NovelToon NovelToon
The Thirteen Fault

The Thirteen Fault

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: whimsy quinn

Jackly Ellesmere Zloty- dia adalah pamanku yang galak dan posesif. Tapi, dia selalu menuruti permintaanku. asal tidak bersangkutan dengan satu orang yang begitu di bencinya. yaitu.. Papa.
~BillbyImona

Tidak hanya kami.. semua orang pasti bertanya-tanya siapa sebenarnya Billby itu?
~tigabujangprancis
#family drama with romcom

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Papaya For The Stranger

River bergegas mengambil langkah seribu. Ia menyembunyikan tubuh tegapnya di balik sebuah mobil yang terparkir, tepat ketika Jack dan Billby melangkah keluar dari barber shop.

Setelah tiba di area luar, paman dan keponakan itu berdiri sejenak di teras ruko.

Kedua mata bulat Billby langsung melongok ke arah kafe tempat ia membeli boba tadi. Dahinya mengernyit heran.

"Kok om-om bobanya ilang, ya?" tanya Billby sambil menatap meja kasir yang kini tampak kosong melongpong.

Mendengar celetukan itu, Jack ikut melemparkan pandangannya ke dalam kafe. "Memangnya kenapa? Kamu suka? Ngapain nyariin dia?" cecar Jack interogatif.

Billby mengangguk mantap. Entah karena gadis kecil itu benar-benar menyukai si penjual boba, atau ia hanya berniat memancing emosi pamannya saja.

"Bill—"

Sebelum hawa-hawa mengerikan dari tubuh Jack semakin memuncak, Billby dengan sigap memotong ucapan omnya. Gadis itu tertawa renyah.

"Enggak, Om... enggak! Billby gak suka, hehehe," ralat Billby cepat sambil menyunggingkan cengiran lebarnya.

Di balik mobil persembunyiannya, bahu River seketika melemas.

Om? Jadi Jack dipanggil om?

Dan... Billby? Gadis kecil itu menyebut dirinya sendiri Billby?

Mata River mendadak berkaca-kaca menahan haru yang membuncah. Fix. Gadis kecil yang menggemaskan itu adalah putrinya. Darah dagingnya yang selama ini ia rindukan.

Rasanya River ingin sekali berlari keluar dari persembunyian, lalu mendekap tubuh mungil itu erat-erat. Namun, akal sehat menahan egonya kuat-kuat. Tidak. Jangan sekarang. Ini bukan waktu yang tepat.

Kembali ke teras ruko, wajah Jack masih tampak datar dan dingin. "Terus ngapain kamu masih liat-liat ke dalam kafe?"

"Ya nyari om-omnya lah," sahut Billby tanpa beban.

"Billby..." tegur Jack lagi, kali ini dengan nada berat yang begitu mendominasi.

"Bukan mau ngapa-ngapain, Om. Aku cuman ngerasa kalau om-omnya itu agak familiar. Apa jangan-jangan dia artis yang lagi menyembunyikan identitas, ya?" tebak Billby random sembari menggoyang-goyangkan cup minuman di tangannya.

Jack memutar bola matanya dengan malas. "Kamu pikir hidupmu ini drama China?"

Tanpa permisi, Jack menurunkan maskernya lalu merebut boba dari tangan Billby dan meminumnya seteguk.

"Enak, kan, Om? Manisnya pas," ujar Billby melirik pamannya.

Namun tak lama setelah itu, atensinya kembali teralih pada kafe di sebelah mereka. "Apa om-omnya lagi beol, ya? Mungkin beolnya keras jadi lama banget di dalam wc. Apa Billby beliin buah pepaya aja buat omnya?" monolog Billby dengan wajah polos.

Jack menghela napas berat, geleng-geleng kepala menghadapi keajaiban otak keponakannya. "Kalau kamu ngasih orang asing pepaya buat ngelancarin BAB, orang itu bakal tersinggung, tahu."

Billby langsung memasang wajah tidak setuju. "Enggaklah! Muka Billby, kan, kelihatan kayak anak baik begini. Pasti om-omnya paham kalau Billby cuman punya niat baik," tukasnya tak mau kalah.

Jack mengabaikan gerutu nya. Laki-laki itu merapikan tatanan rambut barunya menggunakan jemari tangan. "Udah, ayok. Gak usah ngurusin urusan orang lain."

"Om ngapain sok ganteng gitu?" tanya Billby sinis melihat Jack yang mendadak mengaktifkan mode percaya diri level seratus.

Jack menaikkan sebelah alisnya dengan angkuh. "Emang Om gak ganteng?"

