Anya gadis muda 18 tahun harus mengahadapi kenyataan pahit saat Pria yang selama ini disukainya dijodohkan dengan kakak Anya, Joana. Anya berusaha untuk menghalanginya namun dia masalah diasingkan oleh Ayahnya. Anya yang patah hati akhirnya berusaha melepaskan perasaanya dan fokus akan study nya. 4 tahun berlalu saat kelulusan Anya, Edgae yang selama ini Alya coba melupakan malah datang membawa seikat bunga. apakah dia datang sebagai kakak Ipar atau ada hal lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabut, Badai, dan Sudut yang Terkunci
Pagi hari kedua di kawasan pegunungan Batu tidak membawa kehangatan. Kabut tebal turun dari puncak gunung, bergulung-gulung menyelimuti hutan pinus dan menenggelamkan pondok-pondok kayu resor The Greenery dalam kesunyian yang dingin. Jarak pandang di luar jendela kafetaria hanya berkisar sekitar lima meter, memaksa pengelola menyalakan lampu-lampu taman berwarna kuning temaram lebih awal.
Anya berdiri di selasar area konservasi, mengencangkan ikatan sweter rajut putih gadingnya. Kamera DSLR miliknya dikalungkan di leher, tertutup sebagian oleh jaket tipis tahan air. Di sampingnya, Pak kepala pemandu tampak memeriksa papan digital pemantau cuaca dengan raut wajah agak cemas.
"Nona Anya, jadwal kita pagi ini adalah mengambil sampel visual tanaman pakis langka di lereng barat," ujar pria paruh baya itu ragu. "Sebenarnya cuaca agak kurang mendukung, tapi manajemen resor meminta kita tetap mendampingi investor baru yang ingin ikut meninjau proyek ekologi ini langsung ke lapangan."
Anya tidak perlu membalikkan tubuhnya untuk tahu siapa investor baru yang dimaksud. Langkah kaki yang tegap, ritmis, dan berat di atas lantai kayu selasar sudah cukup menjadi penanda.
Edgard Baskoro berjalan mendekati mereka. Di bawah bias lampu kuning pelataran, struktur wajahnya yang tegas dengan garis rahang kokoh mirip Daniel Henney tampak sangat dominan. Jaket kulit hitamnya diganti dengan jaket gunung outdoor berwarna abu-abu gelap, menonjolkan bentuk tubuh tegap atletisnya. Bekas luka merah di lengan kirinya tertutup rapat oleh manset pakaian dalam hitamnya.
"Selamat pagi," sapa Edgard, suaranya bariton, berat, namun terdengar sangat lembut saat pandangan mata elangnya mengunci sosok Anya.
Anya mengabaikan sapaan itu. Dia memutar tubuhnya menghadap kepala pemandu, mengunci perisai di hatinya rapat-rapat. "Jika manajemen menghendaki demikian, kita bisa berangkat sekarang, Pak. Waktu saya terbatas, saya ingin sketsa kasar untuk bagian vegetasi bawah selesai sebelum makan siang."
Melihat ketegasan Anya, kepala pemandu hanya bisa mengangguk pasrah. "Baik, mari ikuti jalan setapak di sebelah barat. Tolong tetap berada dalam jalur karena kabut sangat tebal pagi ini."
Perjalanan menembus lereng barat terasa melelahkan. Medan tanah yang basah oleh embun beku membuat langkah kaki menjadi licin. Sepanjang jalan, Anya berjalan di garis paling depan, tepat di belakang kepala pemandu. Dia sengaja mengatur ritme langkahnya agar tetap cepat, menciptakan jarak sekitar tiga sampai empat meter dari Edgard yang berjalan di baris paling belakang.
Anya menenggelamkan diri dalam pekerjaannya. Setiap kali menemukan vegetasi pakis atau anggrek tanah yang sesuai, dia akan berlutut di atas tanah basah, mengabaikan jins hitamnya yang mulai kotor terkena lumpur tipis. Jari-jemari lentiknya dengan lincah membidikkan lensa kamera, lalu mencatat sketsa komposisi warna pada tablet grafisnya.
Edgard tidak banyak bicara selama perjalanan. Pria yang biasanya memimpin rapat-rapat korporat dengan instruksi tajam itu kini bertindak seperti bayangan yang sunyi. Namun, mata elangnya tidak pernah benar-benar lepas dari sosok wanita setinggi 165 cm di depannya. Dia memperhatikan bagaimana rambut panjang lurus Anya sesekali bergoyang tertiup angin gunung, bagaimana kulit putih cerahnya tampak sedikit memerah menahan hawa dingin, dan bagaimana wanita itu sama sekali tidak sudi menatap wajahnya bahkan saat mereka berada dalam satu jalur setapak yang sempit.
"Pak! Tolong tunggu di sini sebentar! Saya harus memeriksa jembatan kayu kecil di depan, sepertinya fondasinya agak longgar karena hujan semalam," seru kepala pemandu tiba-tiba, memperingatkan dari balik kabut tebal yang membatasi jarak pandang mereka.
Anya menghentikan langkahnya tepat di bawah pohon pinus raksasa. Dia menurunkan kameranya, bersedekap mencoba menghalau hawa dingin pegunungan yang mulai menembus lapisan sweternya. Di tengah kesunyian hutan yang berkabut itu, embusan angin mendadak bertiup jauh lebih kencang dari sebelumnya, disusul oleh suara gemuruh guntur yang bergaung keras di balik tebing gunung.
