NovelToon NovelToon
Tangan Emas: Dokter Muda dengan Sistem Ilahi

Tangan Emas: Dokter Muda dengan Sistem Ilahi

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Dokter
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elang

"Surya Pratama hanyalah seorang dokter magang miskin di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Diputusin pacarnya di depan umum, dihina oleh si kaya Kevin Hartono — hidupnya hancur.

Tapi di saat paling rendah, sebuah **Sistem Dokter Ilahi Super** terbangun dalam pikirannya.

Setiap nyawa yang ia selamatkan mengisi **Botol Pahala**. Setiap botol yang penuh membuka kemampuan baru: **Tangan Emas** yang membuat tangannya tak pernah gemetar, **Mata Tembus** yang melihat menembus tubuh manusia, **Mimpi Ilahi** yang membaca ingatan terakhir orang mati.

Level demi level, Surya naik — dari dokter magang yang diremehkan semua orang menjadi Kepala IGD termuda dalam sejarah rumah sakit."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14 — Rahasia Tujuh Tahun

Surya membaca pesan Reza dua kali.

Dia tidak melupakan semua jebakan, hinaan, dan pasien yang hampir menjadi korban persaingan mereka. Namun kanker pada ayah Reza tidak melakukan satu pun dari kesalahan itu.

Saya akan periksa. Bawa seluruh hasil dan daftar obat. Jangan sembunyikan apa pun.

Reza datang keesokan harinya bersama ayahnya. Kesombongan yang dulu memenuhi setiap langkahnya sudah hilang.

Pemeriksaan menunjukkan tumor kandung kemih dengan lesi pada lambung yang membutuhkan konfirmasi. Setelah endoskopi, biopsi, dan rapat multidisiplin, tim menyusun operasi bertahap. Surya memimpin bagian yang paling sulit di bawah kredensial dan supervisi konsultan terkait.

"Lo tidak perlu melakukan ini setelah apa yang gue lakukan," kata Reza sebelum operasi.

"Saya melakukan ini untuk ayah lo. Kalau mau membalas, jadilah dokter yang tidak menjadikan pasien senjata."

Operasi berjalan tanpa komplikasi besar. Tumor diangkat sesuai batas aman, perdarahan terkendali, dan jalur terapi lanjutan ditentukan berdasarkan patologi.

Reza menunggu di luar ICU sampai ayahnya stabil. Ketika Surya keluar, dia hanya menundukkan kepala.

"Terima kasih."

Kali ini tidak ada kamera dan tidak ada orang yang perlu dikalahkan.

Minggu-minggu setelahnya membuat banyak bagian mencari Surya. Dia menyelesaikan splenektomi pertamanya pada pasien dengan limpa pecah dan mengendalikan pedikel tanpa melukai ekor pankreas.

Di tepi jalan, dia melakukan RJP pada seorang petinju yang kolaps setelah latihan sampai AED dan ambulans tiba. Beberapa hari kemudian, dia membantu pemasangan stent koroner dalam dua puluh lima menit. Dia juga merekonstruksi ibu jari seorang pekerja agar fungsi mencengkeramnya tetap ada.

Rizki melihat daftar itu dan menggeleng. "Orang lain rotasi untuk belajar. Lo rotasi untuk membuat dokternya minder."

"Saya juga belajar."

"Itu yang lebih menyebalkan."

Anindya hadir pada hampir semua kasus sulit. Kadang dia memberi diagnosis yang tidak terpikirkan orang lain. Kadang dia hanya meletakkan kopi di sisi meja Surya. Setelah ciuman di koridor, dia justru kembali lebih dingin di depan orang lain.

"Kalian bisa berhenti berpura-pura?" kata Rizki saat Anindya diam-diam mengganti kopi Surya dengan minuman tanpa gula. "Seluruh IGD sudah tahu."

Anindya menatapnya. "Kalau banyak bicara meningkatkan fungsi otak, nilai akademikmu seharusnya paling tinggi."

Bayu menahan senyum.

Surya mengejar Anindya di parkiran malam itu.

"Saya serius soal kamu."

Anindya berhenti, tetapi tidak berbalik.

"Aku suka kamu," lanjut Surya. "Aku suka caramu berusaha memahami setiap pasien. Satu ciuman dan godaan orang lain tidak menentukan perasaan ini."

"Kamu tidak mengenal seluruh diri saya."

"Kalau begitu beri saya kesempatan."

Anindya akhirnya menoleh. Ada keinginan dan ketakutan pada wajah yang sama.

"Tidak sekarang," katanya.

Dia pergi sebelum Surya dapat bertanya.

Jawaban itu terus mengganggunya sampai sebuah kasus perdarahan subaraknoid masuk. CT angiografi menunjukkan aneurisma pecah. Pasien memerlukan kraniotomi dan clipping segera.

Operasi berlangsung tujuh jam. Surya membantu membuka akses, menjaga jaringan otak, dan bekerja pada leher aneurisma bersama tim Bedah Saraf. Satu gerakan terlalu kasar dapat memicu perdarahan ulang.

