"Mulai hari ini, silakan ambil kembali anak laki-laki kebanggaanmu, Ibu. Karena suamiku... selamanya memang hanya milik keluarganya!"
Dulu, rumah tanggaku bersama Mas Bayu begitu harmonis. Dia suami yang manis dan selalu menyerahkan seluruh gajinya padaku. Tapi semua hancur saat kami mengalah untuk pindah dan tinggal satu atap dengan Ibu Mertua serta adik ipar.
Neraka dimulai ketika suami dari adik iparku menganggur. Alih-alih menegur menantunya yang malas, Ibu Mertua justru terus mengamuk dan memanipulasi keadaan. Kena guilt trip dan air mata sang ibu, Mas Bayu tega merebut hak keuanganku. Seluruh gajinya resmi diserahkan ke rekening ibunya demi membiayai ipar parasit.
Saat nafkah anakku dipangkas habis dan suamiku lebih memilih melihatku menangis demi senyum ibunya, aku sadar pernikahan ini sudah mati.
Nggak akan ada lagi tangisan mengemis. Aku akan angkat kaki membawa putriku, mengembalikan Mas Bayu pada keluarganya, dan membuktikan betapa hancurnya hidup mereka tanpa diriku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA
Langkahku mantap, namun hatiku bergetar kencang. Hari ini adalah titik balik dalam hidupku. Aku tidak akan pernah biarkan diriku dan anakku terus-menerus menjadi korban di rumah yang penuh dengan parasit dan ketidakadilan ini.
Tepat pukul dua belas siang, suasana rumah terasa sepi dan lengang. Ibu Sumiati dan Rika sedang berada di kamar depan bersama Fery, entah sedang merencanakan apa atau sekadar bersantai menikmati fasilitas rumah yang dibiayai dari keringat Bayu. Momen ini kugunakan sebaik-baiknya. Tanpa menimbulkan suara sedikit pun, aku menggendong tas ransel sedang yang sudah kuisi dengan beberapa stel pakaian ganti Naya, dokumen-dokumen penting, perlengkapan mandi, dan sisa uang tabunganku.
Tanganku menggandeng erat jemari mungil Naya. Anak kecil itu menatapku polos, seolah mengerti bahwa perjalanan kami siang ini adalah sebuah misi rahasia. Kami keluar menyelinap lewat pintu samping tanpa berpamitan pada siapa pun. Tak ada salam, tak ada lambaian tangan. Bagi mereka, keberadaanku di rumah itu hanya sebatas tumpangan, dan kini saatnya aku mengambil kembali kemerdekaanku.
Di tepi jalan raya yang berjarak sekitar seratus meter dari rumah, aku memosisikan Naya di sampingku seraya membuka aplikasi ojek online.
Mengingat uang tabungan yang ada di genggamanku harus kuhemat sedemikian rupa untuk kebutuhan darurat, aku memilih memesan sepeda motor ketimbang mobil. Kami naik bertiga, dengan posisi Naya duduk manis di tengah terapit aman di antara tubuhku dan punggung pak driver ojol.
"Sesuai aplikasi ya, Mbak? Ke Kompleks Sentra Grand Regency?" tanya Pak Ojol memastikan helm yang kupakai sudah terpasang benar.
"Iya, Pak. Sesuai alamat di aplikasi," jawabku singkat dan ramah dari balik masker.
Motor melaju membelah teriknya angin siang. Aspal jalanan kota memantulkan hawa panas, namun Naya di depanku tampak begitu menikmati perjalanan kecil ini. Lengan kecilnya memeluk pinggangku rapat-rapat, sementara matanya yang bulat bersinar gembira saat angin mengibaskan rambut ikalnya. Sudah lama sekali putri kecilku ini tidak merasakan kebebasan seperti ini setelah berpekan-pekan terkurung di kamar belakang yang pengap.
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit melewati jalur protokol kota yang padat kendaraan, motor yang kami tumpangi mulai melambat. Kami berbelok memasuki sebuah kawasan jalan utama yang mendadak terasa begitu asing bagiku.
