NovelToon NovelToon
Sistem Raja Wisata: Gunung Legendaris Warisan Kakek

Sistem Raja Wisata: Gunung Legendaris Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Semua orang menganggap Gunung Sumber Abadi hanyalah tempat wisata gagal yang dikutuk, tetapi bagi Rizky Santoso, warisan yang dibuang oleh seluruh keluarganya ini adalah awal dari segalanya. Tepat saat ia menerima beban hutang dan kawasan wisata yang hancur itu, sebuah sistem misterius bangkit dan memberinya kekuatan untuk mengubah gunung tandus menjadi destinasi kelas dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Matahari pagi mulai menyinari kawasan Gunung Sumber Abadi dengan hangat.

Suara kicauan burung terdengar saling bersahutan di dahan pohon.

Cuit cuit.

Siska berjalan menuruni jalan setapak sambil menguap lebar.

Haaah.

Gadis itu mengucek matanya yang masih terasa berat karena kurang tidur.

Namun, langkah kaki Siska mendadak terhenti kaku di tengah jalan.

Dia menganga lebar melihat sebuah bangunan megah dua lantai berdiri tepat di posisi loket kayunya yang lama.

"Bos, apa aku masih bermimpi sekarang?" teriak Siska sambil menampar pipinya sendiri.

Plak.

Rizky membuka pintu kaca dari lantai dasar bangunan itu dan tersenyum ramah.

"Kamu tidak bermimpi Siska, selamat datang di Pusat Kontrol Wisata kita yang baru," sapa Rizky santai.

Siska berlari mendekati bangunan berdesain minimalis itu dengan raut wajah tidak percaya.

Dia menyentuh dinding beton putih dan kaca-kaca gelapnya yang terlihat sangat mahal.

"Bos, bagaimana mungkin gedung sebesar ini dibangun hanya dalam waktu semalam?" tanya Siska menuntut jawaban.

"Sama seperti jembatan kaca kemarin, aku menggunakan tim konstruksi khusus dari ibukota," jawab Rizky berbohong dengan lancar.

"Mereka bekerja sangat cepat dalam diam dan langsung pergi setelah selesai."

Siska mengerutkan keningnya karena alasan itu terdengar semakin tidak masuk akal.

Tapi dia mengingat keajaiban air terjun dan jembatan kaca yang juga muncul tiba-tiba.

"Terserah Bos saja, aku sudah tidak mau memusingkan logika di gunung ajaib ini," keluh Siska sambil menggelengkan kepala.

"Yang penting aku tidak perlu lagi mengecap tangan lima ribu orang secara manual hari ini."

Rizky tertawa pelan dan menunjuk deretan mesin tiket elektronik di depan pintu masuk.

"Mulai hari ini, pengunjung yang sudah membeli tiket daring tinggal memindai kode di mesin itu," jelas Rizky.

"Kita hanya melayani pembelian tiket tunai di dua loket khusus di dalam."

Siska menghela napas lega mendengar sistem kerja baru yang jauh lebih manusiawi tersebut.

Tiba-tiba, suara deru mesin puluhan sepeda motor terdengar dari arah jalan menanjak.

Brummm brummm.

Rizky dan Siska menoleh ke arah jalanan aspal yang kini dipenuhi puluhan pemuda dan bapak-bapak dari desa sekitar.

Mereka semua berpakaian rapi dan membawa map cokelat di tangan masing-masing.

"Permisi Mas Rizky, apakah benar hari ini ada lowongan kerja di tempat wisata ini?" sapa seorang bapak dengan sopan.

"Benar sekali Bapak-bapak, silakan baris yang rapi dan serahkan lamaran kalian kepada manajer saya," jawab Rizky dengan suara lantang.

Siska langsung mengambil alih posisi dan mulai mewawancarai para pelamar kerja satu per satu.

Rizky memantau dari kejauhan sambil memperhatikan wajah-wajah pelamar tersebut.

Matanya mendadak menyipit saat melihat tiga orang pemuda berwajah preman berdiri dengan canggung di barisan paling belakang.

Rizky sangat mengenali wajah mereka karena mereka adalah anak buah Juragan Darma yang ikut memblokir jalan kemarin.

