Tujuh tahun lalu, Alena melarikan diri dari Kerajaan Aveloria dalam keadaan hamil. Ayah anaknya adalah Pangeran Adrian, pewaris takhta yang dicintainya diam-diam. Takut dihukum mati dan kehilangan bayinya, Alena memilih menghilang tanpa memberitahu kebenaran. Kini, ia kembali sebagai selir kerajaan bersama Elian, putranya yang berusia tujuh tahun. Adrian membencinya karena mengira Alena meninggalkannya, tetapi kemiripan Elian perlahan membangkitkan kecurigaan. Di tengah intrik istana, pertunangan politik, dan ancaman terhadap putranya, Alena harus mempertahankan rahasia terbesar hidupnya. Namun semakin dekat Adrian dengan Elian, semakin sulit Alena menyembunyikan kebenaran yang dapat mengubah masa depan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 — RAHASIA DI DALAM TUBUHNYA
Tiga minggu sejak malam terakhir di Taman Mawar, Istana Valerian sibuk mempercantik diri. Perjamuan besar untuk merayakan pengumuman resmi pertunangan Pangeran Adrian dengan Lady Seraphina Ardent tinggal menghitung hari. Bendera-bendera bersulam lambang elang emas dipasang di sepanjang dinding batu koridor utama, sementara wangi lilin lebah dan minyak lavender tercium dari setiap sudut ruangan.
Namun bagi Alena, suasana megah itu terasa tak ubahnya perayaan atas kematian masa depannya.
Di dalam kamar kecilnya yang terletak di lorong selatan kediaman pelayan dan juru tulis, udara pagi terasa menghempit dada. Alena berlutut di samping baskom tembikar berisi air dingin. Tubuhnya gemetar hebat, bahunya naik turun seiring rasa mual yang mencengkram perut bagian bawahnya. Ia telah memuntahkan seluruh isi perutnya yang sebenarnya hampir kosong sejak semalam.
Ketika kejang pada perutnya perlahan mereda, Alena menyandarkan keningnya yang dingin pada tepian tembikar. Peleringan peluh membasahi pelipis dan helai-helai rambut cokelat keemasannya yang terurai berantakan.
Ia berusaha rasional. Ia mencoba membodohi dirinya sendiri dengan berpikir bahwa ini hanyalah demam biasa akibat hawa dingin musim gugur yang mulai menusuk, atau mungkin efek dari rasa cemas yang berkecamuk di dadanya selama tiga minggu terakhir. Namun, logika yang selama ini menjadi keunggulannya sebagai seorang juru tulis tidak dapat membohongi tanda-tanda biologis tubuhnya.
Siklus bulanannya tidak kunjung datang. Selera makannya mendadak hilang, digantikan oleh kepekaan aneh terhadap aroma-aroma tajam. Bau lilin lebah yang biasa ia sukai kini membuatnya pusing membendung mual.
Dengan tangan yang masih gemetar, Alena meletakkan jemarinya di atas permukaan perutnya sendiri. Datar, lembut, dan terasa tak ada yang berbeda dari luar. Namun di balik kulit dan dagingnya, Alena tahu—sebuah naluri primitif yang mendalam memberitahunya—bahwa ada sebuah kehidupan kecil yang baru saja menyalakan apinya di sana.
Sebuah benih yang ditanam dalam kerahasiaan Taman Mawar.
"Tidak..." bisik Alena pada keheningan kamar. Suaranya pecah, tercekat di tenggorokan. "Tuhan, jangan sekarang..."
Kehamilan di luar pernikahan adalah sebuah bencana bagi wanita bangsawan mana pun di Kerajaan Aveloria. Namun mengandung anak dari Sang Putra Mahkota—pria yang baru saja ditunangkan secara resmi dengan putri keluarga paling berpengaruh di negeri ini—bukan lagi sekadar skandal.
Itu adalah eksekusi mati.
Hukum kerajaan Aveloria sangat ketat mengenai kesucian garis keturunan kerajaan. Seorang wanita tanpa gelar tinggi yang mengandung darah pewaris takhta tanpa ikatan sah akan dianggap sebagai ancaman keamanan nasional. Ia akan dituduh melakukan konspirasi untuk mencemari takhta atau mengacaukan suksesi. Jika anak itu lahir, ia akan dianggap sebagai anak haram yang berpotensi memicu perang saudara di masa depan.
Dunia di sekitar Alena mendadak serasa berputar lambat. Rasa takut yang begitu dingin meluncur dari kepala hingga ke ujung jarinya.
Bukan rasa takut untuk dirinya sendiri.