Billby menggelengkan kepalanya tanpa ragu. "Ganteng dari mana? Muka Om tuh nyebelin banget. Kalau nanti Billby punya anak yang mukanya kayak Om, pasti udah Billby buang dari lahir!"

Mendengar ejekan itu, Jack melangkah maju satu depa lalu membalikkan badannya tepat di depan Billby. Ia sedikit membungkukkan tubuh tegapnya demi menyejajarkan wajah mereka.

"Bakal nyesel seumur hidup kamu kalau ngebuang anak yang mukanya kayak Om. Coba liat baik-baik deh, baru nilai lagi. Om ganteng gak?" tantang Jack.

Dalam hati kecilnya, Billby sebenarnya mengakui kalau pamannya ini memang tampan. Teman-teman perempuan di SMA-nya saja banyak yang diam-diam menaruh hati pada Jack. Namun bagi Billby, sifat posesif dan menyebalkan cowok itu jauh lebih mendominasi daripada ketampanannya.

Billby mendengus keras. "Huh... Om pikir waktu tiga belas tahun gak cukup buat aku namatin muka Om yang sok kegantengan itu? Di luar kepala pun aku udah hapal! Tapi, kalau menurut Om aku gak hapal sama muka Om, ya udah. Billby tunjukin sekarang!"

Tepat saat itu, seorang pria asing baru saja melangkah keluar dari pintu *barber shop*. Tanpa diduga, Billby langsung mendekati pria tersebut.

"Om... ayo kita pulang!" seru Billby lantang.

Baru saja jemari mungil Billby hendak merangkul lengan pria asing itu, tubuhnya sudah lebih dulu ditarik paksa oleh Jack dari belakang.

"Om... jangan tinggalin Billby... aku mohon!" jerit Billby dramatis.

Gadis kecil itu meronta-ronta heboh di dalam pelukan Jack. Sementara Jack mati-matian menahan tubuh keponakannya yang sengaja bertingkah ajaib di depan umum. Jack melirik tidak enak pada pria asing yang kini menatap mereka dengan dahi berkerut.

Billby mendongak, menatap wajah Jack yang jauh lebih tinggi darinya. "Om siapa deh? Lepasin! Billby mau pulang!" pekiknya pura-pura diculik.

Pria asing yang menjadi korban salah sasaran itu hanya bisa memperhatikan interaksi keduanya dengan raut kebingungan.

"Udah... pergi aja, Mas. Ponakan saya memang otaknya suka rada-rada gini. Efek kehabisan obat hari ini," ucap Jack memberi penjelasan pada pria tersebut dengan senyum kaku.

Awalnya, pria asing itu sempat mengira Jack adalah komplotan penculik anak. Namun, ia teringat kalau di dalam barber shop tadi, anak gadis ini memang duduk bersebelahan dengan Jack dan mereka tampak baik-baik saja. Akhirnya pria itu mengangguk paham, lalu melesat pergi mengendarai motor R15 miliknya.

"Ayok. Mau pulang, kan?" tanya Jack setelah melepaskan kuncian tubuh Billby.

Billby langsung merebut kembali cup bobanya yang masih tersisa di tangan Jack. "Billby gak mau pulang sama orang yang gak dikenal!"

"Gak usah mulai drama," balas Jack ketus. Tangan besarnya bergerak menarik pergelangan tangan Billby untuk dibawa menuju mobil.

Namun dengan gerakan cepat, Billby menyentak tangannya hingga terlepas. "Billby—"

"Om ajak makan," potong Jack cepat sebelum keponakannya mengeluarkan jurus mogok.

Billby menggelengkan kepalanya acuh. "Gak. Billby gak laper."

"Serius? Ya udah... padahal Om mau ajak makan nasi Padang sesuai janji kemarin. Tapi kalau gak mau ya gak apa-apa, sih. Lumayan uangnya bisa dialihkan buat beli bensin aja," balas Jack santai.

Laki-laki itu bersandar pada badan mobil mewahnya dengan satu tangan yang disembunyikan di dalam saku celana, berakting seolah tidak peduli.

Mendengar kata 'Nasi Padang', Billby yang mulutnya masih penuh dengan sisa bola-bola hitam kenyal langsung melotot sempurna.

Nasi Padang? Bahkan jika tubuhnya sedang diserang demam tinggi 41 derajat Celsius sekalipun, Billby tidak akan pernah bisa menolak kelezatan nasi Padang!

Setelah bersusah payah menelan boba di mulutnya, Billby langsung memasang wajah cemberut. "Pantesan Om gak dapet-dapet jodoh sampai sekarang. Udah banyak duit aja masih pelit mikirin uang bensin! Mana ada cewek yang mau sama cowok pelit?"