"Kalian bertiga, maju ke sini sekarang," perintah Rizky dengan nada dingin.

Ketiga mantan preman itu langsung menundukkan kepala ketakutan dan berjalan mendekati Rizky.

Tap tap tap.

"Untuk apa anak buah Juragan Darma datang kemari bawa map cokelat?" sindir Rizky tajam.

"Apa kalian mau mensabotase mesin tiket baruku ini?"

Salah satu dari mereka yang berambut keriting langsung berlutut di tanah.

Bruk.

"Ampun Mas Rizky, kami sudah keluar dari kelompok Juragan Darma tadi malam," mohon pemuda keriting itu dengan suara bergetar.

"Bagas membawa kabur semua uang bayaran kami, dan Juragan Darma malah memukuli kami karena gagal menutup jalan."

Rizky mendengarkan penjelasan itu tanpa mengubah raut wajah dinginnya sama sekali.

"Lalu kenapa kalian melamar kerja di tempat musuh mantan bos kalian?" selidik Rizky lagi.

"Kami dengar Mas Rizky memberikan gaji di atas rata-rata untuk karyawan di sini," jawab pemuda lainnya dengan jujur.

"Kami juga butuh uang untuk makan keluarga Mas, tolong beri kami satu kesempatan saja."

Rizky diam sejenak memikirkan keputusan yang paling tepat untuk masalah ini.

Dia memang sangat membutuhkan tenaga kasar untuk membersihkan area gunung yang luas.

"Baik, aku terima kalian bertiga hari ini juga," putus Rizky tegas.

Ketiga pemuda itu langsung mendongak dengan wajah cerah penuh air mata kebahagiaan.

"Terima kasih Mas Rizky, kami janji akan menjadi penjaga keamanan yang paling setia!" seru mereka serentak.

"Jangan senang dulu, kalian bukan penjaga keamanan," potong Rizky cepat.

"Kalian bertiga adalah tim kebersihan yang bertugas mengangkut semua sampah dari seluruh area wisata ke tempat pembuangan akhir."

"Jika ada satu sampah saja yang terlewat, kalian langsung aku pecat hari itu juga, mengerti?"

Tiga mantan preman itu saling berpandangan sebentar sebelum akhirnya mengangguk pasrah.

"Siap mengerti Mas Rizky, kami akan membuat gunung ini bersih mengkilap!" janji mereka semangat.

Proses perekrutan berjalan sangat cepat dan lancar hingga menjelang siang hari.

Rizky berhasil menerima sepuluh orang staf kebersihan, lima orang penjaga keamanan, dan lima orang staf layanan pengunjung.

Mereka semua langsung diberikan seragam kaos berwarna biru terang bertuliskan Gunung Sumber Abadi di bagian punggungnya.

Para karyawan baru itu segera menyebar ke pos masing-masing karena pengunjung rombongan pagi mulai berdatangan.

Siska berlari menaiki tangga spiral menuju ruang kerja Rizky di lantai dua.

"Bos, coba kamu periksa kotak masuk surel bisnis kita sekarang juga," lapor Siska dengan napas terengah-engah.

Rizky memutar kursi kerjanya dan menghadap ke arah layar laptop di atas meja.

Dia membuka kotak masuk email dan melihat ada lebih dari lima puluh pesan baru yang belum dibaca.

"Apa ini keluhan dari pelanggan tentang fasilitas kita kemarin?" tanya Rizky sedikit khawatir.

Siska menggelengkan kepalanya dengan kuat dan tersenyum sangat lebar.

"Bukan Bos, itu semua adalah tawaran kerja sama iklan dari berbagai merek besar tingkat nasional!" jawab Siska girang.

"Ada merek minuman soda terkenal yang ingin membuka stan khusus di dekat Air Terjun Pelangi."

"Ada juga perusahaan sepatu olahraga yang menawarkan ratusan juta rupiah agar kamu memakai produk mereka di video promosi kita."

Rizky membaca satu per satu isi pesan tersebut dengan perasaan kagum.

Liputan dari Riko Si Penjelajah Wisata benar-benar memberikan dampak yang jauh di luar nalar.

Gunung Sumber Abadi kini bukan hanya tempat wisata, melainkan menjadi tambang emas untuk media promosi.