Saat jemarinya kembali menekan perutnya pelan, sebuah gelombang kehangatan yang tidak terduga menyelusup ke dalam hatinya yang hancur. Di tengah keputusasaan yang membendung, ada bisikan kecil di dalam jiwanya yang berbisik bahwa kehidupan ini adalah milik Adrian dan dirinya. Anak ini adalah bukti dari cinta yang mereka bagi secara tersembunyi—satu-satunya hal nyata yang tersisa dari masa lalu mereka.
Alena mencintai kehidupan kecil ini bahkan sebelum ia sempat mendengar detak jantungnya. Dan justru karena rasa cinta itulah, ketakutannya berlipat ganda.
Ia harus memberitahu Adrian.
Adrian harus tahu. Apapun yang terjadi nanti—apakah pria itu akan memintanya bersembunyi, membantunya melarikan diri, atau mencari cara gila untuk melindunginya—pria itu berhak tahu bahwa ia akan menjadi seorang ayah.
Alena membasuh wajahnya dengan air dingin, merapikan gaun cokelat pudar yang biasa ia kenakan untuk bekerja, dan mengikat rambutnya erat-erat. Ia mengambil liontin batu mawar perak pemberian Adrian dari balik bantalnya, menggenggamnya sebentar untuk meminjam keberanian, lalu menyembunyikannya kembali di dalam saku gaunnya yang terdalam.
Ia melangkah keluar kamar dengan keteguhan hati yang rapuh.
Perpustakaan Istana siang itu relatif sepi. Sebagian besar bangsawan muda sibuk mempersiapkan diri di aula latihan parade atau mendampingi Lady Seraphina yang sedang meninjau dekorasi taman. Alena berjalan menyusuri rak-rak buku kayu ek yang menjulang tinggi, bermaksud menyelesaikan tugas penyalinan dokumennya sebelum berusaha mencari kesempatan bertemu Adrian di Paviliun Barat.
Namun, saat ia sampai di meja kerjanya yang terasing di sudut rak naskah sejarah, dua pria berzirah besi dengan jubah perak telah berdiri menunggunya.
Mereka bukan pengawal biasa. Mereka adalah Penjaga Sumpah—prajurit elite yang hanya menerima perintah langsung dari Dewan Kerajaan dan Raja sendiri.
"Lady Alena Virelle?" tanya salah satu pengawal, suaranya terdengar kaku seperti benturan besi.
Alena menghentikan langkah. Jantungnya meloncat naik ke tenggorokan. "Ya... saya. Ada apa, Tuan-tuan?"
"Anda diminta menghadiri panggilan pribadi di Menara Selatan. Segera."
Menara Selatan bukan tempat perjamuan, bukan pula ruang dewan umum. Itu adalah bangunan tertua di Istana Valerian, tempat di mana ruang interogasi khusus dan kamar kerja para penasihat senior berada. tempat yang jarang sekali tersentuh cahaya matahari siang.
"Panggilan dari siapa?" tanya Alena, mencoba menjaga suaranya agar tidak bergetar. "Saya masih harus menyelesaikan salinan naskah untuk Master Perpustakaan—"
"Penasihat Rowan menunggu Anda," potong pengawal kedua dengan nada dingin yang menolak sanggahan. "Mari ikut kami."
Tidak ada ruang untuk menawar. Pengawal itu tidak menarik pedang mereka, namun posisi berdiri mereka yang mengapit Alena secara tersirat menegaskan bahwa ia adalah seorang tahanan tanpa rantai.
Alena menarik napas panjang, menekan rasa mual yang kembali bergejolak di dada akibat stres yang mendadak melonjak. Ia mengangguk pelan. "Baiklah. Izinkan saya berjalan sendiri."
Perjalanan menuju Menara Selatan terasa seperti jalan panjang menuju tiang gantungan. Setiap langkah kaki yang bergema di atas lantai marmer dingin seolah membilang sisa waktu kebebasannya. Alena terus memikirkan bagaimana caranya menghubungi Mira Lorien, sahabat satu-satunya di tempat ini, jika sesuatu yang buruk terjadi padanya.
Ketika pintu kayu ek tebal Menara Selatan dibuka, aroma minyak cat lama, kertas lapuk, dan kemenyan tajam menyambutnya. Di tengah ruangan beratap kubah yang temaram oleh satu lampu gantung besar, berdiri seorang pria tua berambut putih terikat kencang. Ia mengenakan jubah beludru hijau tua bersulam benang emas.
Duke Rowan. Penasihat senior Kerajaan Aveloria yang telah mengabdi selama tiga generasi.
Di sampingnya, berdiri seorang pria lain yang wajahnya tersembunyi di balik bayangan kanopi jendela—pria berbadan tegap dengan lambang keluarga Ardent di dada zirahnya.
"Tinggalkan kami," perintah Rowan kepada kedua pengawal.
Pintu berat itu ditutup dengan dentuman keras yang bergema di seluruh ruangan, menyisakan Alena berdiri sendirian di tengah karpet merah pudar.