Duar!
Bersamaan dengan suara petir, hujan deras langsung tumpah dari langit tanpa peringatan. Air hujan yang lebat bercampur dengan kabut tebal seketika mengaburkan seluruh pandangan mereka.
"Nona Anya! Pak Edgard! Kembali ke pos pantau atas! Jangan lewat jembatan!" sayup-sayup suara kepala pemandu terdengar terputus-putus, tenggelam oleh hantaman air hujan dan deru angin badai gunung yang semakin liar.
Anya tersentak, dia mencoba berbalik untuk mendaki kembali jalan setapak semula. Namun, permukaan tanah yang diguyur hujan lebat mendadak berubah menjadi aliran lumpur yang sangat licin. Kaki Anya yang menggunakan sepatu kanvas—bukan sepatu gunung khusus—kehilangan cengkeraman.
"Aduh!" Anya memekik kecil saat tubuh proporsionalnya tergelincir di bibir jalan setapak yang miring.
Sebelum tubuh Anya merosot ke arah lereng semak-semak di bawahnya, sebuah cengkeraman tangan yang teramat kuat menangkap pergelangan tangannya. Tubuh tegap Edgard langsung menariknya dengan satu sentakan mantap, membawa tubuh Anya menempel erat di dada bidang pria itu.
Edgard tidak membiarkan Anya terjatuh. Mengabaikan hantaman hujan yang mengguyur tubuh mereka hingga basah kuyup, Edgard menarik Anya mundur, mencari perlindungan di balik ceruk batu raksasa yang menjorok keluar di sisi tebing jalan setapak.
Di dalam ceruk batu yang berukuran sempit itu, atmosfer mendadak terasa begitu menyesakkan. Ruang gerak mereka terkunci rapat. Anya terpaksa berdiri bersandar pada dinding batu yang dingin, sementara Edgard berdiri tepat di hadapannya, menggunakan punggung tegapnya sebagai perisai untuk menghalau terpaan angin dan air hujan agar tidak langsung mengenai tubuh Anya.
Jarak di antara mereka berdua kini tidak sampai tiga puluh sentimeter.
Napas Anya memburu akibat kepanikan dan sisa energi setelah tergelincir tadi. Rambut panjang lurusnya yang hitam legam kini basah kuyup, melekat di pipi pucat dan leher jenjangnya. Baju sweter putih gadingnya yang basah membingkai siluet tubuhnya dengan sangat jelas. Aroma parfum lili barunya menguap bercampur dengan aroma tanah basah dan wangi maskulin khas tubuh Edgard yang menguar kuat di dalam ceruk yang sempit.
Edgard menatap wajah cantik Anya dengan sepasang mata elangnya yang bergetar hebat. Di bawah guyuran air hujan yang membasahi wajah tampannya, garis rahangnya yang tegas mirip Daniel Henney tampak melunak oleh kecemasan yang murni. Tangan kanannya masih memegang erat pundak Anya, sementara lengan kirinya yang menyisakan luka memar menahan dinding batu di samping kepala Anya.
"Kamu tidak apa-apa? Ada yang sakit?" bisik Edgard, suaranya yang bariton terdengar serak di antara deru suara badai di luar ceruk.
Anya merasakan jantungnya berdegup dengan ritme yang liar. Kehadiran Edgard yang begitu dekat, kehangatan tubuh pria itu yang memecah dinginnya badai gunung, sempat memicu memori masa remajanya yang dulu begitu merindukan perlindungan dari pria ini. Namun, kesadaran dan sisa rasa sakit hati setahun lalu dengan cepat mengambil alih isi kepalanya. Perisai di dadanya kembali mengeras dari dalam.
Anya mendongak, mengunci pandangan matanya tepat pada manik mata elang Edgard dengan tatapan yang teramat kosong dan dingin. Dia tidak mendorong Edgard dengan kasar karena ruang yang terlalu sempit, namun kata-katanya mengalir dengan ketajaman yang sanggup membekukan sisa harapan Edgard siang itu.
"Lepaskan tangan Anda dari pundak saya, Pak Edgard," ucap Anya dengan nada suara yang teramat tenang namun menusuk tepat di ulu hati pria di hadapannya. "Badai ini akan reda dalam beberapa menit, dan bantuan dari tim resor pasti sedang menuju ke sini. Tindakan perlindungan Anda saat ini tidak akan mengubah fakta bahwa kehadiran Anda di Surabaya maupun di gunung ini adalah hal yang paling tidak saya inginkan dalam hidup saya."
Mendengar respons yang teramat dingin di tengah badai yang berkecamuk, Edgard menahan napasnya sejenak. Sorot mata elangnya meredup, memancarkan rasa sunyi dan penyesalan yang mendalam—sebuah kepasrahan dari seorang pria dewasa yang menyadari bahwa dinding es yang dia ciptakan di masa lalu kini telah mengunci dirinya sendiri di luar hati wanita yang dicintainya. Pria itu tidak melepaskan tangannya sepenuhnya, namun dia melonggarkan cengkeramannya, tetap berdiri tegak menjadi perisai bagi Anya di tengah dinginnya badai gunung Batu tanpa mengucapkan sepatah kata pun pembelaan diri lagi.
semangat nulisnya 💪