"Ini adalah peluang bisnis yang sangat bagus Siska," ucap Rizky sambil mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja.

Tok tok tok.

"Balas email dari perusahaan minuman soda itu dan berikan izin pembukaan stan dengan sistem bagi hasil dua puluh persen kotor."

"Untuk tawaran sponsor merek pribadi yang memintaku jadi model, tolak semuanya dengan halus."

Siska mengerutkan keningnya tidak setuju dengan keputusan aneh bosnya itu.

"Kenapa ditolak Bos?" protes Siska kecewa.

"Uang ratusan juta melayang begitu saja padahal kamu cuma butuh pakai sepatu mereka di depan kamera."

Rizky menatap manajernya itu dengan pandangan yang sangat tenang namun penuh perhitungan.

"Jika kita menerima sponsor pribadi sekarang, kita akan terikat dengan citra merek mereka," jelas Rizky.

"Aku ingin Gunung Sumber Abadi berdiri independen sebagai mereknya sendiri tanpa menempel pada nama perusahaan lain."

Siska menganggukkan kepalanya perlahan mulai memahami alur pemikiran jangka panjang dari pemuda di hadapannya.

"Kamu memang pantas jadi direktur Bos, pola pikirmu jauh ke depan," puji Siska sambil mengambil ponselnya untuk membalas surel.

Tiba-tiba, suara notifikasi sistem berdenting sangat pelan di dalam kepala Rizky.

Ding!

[Laporan Harian Sistem Pusat Kontrol Wisata.]

[Sistem tiket elektronik berjalan seratus persen lancar tanpa hambatan teknis.]

[Pemasukan dana dari aplikasi pemesanan daring telah masuk secara otomatis ke rekening Host setiap jamnya.]

Rizky membuka aplikasi perbankan di ponselnya dan melihat saldo rekeningnya yang terus bertambah setiap menit.

Angkanya melompat dari puluhan juta menjadi ratusan juta dengan kecepatan yang sangat mengerikan.

"Dengan uang sebanyak ini, aku bahkan bisa membeli seluruh tanah di desa ini jika aku mau," batin Rizky sambil tersenyum tipis.

Namun, kebahagiaan siang itu tiba-tiba terganggu oleh suara bising yang berasal dari layar monitor kamera pengawas.

Rizky menekan tombol pengeras suara di layarnya untuk mendengarkan keributan yang terjadi di area palang pintu bawah.

"Kami tidak perlu tiket murahan kalian, kami datang untuk bertemu dengan direktur tempat ini sekarang juga!" bentak suara seorang pria dari dalam monitor.

Rizky dan Siska menatap ke arah layar yang menampilkan tiga orang pria berjas rapi memaksa masuk melewati palang elektronik.

Mereka didampingi oleh dua orang pengawal bertubuh kekar yang mendorong mundur petugas keamanan baru Rizky.

Siska mengenali wajah salah satu pria berjas itu dari foto profil nomor telepon yang menelponnya tadi malam.

"Bos, itu pria arogan dari Taman Mega Ria yang menawar gunung kita satu miliar semalam," tunjuk Siska panik.

"Mereka benar-benar datang kemari untuk membuat masalah secara langsung di rumah kita."

Rizky mematikan layar monitornya dan berdiri dari kursi kerjanya dengan sangat santai.

Dia merapikan kerah bajunya dan berjalan perlahan menuju tangga spiral.

"Siska, siapkan kamera ponselmu dan rekam semua kejadian di bawah nanti dari sudut yang tersembunyi," perintah Rizky dingin.

"Biar aku yang menyambut langsung tamu-tamu tidak diundang ini di lobi depan."

Siska meneguk ludahnya dengan tegang dan langsung berlari mengikuti bosnya turun ke lantai satu.

Perang bisnis yang sebenarnya akhirnya benar-benar mengetuk pintu depan Gunung Sumber Abadi hari ini.

1
Eka Yudha
Bagus sih meskipun fiksi tapi ceritanya hidup
Rifqy Channel
kak nissa segera update ini gue suka pokoknya sampe 100 Bab pun gak apa-apa karena suka bangett
Nissa Safira: terima kasih kak atas dukungannya🙏
total 1 replies
Rifqy Channel
i like it
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!