"Nona Virelle," Rowan memulai, suaranya tenang, serak oleh usia, namun dipenuhi oleh ketegasan politisi yang tak tersentuh emosi. Ia berjalan mendekati meja kayunya yang tertimbun gulungan kertas. "Aku menghargai ketepatan waktumu. Duduklah."
"Saya lebih memilih berdiri, Lord Rowan," jawab Alena kaku. tangannya saling bertaut di depan gaunnya, menyembunyikan getaran yang tak bisa ia hentikan. "Boleh saya tahu mengapa saya dipanggil ke sini? Jika ini mengenai naskah terjemahan bahasa Elarian minggu lalu—"
"Ini bukan mengenai naskah kuno, Alena," sela Rowan. Pria tua itu berbalik, menatap Alena dengan mata cokelatnya yang tajam, penuh perhitungan seperti mata seekor elang yang sedang mengintai mangsa. "Ini mengenai sesuatu yang jauh lebih baru. Dan jauh lebih berbahaya."
Rowan berjalan perlahan mengelilingi Alena, langkah kakinya teratur di atas lantai batu.
"Tiga hari yang lalu, seorang tabib istana melaporkan adanya permintaan racikan herbal khusus pembersih rahim dan penahan mual yang diajukan oleh salah satu pelayan di lorong selatan. Pelayan itu, setelah sedikit diinterogasi, mengaku mengambil racikan itu untuk temannya... seorang juru tulis bernama Alena."
Darah di tubuh Alena serasa membeku seketika.
Ia tidak pernah meminta racikan pembersih rahim—pasti pelayan yang disuruhnya membeli obat mual biasa telah bertindak lancang atau salah paham. Namun fakta bahwa namanya telah tercatat oleh tabib kerajaan sudah cukup untuk menjatuhkan vonisnya.
"Aku melihat wajahmu mendadak pucat, Nona Virelle," lanjut Rowan dengan nada yang hampir terdengar prihatin, meski matanya tetap sedingin es. "Artinya kecurigaanku tidak salah. Kau sedang mengandung."
Alena menutup matanya rapat-rapat. Udara terasa lenyap dari paru-parunya. Ia ingin membantah, ingin berbohong dan mengatakan itu semua tidak benar. Namun raut wajah Rowan yang penuh kemenangan memberitahunya bahwa kebohongan apapun saat ini hanya akan terdengar menyedihkan.
"Siapa ayahnya?" tanya pria berzirah keluarga Ardent dari sudut jendela, suaranya berat dan berbahaya.
Alena membuka matanya, menatap pria itu, lalu kembali menatap Rowan. Ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
"Kau tidak perlu menjawabnya," ujar Rowan santai, seolah ia sudah mengetahui jawabannya sebelum pertanyaan itu dilemparkan. "Hanya ada satu pria yang menghabiskan waktu dua jam di ruang arsip tertutup setiap Selasa malam bersama seorang juru tulis. Hanya ada satu pria yang kebetulan sering terlihat berada di dekat Taman Mawar saat larut malam."
Rowan menghela napas panjang, berjalan mendekati meja dan mengambil sebuah gulungan perkamen berstempel lilin merah—stempel resmi Raja Cedric.
"Pangeran Adrian Valerian adalah masa depan kerajaan ini, Alena," kata Rowan dengan nada bicara yang berubah menjadi sangat serius, hampir seperti nasihat seorang kakek, namun diisikan racun ancaman di setiap kata. "Pernikahannya dengan Lady Seraphina akan mengamankan perbatasan utara dari ancaman invasi Kerajaan Oakhaven. Pernikahan itu adalah pilar stabilitas Aveloria untuk lima puluh tahun ke depan."
Rowan melangkah mendekati Alena, berhenti hanya sejarak satu lengan darinya.
"Dan kau... beserta janin tidak sah yang ada di dalam perutmu itu... adalah retakan yang sanggup meruntuhkan seluruh pilar tersebut."
"Adrian..." suara Alena akhirnya keluar, parau dan tipis. "Pangeran Adrian berhak mengetahui hal ini. Biarkan saya berbicara dengannya—"
"Bicara dengannya?" Rowan tertawa kecil, suara tawa yang membuat bulu kuduk Alena berdiri. "Apakah kau pikir apa yang akan terjadi jika Adrian tahu? Pangeran muda yang impulsif dan penuh idealisme konyol itu mungkin akan mencoba membatalkan pertunangannya. Ia akan menantang keputusan ayahnya dan Dewan Kerajaan."
Rowan menunduk, menatap langsung ke dalam mata Alena yang mulai berkaca-kaca.
"Dan tahukah kau apa yang dilakukan Raja Cedric terhadap orang-orang yang mengancam stabilitas takhta putranya? Raja tidak akan mengampunimu, Alena. Kau akan dieksekusi atas tuduhan pengkhianatan tingkat tinggi di alun-alun istana sebelum matahari terbit besok."