Suasana bising klakson dan debu jalanan seolah lenyap seketika. Jalanan di area ini melebar tiga kali lipat dari jalan biasa, dilapisi aspal mulus berwarna hitam pekat tanpa ada satu pun lubang atau tambalan. Di kanan dan kiri jalan, pepohonan palem tinggi menjulang tertata sangat rapi, bersanding dengan padang rumput hijau yang dipangkas sempurna dan tanaman hias yang bermekaran indah.
"Wah... Mbak, ini mah kawasan perumahan paling mahal di kota ini," celetuk Pak Ojol dari balik helmnya, suaranya terdengar takjub dan sedikit ragu. "Setahu saya, orang biasa nggak bisa sembarangan masuk ke sini, Mbak. Yang tinggal di sini mah rata-rata pejabat tinggi atau pengusaha kelas atas."
Aku hanya tersenyum tipis di balik masker, meremas pelan bahu Naya untuk menutupi rasa canggungku sendiri. Aku belum bisa membayangkan seberapa ketat dan mewahnya lokasi yang dimaksud.
Motor kami akhirnya benar-benar berhenti tepat di depan sebuah gerbang benteng tinggi menjulang dari besi tempa berwarna hitam beraksen emas. Di samping gerbang megah itu, berdiri sebuah bangunan pos satpam berdesain modern yang lebih mirip seperti lobi hotel bintang tiga ketimbang pos penjagaan biasa. Tiga orang petugas keamanan berseragam serba hitam dan bertubuh tegap berdiri siaga di sana dengan raut wajah sangat profesional.
Portal otomatis berbahan besi tebal menghalangi jalan. Pak Ojol memberhentikan motornya dengan gerakan canggung, memasang standar samping sambil mengamati sekeliling dengan cemas.
Seorang satpam bertubuh tinggi besar mendekat dengan langkah tegap, tatapannya tegas tanpa senyum. "Selamat siang. Ada keperluan apa dan mau bertemu siapa, Mbak?"
Pak Ojol mendadak tampak makin gugup, meremas stang motornya erat-erat seolah takut melakukan kesalahan. "Ini... Mbak ini mau ke alamat yang ada di dalam, Pak..."
Aku segera memajukan kepala, mencoba menetralisir kecanggungan dan berbicara dengan seresmi mungkin dari belakang punggung Pak Ojol.
"Selamat siang, Pak. Saya Maya. Saya mau wawancara kerja yang akan bekerja di rumah Pak Ibra."
Mendengar nama Pak Ibra meluncur dari mulutku, raut wajah satpam yang tadinya tegang dan penuh selidik itu mendadak berubah drastis. Matanya membelalak pelan, lalu sikap tubuhnya dengan cepat berubah menjadi jauh lebih segan dan penuh rasa hormat.
"Oh, calon pekerja di kediaman Pak Ibra? Baik, sebentar saya konfirmasi ke pihak dalam dulu ya, Bu," ujar satpam itu ramah, bahkan sapaannya berganti menjadi sangat sopan.
Beliau berjalan menuju pos penjagaan, mengangkat telepon gagang hitam, dan berbicara beberapa detik dengan seseorang di seberang sana. Tak lama kemudian, satpam itu kembali menghampiri kami dan menekan tombol di tiang portal. Portal otomatis terangkat perlahan tanpa suara.
"Silakan masuk, Bu. Lurus saja sampai kaveling nomor satu di paling ujung jalan. Rumah yang gerbangnya paling tinggi di sudut area," petunjuk dari satpam itu mengiringi langkah motor kami.
"Terima kasih banyak, Pak..." sahutku penuh rasa syukur.
Pak Ojol menarik gas motornya perlahan, melintasi gerbang utama yang kini terbuka lebar. Sepanjang melintasi jalan internal perumahan yang berlapis batu alam perak itu, pandangan mata kami bertiga aku, Naya, dan Pak Ojol seolah tak henti-hentinya dibuat terperanjat.
