NovelToon NovelToon
Kembalinya Dewa Kematian

Kembalinya Dewa Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:148.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Boqin Changing

Ini adalah cerita tentang seseorang yang kembali ke masa lalunya. Seorang pendekar kuat yang berhasil mendapatkan pusaka untuk mengulang waktu.

Sembilan tahun telah berlalu semenjak kembalinya dia ke masa lalu. Banyak hal yang telah ia ubah. Kekuatannya juga perlahan mendekat ke puncak kekuatannya di kehidupan pertama.

Namun ancaman lain akhirnya muncul. Sejarah telah berubah karena campur tangannya. Kini ia harus bersiap menghadapi musuh lain yang rumit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Semua Mendekat ke Patriak Wang Zhou

Keesokan paginya, kabut tipis masih menyelimuti tepian sungai. Cahaya matahari baru saja menembus celah-celah pepohonan, memantulkan kilau keemasan di atas permukaan air yang mengalir tenang.

Suasana perkemahan perlahan mulai hidup. Beberapa murid telah menyalakan api untuk menyiapkan sarapan, sementara yang lain memeriksa perlengkapan mereka sebelum melanjutkan perjalanan.

Di atas sebuah batu besar yang berada tidak jauh dari aliran sungai, Wang Zhou duduk seorang diri. Di tangannya terdapat semangkuk bubur hangat dan sepotong daging kering. Ia makan perlahan sambil menikmati suara gemericik air yang mengalir di hadapannya.

Tak lama kemudian, terdengar beberapa langkah kaki mendekat.

"Patriak Zhou."

Wang Zhou menoleh.

Yang datang ternyata Tetua Agung Peng bersama beberapa tetua dari berbagai sekte. Di antara mereka bahkan terdapat Tetua Dai Xung dari Sekte Tameng Naga.

Melihat rombongan itu, Wang Zhou segera meletakkan mangkuknya.

"Tetua Peng."

"Tetua Xung."

"Semuanya."

Ia membalas salam mereka dengan senyum ramah.

Tetua Agung Peng ikut tersenyum.

"Patriak Zhou... apakah kami mengganggumu?"

Wang Zhou menggeleng.

"Tentu tidak."

Tetua Peng melanjutkan,

"Kalau begitu... apakah kami boleh makan bersama di sini?"

"Tentu saja."

Wang Zhou langsung menggeser duduknya agar memberi ruang.

"Silakan."

Beberapa tetua segera duduk di atas batu-batu besar di sekitarnya. Suasana yang semula sunyi perlahan berubah hangat. Bahkan Tetua Dai Xung yang sebelumnya selalu menunjukkan wajah dingin kepada Wang Zhou kini tampak jauh lebih ramah.

"Patriak Zhou."

"Selamat pagi."

Wang Zhou sedikit terkejut melihat perubahan sikap pria tua itu, tetapi tetap membalas dengan sopan.

"Selamat pagi."

Tak lama kemudian, mereka mulai menikmati makanan masing-masing sambil mengobrol ringan. Percakapan mereka berkisar mengenai perjalanan, kondisi hutan, hingga berbagai pengalaman ketika menjalankan misi. Sesekali terdengar tawa kecil.

Namun setelah beberapa saat, suasana perlahan berubah lebih serius. Tetua Peng mengembuskan napas panjang.

"Semalam... aku benar-benar tidak bisa tidur."

Beberapa tetua lain langsung menganggukkan kepala.

"Aku juga."

"Begitu pula denganku."

Tetua Dai Xung tersenyum pahit.

"Setiap kali aku memejamkan mata... yang terbayang justru wajah mata-mata itu."

Ia berhenti sejenak.

"Dan senyum Senior Chang."

Semua orang langsung terdiam. Tidak ada yang menganggap ucapan itu berlebihan.

Metode interogasi yang dilakukan Boqin Changing benar-benar meninggalkan bayangan mendalam di benak mereka. Ancamannya, caranya berbicara, senyumnya ketika mengatakan hal-hal mengerikan, hingga cara ia menepati janjinya tanpa benar-benar melepaskan musuh, semuanya terasa begitu menyeramkan.

Tetua dari salah satu sekte kecil menggeleng pelan.

"Sejujurnya... aku sudah bertemu banyak pendekar aliran hitam."

"Namun belum pernah melihat seseorang menginterogasi musuh seperti itu."

Tetua lain ikut menambahkan,

"Yang paling membuatku takut justru ekspresinya."

"Ia mengatakan semua itu sambil tersenyum."

"Tidak ada kemarahan."

"Tidak ada teriakan."

"Itulah yang paling mengerikan."

Semua orang kembali terdiam. Tak seorang pun membantah. Rasa takut kepada Boqin Changing diam-diam telah tumbuh di hati hampir seluruh orang yang berada di perkemahan itu.

Namun mereka juga menyadari satu hal. Di antara semua orang dalam rombongan ini, hanya ada satu orang yang masih benar-benar dihormati Boqin Changing, yaitu Wang Zhou.