Alena mencengkeram kain gaunnya erat-erat. "Saya... saya bisa pergi. Saya bisa bersumpah tidak akan pernah menuntut apapun—"
"Dan bagaimana dengan anak itu?" potong pria dari keluarga Ardent, melangkah keluar dari bayangan. Wajahnya keras, penuh kebencian. "Apakah kau pikir dewan akan membiarkan seorang anak berdarah Valerian tumbuh di luar sana, menjadi ancaman klaim takhta di masa depan? Begitu anak itu lahir, jika kau masih hidup, anak itu akan diambil. Ia akan dibesarkan sebagai tahanan politik atau disingkirkan secara diam-diam agar tidak ada duri di dalam daging kepemimpinan Adrian kelak."
Setiap kata yang diucapkan pria itu menghantam Alena seperti pukulan fisik.
Anak itu akan diambil.
Atau disingkirkan secara diam-diam.
Gambar bayangan anak kecil yang tak berdosa dipisahkan darinya, diderita di dalam penjara atau dibunuh demi politik kerajaan, menghancurkan sisa-sisa keberanian Alena. Hatinya menjerit oleh rasa sakit yang tak terbayangkan.
"Kau punya satu kesempatan, Nona Virelle," bisik Rowan, suaranya kembali melunak, namun intensitas ancamannya melipat ganda. "Malam ini, perjamuan pertunangan akan berlangsung di Aula Utama. Pangeran Adrian akan mengumumkan pertunangannya di hadapan seluruh bangsawan negeri."
Rowan menyelipkan selembar surat kosong dan sebuah pena bulu ke tangan Alena yang dingin membebas.
"Tulis surat untuknya. Beritahu dia bahwa kau tidak pernah mencintainya. Beritahu dia bahwa hubungan kalian hanyalah kebodohan dan kau telah memutuskan untuk pergi meninggalkan Aveloria bersama pria lain dari wilayah asalmu. Buat dia membencimu hingga ia tidak akan pernah sudi mencarimu lagi."
"Tidak..." Alena menggelengkan kepalanya lemah. "Saya tidak bisa..."
"Jika kau melakukannya," lanjut Rowan tanpa memedulikan penolakan Alena, "aku sendiri yang akan memastikan kau bisa keluar dari gerbang istana malam ini secara diam-diam. Aku akan memberimu sedikit emas untuk bertahan hidup di luar batas kerajaan. Kau bisa melahirkan anakmu di tempat yang jauh, membesarkannya sebagai rakyat biasa yang bebas. Anakmu akan selamat. Kau akan selamat."
Rowan menunduk lebih dekat, membisikkan ancaman terakhirnya tepat di telinga Alena.
"Tetapi jika kau menolak... jika kau mencoba menemui Adrian malam ini atau membocorkan rahasia ini kepada siapa pun... aku bersumpah demi makam raja-raja Valerian, kau akan dijebloskan ke penjara bawah tanah sebelum pesta dimulai. Dan anakmu tidak akan pernah melihat indahnya cahaya matahari."
Ruangan itu mendadak terasa begitu hening. Suara detak jam dinding kuningan di sudut ruangan terdengar seperti ketukan palu hakim yang menjatuhkan vonis.
Alena berdiri membeku. Di dalam dadanya, pertempuran hebat terjadi antara cintanya pada Adrian dan naluri keibuannya untuk melindungi nyawa anak yang baru saja hadir di rahimnya.
Jika ia memberi tahu Adrian, pria itu mungkin akan melindunginya, tetapi mereka akan berhadapan dengan seluruh kekuatan Kerajaan Aveloria, Raja, Dewan, dan pasukan Ardent. Anak mereka akan menjadi sasaran pembunuhan politis. Adrian sendiri mungkin akan kehilangan hak takhtanya atau hancur dalam perang saudara.
Namun jika ia pergi... jika ia berbohong dan membuat Adrian membencinya...
Anaknya akan hidup. Anak mereka akan aman dalam pelukannya, jauh dari racun intrik istana.
Hanya saja, harga yang harus dibayar adalah kehancuran hatinya sendiri dan rasa sakit Adrian yang harus menanggung luka pengkhianatan palsu ini selamanya.
Dengan tangan yang gemetar hebat hingga tetesan tinta hitam menodai kertas putih di depannya, Alena perlahan mengangkat pena bulu itu. Air matanya menetes, jatuh tepat di atas kertas, membasahi serat-serat kayu halus sebelum tinta mulai digoreskan.
Ia telah mengambil keputusannya. Keputusan seorang ibu yang rela menjadi penjahat di mata pria yang paling dicintainya, demi menyelamatkan buah cinta mereka.