Rumah-rumah di kawasan ini tidak memiliki pagar pembatas pendek seperti perumahan biasa; semuanya adalah vila-vila megah berarsitektur modern klasik dengan pilar-pilar raksasa, dinding pualam, dan kaca-kaca tinggi menjulang.
Taman-taman pribadi di halaman depan setiap rumah tampak ditata oleh arsitek lanskap kelas satu.
"Buset dah... Mbak, ini mah rumah orang-orang kaya raya semua," bisik Pak Ojol setengah berbisik, matanya melirik kanan-kiri sampai laju motornya agak goyang karena rasa heran yang tak tertahankan. "Kagak pernah saya masuk ke komplek ginian seumur-umur..."
Aku hanya mampu menelan ludah, membisu. Di dalam hati, aku bertanya-tanya, pekerjaan seperti apa yang menungguku di tempat sekelas ini?
Hingga akhirnya, motor berhenti tepat di depan sebuah kaveling paling ujung kaveling nomor satu.
Begitu motor berhenti sempurna dan mesinnya dimatikan, dadaku mendadak berdesir hebat. Napasku tertahan di tenggorokan, terkunci oleh pemandangan luar biasa yang tersaji tepat di depan mata. Pak Ojol bahkan sampai melepaskan helmnya sepenuhnya, melangkah turun beberapa senti dari motor dengan mulut sedikit menganga.
Di hadapan kami berdiri sebuah bangunan megah yang tak ubahnya bak istana kerajaan Eropa modern. Dinding luar bangunan didominasi marmer putih bersih dan batuan pualam bermotif indah, dipadu dengan pilar-pilar raksasa yang menjulang kokoh hingga tiga lantai. Di balik pagar besi tempa berukir emas yang sedang terbuka separuh, terlihat hamparan halaman rumput yang sangat luas dengan air mancur bertingkat berbentuk sculpture artistik di bagian tengahnya.
Beberapa mobil mewah kelas atas mulai dari sedan hitam mengilat hingga SUV berukuran besar terparkir rapi di bawah garasi beratap kaca gantung di sisi timur bangunan.
Naya menarik-narik ujung bajuku dengan lembut, matanya yang polos berkedip-kedip takjub menatap bangunan raksasa di depannya.
"Mimo..." bisik Naya polos dengan suara imutnya yang bening. "Rumah ini besar banget... Kayak rumah kerajaan yang ada di TV pas Nenek lagi nonton sinetron..."
Suara Naya yang jujur membuat dadaku makin bergemuruh. Aku menelan ludah yang terasa teramat kering, mengusap bahu kecil putriku sambil mencoba menyembunyikan jemariku yang mendadak gemetar tipis.
Rasa terkejut, kagum, dan bingung berkecamuk hebat di dalam dadaku. Aku memang melamar pekerjaan sebagai pengurus rumah tangga atau asisten rumah tangga melalui pesan singkat untuk mencari tempat bernaung yang aman bagi Naya. Namun, aku sama sekali tidak menyangka bahwa rumah tempatku akan mengadu nasib adalah sebuah istana mewah tak terbayangkan milik seorang bernama Pak Ibra ini.
Pak Ojol berpaling menatapku dengan wajah takjub campuran heran. "Mmbak... beneran mau kerja di sini? Ini mah rumah sultan, Mbak!"
"Iya, Pak... terima kasih banyak ya," jawabku seraya menyerahkan uang ongkos sesuai aplikasi.
Setelah Pak Ojol pamit dan memutar balik motornya meninggalkan area, aku berdiri kaku di pinggir jalan raya kaveling nomor satu. Menggandeng erat jemari Naya, aku menatap megahnya pintu jati berukir raksasa di bagian depan istana tersebut.
Siapakah sebenarnya sosok Pak Ibra ini? Akankah tempat ini menjadi tempat perlindungan yang aman bagiku dan Naya, ataukah justru ada tantangan baru yang harus kuhadapi di balik pintu megah ini?