Hal itu sebenarnya sangat wajar. Mereka berasal dari sekte yang sama. Selain itu, Wang Zhou merupakan Patriak Sekte Dua Pedang Petir.

Sejak semalam mereka juga melihat sendiri bagaimana hangatnya Boqin Changing berbicara kepada Wang Zhou. Sikap yang sama sekali berbeda dibandingkan ketika ia berbicara kepada orang lain.

Tetua Peng tersenyum kecil.

"Patriak Zhou."

"Mulai sekarang... sepertinya kami harus lebih sering mengobrol denganmu."

Wang Zhou tampak bingung.

"Mengapa?"

Beberapa tetua saling berpandangan sebelum akhirnya tertawa kecil. Tetua Dai Xung yang menjawab kali ini.

"Karena kami semua ingin hidup tenang."

"Hahaha..."

Tawa kecil terdengar di antara mereka.

Namun di balik candaan itu, semua orang tahu bahwa kalimat tersebut mengandung setengah kebenaran.

Mendekat kepada Wang Zhou setidaknya membuat hati mereka sedikit lebih tenang. Kalaupun suatu hari tanpa sengaja menyinggung Boqin Changing, mereka berharap Wang Zhou bersedia menjadi penengah.

Wang Zhou hanya bisa menggeleng sambil tersenyum pahit.

"Kalian terlalu membesar-besarkan dirinya."

Tetua Peng langsung tertawa kecil.

"Setelah semalam..."

"Kurasa tidak ada seorang pun yang berani mengatakan kami membesar-besarkannya."

Semua orang kembali tertawa pelan.

Sementara itu, di sudut lain perkemahan, tenda Boqin Changing masih tertutup rapat. Tidak terdengar suara sedikit pun dari dalam. Ia masih belum keluar.

Melihat keadaan itu, salah seorang murid berbisik pelan kepada temannya.

"Sepertinya..."

"Hanya Senior Chang yang bisa tidur nyenyak semalaman."

Murid di sebelahnya menganggukkan kepala.

"Kurasa begitu."

Mereka tidak mengetahui bahwa ketenangan Boqin Changing sama sekali bukan karena ia meremehkan Hutan Kematian.

Di dalam tendanya, sebuah pedang hitam tertancap tegak di atas tanah. Itu adalah Pedang Neraka Kegelapan. Aura hitam yang sangat tipis menyelimuti bilahnya, nyaris tidak terlihat oleh mata biasa.

Semalaman penuh, roh pusaka yang bersemayam di dalam pedang itu tetap terjaga. Indra spiritualnya terus menyapu area di sekitar tenda tanpa henti.

Selama Pedang Neraka Kegelapan masih tertancap di sana, tidak ada satu pun penyusup yang dapat mendekati Boqin Changing tanpa terlebih dahulu diketahui oleh roh pusaka tersebut. Karena itulah, Boqin Changing dapat beristirahat dengan tenang.

Bukan karena ia lengah. Melainkan karena ada penjaga yang jauh lebih dapat dipercaya daripada siapa pun di perkemahan itu.

...*******...

Suasana di luar perkemahan semakin ramai. Matahari kini telah naik lebih tinggi. Para murid sibuk membereskan tenda, memeriksa senjata, dan mengikat kembali barang bawaan mereka. Beberapa tetua tampak berdiskusi mengenai rute yang akan mereka tempuh berikutnya.

Meski demikian, tidak ada seorang pun yang benar-benar bersiap untuk berangkat. Tak seorang pun berani melangkahkan kaki meninggalkan perkemahan. Semua orang seolah sedang menunggu seseorang.

Tatapan mereka sesekali mengarah ke sebuah tenda yang berdiri tidak jauh dari tepi sungai. Tenda milik Boqin Changing.

Baru beberapa saat kemudian, tirai tenda itu perlahan terbuka. Boqin Changing melangkah keluar dengan wajah yang masih setenang biasanya.

Dalam sekejap, suasana yang sebelumnya dipenuhi percakapan langsung berubah sunyi. Semua bisikan berhenti. Tidak ada lagi tawa.

Bahkan suara para murid yang sedang membereskan barang pun perlahan menghilang. Seolah-olah seluruh perkemahan menahan napas secara bersamaan.

Boqin Changing sama sekali tidak memedulikan perubahan suasana itu. Ia berjalan santai menuju tepian sungai. Berjongkok sebentar. Kemudian mengambil air dengan kedua telapak tangannya.

Byur!!!!

Ia membasuh wajahnya beberapa kali sebelum berdiri kembali. Setelah itu, ia berjalan menuju tempat Wang Zhou dan para tetua yang masih duduk mengobrol.

Di tengah perjalanan, kilatan cahaya redup muncul dari cincin ruang di jarinya. Seketika, sepotong roti kering telah berpindah ke tangannya.

Kruk!!!

Ia menggigit roti itu dengan santai sambil terus melangkah. Sesampainya di dekat mereka, Boqin Changing menganggukkan kepala.

"Selamat pagi, Patriak."

