Anindiya dikenal sebagai seorang makeup artist berbakat yang memiliki sanggar rias pengantin ternama di kotanya. Setiap hari, ia membantu para calon pengantin mewujudkan impian mereka tampil sempurna di hari bahagia. Hidupnya berjalan tenang hingga suatu hari ia mengunjungi sebuah butik tua untuk mencari beberapa gaun pengantin baru.
Di antara deretan gaun mewah, pandangannya terpaku pada sebuah gaun putih yang dipajang anggun di atas manekin. Ada sesuatu yang aneh sekaligus memikat dari gaun itu. Seolah memiliki kehidupan, gaun tersebut memanggilnya tanpa suara. Meski sang pemilik butik memperingatkan agar tidak menyentuhnya, Anindiya justru membawanya pulang.
Sejak saat itu, kejadian-kejadian mengerikan mulai menghantui hidupnya. Bisikan misterius terdengar di tengah malam, bayangan pengantin berlumuran darah muncul di setiap cermin, dan setiap pengantin yang mengenakan gaun tersebut mengalami nasib tragis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 24
Di kamar sebelah, Anindiya baru saja menyelesaikan riasan wajah untuk ibu dan saudara perempuan Lestari. Setelah merapikan koper kosmetiknya, ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Waktu prosesi akad nikah sudah makin dekat.
Di luar rumah, riuh suara para tamu undangan terdengar makin ramai. Tim dokumentasi sibuk menyetel posisi kamera, sementara pembawa acara mulai bersiap memandu jalannya acara. Dari area halaman depan, terdengar kabar bahwa romprongan pengantin pria sudah tiba dan sedang menanti aba-aba untuk memulai prosesi serah terima.
Anindiya mengukir senyum kecil. "Sudah waktunya kita cek Lestari sekali lagi, Rin."
Rina mengangguk pelan. "Iya, Mbak."
Namun, sejak melangkah keluar dari kamar tadi, hati Rina kembali digelayuti rasa gelisah yang teramat sangat. Dadanya terasa sesak dan berat. Perasaan ganjil yang selalu hadir tepat sebelum tragedi terjadi... kini kembali menyeruak merayapi nadinya.
Ia berusaha menepis perasaan buruk itu. Mungkin aku cuma ketakutan berlebihan, batinnya menenangkan diri.
Mereka berdua berjalan menyusuri lorong rumah menuju kamar pengantin. Semakin mendekati pintu, langkah kaki Rina terasa kian berat bagai terseret.
Suasana di sepanjang lorong itu mendadak berubah sangat sunyi—berbeda jauh dibanding ruangan lainnya. Padahal, hanya berjarak beberapa meter dari sana, keriuhan suara para tamu masih terdengar. Anehnya, suara-suara itu terasa amat jauh, seolah ada dinding tak kasat mata yang meredamnya.
Anindiya menghentikan langkah tepat di depan pintu kamar.
Tok... Tok... Tok...
"Lestari?"
Tak ada sahutan dari dalam.
Anindiya kembali mengetuk pintu itu. "Lestari... Mbak Anin masuk ya?"
Tetap hening.
Anindiya mengernyitkan dahi. "Mungkin lagi asyik main HP."
Rina menatap daun pintu itu dengan raut wajah kaku. Ia menelan ludah yang terasa mengganjal di tenggorokannya. "Mbak..."
"Kenapa, Rin?"
"Perasaanku... kok makin nggak enak ya, Mbak?"
Anindiya memaksa tersenyum. "Paling dia cuma lagi melamun deg-degan."
Namun, Rina tak sanggup lagi menahan rasa cemasnya. Tanpa menunggu persetujuan Anindiya, jemarinya langsung memutar gagang pintu.
Kriiit...
Pintu itu terdorong terbuka pelan.
Suasana di dalam kamar tampak begitu tenang. Lampu ruangan masih menyala terang. Meja rias masih dipenuhi deretan perlengkapan kosmetik. Gaun pengantin putih gading yang melekat di tubuh Lestari pun terlihat sangat rapi. Sekilas, tak ada keanehan apa pun.
Lestari masih duduk anggun di kursi meja rias, menghadap lurus ke arah cermin besar. Kepalanya sedikit tertunduk. sanggul dan mahkotanya masih terpasang sempurna, dengan veil transparan yang menjuntai indah hingga menyapu lantai.
Anindiya menghembuskan napas lega. "Tuh kan, benar kata Mbak. Dia cuma diam melamun."
Anindiya melangkah masuk seraya mengumbar senyum. "Lestari..."
Tak ada sahutan.
"Lestari, sebentar lagi penjemputan dimulai lho."
Ruangan tetap hening membisu.
Rina mematung di dekat ambang pintu. Matanya terus menatap lekat tubuh Lestari. Entah mengapa, hawa udara di dalam kamar terasa begitu dingin mencengkeram, padahal pendingin ruangan sama sekali tidak dinyalakan.
