanita yang dulu selalu diratukan kini telah runtuh tak bersisa.

"Supir travelnya sudah menunggu, Meisya. Masuklah," sahut Revan tanpa emosi, mengabaikan rintihan teman kecilnya itu.

Dengan langkah kaki yang gulai dan berat, Meisya terpaksa naik ke dalam kabin mobil travel yang sempit dan berbau pengharum ruangan murah itu. Pintu digeser kasar oleh sang supir, lalu mobil melaju membelah kabut fajar, membawa Meisya kembali ke kehidupan miskin di kampung halamannya yang terpencil. Revan menatap kepergian mobil itu dengan helaan napas panjang, merasakan sebagian beban hidupnya terangkat, namun rasa hancur karena status penganggurannya kini kembali menghimpit dadanya dengan begitu kejam.

Beberapa jam kemudian, di belahan kota Jakarta yang lain, atmosfer yang seratus persen berbanding terbalik sedang berlangsung dengan teramat megah.

Kawasan sekitar Hotel Grand Hyatt Jakarta Pusat mendadak lumpuh total akibat kepadatan kendaraan mewah yang mengular. Sepanjang jalur menuju lobi utama hotel bintang lima tersebut dipenuhi oleh ratusan karangan bunga papan berukuran raksasa yang tersusun rapi tanpa sela. Tulisan di atas bunga-bunga premium itu semuanya bernada sama:

> **SELAMAT DAN SUKSES ATAS SUMPAH DOKTER BARU**

> **Dr. Adila Arrena Wijaya**

> *Lulusan Terbaik dan Peraih Nilai Sempurna UKMPPD Nasional.*

Karangan bunga itu datang dari berbagai kalangan elit papan atas Jakarta; mulai dari jajaran menteri kesehatan, direksi rumah sakit swasta terbesar, kolega bisnis Wijaya Group, hingga ikatan alumni kedokteran terpandang. Hari ini adalah hari prosesi Sumpah Dokter, hari di mana Adila akan resmi menyandang gelar dokter di belakang namanya dan dilantik di hadapan pemuka agama serta jajaran dekanat universitas.

Di dalam Grand Ballroom hotel yang disewa penuh oleh Papi Hadi Wijaya, kemewahan memancar dari setiap sudut ruangan. Lampu gantung kristal raksasa memancarkan cahaya keemasan yang hangat, menerangi dekorasi bunga lili putih segar yang aromanya menenangkan. Seluruh bangku di barisan depan yang merupakan area VVIP telah diisi oleh Keluarga Wijaya. Papi Hadi dan Mas Ardi nampak begitu gagah dengan setelan jas hitam custom-made, sementara Mami Ratna dan Mbak Siska terlihat sangat anggun mengenakan kebaya beludru modern berwarna marun bertabur payet berkilau.

Musik klasik yang agung mulai berkumandang dari barisan orkestra di sisi panggung, menandakan prosesi pelantikan dimulai. Jantung Mami Ratna berdegup kencang dengan mata yang berkaca-kaca penuh kebanggaan saat melihat barisan dokter baru mulai memasuki aula.

Di barisan paling depan, berjalan dengan langkah kaki yang teramat anggun dan penuh percaya diri, adalah Adila.

Penampilan Adila hari ini benar-benar memukau siapa pun yang melihatnya. Rambut hitamnya disanggul modern dengan sangat rapi, membingkai wajah cantiknya yang dirias dengan konsep flawless ala Korea yang natural namun memancarkan aura mahal. Jas dokter putih bersih melekat sempurna di tubuhnya, menutupi kebaya sutra premium berwarna krem yang ia kenakan. Tidak ada lagi sisa-sisa Adila yang dulu selalu terlihat lelah dan menunduk karena tekanan batin pernikahan. Hari ini, ia berdiri tegak sebagai seorang wanita independen, jenius, dan pewaris tunggal dari sebuah dinasti bisnis raksasa.

Prosesi pengucapan lafal Sumpah Dokter berlangsung dengan teramat khidmat. Suara Adila terdengar begitu lantang, tegas dan jernih saat mengikrarkan janji setianya demi kemanusiaan dan profesi medis. Di atas podium utama, Dekan Fakultas Kedokteran secara khusus memanggil nama Adila untuk maju menerima penghargaan tertinggi sebagai lulusan terbaik se-Indonesia dengan nilai sempurna seratus bulat.

