Bagi Rahma Wulandari, Sakti Prawira adalah sosok kakak asuh masa kecilnya yang galak dan protektif. Namun, garis takdir mendadak berubah ketika impiannya menjadi dokter terancam kandas akibat kesulitan ekonomi. Satu-satunya jalan keluar yang ditawarkan orang tuanya adalah sebuah perjodohan. Demi masa depan, Rahma akhirnya pasrah. "Gak apa-apa deh nikah sama Kak Sakti, dia sudah aku anggap seperti kakaku sendiri!"
Di sisi lain, Sakti seorang Komandan TNI AD yang terkenal tegas, kaku, dan berhati dingin sejak ditinggal menikah oleh masa lalunya merasa tak habis pikir. "Kenapa aku harus menikah dengan gadis bau kencur dan masih ingusan itu?" protesnya keras. Baginya, menikahi sahabat adiknya sendiri adalah hal yang konyol.
Namun, titah orang tua tak bisa diganggu gugat. Pernikahan beda usia dan prinsip ini pun tetap terjadi.
Mampukah pernikahan yang terbentur perbedaan usia, prinsip, dan watak ini menumbuhkan benih-benih asmara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
Sekitar pukul lima pagi lewat beberapa menit, suasana pagi yang sejuk menyelimuti rumah Pak Salim. Suara langkah kaki terdengar mendekat dari arah halaman depan. Sakti yang tampak bersahaja mengenakan baju koko, kain sarung, serta peci hitam di kepalanya berjalan beriringan bersama Pak Salim. Keduanya tampak mengobrol akrab, membicarakan suasana masjid yang menenangkan di pagi hari.
Di dalam rumah, Rahma rupanya sudah sibuk. Dengan cekatan, ia menyiapkan secangkir kopi hitam kesukaan ayahnya dan secangkir teh hangat untuk suaminya. Tidak lupa, Rahma juga menyajikan sepiring pisang goreng yang masih mengepul hangat di atas meja ruang tamu.
Begitu mendengar suara pintu depan terbuka, Rahma segera datang menyambut di area ruang tamu. Pagi ini, ia tampil sederhana namun rapi dengan pakaian rumahan lengan panjang, rok panjang, serta hijab instan. Penampilan tertutup Rahma pasca mandi Subuh tadi mendadak membuat Sakti merasa sedikit kikuk. Bayangan daster Hello Kitty semalam mendadak melintas, namun sang Kapten dengan cepat menguasai dirinya.
Rahma mendekat perlahan, lalu meraih tangan kanan Sakti dan mencium punggung tangannya dengan teramat takzim. Secara refleks, digerakkan oleh naluri pelindungnya, tangan Sakti terangkat mengusap lembut puncak kepala Rahma yang terbalut hijab instan sembari menyunggingkan senyum tipis.
Pemandangan manis itu sukses membuat Pak Salim dan Bu Rima yang baru keluar dari kamar tersenyum bahagia. Rahma sendiri tak kuasa menahan rona merah yang kembali terbit di kedua pipinya. Untuk menyembunyikan rasa salah tingkahnya, Rahma buru-buru beralih mencium punggung tangan ayahnya.
Sebenarnya, baik Rahma maupun Sakti belum bisa melupakan ketegangan intim yang terjadi semalam. Peristiwa di atas kasur sempit itu seolah menjadi dinding tak kasat mata yang membuat interaksi mereka pagi ini kembali terasa kaku dan dipenuhi kegugupan.
"Silakan diminum, Ayah, Kak Sakti. Pisang gorengnya juga mumpung masih hangat," ujar Rahma dengan suara agak pelan.
"Wah, pas sekali ini. Terima kasih ya, Neng," sahut Pak Salim sumringah.
Sakti dan Pak Salim kemudian duduk di kursi kayu ruang tamu, mulai menikmati kopi, teh, dan pisang goreng yang sudah disediakan.
Rahma diam-diam menarik napas lega. Ia buru-buru memutar tumitnya untuk kembali ke dapur. Sejujurnya, ia masih terlalu malu dan belum siap mental untuk berlama-lama berhadapan atau bertatapan mata dengan suaminya. Bu Rima yang menyadari gelagat aneh putrinya hanya tersenyum maklum, lalu ikut menyusul Rahma ke dapur untuk menyiapkan sarapan utama.
Waktu berjalan cepat. Sekitar pukul delapan pagi, setelah seluruh anggota keluarga selesai menyantap sarapan bersama, suasana rumah kembali berubah melankolis. Ini adalah waktu yang sudah dijadwalkan bagi Sakti untuk membawa Rahma pindah ke Asrama Militer Siliwangi.