Pada jam kelima, Pak Hendra bertanya tanpa mengalihkan mata dari bidang operasi.

"Kalau orang yang kamu sayangi punya penyakit kronis yang tidak bisa disembuhkan, kamu akan bagaimana?"

"Mencari cara mengendalikannya."

"Kalau penyakit itu bisa mengambil masa depannya?"

"Saya tidak akan mengambil keputusan atas namanya. Tapi saya juga tidak pergi hanya karena takut."

Pak Hendra diam cukup lama.

"Jangan jawab terlalu cepat. Penyakit tertentu bukan satu operasi lalu selesai."

Klip akhirnya menutup aneurisma. Aliran pada pembuluh normal tetap terjaga. Pasien dibawa ke ICU dalam kondisi stabil.

Setelah membersihkan diri, Pak Hendra menyerahkan sebuah hasil laboratorium lama kepada Surya.

"Sebelum kamu marah, Anindya memberi izin," katanya. "Dia menitipkan berkas ini kepada saya. Kalau jawabanmu di meja operasi tadi berbeda, saya tidak akan menyerahkannya. Rahasia medis tetap miliknya."

Nama di atasnya: Anindya Kusuma.

ANA positif. Anti-dsDNA tinggi. Komplemen rendah. Ada catatan nyeri sendi, ruam, kelelahan, dan gangguan organ yang datang dalam flare.

"Lupus Eritematosus Sistemik," kata Pak Hendra. "Dia sudah hidup dengannya tujuh tahun."

Surya merasa udara di koridor menghilang.

Dia menemukan Anindya di atap rumah sakit menjelang subuh. Perempuan itu berdiri membelakangi pintu, memandang lampu Surabaya.

"Bapak memberi tahu?" tanyanya tanpa berbalik.

"Kenapa kamu tidak bilang?"

"Karena saya tahu bagaimana orang melihat perempuan sakit. Mereka ingin menyelamatkan, lalu lelah. Mereka bicara soal pernikahan, anak, dan dua puluh tahun ke depan seolah tubuh saya kontrak yang buruk."

Anindya menggenggam pagar.

"Dokter saya memberi gambaran peluang bertahan dua puluh tahun sekitar lima puluh persen berdasarkan kondisi dan data yang mereka gunakan. Angka itu bukan vonis pasti, tapi cukup untuk merusak setiap rencana."

Selama tujuh tahun Anindya menjalani kontrol berkala, obat penekan aktivitas autoimun, perlindungan terhadap infeksi, dan pemeriksaan organ. Ada bulan ketika dia bisa bekerja seperti siapa pun. Ada hari ketika sendinya nyeri, demam datang tanpa sebab jelas, atau kelelahan membuat berjalan dari parkiran terasa seperti mendaki gunung.

"Saya tahu terapi bisa mengendalikan flare," katanya. "Saya juga tahu penyakit ini bisa menyerang ginjal, jantung, paru, atau otak tanpa menunggu saya siap. Karena itu saya menyimpan permen untuk hipoglikemia, obat di tas, dan rencana darurat di ponsel. Saya tidak ceroboh, Surya. Saya hanya tidak mau hidup sebagai pasien setiap menit."

"Saya tidak akan mengambil jas doktermu dan menyuruhmu berbaring," jawab Surya. "Tapi kalau kamu sedang flare, jangan menghilang dan menyebutnya mandiri. Beri orang yang kamu percaya kesempatan membantu."

"Itu alasan kamu menjauh setelah mencium saya?"

"Aku tidak bisa menyeretmu ke dalam sesuatu yang mungkin tidak punya akhir baik."

Panel sistem muncul di pandangan Surya.

『Lupus Eritematosus Sistemik tidak dapat disembuhkan dengan kemampuan Inang saat ini.』

『Kemungkinan hadiah Level 10: Penyembuhan Super. Efek potensial mencakup penyakit autoimun sistemik.』

Level 10.

Surya masih berada di Level 3.

Jaraknya terasa seperti seluruh langit Surabaya.

Dia berdiri di samping Anindya, tidak mencoba menyentuh sebelum perempuan itu memberi ruang.

"Penyakitmu akan kita hadapi sesuai data dan pilihanmu," katanya. "Saya akan terus belajar. Kalau ada peluang untuk menyembuhkanmu, saya akan mengejarnya tanpa mengambil keputusan darimu."

Anindya menutup mata. "Kamu tidak tahu berapa lama."

"Kalau begitu saya harus naik lebih cepat."

Sejak sistem datang, keinginannya naik level selalu berhubungan dengan nama, uang, atau kemampuan. Kini wajah Anindya memberi tujuan itu arah yang jauh lebih pribadi.

Malam itu, Surya meminta izin menyimpan nomor dokter reumatologi Anindya untuk keadaan darurat. Anindya mengirimkannya sendiri.

Kontaknya tersimpan.

1
Mayang
jangan mendadak tamat y thor/Tongue/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!