"Dan penghargaan lulusan terbaik nasional periode ini, diberikan kepada Dr. Adila Arrena Wijaya. Kepadanya, kami persilakan perwakilan dari perhimpunan dokter spesialis, sekaligus dokter konsulen pembimbing utamanya, untuk maju memberikan plakat kehormatan," suara pembawa acara bergaung maklum di seluruh aula.

Langkah kaki yang tegap dan berwibawa melangkah naik ke atas panggung utama. Dr. Adrian Dewantara, dengan setelan jas formal hitamnya yang dipadukan dengan dasi sutra gelap, berjalan mendekati Adila. Wajah tampannya yang biasanya kaku dan sedingin es, kini nampak melembut dengan seulas senyuman tipis yang teramat tulus.

Adrian menerima plakat emas dari dekanat, lalu menyerahkannya langsung ke tangan Adila. Pandangan mata mereka bertemu di atas panggung, menciptakan sebuah dinamika intelektual dan sosial yang begitu kuat hingga membuat seluruh kamera awak media di bagian belakang aula gencar mengambil gambar mereka berdua.

"Selamat, Dr. Adila. Kamu telah resmi menyelesaikan pembuktianmu di hadapan dunia," ucap Dr. Adrian dengan suara rendahnya yang berat dan berwibawa, sangat dekat di telinga Adila.

Adila tersenyum sangat manis, menatap lurus ke dalam sepasang mata tajam milik mentornya itu. "Terima kasih banyak, Dokter Adrian. Gelar ini juga berkat didikan keras Anda yang tidak pernah membiarkan saya menyerah pada keadaan."

"Tugasmu baru saja dimulai, Dokter baru. Riset internasional kita sudah menunggumu besok pagi," bisik Adrian dengan nada menggoda yang halus sebelum menjabat tangan Adila dengan erat di hadapan ratusan pasang mata yang bertepuk tangan riuh.

Setelah prosesi formal selesai, acara dilanjutkan dengan ramah tamah di area makan malam privat khusus keluarga besar. Papi Hadi sengaja mengundang dr. Adrian untuk bergabung langsung di meja VVIP Keluarga Wijaya, sebuah kehormatan besar yang hampir tidak pernah diberikan Papi Hadi kepada sembarang orang.

Di meja bundar yang mewah itu, dr. Adrian duduk tepat di samping Ardi, berseberangan langsung dengan Adila. Atmosfer di meja tersebut terasa begitu hangat dan berkelas.

"Dokter Adrian," ucap Papi Hadi sembari menyandarkan punggungnya, menatap Adrian dengan pandangan mata seorang pengusaha senior yang penuh selidik namun penuh rasa hormat. "Saya sudah banyak mendengar dari Ardi dan dekanat kampus tentang bagaimana Anda membimbing Adila selama di rumah sakit. Terima kasih karena sudah menjaga dan mengarahkan putri bungsu saya dengan sangat baik di dunia medis yang keras itu."

Adrian menundukkan kepalanya sedikit, menunjukkan tata krama yang sangat sempurna tanpa kehilangan wibawa pribadinya sebagai seorang dokter spesialis terpandang. "Sama sekali bukan masalah, Pak Hadi. Adila memiliki bakat alami dan kejeniusan yang sangat langka di dalam ruang operasi. Status keluarganya sebagai anak dari Wijaya Group sama sekali tidak mengubah fakta bahwa dia berhak mendapatkan predikat terbaik ini murni karena kompetensi tangannya sendiri."

Mendengar jawaban Adrian yang begitu lugas, objektif, dan tidak bermuka dua, Papi Hadi nampak sangat puas. Senyuman lebar terukir di wajah tua sang penguasa bisnis. Rekan-rekan bisnis di meja lain yang melihat bagaimana akrabnya dr. Adrian berbincang dengan Papi Hadi langsung berbisik-bisik, mengira bahwa Adrian adalah calon menantu idaman yang sudah mendapatkan restu penuh dari Keluarga Wijaya.

"Bagus sekali. Saya suka pria yang menilai sesuatu berdasarkan performa, bukan latar belakang," sahut Papi Hadi sembari melirik Ardi dengan kode rahasia. "Kebetulan sekali, Adrian... Rumah sakit internasional baru yang sedang dibangun oleh Wijaya Group di kawasan Jakarta Selatan saat ini sedang membutuhkan sosok Direktur Medis yang tangguh, cerdas, dan memiliki reputasi internasional untuk mengelolanya. Bagaimana kalau setelah acara ini, kita jadwalkan waktu privat untuk membicarakan posisi itu?"