Momen perpisahan ini tak urung membuat dada Rahma terasa sesak oleh kesedihan. Menyadari bahwa mulai hari ini ia tidak akan lagi tidur di kamar masa kecilnya, Rahma hanya mengemas barang-barang dan pakaian miliknya seperlunya ke dalam satu koper besar. Sisanya sengaja ia tinggalkan untuk dibawa belakangan.
Sakti berjalan keluar dari kamar sembari menenteng koper milik istrinya. Langkahnya terhenti di ruang tengah. Ia berdiri diam, memberikan privasi saat melihat Rahma tengah memeluk erat kedua orang tuanya secara bergantian. Tangis Rahma akhirnya pecah di pundak Bu Rima, sementara Pak Salim terus mengusap punggung putri tunggalnya itu dengan mata yang berkaca-kaca sembari membisikkan petuah agar Rahma menjadi istri yang berbakti. Sungguh sebuah momen pelepasan anak yang sangat mengharukan.
Setelah dirasa cukup, Sakti mendekat dan menyalami kedua mertuanya dengan takzim. "Ayah, Ibu, Sakti izin membawa Rahma ke asrama sekarang. Mohon doanya agar perjalanan kami berkah," pamit Sakti tegas namun tulus.
"Jaga anak Ibu ya, Nak Sakti," bisik Bu Rima diselingi anggukan perlahan.
Dengan sisa air mata yang menyeka pipinya, Rahma melangkah keluar rumah berdampingan dengan Sakti. Keduanya melambaikan tangan ke arah Pak Salim dan Bu Rima yang berdiri di ambang pintu, sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil pribadi milik Sakti. Mobil itu perlahan bergerak membelah jalanan kota Bandung, membawa sepasang pengantin baru tersebut menuju Asrama Militer Siliwangi, tempat di mana lembaran baru kehidupan rumah tangga mereka yang sesungguhnya akan segera dimulai.
*
*
Di dalam kabin mobil pribadi milik Sakti, suasana terasa begitu sunyi. Hanya terdengar deru halus mesin yang membelah jalanan kota Bandung. Sakti dan Rahma yang biasanya bisa mengobrol santai, kali ini justru terjebak dalam kecanggungan yang amat sangat setelah rangkaian peristiwa sejak malam pertama mereka.
Merasa tidak nyaman dengan keheningan yang mendadak dingin tersebut, Sakti berdehem kecil, mencoba mencairkan suasana dengan membuka obrolan.
"Oh iya, Ma... Apakah keperluan kuliah kamu sudah dibawa semua?" tanya Sakti sembari tetap fokus menatap jalanan di depannya.
Rahma sedikit tersentak, lalu menoleh pelan. "Sudah, Kak. Cuma baju-baju kuliah dan buku-buku penting saja yang Rahma bawa. Yang lainnya sengaja ditinggal, cuma bawa seperlunya dulu."
Sakti mengangguk-angguk paham.
"Tidak apa-apa, nanti kalau ada yang kurang, sisanya bisa menyusul. Oh iya, nanti setelah tiba di asrama, kamu coba cek lagi perabotan di sana, ya. Lihat apakah masih ada kekurangan yang harus kita beli segera."
"Baik, Kak. Nanti coba kita cek sama-sama, ya," jawab Rahma dengan nada yang jauh lebih rileks dari sebelumnya.
Setibanya di kompleks Asrama Militer Siliwangi, mobil Sakti perlahan memasuki pekarangan rumah dinas sederhana mereka. Kehadiran sang Kapten bersama sang istri langsung disambut hangat oleh para anggota tentara dan ibu-ibu Persit yang tinggal di sekitar sana. Mereka berkerumun memberikan ucapan selamat menempuh hidup baru kepada pasangan pengantin yang baru saja sah ini.
"Selamat ya, Komandan! Semoga samawa," ujar salah seorang bintara dengan sikap hormat yang santun.
Sebuah candaan kecil namun penuh kehati-hatian pun sempat dilontarkan oleh salah satu prajurit bawahannya. "Siap, Kapten! Istrinya cantik sekali. Mohon izin, Kapten, kalau di asrama jangan galak-galak seperti di lapangan ya, kasihan Ibu," ucapnya sambil cengengesan takut-takut, khawatir si komandan galak ini tersinggung. Namun, Sakti hanya menanggapi dengan senyuman tipis dan gelengan kepala.