Seketika, aroma bunga melati yang amat tajam kembali merebak memenuhi seluruh penjuru kamar. Wanginya jauh lebih tajam dan tebal ketimbang sebelumnya.
Rina langsung mengenali aroma mengerikan itu. Tubuhnya seketika bergetar hebat. "M... Mbak..." bisiknya dengan suara yang gemetar.
Anindiya belum juga menoleh. Ia terus melangkah mendekati meja rias. "Lestari... kamu jangan bikin kami panik begini dong."
Masih tak ada respons.
Kini jarak Anindiya hanya menyisakan beberapa jengkal. Ia mulai merasa ada yang tak beres. Biasanya, Lestari adalah sosok yang periang dan sangat cepat merespons jika disapa. Namun saat ini... tubuhnya sama sekali tak berkutik. Tak ada gerakan mendongak, tak ada jawaban, bahkan naik-turun napas di bahunya pun tampak kaku dan mati.
Anindiya mempercepat langkahnya. "Lestari!"
Ia berdiri tepat di samping kursi. Tangannya terulur menepuk lembut bahu Lestari.
Dingin! Sangat dingin!
Bukan sekadar dingin karena udara AC, melainkan rasa dingin menusuk bagai es yang seketika menyerap habis rasa hangat dari telapak tangan Anindiya.
Perasaan tidak enak langsung menyergap dada Anindiya. Dengan perlahan, ia membungkukkan badannya untuk menatap wajah Lestari dari samping.
Dalam selang satu detik... senyuman di bibir Anindiya luntur seketika.
Detik berikutnya... bola matanya melebar membelalak. Napasnya seolah terhenti di tenggorokan.
Lalu...
"AAAAAAAHHH...!"
Jeritan histeris Anindiya meledak, memecah kesunyian rumah! Suara teriakan itu begitu melengking hingga bergema tajam sampai ke halaman depan.
Anindiya terhuyung mundur beberapa langkah dengan tubuh gemetaran hebat. Kedua tangannya membekap mulutnya sendiri, sementara air mata ketakutan meledak membasahi pipinya.
Rina yang berdiri di dekat pintu langsung berlari menghampiri. Namun, begitu matanya menangkap raut wajah Lestari... seluruh persendian tubuhnya seketika melumpuh. Ia nyaris roboh jatuh terduduk di lantai.
Lestari masih terduduk kaku di kursi rias, kepalanya tetap menghadap cermin. Namun, paras bahagianya telah menguap lenyap.
Kedua matanya melotot lebar, menatap kosong ke arah pantulan cermin! Bibirnya sedikit menganga, seolah meratapi napas terakhir yang terenggut secara paksa. Kulit wajahnya tampak teramat pucat pasi tanpa aliran darah.
Tak ada denyut. Tak ada suara. Tak ada napas.
Namun yang paling mengerikan... gaun pengantin putih gading yang membungkus jasadnya masih terlihat begitu anggun, bersih, dan sempurna. Tak ada lipatan kusut, tak ada kain yang robek. Seolah-olah sosok di dalamnya hanyalah sebuah patung yang sedang duduk menikmati pantulan dirinya sendiri.
Rina membekap mulutnya seraya terisak hebat. "Ya Allah... Lestari..."
Ia tak lagi sanggup melangkah mendekat. Aroma bunga melati busuk kian meledak memenuhi ruangan, menciptakan hawa pengap yang mencekik dada.
Di luar kamar, derap langkah kaki panitia dan keluarga mulai terdengar berlarian panik.
"Suara siapa yang teriak?!"
"Ada apa di kamar pengantin?!"
Beberapa anggota keluarga berhamburan menerobos masuk.
Anindiya masih berdiri membeku dengan raut wajah yang dipenuhi ketakutan luar biasa. Untuk pertama kalinya sejak ia membeli gaun pengantin itu... tembok keyakinannya bahwa semua tragedi ini hanyalah kebetulan belaka, kini hancur lebur tak berbekas!
Pikirannya langsung melayang pada nasib tragis Siska—korban pertama.
Dan kini... Lestari. Korban kedua.
Jantung Anindiya berdegup kencang bak dihantam godam.
Sementara itu, di tengah kekacauan dan tangisan yang mulai meledak... tanpa ada satu orang pun yang menyadarinya...
Di dalam pantulan kaca cermin meja rias...
Sesosok perempuan berwajah pucat pasi berdiri mematung tepat di belakang kursi Lestari. Sepasang mata hitam kelamnya menatap lurus, mengunci pandangan ke arah Anindiya.
Perlahan-lahan... sudut bibir kebiruannya terangkat, mengukir senyuman tipis yang amat kaku dan mengerikan.
Lalu, wujud itu menguap hilang begitu saja saat kerabat keluarga Lestari memenuhi ruangan.
Yang tersisa di dalam kamar itu hanyalah jerit tangis histres, kepanikan massa, dan satu pertanyaan kelam yang mulai merayapi benak Anindiya...
Berapa banyak nyawa lagi yang harus dikorbankan demi menuruti kemauan gaun pengantin terkutuk itu?