"Enak aja dibilang pelit! Kalau kamu mau, nasi Padang se-toko-tokonya bakal Om beliin sekarang tanpa tapi!" balas Jack defensif. Enak saja harga dirinya dijatuhkan begitu saja.

"Ya udah, beliin!" cetus Billby.

Gadis itu berjalan mendekati tempat sampah umum di sudut teras, lalu membuang botol bobanya yang kini hanya menyisakan bongkahan es batu saja.

"Tapi—"

"Tadi katanya gak pakai tapi!" potong Billby cepat. Ia langsung berdiri berkacak pinggang, menatap tajam ke arah Jack yang baru saja mengingkari ucapannya sendiri dalam hitungan detik.

Jack seketika terkikik geli melihat pose menantang keponakannya. Gaya Billby sudah persis seperti emak-emak kompleks yang siap melabrak orang. Bedanya hanya di postur tubuh saja. Jika emak-emak kompleks biasanya bertubuh subur dan memakai daster, maka Billby bertubuh pendek, kecil, dan sama sekali tidak terlihat menakutkan. Justru terlihat sangat menggemaskan.

Tiit... tiit...

Setelah tawanya reda, Jack menekan tombol remot untuk membuka kunci pintu mobil.

"Udah... yok masuk," ajak Jack seraya membuka pintu kemudi, bersiap untuk pergi. Namun, Billby masih bergeming di tempatnya. "Mau ditinggal?" ancam Jack menakut-nakuti.

Bukannya takut, Billby justru melempar senyum semringah yang dibuat-buat. "Sana... tinggalin Billby aja!" sahutnya sambil mengibas-ngibaskan tangan, mengusir Jack.

Lagian, mana mungkin paman posesifnya itu benar-benar tega meninggalkannya di pinggir jalan. Namun, kalaupun Jack benar-benar pergi, Billby justru bersyukur karena ia akhirnya bisa merasakan udara kebebasan.

Di balik mobil seberang, River yang masih setia mengamati interaksi itu sudah merapalkan banyak mantra di dalam hati. Ia sangat berharap agar Jack benar-benar kehilangan kesabaran dan meninggalkan Billby sendirian di sana. Sayangnya, tampaknya dewi keberuntungan belum berpihak pada River hari ini.

Jack melirik ke dalam kabin mobilnya. Sedetik kemudian, sudut matanya menangkap sebuah kotak yang sangat ia kenali.

"Wah... ada kue tart gratisan nih di dalam. Makan ah," ujar Jack sengaja memprovokasi. Ia langsung masuk ke dalam jok kemudi dan menutup pintu mobil dengan rapat.

Kedua mata Billby seketika membelalak sempurna. Enak saja kue tart yang sudah ia buat dengan susah payah dari pagi buta mau dicicipi oleh Jack begitu saja! Langkah dahulu mayat Billby!

Dengan gerakan cepat, Billby berlari kencang menghampiri mobil Jack. Ia menarik pintu mobil di sebelah jok penumpang dengan buru-buru.

"Mana kueku?!" tanya Billby panik dengan kepala yang celingak-celinguk mencari keberadaan kotaknya.

"Di jok belakang," sahut Jack santai.

Laki-laki itu sengaja memindahkan kotak kue tersebut ke baris belakang agar Billby terpaksa naik ke dalam mobil dan mereka bisa segera pergi dari sana. Jika kue itu tetap dibiarkan di jok depan, Jack tahu betul Billby pasti hanya akan menyambar kotaknya lalu kembali kabur ke luar. Menguras tenaga saja menghadapi drama keponakannya ini.

"Mau masuk gak?" tanya Jack jahil. Ia mulai memundurkan mobilnya dengan sangat pelan, memancing agar gadis kecil itu segera menutup pintu dan duduk di dalam tanpa drama lanjutan.

1
@Biru791
pliss deh up yg banyak gemesa deh
Dini
sama sama
tp jangan lupa mimpir di karya ku juga
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan.

good story
@Biru791
dobel up dong tur
chill: okeh deh.. besok ya.. makasih banget sudah ngikutin terus
total 1 replies
@Biru791
thour ayoo upp di tunggu
chill: aku up setiap hari jam 15📝⌛
total 1 replies
@Biru791
semangatt upp
chill: makasih 😍😍 seneng banget ada yang komen🩷🩷
total 1 replies
chill
tinggalin jejak dong 😍
chill
jangan lupa di like ya..🙏
chill
komentar ya say.. buat motivasi penulis baru💪🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!