Setelah acara penyambutan singkat dari rekan-rekan kerjanya selesai, Sakti dan Rahma masuk ke dalam rumah untuk mulai mengecek perabotan apa saja yang masih kurang. Karena kebetulan hari ini Sakti masih mendapatkan jatah cuti menikah, ia berencana mengajak Rahma pergi ke pusat perbelanjaan sore nanti.
Rahma melangkah ke bagian belakang untuk mengecek area dapur. Benar saja, perabotan memasak di sana masih sangat minim. Namun, saat Rahma sedang memeriksa area sekitar wastafel cuci piring, matanya tiba-tiba menangkap pemandangan yang mengerikan di dekat keran air, dimana segerombolan cicak sedang merayap bersamaan.
Rahma yang sejak kecil memiliki fobia akut dan rasa jijik yang luar biasa terhadap hewan melata itu seketika berteriak histeris. Tanpa berpikir panjang, ia langsung berhambur lari ke arah ruang tengah, tempat Sakti yang sejak tadi sedang berdiri memperhatikannya dari belakang.
Wushhh!
Dengan gerakan refleks yang luar biasa cepat karena panik, Rahma melompat dan langsung mendarat sempurna dalam gendongan suaminya. Kedua kaki mulusnya melingkar erat di pinggang kokoh Sakti, sedangkan kedua tangannya melilit kuat di leher sang Kapten.
Sakti tersentak kaget dan otomatis menelan ludahnya dengan susah payah. Kedua telapak tangan kekarnya refleks menahan pinggang Rahma agar istrinya tidak terjatuh. Rahma yang ketakutan setengah mati langsung menyembunyikan wajahnya di ceruk bahu Sakti sembari gemetaran.
"Rahma, k... kamu kenapa?!" tanya Sakti gelagapan, mendadak gugup karena dada mereka saling menempel erat.
"Itu, Kak! Ada cicak... banyak banget di dekat keran... Ih, geli! Takut, Kak!" adu Rahma dengan suara bergetar sambil bergidik ngeri.
Sakti menghembuskan napas panjang. Ia baru ingat kalau istrinya ini memang sangat fobia dengan binatang itu sejak kecil. Namun, posisi mereka saat ini benar-benar sangat int1m dan berbahaya bagi kesehatan jantungnya Sakti.
Tepat pada momen yang sangat kritis itu, Kolonel Yusuf tiba-tiba muncul di ambang pintu depan yang memang terbuka lebar, didampingi oleh Praka Dadang dan Pratu Ginting alias Ucok. Sang Kolonel sengaja datang berkunjung untuk menyambut anak buah kesayangannya atas kepindahan mereka ke asrama ini.
Namun, langkah ketiga pria berseragam loreng itu mendadak terhenti total di ruang tamu. Mata mereka membelalak melihat adegan pan4s nan int1m yang sedang tersaji di depan mata.
Sadar situasi tidak tepat, Kolonel Yusuf langsung berbalik badan dengan cepat, diikuti oleh Dadang dan Ucok yang ikut memutar tubuh mereka membelakangi ruangan.
"Ehem! Siap, mohon izin, Kapten Sakti... sepertinya kami salah jam bertamu," cetus Pratu Ginting polos dengan logat medannya yang kental.
Mendengar suara barusan, Sakti dan Rahma tersentak. Mereka perlahan saling pandang dalam jarak beberapa senti, lalu menoleh ke arah pintu depan. Begitu melihat tiga pasang punggung pria yang sedang berdiri kaku membelakangi mereka, Rahma dan Sakti seketika menyadari posisi erot*s mereka.
Wajah Rahma seketika memerah padam teramat sangat, mengalahkan rasa takutnya pada cicak. Dengan gerakan kikuk dan panik, ia buru-buru merosot turun dari gendongannya Sakti, sementara Sakti langsung membetulkan letak pakaiannya dengan wajah yang tak kalah salah tingkah. Mereka berdua benar-benar merasa malu setengah mati tertangkap basah dalam posisi seint1m itu oleh atasan dan bawahannya di markas.
Bersambung...
duhhh malu bgt ketahuan sm Salma, mau ngilang aj kelobang semut saking malunya🤣
sakti u itu keterlaluan sekali SM s Rahma..
cemburu s cemburu tp sadar diri donk udh mantap blm hati u nya...
hahahaha kepergok s adik nya juga,,
gimna ya cerita selanjutnya...
kepo ya kamu dengan keakraban Rahma dengan pria lain... hihihihihi