Adrian menatap Papi Hadi, lalu beralih menatap Adila yang sedang tersenyum tipis ke arahnya. "Sebuah kehormatan besar bagi saya, Pak Hadi. Saya akan sangat senang jika bisa membantu mengelola rumah sakit tempat Dr. Adila akan mengabdi nantinya."

Mbak Siska yang duduk di samping Mami Ratna langsung menyenggol lengan ibu mertuanya itu sembari berbisik geli, "Ma, lihat deh. Dokter Adrian dan Dila cocok sekali, kan? Yang satu jenius bedah, yang satu konsulen internasional. Sama-sama mahal auranya, tidak seperti si mantan suami parasit itu."

Mami Ratna hanya tersenyum simpul, mengusap punggung tangan Adila dengan penuh kelegaan. Malam itu, di bawah gemerlap lampu kristal hotel bintang lima, Adila benar-benar merasakan arti dari sebuah kemenangan hidup yang sesungguhnya. Jalurnya menuju puncak dunia profesi medis kini telah terbuka lebar dengan pondasi keluarga yang teramat kokoh dan kehadiran seorang sekutu sehebat dr. Adrian di sisinya. Sementara itu, di sudut kota yang lain, Revan dan Meisya kini telah resmi tenggelam ke dalam jurang kemiskinan dan penyesalan yang mereka gali dengan kebodohan mereka sendiri.

1
Heni Hendrayani
is the best adilla 👍
Heni Hendrayani
kalau jodoh meskipun beda negara pasti ketemu jiga 😄💪
Heni Hendrayani
lelaki payah 🤣sundel tuh orang
Heni Hendrayani
,mantaap 👍😍
Weni Kasandra
Cerita yg bagus
Kaifstoryy
nama suaminya ganti2 mulu🤭

terus dibilang kerangka. berarti meninggalnya udah bertahun kan? jadi Meisya hamil anak siapa? 🤭
Ida Sriwidodo
Lohh.. katanya Revan ngga tau status Dila sebagai putri bungsu keluarag Wijaya.. piye ki thor? 😭😭🤔🤔
Ida Sriwidodo
Ini aneh lagi..
Meisya pergi kan diusir sama Revan sendiri.. dibeliin tiket pulkam one way.. bukan Meisya yang mencampakkan Revan karena dah jatoh misqueen...🤔🤔🤔
Sarifah_Aini97
Sumpah, bau-bau ada rahasia atau konflik besar yang bakal meledak nih🙂‍↕️
Sarifah_Aini97
Aduh, Adila kenapa nih? Pasti abis lihat atau baca sesuatu di HP-nya sampai tangannya gemeteran gitu.
Ida Sriwidodo
Lhah.. di bab terdahulu katanya mau ambil obgyn karena Dila mo fokus sama kesehatan reproduksi wanita 🤔😬
Ida Sriwidodo
Sampai sini jadi pen komen.. Hadi suaminya Meisya di bab ini katanya dah meninggal bertahun lalu.. tapi koq Meisya nya hamilnya baru sekarang yaa..? 🤔
Wulan Azka: apa saya salah ingat ya, yang saya ingat nama suami di Meisya itu Bayu 🤔
total 2 replies
Yuli Yuliawati
suami nggak dan keluarga g d otak tinggalin aja
Yuli Yuliawati
isteri sah tersakiti
awas aja pelakor dan suami durjana nggak dapat balasan nya
Yuli Yuliawati
Tinggalin aja suami durjana mu
Mama lilik Lilik
nama suami meysa, dari Bayu, Hadi,Danang,orang meninggal bisa ganti nama sampai 3x🤣
Wulan Azka: nah kan barusan di bab sebelumnya saya ikut komen soal nama suami Mesya, seingat saya namanya Bayu, kenapa jadi si Hadi
total 2 replies
Bunda
awal yang menarik,ijin baca kak🙏
Nay Chan
sebagai wanita aq suka sikap Adila💪🤣 buang yg lama cari yg baru🤭
Eric ardy Yahya
the punishment has begun Tiara . waktunya mendapatkan siksaan sesuai Peringatan Adila
Eric ardy Yahya
enak rasanya Tiara ? makanya kamu jadi orang gak usah kayak MONYET yang suka mengumpat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!