Wang Zhou tersenyum hangat.

"Selamat pagi."

Boqin Changing kemudian mengalihkan pandangannya kepada Tetua Agung Peng.

"Tetua Peng."

"Di mana kau meletakkan mata-mata semalam?"

Tetua Agung Peng segera berdiri.

"Di sana, Senior."

Ia menunjuk ke arah semak-semak yang berada tidak jauh dari perkemahan.

"Pagi ini aku sudah memeriksanya. Dia masih hidup."

"Tetapi... sudah tidak mengeluarkan erangan sedikit pun."

Tetua Peng berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Matanya kosong. Seperti... orang yang telah kehilangan seluruh harapan hidup."

Boqin Changing hanya menganggukkan kepala kecil. Ia tentu mengetahui apa yang sedang dialami Liu Bin.

Racun Katak Panah Perak tidak hanya menghancurkan tubuh korbannya sedikit demi sedikit. Rasa sakit yang terus-menerus juga perlahan menghancurkan mental korbannya. Banyak orang kehilangan keinginan untuk hidup jauh sebelum racun itu benar-benar membunuh mereka.

Boqin Changing tetap mengunyah roti keringnya. Kemudian perlahan mengangkat tangan kanannya. Telapak tangannya memancarkan cahaya putih.

Swusss!

Sinar itu melesat lurus menuju semak-semak. Sesaat kemudian...

Booommmm!

Ledakan keras mengguncang perkemahan. Tanah bergetar pelan. Burung-burung yang bertengger di pepohonan langsung beterbangan ke langit.

Asap tipis perlahan mengepul dari balik semak. Tubuh Liu Bin telah hancur berkeping-keping akibat ledakan tersebut.

Boqin Changing tetap mengunyah rotinya seolah tidak terjadi apa-apa. Setelah menelan suapan itu, ia berkata dengan nada santai,

"Sepertinya semalam aku sedikit terbawa emosi."

Ia mengambil satu gigitan lagi dari rotinya.

"Biarlah... sekarang dia mati dengan tenang."

"..."

Suasana kembali sunyi. Beberapa murid tanpa sadar menelan ludah. Tatapan mereka tertuju kepada Boqin Changing yang masih mengunyah roti dengan tenang, seolah baru saja melakukan sesuatu yang sangat biasa.

Salah seorang murid merasakan tenggorokannya mengering.

"Dia..."

"Masih bisa makan dengan setenang itu..."

"...setelah membunuh seseorang."

Murid di sampingnya buru-buru menyikut lengannya agar diam. Tidak ada yang berani menanggapi.

Boqin Changing sendiri tampak sama sekali tidak terpengaruh oleh tatapan mereka. Ia menghabiskan gigitan terakhir rotinya. Kemudian menepuk-nepuk remah roti di tangannya.

Barulah ia menoleh kepada seluruh orang yang berada di perkemahan.

"Jika semua sudah selesai...."

Tatapannya menyapu seluruh rombongan.

"Bersiaplah."

"Kita berangkat sebentar lagi."

"Baik, Senior!"

Jawaban itu terdengar hampir bersamaan.

Para murid dan tetua segera bergerak dengan tergesa-gesa. Tidak ada seorang pun yang berani membuat Boqin Changing menunggu.

Dalam waktu singkat, seluruh perkemahan kembali dipenuhi kesibukan. Namun kali ini, tidak ada lagi percakapan santai.

Yang terdengar hanyalah suara langkah kaki, gesekan perlengkapan, dan napas para pendekar yang bekerja dalam diam. Mereka semua masih belum mampu menghilangkan bayangan mengerikan tentang sosok pemuda yang berdiri dengan tenang di hadapan mereka.

1
Mahayabank
Mantap Lanjuuuut lagi.. 🔁👍💪💪✅
Mahayabank
Yaudah lanjuuuut lagi 🔁🔁👀
Mahayabank
💪💪💪👍👍✅✅
Mahayabank
Makasih upnya 👍
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
Rinaldi Sigar
lnjut
Baim Putra Kirana
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Raju
hadeeeeech.....
ta apalah !!
biar alurnya lambat asal selamat
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Mantap 👍👍
Nanik S
Baru kejutan si Tuan muda menyerah 👍👍👍
Nanik S
Wkwkwkwkwk Tuan besar kalah sama Boqin Feng...🤣🤣🤣🤣
yayat
diracunin ayahnya untuk mancing n dpt ijin dr ibunya boqin ga berkutik
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehehe ayoooo mancing mania 👍🤣
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Hiburan 🌽🔥
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Wu Xing tepat untuk tetap diSekte, karena dia Ketua Sekte yang ikut Boqin Changing ke Kaisaran Qin. selain menjaga Sekte bisa juga melatih orang diSekte.
Zainal Arifin
libur ???
Joedhi Ghenitz
sangat bagus, keren
Akhmad Baihaki
🤭🤭🤭🤭🤭
Blue Manusia Biasa
kacian Wu Xing🤣🤣
Nurhasnah Yolanda
mana kelanjutanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!