Aruna tak menyangka kematiannya justru membawanya bertransmigrasi ke dalam novel kerajaan Eropa sebagai Lady Evelyne Ashcroft, villain yang ditakdirkan berakhir tragis.
Berbekal ingatan akan alur cerita, ia bertekad mengubah nasibnya dan menghindari semua bendera kematian. Namun, rencananya langsung berantakan ketika seluruh keluarganya dan sang tunangan tiba-tiba dapat mendengar isi pikirannya.
Rahasia masa depan yang terus terungkap membuat jalan cerita berubah. Keluarga yang semula membencinya mulai melindunginya, sementara tunangan yang seharusnya meninggalkannya justru semakin tergila-gila padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Kediaman Ashcroft seketika berubah menjadi tempat yang penuh kewaspadaan ketat setelah kejadian di taman. Para penjaga memperketat pengawasan di setiap penjuru bangunan.
Di ruang kerja Duke Arthur, seluruh anggota keluarga berkumpul dengan wajah-wajah yang kelabu. Selembar surat terlipat terbentang di atas meja kayu yang luas, dan satu kalimat yang tertulis di atasnya seakan menatap mereka dengan dingin.
Arthur menatap putrinya dengan tatapan penuh kekhawatiran yang tak sanggup ia sembunyikan. "Evelyne..."
Aruna menggenggam ujung gaunnya erat-erat hingga buku jarinya memutih. "Ya, Ayah?"
"Sejak kapan kau merasa ada orang asing yang terus mengawasimu ke mana pun kau melangkah?"
"Beberapa hari yang lalu," jawab Aruna pelan.
Arthur mengerutkan kening mendengar pengakuan itu. "Mengapa kau tak pernah menceritakan hal ini kepada kami sejak awal?"
"Aku tak ingin membuat kalian cemas tanpa alasan yang jelas," jawab Aruna lirih.
Arthur menghela napas panjang lalu menatap putrinya dengan tatapan yang begitu dalam. "Kau adalah darah dagingku. Bagaimana mungkin kami tak akan cemas melihatmu terus dalam bahaya seperti ini?"
Aruna terdiam tak mampu membantah. Di sampingnya, Cedric pun ikut bersuara dengan nada yang tak kalah serius. "Mulai saat ini, jangan pernah menanggung beban semacam ini sendirian. Jika ada sesuatu yang mencurigakan atau membuat hatimu tak tenang, ceritakanlah kepada kami."
Aruna menatap wajah Cedric yang tampak begitu tulus dan bersungguh-sungguh. Ia pun mengangguk pelan. "Baiklah."
Namun di dalam hatinya, kegelisahan itu belum juga mereda. Jika sosok yang menyadari jati dirinya itu benar-benar mengetahui siapa dirinya yang sesungguhnya... maka hal mengerikan apa yang kelak akan diperbuatnya?
***
Sementara itu, jauh dari kediaman Ashcroft...
Di dalam sebuah ruangan rahasia yang remang-remang, Duke Arthur berdiri dengan wajah yang tak bisa menyembunyikan amarahnya. Di hadapannya berdiri sosok pria berjubah hitam yang kelak menjadi perpanjangan tangan kekuasaan bayang-bayang itu.
"Mengapa wanita itu dibunuh sebelum sempat menyelesaikan tugasnya?" bentak Duke Harold tak mampu lagi menahan kemarahannya.
Pria berjubah hitam itu menjawab dengan tenang seakan tak ada sesuatu yang kelak terjadi. "Karena ia telah gagal menjalankan perintah yang diberikan kepadanya."
"Ia seharusnya mendapatkan pengakuan dari mulut gadis itu sendiri!" Harold mengepalkan tangannya erat hingga urat-urat di pelipisnya tampak menonjol. "Lalu sekarang? Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"
"Rencana tetap berjalan sesuai alur yang telah ditetapkan," jawab pria itu tenang.
Harold terdiam sejenak sebelum kembali bersuara dengan nada yang penuh keraguan. "Apakah gadis itu benar-benar bukan Evelyne yang kita kenal selama ini?"
Pria berjubah hitam itu tersenyum tipis, senyum yang tak pernah menyentuh matanya yang sedingin es. "Kita belum memiliki bukti yang cukup untuk memastikannya. Namun perubahan watak dan sifatnya yang begitu drastis sungguh tak dapat dianggap sebagai kebetulan belaka."
Harold pun ikut mengerutkan kening. "Lalu apa rencanamu selanjutnya?"
"Kita harus mengujinya lebih jauh untuk memastikan kebenaran itu sendiri."
***
Malam pun semakin larut dan Aruna masih duduk sendirian di tepi ranjang kamarnya yang remang.
"Pasti ada petunjuk yang selama ini kuabaikan..." gumamnya pelan.
Tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu kamarnya.
"Siapa di luar sana?"
Tak ada suara yang membalas, namun detik berikutnya seekor burung berhenti di depan jendela, pada kakinya ada selembar kertas tergulung.
Begitu Aruna mengambilnya, ia bisa membaca isi yang bertuliskan:
○Berhentilah mengubah kisah ini, Aruna.○
Aruna mundur selangkah dengan wajah pucat tanpa darah. Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun di dunia asing ini... seseorang telah memanggil namanya yang sesungguhnya.