Arga Pratama adalah suami yang selama ini dikenal dingin, pekerja keras, dan mencintai istrinya sepenuh hati. Demi memenuhi semua keinginan sang istri, Nabila, ia rela bekerja siang malam hingga menjadi pengusaha sukses.
Namun, di balik kesibukannya, Nabila justru menjalin hubungan terlarang dengan Reza, sahabat terbaik Arga sendiri.
Pengkhianatan itu terbongkar pada hari ulang tahun pernikahan mereka.
Alih-alih langsung menceraikan, Arga memilih diam.
Ia mulai menyusun pembalasan yang begitu rapi, membuat semua orang yang telah mengkhianatinya kehilangan kehormatan, harta, dan kepercayaan satu per satu.
Tetapi di tengah balas dendam itu, muncul seorang wanita sederhana bernama Aisyah yang perlahan mengubah hati Arga.
Akankah Arga tetap menjadi suami yang kejam, atau memilih memaafkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mabuok Hape, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detak Jantung yang Terhenti
Udara malam yang berhembus melalui jendela kamar mandi restoran yang terbuka terasa membakar kulit Reza. Pria itu berdiri di depan cermin besar, mencengkeram tepi wastafel marmer hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya terengah-engah, memburu, seperti seseorang yang baru saja meloloskan diri dari terkaman binatang buas.
Ia membasuh wajahnya berulang kali dengan air dingin. Tiga detik. Dokumen audit fiktif yang muncul di layar proyektor tadi hanya tampak selama tiga detik, tapi bagi Reza, itu seperti tiga detik penjatuhan hukuman mati.
"Tidak mungkin... Arga tidak mungkin tahu," bisik Reza pada pantulan dirinya sendiri di cermin. Suaranya gemetar, menyingkap kepanikan yang berusaha ia tutupi di depan para tamu. "Arga itu polos. Dia terlalu percaya sama aku. Itu cuma kebetulan... glitch sistem!"
Pintu kamar mandi berderit pelan. Langkah kaki teratur yang amat dihafal Reza bergema di atas lantai keramik. Melalui cermin, Reza melihat Arga melangkah masuk. Ekspresi wajah sahabatnya itu tampak begitu tenang, hampir tanpa emosi—sebuah ketenangan yang justru memicu firasat buruk di dada Reza.
"Kamu tidak apa-apa, Za?" tanya Arga ramah, menyandarkan tubuhnya di ambang pintu seraya melipat kedua tangan di dada. "Nabila cemas kamu di kamar mandi terlalu lama."
Reza buru-buru menyapu wajahnya dengan tisu, memaksakan sebuah tawa renyah yang terdengar sangat sumbang. "Ah, enggak apa-apa, Ga! Cuma... perutku agak mulas. Makanan tadi mungkin terlalu pedas."
Arga berjalan mendekat, mengambil tisu dari wadah dan mengulurkannya pada Reza. "Begitu? Aku pikir kamu kepikiran pesan di video tadi."
Jantung Reza seakan terhenti berdetak serentak dengan hembusan napasnya. Senyum palsunya membeku. "P-pesan? Maksudmu tulisan tentang pengkhianatan itu? Hahaha, ayolah, Ga. Itu kan cuma pemberitahuan atau gimmick dari tim videografermu, kan?"
Arga menatap Reza dalam-dalam. Keheningan merayap di antara mereka selama beberapa detik yang menyiksa. Dalam kepala Arga, memori sepuluh tahun lalu saat mereka merintis bisnis bersama berkelebat seru—saat mereka membagi sebungkus nasi berdua di pinggir jalan, saling berjanji untuk sukses bersama. Rasa kepedihan yang dalam sempat mencubit relung hati Arga, namun dengan cepat berganti menjadi kebencian yang mengkristal.
"Iya, tentu saja cuma gimmick ," sahut Arga pelan, memecah ketegangan. Tangannya terulur merapikan kerah jas Reza yang sedikit melipat. Sentuhan jemari Arga yang dingin di leher Reza membuat pria itu menahan napas. "Tapi kamu tahu kan, Za... aku sangat membenci orang yang merusak kepercayaanku? Jika ada orang terdekat yang berani melakukannya, aku tidak akan hanya menghancurkannya secara finansial. Aku akan memastikan dia memohon kematian."
Nada suara Arga begitu lembut, seolah ia sedang membicarakan cuaca esok hari.
Namun kilat di matanya yang hitam pekat membuat bulu kuduk Reza berdiri tegak. Detak jantung Reza bergemuruh hebat di dalam dadanya, berdenyut kencang hingga memicu rasa sakit yang menusuk.
"T-tentu, Ga... aku paham betul karaktermu," bisik Reza dengan tenggorokan yang mendadak kering.
"Baguslah," Arga menepuk dada Reza dua kali, menepuk tepat di posisi jantung pria itu yang sedang berdegup kencang. "Ayo kembali ke pesta. Nabila sudah menunggu."
Sementara itu, di sudut ballroom yang riuh, Nabila berdiri sendirian sambil menggenggam erat gelas champagne -nya. Matanya terus melirik ke arah lorong menuju kamar mandi. Rasa cemas yang tak kasatmata merayap di benaknya.
Bukan hanya soal teks misterius di layar tadi, melainkan tatapan Arga. Ada yang berubah dari suaminya. Sejak kemarin, setiap kali Arga menyentuhnya atau tersenyum padanya, Nabila merasa seperti sedang disentuh oleh sosok asing yang dingin.
Ketika Arga dan Reza akhirnya kembali berjalan bersisian dari lorong kamar mandi, Nabila mengembuskan napas lega yang singkat. Namun, kelegaannya menguap saat melihat wajah Reza yang pucat pasi dan kaku.
"Kalian lama sekali?" tanya Nabila saat mereka mendekat, berusaha memecah kecanggungan dengan nada suara semanja mungkin.
"Reza cuma sedikit pusing, Sayang," jawab Arga mengusap lembut pinggang Nabila, menarik wanita itu makin rapat ke tubuhnya. Chemistry kemesraan yang diperlihatkan Arga terasa begitu sempurna di mata orang lain, namun Nabila bisa merasakan ketegangan menjalar dari genggaman Arga di pinggangnya.
"Kamu tidak apa-apa, Reza?" tanya Nabila melirik Reza dengan tatapan penuh arti—sebuah tatapan khawatir terselubung yang biasa mereka bagikan saat Arga tak memperhatikan.
Reza tidak berani membalas tatapan itu dengan intensitas yang sama. Ia hanya mengangguk cepat. "Aku... aku baik-baik saja, Nabila. Mungin hanya butuh istirahat."
Arga mengamati interaksi terselubung itu dengan sudut matanya. Hatinya tersenyum sinis. Rasa panik, kebingungan, dan ketakutan yang kini mulai merayap di antara kedua pengkhianat ini adalah simfoni terindah yang ingin ia dengar.
"Kalau begitu, mari kita pulang," ujar Arga dengan suara hangat yang penuh kepura-puraan. "Pesta malam ini sudah memberikan kejutan yang cukup untuk kita semua, bukan?"
Nabila mengangguk pelan, sementara Reza hanya bisa berdiri mematung membiarkan Arga dan Nabila berlalu meninggalkannya di tengah riuhnya pesta. Di dalam dada Reza, detak jantungnya yang serasa sempat terhenti tadi kini menyisakan rasa cemas yang amat pekat—sebuah pertanda bahwa ketenangannya telah dirampas secara perlahan.
laju dikit Thor biar gereget bacanya ini slowly Banggt